[Fiksi] Kei Pulang

“Para lelaki itu mesti pergi, tapi ia juga mesti pulang. Sebab ada yang dikasihi dan mengasihinya di rumah,” aku sudah hapal betul Gol A Gong bilang ini berulang kali. Si Roy yang Mas Gong sendiri kesankan begajulan dan brengsek dalam novel-novelnya itu toh ternyata paham soal ini. Bahwa dalam setiap perkelanaan, harus selalu ada perjalanan menuju rumah. Bahwa dalam setiap pergi, sudah semestinya harus ada pulang.

Aku kini menunggu Roy-ku pulang. Roy-ku yang jauh dari begajulan. Hanya saja, punya adiksi berlebihan terhadap petualangan yang nyaris mirip dengan Roy.

Roy-ku itu gandrung pada bau laut. Atau, jalan yang belum pernah ia tapaki. Roy-ku itu bakal terlonjak kegirangan kalau bisa tiap-tiap harinya merasakan udara segar dari tempat yang belum pernah ia singgahi sebelumnya. Semisal hari ini di Jakarta, lalu besok di Makassar, dan lusa di Buru.

Kini, aku menunggu Roy-ku pulang, setelah genap dua bulan ia beperjalanan keliling Pulau S.

***

Bandara. Tempat banyak tubuh saling memeluk dan saling mengecup; mengucapkan salam pertemuan, salam perjumpaan kembali, bahkan salam perpisahan. Aku terduduk saja di kursi tunggu yang berjajaran di selasar bandara di Kota J ini. Tenang, dan pasrah.

Koper-koper berderak-derak di lantai. Aku sesekali melihat roda-roda koper itu kerap terpelanting jika si empunya koper begitu tergesa. Di sela itu, roda-roda troli bercericit tipis. Tanda bahwa mereka kurang pelumas, dan keletihan. Yang mendorong troli mana peduli. Wajah-wajah mereka biasanya tidak terbaca. Mungkin memang tidak acuh. Dalam tenang yang juga tidak terbaca, aku lanjut menunggu Roy-ku tiba, seraya menyisir keadaan hanya sampai batas pandang mataku bisa menangkap.

Para penggembol ransel besar banyak lalu-lalang. Seringnya mereka sangat sibuk pada peta di tangan. Ramai-ramai menunjuk satu peta yang sama, berargumentasi sampai berkerut-kerut dahi. Mungkin soal destinasi mana yang hendak mereka jejaki pertama kali. Padahal, perjalanan itu—serupa hidup—bukan persoalan destinasi, tapi soal perjalanan. Orang Amerika bernama Ralph Waldo Emerson yang dulu kesehariannya diisi dengan filosofi hidup, puisi, dan esai sudah memahami betul kalimat itu, jauh sebelum aku lahir; 1800-an. Tapi ya, biar bagaimana, menentukan destinasi atau rute perjalanan kadang-kadang menarik juga. Membiarkan jantung berdetak-detak lebih cepat karena imajinasi, bahkan sebelum perjalanan dimulai.

Bandara sore itu kelihatan kacau. Orang-orang terlalu banyak yang datang dan pergi. Aku sudah hendak memutuskan ingin pusing, ketika ingat bahwa ini adalah hari Jumat—salah satu hari tersibuk bandara. Lagipula, aku mestinya sudah siap dengan sibuknya bandara di Kota J ini. Wong ia sudah masuk dalam 15 bandara tersibuk di dunia. Wajar toh. Akhirnya, pusing kuurungkan. Aku lebih memilih banyak-banyak tenang, lalu mengambil sebuah buku yang isinya bernas dari dalam tas. In Cold Blood, Truman Capote. Greates Crime Seller, katanya, dan awalnya adalah cerita empat seri yang muncul di surat kabar Amerika, Koran TNY.

Aku baru mulai hendak membaca feature tentang pembunuhan nyata keluarga petani di Kansas itu, ketika otakku tidak bisa kompromi. Kaki-kaki lalu lalang yang kelihatan dari ekor mata membuyarkan keinginan membaca. Manusia-manusia bandara jauh lebih menarik perhatian.

