Terkesan akan Danau Matatoi, Pohon Kalibuda, dan Pulau Satonda

Di lewat tengah hari, sebuah kapal kayu lepas dari pesisir Pulau Moyo dan kembali mengarungi laut lepas; Laut Flores. Cuaca hari di akhir Oktober itu cerah. Langit biru, dan awan putih yang terpintal-pintal di angkasa kelihatan berarakan pelan-pelan mengikuti arah angin. Sementara, kapal kayu yang bisa memuat hingga 12 orang ini hampir penuh. Saya duduk di sela beberapa orang yang rebahan dan berhadapan dengan Dji Ronin yang ditutupi kain pantai–pelindung ala kadarnya dari air laut yang kadang-kadang berkecipak dan masuk kapal.

Kami menuju Pulau Satonda, pulau di Nusa Tenggara Barat yang terletak di arah barat laut Gunung Tambora. Jaraknya sekitar 1,5 jam dari Pulau Moyo. Oleh karena angin yang sepoi-sepoi dan ayunan kapal yang lembut, beberapa orang menyerah pada kantuk lalu merebahkan diri. Sisanya, bergeming, tidak bersuara, dan asyik dengan pikiran sendiri.

Gemala Hanafiah rebah dalam perjalanan menuju Satonda.
Gemala Hanafiah rebah dalam perjalanan menuju Satonda.

Rencananya, kami akan menghabiskan sore dan menikmati senja hari itu di Pulau Satonda. Saya yang tidak bisa tidur, mencukupkan diri dengan mendengarkan musik. Rasanya sungguh enak. Seperti hati ini jadi begitu tenang, dan kepala sangat ringan.

Saya melihat anak buah kapal duduk diam di ujung kapal. Saya lalu melihat air laut yang berwarna sangat biru, pertanda bahwa kapal ini memasuki perairan yang dalam. Sesekali burung-burung terbang rendah, untuk kemudian tinggi lagi. Saya juga melihat pulau-pulau hijau selama perjalanan. Hingga akhirnya, kapal menyentuh tepian pantai. Kami tiba di Pulau Satonda ketika langit mulai merah.

Pulau Satonda punya kisah yang memikat, jika tidak bisa dikatakan misterius. Juga tentu saja menarik. Satonda biasa menjadi salah satu pulau yang mesti dikunjungi kalau ke Lombok, bersama Moyo dan The Gilis (Trawangan, Meno, Air, Nanggu). Bagi saya pribadi, Satonda sangat menarik karena punya nilai sejarah yang tidak biasa-biasa saja–walaupun agak membingungkan karena kisah asal-usul Satonda ada beberapa versi.

Merapat di Satonda.
Merapat di Satonda.

Ketika saya tiba di Satonda, ada dermaga patah dan gapura besar bertuliskan “Welcome to Satonda Island Dompu” berwarna hijau tua di tepi pulau. Gazebo-gazebo nyaman dari kayu dan beratapkan jerami berjajaran di tepi pantai yang pasirnya berwarna putih gading. Sepertinya memang dikondisikan untuk leyeh-leyeh menikmati pantai atau senja yang kabarnya cantik. Syukurlah, hari ini saya punya kesempatan menyaksikannya langsung. Tapi sebelum datang waktu senja, saya dan kawan-kawan melihat beberapa titik menarik Satonda.

Welcome to Satonda Island, Dompu.
Welcome to Satonda Island, Dompu.

Dari tepi pantai, ada jalan setapak buatan dari batu-batu kerikil. Pulau ini agak berbukit dengan pepohonan yang rindang di sepanjang bukit yang mengelilingi pulau seluas 535 hektar ini. Ketinggian bukit paling tinggi adalah 300 mdpl. Jalan setapak ini mengarahkan saya ke sebuah danau yang tersembunyi dengan air berwarna hijau tua. Danau ini bernama Danau Matatoi atau Motitoi. Airnya tidak beriak. Tenang. Tapi, misterius. Namun, danau ini menarik. Tidak selaiknya danau yang biasanya berair tawar. Danau ini berair asin. Jika dilihat dari udara, danau ini berada di tengah-tengah pulau, seperti kawah di pegunungan hanya saja berisi air, alih-alih lahar.

Danau Matatoi atau Motitoi adalah titik paling menarik, selaras dengan menariknya Pulau Satonda itu sendiri. Kabarnya, dasar danau ini dipenuhi karang dan struktur terumbu stromatolit seperti di pinggir danau. Terumbu dengan struktur stromatolit pertama kali muncul 3.000 juta tahun lalu di zaman Pra-Kambium. Pembentukan stromatolit terumbu Satonda di Danau Motitoi ditemukan terbatas pada lapisan permukaan sampai kedalaman batas oksigen/H2S (24-26 meter).

Danau Matatoi, Pulau Satonda, yang kelihatan menghanyutkan.
Danau Matatoi, Pulau Satonda, yang kelihatan menghanyutkan.

Menurut ahli geologi yang kini aktif di Museum Geologi di Bandung, Pak Heryadi, Satonda adalah pulau yang memiliki gunung berapi. Gunung ini kabarnya meletus 4 ribu tahun lalu dan menimbulkan lengkungan berbentuk huruf delapan. Lengkungan tersebut lalu terisi air hujan. Kini, kita kenal Danau Matatoi dengan besaran diameter terpanjang 950 m, dan terpendek 450 m, dengan kedalaman 60-84 m.

