Mampir Sejenak di Pulau Moyo

Dalam waktu beberapa hari ini, Pulau Moyo berputar-putar di pikiran. Tentang hutannya, jalan setapak yang kecil, air terjun yang bisa jadi airnya dingin bisa jadi hangat, dan lain-lain.

Angin sepoi-sepoi menyisir pasir-pasir di tepi pantai di Pulau Sumbawa Besar ini. Membuat pasir-pasir itu terbang sedikit-sedikit. Saya baru saja membuka pintu penginapan kayu dengan bunyi derit kecil. Engsel pintu-pintu sedikit berkarat.

Seseorang menyeduh kopi di teras. Bau harum kopi membuat pagi lebih segar dan mata lebih terang. Seorang lagi baru saja meraih handuk, beranjak mandi. Seorang lagi memainkan ponselnya–beruntung di tepi pantai ini masih diraih oleh sinyal. Seorang lagi melongo saja memandang ke arah laut yang tidak kelihatan ujungnya. Airnya tidak biru jernih, tapi cenderung gelap. Saya memilih duduk lalu ikut melongo, karena sudah siap berangkat.

Suara motor kapal kedengaran di tepi pantai tepat di sebelah penginapan. Suaranya melemah, lalu mati. Beberapa orang lokal sayup-sayup terdengar bercanda di atas kapal yang tertambat itu. Salah satunya memanggil kami untuk bersiap berangkat. Maka, ketika semua sudah siap, kami membawa barang-barang kebutuhan masing-masing, seperti tripod, Sony A7s, 5D Mark II, boom, wardrobe, sampai eyeliner waterproof. Hari ini kami bekerja di Pulau Moyo.

Penginapan kami adalah bangunan yang dulunya merupakan bekas mess pegawai PT Ferner, perusahaan kayu. Tapi, para pegawai itu sudah pergi. Perusahaan kayu itu sudah tutup di Sumbawa Besar. Bukan penginapan yang mumpuni untuk berwisata, juga untuk menginap sebetulnya. Ini juga bukan penginapan umum. Bangunan kayu ini berbau apek, air di kamar mandinya dipenuhi jentik-jentik nyamuk dan kamar mandinya sendiri berbau tidak sedap, lalu di kasurnya, berdiam kutu-kutu yang akhirnya menyebabkan saya pulang-pulang langsung bentol-bentol sekujur badan. Meski begitu, di pelatarannya, kami bisa langsung memandang laut dan ada tempat untuk duduk-duduk atau melompat ke laut.

Dari pantai di penginapan, kami berangkat ke Pulau Moyo. Selama masih pagi, ombak masih tenang. Suara motor berderu-deru menyusul suara angin yang mengibas-ngibas rambut kami, kain-kain kami, sampai memburu di kedua telinga. Saya khusyuk mendengarkan lagu-lagu Bonita–perempuan penyanyi asli Indonesia–yang merasuk jiwa. Lagu “Rumahku” adalah kesukaan saya.

Menuju Moyo bersama tim #TamboraTOA

Panorama yang terlihat sepanjang perjalanan adalah perairan dengan air yang gelap, penanda kedalamannya, dan beberapa pulau yang terlihat jauh. Hingga sekitar 1,5 jam kemudian, kami tiba di sebuah sisi pulau dengan bebatuan di tepi pantainya, sungai dengan air berwarna kehijauan (yang mengingatkan saya pada Pulau Air Belanda dekat Pulau Seram, Maluku), dan pohon-pohon hijau kecoklatan yang tumbuh menjulang.

Moyo Island

Saya banyak mendengar orang-orang menyebut-nyebut nama Putri Diana dari Inggris sejalan dengan ceritanya tentang Moyo. Tapi, saya sama sekali tidak tertarik tentang itu, kecuali akan keindahan pulau ini.

Tepatnya, Pulau Moyo terletak sekitar 2,5 km di utara Pulau Sumbawa. Pasir di pulau ini sungguh putih. Jika mesti mengomparasi, kehalusan pasir pantai Moyo bisa menandingi kehalusan pasir berpredikat “pasir pantai terhalus di Asia Tenggara”. Ketika turun kapal dan kaki berendam di air lautnya yang jernih, yang terasa adalah hangat.

#TamboraTOA

Bebatuan berserakan di tepi pantai, hingga ke perairan yang dangkal. Warna air lautnya bergradasi dari biru muda ke tua. Saya lalu memandang ke arah pulau. Pepohonan rindang tumbuh berlapis-lapis. Jalan setapak kelihatan jelas. Dan karena kala itu musim kering, daun-daun berwarna hijau kecokelatan, begitu juga rumput-rumput.

Kami lalu mulai berjalan di antara pepohonan. Beberapa sungai kami lewati. Airnya berwarna cokelat. Ketika sadar kami sudah jauh dari pantai, suara tonggeret semakin bising. Kadang-kadang, ada kelebatan sesuatu di ranting-ranting pohon di atas kami. Entah monyet, atau burung. Sebab, di Moyo memang masih lestari satwa-satwa liar seperti rusa, sapi, dan beragam burung, seperti bangau atau elang laut putih. Tidak sampai setengah jam, kami tiba di sebuah air terjun; Ai Pad.

Ai Pad

Ada beberapa air terjun di Pulau Moyo ini, seperti Mata Jitu, Diwu Mbai, atau Ai Pad ini. Tapi, kami datang ke Ai Pad karena diburu waktu dan Mata Jitu yang terkenal itu terlalu jauh dari jangkauan.

Ai Pad adalah air terjun bertingkat dua, yang bagian paling atasnya menyerupai seluncuran dari batu yang panjang. Di akhir seluncuran itu, ada kolam kecil seperti bathtub yang cocok untuk berendam sembari menikmati bebunyian alam; gemercak air, daun-daun yang tampar-tamparan halus, dan suara burung. Di tingkat terbawah adalah kolam lebih besar dengan bebatuan di tepi-tepiannya. Hati-hati kalau mau salto dari bebatuan, karena kolamnya tidak sedalam itu.

the waterfall

Di tengah pekerjaan (atau pelesiran), tiba-tiba ada beberapa turis asing datang ke Ai Pad. Mereka kebetulan sedang liburan dengan itinerary mulai dari Lombok, Sumbawa, lalu Taman Nasional Komodo. Mereka dari Prancis. Hanya satu atau dua orang yang mampu berbahasa Inggris. Mereka hanya sebentar di sini, bertanya tentang apa yang kami lakukan, menyimaknya sebentar, lalu mereka asyik dengan air terjun di bagian atas sana. Setelah berbasah-basahan, mereka mengucapkan permisi dalam bahasa mereka, kemudian menghilang di balik pepohonan dengan dipimpin oleh seorang pemandu lokal.

Kami banyak menghabiskan waktu di Ai Pad, hingga tiba-tiba hari sudah lewat siang dan kami harus meneruskan perjalanan. Sayang sekali tidak mampu sempatkan diri untuk mengeksplorasi pulau seluas 350 m2 ini, menikmati Mata Jitu, Desa Tradisional Batu Tering, Poto Jarum, Tanjung Pasir, mengintip atau tinggal di Amanwana, atau mengeksplorasi kawasan Taman Wisata Alam Laut dan Taman Buru Pulau Moyo (yang diresmikan 24 September 1986). Semoga bisa kembali ke sini.

 

Segera: Pulau Satonda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s