Di sela para traveler, kelihatan pula orang per orang bersetelan rapi yang hanya membawa koper kerja dan keringkasan. Mereka berjalan anggun; tergesa tapi tetap teratur. Ada satu mulut dari orang berjas itu yang tidak henti-henti menggumamkan, “Kerja, kerja, kerja,” tanpa putus. Ketika lewat di depanku, ia hanya melihat dari sudut matanya, menusukku. Lalu kembali ia merapal, “Kerja, kerja, kerja…”, dan menjauh. Suaranya hilang ditelan riuh rombongan backpacker yang kini sepakat menggaungkan “eureka, eureka, eureka…” berulang-ulang dengan suara keras sembari mengangkat peta mereka ke udara.

***

Kuhentikan hujan. Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan.

Tapi aku tidak bisa menghentikan hujan. Sapardi Djoko Damono mungkin bisa menghentikan hujan lewat sajaknya yang tadi itu. Tapi aku tidak bisa. Aku bukan pawang, penyair hebat, atau ahli yang bisa mengontrol kuasa Tuhan. Maka, aku pasrah saja ketika di bulan April ini, tanah Kota J selalu basah.

Hujan senangnya turun malam-malam. Apa ada yang bisa membayangkan, racikan Kota J yang dicampur hujan dan after hours? Kemacetan yang menggila adalah jawaban paling mutlak sepanjang sejarah. Suara klakson yang sahut-sahutan sudah bergaung-gaung di kepalaku, bahkan sebelum aku benar-benar menghadapi kemacetan itu sendiri.

Ada yang berdenyut dalam diriku: menembus tanah basah, dendam yang dihamilkan hujan dan cahaya matahari. Tak bisa kutolak matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga.

Sapardi bermusik lagi di kepala, lewat sajak yang sama. Ya, sedang tidak ada yang bisa membuat hatiku suram. Sedang ada yang berdenyut dalam diriku, dalam hatiku, yang akhirnya menciptakan bunga-bunga. Kemacetan rasanya sedang tidak mempan membuatku bermuram durja. Jadi, kuterabas saja gerimis, keluar dari gedung-yang-orang-orang-sebut-kantor, menuju halte busway.

Aku menunggu TransJ, jenis transportasi yang kini sedang diagung-agungkan masyarakat kelas menengah Kota J. Padahal, kondisinya masih jauh dari layak. Banyaknya armada bis masih terlalu sedikit. Orang-orang masih kudu berjubel-jubel di dalamnya. Malah kadang-kadang, TransJ itu langkanya minta ampun, persis seperti keberadaan daging sapi beberapa bulan lalu.

Namun ya itu tadi, tidak ada yang bisa membuat hatiku kalut belakangan ini. Seperti hari ini, gerimis mengiringi langkah kakiku yang ringan menuju halte busway. Meskipun kemudian masih harus menunggu kedatangan TransJ dalam hitungan jam, aku masih tetap girang.

Kilauan cahaya dari lampu-lampu mobil yang digerimisi air, membentuk bokeh. Bulir-bulir air hujan di kaca besar halte jadi lebih indah dari biasanya. Meski malam itu, TransJ baru datang satu setengah jam kemudian, dan orang-orang sudah desak-desakan di dalamnya, hatiku tetap baik-baik saja. Aku malah memutuskan bergabung dengan tubuh-tubuh yang berjejalan itu.

Denting lonceng dari dalam tasku kedengaran tipis. Itu nada untuk pesan masuk baru. Agak malas mengeluarkan ponsel, tapi aku penasaran. Maka, dengan sedikit keruwetan meminta ruang gerak untuk mencari-cari ponsel di tas, akhirnya si Sony Xperia sudah ada di tangan.

Kei Kaimana
last seen today at 20:30
Tara, aku kangen *peluk* 20:25

Aku membaca layar WhatsApp, lalu berbahagia.

20:40    Aku di TransJ penuh, berdiri. I miss you too, Kei.