Sementara, ahli sejarah seperti Profesor Stephen dari Universitas Hamburg dan Profesor Kamirsac dari Polandia, meneliti Danau Matatoi di Satonda pada 1996. Mereka menemukan fakta bahwa melihat lokasi danau yang lebih rendah ketimbang permukaan laut, bisa jadi danau itu sudah terbentuk ribuan tahun lalu, ketika sebuah gunung api di bawah laut meletus dan membentuk kaldera–yang adalah Danau Matatoi yang kini Anda kenal.

Lebih jauh tentang stromatolit yang ada di dasar Danau Matatoi, adalah ia struktur-struktur batu gamping terumbu yang masif yang terbangun dari sekelompok organisme marin prokariotik (golongan bakteri dan alga biru-hijau yang intinya belum jelas terpisah di dalam sitoplasma). Stromatolit ini dapat melewati ratusan atau ribuan juta tahun masa pelapukan, dan masih dapat ditemui membangun beberapa unsur bentang alam di Amerika Utara, Afrika, Asia, dan Australia. Stromatolit yang dapat berkembang sampai sekarang (resen) yang terkenal adalah di Shark Bay (Teluk Hiu), Australia Barat, di utara Perth; Lake Van di Anatolia, Turki, danau berkadar soda terbesar; dan di sebagian Bahama Banks, perairan Amerika Tengah. Di Asia, salah satunya ada di Danau Matatoi.

Dari tepi pantai ke danau, jaraknya tidak jauh. Hanya mungkin sekitar 200 m. Di pinggir danau, ada karang-karang kecoklatan dan pohon-pohon yang pendek beranting banyak dengan banyak batu yang digantungkan di batang-batangnya. Pohon-pohon ini disebut pohon kalibuda atau pohon harapan.

Pohon harapan di tepian Danau Matatoi, Satonda.
Pohon harapan di tepian Danau Matatoi, Satonda.

Mengenai air di Danau Matatoi yang asin seperti air laut, ada dua versi yang menceritakan soal ini. Pertama, kabarnya dulu air di Matatoi adalah air tawar selayaknya danau biasa. Tapi, kemudian para ahli geologi mengatakan dinding kawah Danau Matatoi curam berupa tebing setinggi 300 m di atas muka laut, terbuat dari lapisan tuf, lapili, dan bom vulkanik, dan ditemukan beberapa retas tiang (dike intrusion). Depresi kawah Satonda diperkirakan terbentuk oleh runtuhan di atas dapur magma gunung api Satonda akibat letusan 10.000 tahun yang lalu sehingga membentuk kawah. Kawah suatu waktu kemudian merosot ke arah laut, sehingga tebing kawah di sini hanya setinggi 13 m di atas muka laut. Struktur dinding yang merosot ini membentuk teluk sehingga laut menjorok memasuki wilayah kawah. Lalu, air laut yang masuk ke danau kawah menggantikan air tawar yang semula ada.

Yang semula air tawar, air di Danau Matatoi kini justru sangat asin, jauh lebih asin ketimbang air laut di sekitar pulau. Sebab, danau ini kehilangan akses ke laut terdekat. Akibatnya, air asin Matatoi memiliki alkalinitas, pH, dan kejenuhan mineral karbonat yang lebih tinggi daripada sekitarnya.

Versi kedua, ada yang mengatakan bahwa Danau Matatoi itu semula diisi air tawar. Namun, karena letusan Tambora tahun 1815 yang menyebabkan tsunami besar, air tawar tersebut tersapu tsunami dan digantikan air laut. Memungkinkan karena jarak Satonda dan Tambora tidak terlalu jauh.

Saya cuma bisa memandang Matatoi yang tenang sekali. Tidak ada ombak, tidak ada gangguan apa pun dari sana. Semua diam. Bahkan daun-daun di pohon kalibuda hanya goyang-goyang sedikit saja. Beberapa ranting terlihat ada di tengah danau. Di pinggir danau terlihat busa-busa yang mengambang. Entah datang dari mana, tapi ada kengerian yang misterius ketika saya mencoba berdiri di tepi danau itu.

Tidak terasa, waktu sudah banyak habis. Matahari mulai kekuningan, tanda senja hampir datang. Saya lalu meninggalkan Matatoi dan kembali ke tepi pantai, dekat dermaga, untuk menikmati senja hari ini. Dan betapa sepertinya kita istimewa sekali, telah disuguhi senja secantik ini. Salah satu senja termagis yang pernah saya nikmati ya di Satonda ini. Ahhh…

Senja Satonda
Senja Satonda
Langit mulai jingga di Pulau Satonda.
Langit mulai jingga di Pulau Satonda.

2 Comments Add yours

  1. sutiknyo says:

    wah kamu ngerasain sensasi berenang di danaunya gak, serem2 aneh gitu pas nyilem gelap gulita. btw saya sebenernya tertarik dengan kisah kalebuda. Selain di satonda saya juga menemukannya di beberapa bagian pulau Moyo. Setiap mereka punya hajat atau harapan, mereka akan datang dan berdoa di sana sambil mengantungkan sebuah batu. Dan percaya tidak percaya saya kmaren gantung sebuah batu dengan harap bisa segera ke Raja Ampat. Alhamdulillah kesampean. Dan konon katanya kalau harapan kita dan kesampean kita harus kesana lagi untuk melepas ikatan batu itu. Yukkk ksana lagi🙂

    1. Atre says:

      Nggak berenang, Mas Bolang. Ngeri-ngeri sedap gitu soalnya kayaknya air danau di Satonda itu. Tenang tapi gimanaaa gitu.

      Iya, di Moyo juga ada sih ya pohon harapan itu, tapi ga sebanyak Satonda. Ke sana lagi mah mau bangettt. Diaminin aja dulu aahhh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s