Setelahnya, aku segera memasukkan ponsel lagi ke tas. Dan, denting lonceng itu berulang-ulang kali berbunyi. Tapi kali ini aku tidak tergopoh-gopoh mencari ponselku. Biarkan, nanti kalau sudah sampai di rumah baru aku cek. Setidaknya kini aku tahu, Kei baik-baik saja, aman di dekapan alam, dan masih terus merindukanku.

Aku menyibukkan diri dengan wajah-wajah tertidur para pekerja di TransJ. Mereka kelihatan pulas betul. Juga, kelihatan berantakan. Apa mereka berbahagia? Aku juga ingin tidur, tapi agak sulit kalau tidur sembari berdiri semacam ini. Aku melanjutkan menikmati hujan di Kota J dari dalam TransJ, dan masih membiarkan Sapardi berputar di kepala.

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis…

***

Kei Kaimana.

Yapi Panda Abdiel Tambayong ternyata pernah juga merasakan hal yang sama sepertiku. Atau setidaknya, pernah pula mengangankan satu fase hidup yang persis sama seperti yang kualami, yang kemudian dituangkan dalam novelnya.

Aku bertemu ia di Ngurah Rai. Aku terkesiap ketika membaca salah satu novel Remi itu. Kalimat pembuka di bab yang terawal buku itu langsung menyedot perhatianku sampai habis. “Saya bertemu ia di Ngurah Rai.”

Ya, aku bertemu Kei di bandara yang sama dengan di novel itu. Di tengah perjalanan. Tidak di kotanya, ataupun di kotaku.

Di sebuah siang yang sangat biasa-biasa saja, aku dan teman-temanku yang saat itu hendak beperjalanan sama-sama ke pulaunya para komodo, tahu kalau akan ada satu lelaki yang datang dari Kota S. Kami sudah waspada pada keanehan situasi yang akan terjadi nanti. Kami juga sudah siaga bahwa orang asing ini akan sangat kaku atau cupu tidak keruan. Jadi, kami santai saja ketika ada seorang lelaki berkemeja coklat tua menghampiri kami di kafe bandara.

Masih tercetak sangat jelas pertemuan pertama itu. Lepusan asap rokok menguar di udara. Beberapa dari kami rebah dalam posisi seadanya di kursi kafe. Yang lain ngobrol santai soal diri masing-masing, di mana saat itu aku merasa aku yang paling tidak punya terlalu banyak pengalaman beperjalanan. Bercangkir-cangkir kopi yang sudah setengah isi—atau masih setengah penuh—berserakan di meja. Lalu-lalang orang-orang di bandara itu tidak signifikan. Katakan saja, sepi. Sampai akhirnya, lelaki dari Kota S, yang lengan kemejanya digulung hingga siku itu tiba di mulut meja kami.

Keringatnya nggobyos. Kemejanya basah di bagian ketiak dan kerah leher. Entah apa yang baru terjadi sebelum ia sampai ke kafe. Apa ia sprint atau malah maraton keliling Bandara Pulau B? Tapi, kulit wajahnya yang putih bersih itu penuh bulir-bulir air.
Meja kami diam. Mulut kami semua rapat. Kami biarkan lelaki itu bernapas sampai lega. Menghadapi kediaman yang terlalu sunyi, lelaki ini tersenyum berkeliling sembari mengajukan tangan kanannya. “Halo, saya Kei.”

“Tara,” kataku singkat mengajukan tangan ketika tangannya sampai di hadapanku.

Ternyata, Kei ini, yang bisa tiba-tiba bergabung dengan rombongan traveler ini tahu betul caranya bikin video. Video perjalanan, terutama. Karena itu, ia diikutsertakan. Mengingat, selain ia, di antara kami hanya ada penulis dan juru foto.

Anak ini tidak terlalu aneh, ternyata. Kami sepakat sembari berbisik-bisik.

Aku cuma tersenyum tenang melihatnya sibuk menjelaskan soal kamera kepada salah satu teman yang belum terlalu canggih memotret. Keringat Kei sudah kering. Ia jauh kelihatan lebih bisa mengatur napas. Teman-teman yang lain juga kelihatan langsung nyaman dengan keberadaannya; yang meskipun tidak terlalu banyak bicara, tapi tahu menempatkan diri.

Hingga lima hari keliling Pulau F dan Pulau B sama-sama, Kei bukan lagi orang asing. Seperti bertemu kawan yang sudah sangat lama tidak bertemu.

“Well, see you around…,” kami yang pulang ke Kota J mengucap pamit kepada Kei yang harus pulang ke kota yang berbeda; Kota S.

***

“Kei, ekspedisimu ini berapa lama?” tanyaku ringan di kala Kei menjelang beperjalanan keliling Pulau S. Nasi ayam kremes jadi menu makan malam kami saat itu.

“Dua bulan, Ra,” Kei menyambut es teh manis yang baru diantar perempuan pelayan yang berseragam batik motif kawung.

“Excited?”

“Yongkraiiii…”

“Bakal sering nggak ada sinyal kayaknya, ya?”

Mulutnya sudah penuh dengan kremesan. Matanya menerawang dan dahinya berkerut. “Mmm, mungkin. Tapi nanti, aku bakal kirim senja setiap hari,” katanya seraya mengusap-usap rambut pendek saya.

Lalu, begitu saja. Dalam setiap senja yang dikirimnya, aku sudah paham betul, bahwa ada dirinya yang menemani. Rindu itu ternyata memang bukan masalah jarak, tapi soal kedekatan hati. Rindu itu pun juga bukan soal rentang waktu, karena ia tidak akan ada habis-habisnya.

***

Dimulai di sebuah malam yang sangat biasa, aku dan Kei ngobrol banyak hal. Percakapan panjang pertama kami adalah ketika ia dengan sukarela menemaniku bekerja semalaman—meski aku di Kota J dan ia di Kota S.

Aku harus menulis feature, sebuah tulisan untuk kerja. Kelemahan paling lemahku itu satu: cepat tidur. Aku selalu butuh obat melek paling mujarab yang bisa ditawarkan tukang obat. Dan entah dari mana datangnya ia, Kei tiba-tiba jadi obat anti-ngantuk yang dahsyat punya.

Di sela writer’s block, Kei kentara betul tidak mau terlalu bawel, tapi tidak mau juga terlalu sunyi-sunyi amat. Ia lalu punya pertanyaan, “Cita-cita paling besarmu apa, Ra?”

Aku sibuk pada feature-ku. Obrolan kutelantarkan sejenak. Tapi, tidak berhenti. Kudapati Kei sudah panjang lebar bicara tentang mimpinya, tentang cita-cita terbesarnya. Fotografer perang. Fuck, ini menyita perhatianku sangat besar.

Aku ingat pada Kevin Carter. Aku ingat pada film tentang fotografer-fotografer perang keren yang entah kenapa pemeran-pemerannya ganteng-ganteng semua. Ya, The Bang Bang Club. Shit, aku menyumpah lagi. Aku jadi lupa kalimat-kalimat apa yang ingin kutulis pada feature kerjaku. Aku malah ngejabanin Kei bermimpi.

“James Nachtwey, Ra. Nachtwey juga keren. Biarpun nggak cuma urusannya sama perang ya, tapi aku suka Nachtwey. Foto-fotonya bicara. Sangat intim. Dia itu pernah ke Ijen, lho, kamu mesti liat dokumenternya.”

Saat itu aku cuma mengangguk-angguk. Mimpi liar kami ternyata sejalan. Aku ingin jadi wartawan perang. Sok-sokan saja, sih. Rasanya akan jauh lebih memuaskan bisa menginformasikan berita penting—sekaligus berbahaya—kepada masyarakat dunia ketika wartawan lain menolak untuk mengambil risiko. Kei hanya bilang, “Wild, eh?” Aku cuma memberi emote nyengir.

Malam-malam setelahnya, rasanya aku tidak ingin jauh-jauh darinya—walaupun ia masih di Kota S dan aku di Kota J.

***

“Halte Pondok Indah!” doorman TransJakarta berteriak lantang. Kepalanya muncul di antara kepala-kepala para penumpang. Saya harus turun di sini, untuk kemudian melanjutkan bis lain menuju rumah.

Hujan sudah tinggal sisa. Tapi kemacetan masih belum reda. Genangan air ada di mana-mana. Ya begini ini Jakarta. Ibunya kota tapi bermental lunak. Hujan deras sedikit, ia segera banjir. Kecipak-kecipak kecil di aspal jalan mengantarkan saya ke Kopaja P20 rute Lebak Bulus-Senen. Kalau lancar, saya akan sampai di rumah 30 menit dari sekarang.

***

“Ra, kamu jangan capek. Sebentar lagi aku pulang. Hold on.” Itu katanya sekitar setengah bulan yang lalu.

“Boelah, Kei, tenang aja. Kamu ekspedisi aja sana yang tenang. Belanja visual yang banyak, biar videomu ciamik yes!” Aku pura-pura tidak rungsing. Padahal, rindu sudah ngebul di ubun-ubun, sampai-sampai tidak paham lagi cara untuk mengendalikannya.

“Bawel lho dia,” Kei dengan gaya bicaranya yang masih medhok samar-samar menggelitik lewat suara.

Meskipun biasanya menunggu adalah pekerjaan yang membosankan setengah mati, tapi menunggunya kok sama sekali tidak menjemukan.

“He, pokoknya nggak nyangkut di perempuan Nusantara mana pun ya.”

Lalu, Kei tertawa berderai. Aku tahu pekerjaannya menggerus habis tenaganya, tapi mendengar ia tertawa, aku rasa aku bisa tenang.

“Tapi, Manado ini cantik-cantik sih, Ra. mana ada tren perempuan-perempuan mudanya pake hotpants lagian,” suara Kei menggoda.

“Kampretttttt!” aku cuma bisa melolong.

Tawa Kei tambah berderai. Rinduku tambah berbuncah-buncah.

***

“Aku udah di rumah, Kei. Sleep already?” Aku memencet tombol “send” di layar WhatsApp Kei.

Lagu “Fallen from the Sky” dari The Swell Season lalu teriak-teriak dari ponselku. Nama Kei Kaimana muncul di sana.

“Ra, udah mau tidur?” aku jawab belum, lalu ia melanjutkan, “Tadi itu kami berhenti sebentar di Watang Pulu. Sekarang, sih, mau lanjut ke Danau Tempe…,” ceritanya panjang sekali.

Danau Tempe? Aku baru pertama kali ini mendengar ada tempat itu.

“Gila, capek bukan main, Ra. Ini aku masih harus di jalan, masih ada 300 km lagi. Harus sampai Tana Toraja segera ih.”

Oh, Kei sudah masuk Sulawesi Tengah.

“Jadi, Bone cuma kamu lewatin aja? Sayang bangettttt…” aku sudah rebah, bersiap tidur.

“Yang penting kan ke Toraja. Kalo ke Sulawesi tapi nggak ke Toraja rasanya gimana gitu.”

I miss you so…” tambahnya.

“Kei…,” gelisah tiba-tiba muncul.

“Jangan khawatir. I’ll be back soon,” katanya seperti paham apa yang aku rasakan.

“Utuh ya, plis banget.”

“Siap! Kamu istirahat sana. Aku lanjut lagi ya.”

Di akhir hari, hati ini rasanya berdenyar-denyar campur aduk. Bahagia, juga khawatir, lalu rindu. Semua padu jadi satu. Solid.

***

“Jangan sakit,” suara Kei lembut di telinga. Tubuhnya berpendar-pendar penuh cahaya. Ia berdiri di tengah-tengah gelap. Ia satu-satunya yang jelas kelihatan di mataku. Terang dan memabukkan.

Kei lalu mengulurkan tangannya yang bersinar itu. Aku menyambutnya. Rasanya tanpa ragu-ragu. Kami lalu berjalan tenang dalam malam. Tangan Kei yang besar, terasa lengket di tanganku yang hanya separuhnya.

Di sekeliling kami masih gelap, tapi aku dan Kei asyik saja melangkah ke depan, di jalan setapak dari batu. Hingga tiba-tiba, ada sebuah rumah besar berdinding bata di hadapan kami. Muncul dari entah berantah.

Aku melihat ke wajah Kei. Ia tersenyum. Aku turut serta. Tangan kami masih saling menggenggam. Lalu, kami terbang, melangkahi rumah bata itu. Hingga, kami tiba di sebuah padang rumput seluas pandangan mata.

Aku mendongak. Langit sedang cerah. Bintang ada di mana-mana. Tapi kami tidak rebah menikmati itu. Kei mengarahkanku ke sebuah rumah kayu. Aku mengingatnya serupa rumah Anna dalam Closer. Rumah beraksen kayu yang hangat. Di ruang tamu, Kei memelukku kencang sekali. Tapi lalu mataku membuka.

Pagi cepat datang. Aku memandangi plafon putih yang kukenal betul. Dalam demam tinggi semalaman, ternyata aku memimpikan Kei. Hanya mimpi. Keringat dingin masih membekas di bantal. Rambutku kuyup. Hatiku berdesir karena rindu yang keterlaluan.

Ah, aku sama sekali tidak mengerti bagaimana cara kerja mimpi. Tapi, ia kadang-kadang menghadirkan orang yang paling kita rindu tepat waktu. Menyelamatkan kita dari mengapung yang berkepanjangan.

***

Suara koper-koper berderak dan orang yang lalu lalang sudah menjadi pemandangan biasa. Tidak lagi menarik. Pengumuman-pengumuman di udara juga sudah entah berapa kali silih berganti, membuat denyut-denyut jantungku semakin cepat. Bandara bukan tempat yang istimewa buatku, tadinya, sampai tiba hari ini.

Sudah dua jam; sendirian dan rindu keterlaluan. Dua kata ini sebetulnya haram jika disandingkan. Akibatnya bisa berbahaya. Seperti yang aku rasakan saat ini. Semua perasaan itu cuma bisa dijabarkan dalam satu buah frase: “nggak keruan”.

Aku duduk sendirian di selasar Terminal 1A, menggenggam hot cappuccino Dunkin Donuts, sembari tercenung. Apa penerbangan Kei tertunda? Ponselnya tidak bisa dihubungi. Pesan WhatsApp yang kukirim pun tertahan entah di mana. Huruf d, e, l, a, y, e, dan d yang berurutan di kepala sukses membikin aku rungsing.

Jadi begini ini rasanya saat bandara menjadi penting dan menentukan. Begini rasanya menjadikan bandara sebagai tempat istimewa untuk menunggu orang istimewa pulang. Aku tertunduk.

***

Ting tung.
Kei Kaimana
last seen today at 17.03
Bengong aja, Neng 17.00

Aku gelagapan. Refleks, leher yang tidak terlalu panjang dan jenjang ini menoleh kanan-kiri, mencari sosok yang sudah beberapa bulan sangat kutunggu kedatangannya. Dan… ada cengiran nakal dari arah jam 9.

Aku menghembuskan napas lega. Laki-laki pencinta laut ini pulang. Meskipun jenggot, kumis, dan rambutnya lebat gondrong tidak beraturan, tapi senyumnya masih aku kenal betul. Biarpun kulitnya melegam, tapi aku masih mengenali air mukanya yang lucu kalau malu.

Sudah saatnya hot cappuccino yang sejak tadi jadi mainan, aku lepaskan. Kei sudah kembali. Tanpa ragu-ragu, aku menghampiri kedua tangannya yang membuka, dan memeluk hatinya.

Pertanyaan soal delayed jadi tidak penting lagi. Pertanyaan soal lamanya ia datang juga tidak perlu lagi ada. Karena toh ia sudah di sini. Bukankah menunggunya tidak pernah menjemukan?

Untuk Keitara

5 Comments Add yours

  1. ronny fauzi says:

    sedikit sekali tulisan di internet yg panjangnya lebih dari tiga kali scroll yang sy baca sampai habis, apalagi kata per kata. cerpen ini saya tuntaskan dlm sekali baca, artinya bagus. thanks for writing good stuffs!🙂

    1. Atre says:

      ah, terima kasih sekali, Ronny🙂

      1. ronny fauzi says:

        sure, good stuffs deserve appreciation.🙂

  2. giri Prasetyo says:

    I Love you, Tjuk :*

    1. Atre says:

      i love you so, ya, Lof🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s