Nyanyian Pedestrian

Motor-motor berderum di trotoar. Banyak pedagang dan lahan parkir juga ikut menguasai trotoar. Pejalan kaki seolah tidak punya lagi tempat di jalan raya.

“Dulu, saya pengguna sepeda motor. Malah, suka parkir juga di trotoar karena tidak mengerti,” aku Anthony Ladjar, penggagas Koalisi Pejalan Kaki yang sehari-hari bekerja sebagai akuntan.

Anthony lalu tersentil oleh perkataan anaknya yang bingung melihat banyak motor naik trotoar ketika suatu hari mereka baru pulang dari museum. Matanya baru terbuka. Kenyataannya memang betul, banyak pengendara motor—terutama di Jakarta—yang mengambil lahan para pedestrian untuk berjalan kaki.

Fakta ternyata menggambarkan hal senada. Sekitar 80% trotoar masih digunakan pedagang kaki lima dan pengendara sepeda motor serta dijadikan lahan parkir. Ini merupakan data dari Koalisi Pejalan Kaki (KPK) bentukan Anthony bersama Denny Herlambang, Anton Nugroho, Sugiarto, dan pada pertengahan 2011. Lalu, di mana pejalan kaki bisa berjalan dengan tenang?

***

Jalan kaki adalah salah satu moda transportasi paling dasar. Hanya saja, banyak orang yang biasa jalan kaki terkompresi karena alasan ketidaknyamanan.

Jakarta membiarkan para pejalan kaki harus merasakan ketidaknyamanan berjalan kaki karena sebagian besar lahan trotoar dikuasai pedagang kaki lima dan tempat parkir. Belum lagi, fakta lain dari KPK yang menyatakan bahwa hanya sekitar 20% jalan di Jakarta yang dilengkapi trotoar dengan ukuran ideal, yaitu 3 meter. Sisanya, trotoarnya tidak ideal atau bahkan tidak ada sama sekali.

“Bisa jadi pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan jalan kaki karena fasilitasnya tidak ada,” kata Anthony. Begitukah? Kenyataannya tidak demikian.

Anitha Silvia, penggagas Manic Street Walker—klub jalan kaki di Surabaya, menyatakan bahwa pemerintah, dalam rencana tata kota, sudah memasukkan trotoar dalam rancangan. Ukuran yang dimasukkan adalah ukuran ideal; 3 meter. “Kenapa ada banyak trotoar atau bike lines di Surabaya, ya itu memang harus disediakan oleh Pemerintah.” Artinya, pemerintah sudah sadar betul harus membangun trotoar ketika membangun jalan.

Lagipula, terdapat dalam Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) No. 22/2009 pasal 25 disebutkan setiap jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum wajib dilengkapi perlengkapan jalan berupa fasilitas untuk sepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat.

Di beberapa kota di Indonesia pun, kita sudah bisa menemukan trotoar-trotoar yang nyaman—kalau tidak bisa dikatakan ideal. Di Jakarta, ada trotoar tertata baik di SCBD Sudirman, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Thamrin, sekeliling Monas, Kebon Sirih, dan sekitar Menteng. “Istana sebetulnya bagus, tapi ada tanda pejalan kaki dilarang lewat,” Anthony menyayangkan.

Kota Bandung memiliki kawasan jalan kaki yang nyaman di sepanjang Jalan Aceh, Jalan Supratman, Jalan Braga, dan Jalan H. Juanda (Dago). Sementara, jalan kaki di Yogyakarta—yang menurut riset Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), sekitar 74% trotoarnya tidak layak pakai—masih bisa nyaman dilakukan di sepanjang Jalan Malioboro. Untuk Surabaya, kita bisa memilih kawasan Dharmo, Tunjungan, atau Blauran.

Lalu apa masalahnya? Kota-kota di Indonesia sejauh ini hanya terbatas konsep “setengah-setengah”. Artinya, trotoar di sebagian kawasan sangat nyaman, sebagian lagi tidak. Indonesia tidak memiliki standar sebuah jalan yang bisa digunakan sebagai template untuk seluruh kota.

Rumitnya lagi, urusan trotoar dan jalan beraspal berada di bawah tanggung jawab dinas pemerintah yang berbeda. Trotoar berada di bawah penanganan Dinas Pertamanan dan Keindahan Kota. Masalah jalan beraspal berada di tangan Dinas Pekerjaan Umum.

Trotoar tidak dianggap sebagai infrastruktur yang melekat pada sistem transportasi. “Seolah jalan kaki adalah sesuatu yang dekoratif, hiasan saja,” keluh Marco Kusumawijaya, urban planner dan arsitek di sebuah lembaga bernama RUJAK Center for Urban Studies. Jadi, ketika membutuhkan perbaikan, masalah trotoar berada di urutan kesekian dalam skala prioritas; setelah urusan perut, tentu saja.

Satu lagi, jalan kaki tidak hanya sebagai salah satu moda transportasi. Jalan kaki, dalam ilmu transportasi, juga disebut perekat moda transportasi yang lain; motor, mobil, kereta, terlebih kalau naik transportasi umum. “Semua ahli transportasi umum bilang, kalau mau buat transportasi umum yang baik, buat trotoar yang baik. Selama itu tidak dikaitkan, hasilnya tidak akan baik,” ungkap Marco. Sepertinya pemerintah melupakan hal ini.

***

Modernisasi dan urbanisasi jelas mempengaruhi sistem transportasi. Dulu, ketika zaman Belanda, jalan raya dibangun lengkap dengan trotoar. Menurut Anthony, ketika era 1979, kawasan Pancoran ada yang tidak memiliki trotoar. “Tapi orang tetap jalan kaki karena kendaraan tidak terlalu banyak. Sekarang kan penduduk semakin banyak.”

Masalah muncul ketika pemerintah lebih fokus pada memindahkan kendaraan, bukan memindahkan orang. Pemerintah terlalu fokus pada kemacetan, dan bukan pada sistem transportasi.

Kenyataannya, ada kaitan yang sangat kuat antara jalan kaki dengan sistem angkutan umum, dan sistem angkutan umum dengan kota yang baik. Tidak ada kota yang dianggap baik jika tidak ada transportasi umum yang baik.

Sementara, transportasi umum artinya menambah kapasitas orang yang diangkut, bukan menambah kendaraan. Jadi, alih-alih menambah jalan, yang harusnya dilakukan justru memperbaiki sistem transportasi. “Kota yang memiliki sistem transportasi umum yang baik, masyarakatnya pasti jalan kaki, seperti Hong Kong atau Tokyo,” ucap Marco.

Apa kalau sistem transportasi bagus, akan banyak yang menggunakan? “Bagus itu sungguh relatif. Patokannya sebetulnya nyaman dan aman,” kata Anthony. Para pejalan kaki yang tidak menyumbangkan banyak polusi jelas berhak mendapatkan pelayanan dan prioritas yang lebih baik dibandingkan para penyumbang polusi  utama, yakni si pengguna kendaraan bermotor.

***

Tidak hanya transportasi umum yang nyaman, para pejalan kaki berhak atas hal yang lain. Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) No. 22/2009 menyatakan bahwa pejalan kaki punya hak yang sama dengan pengendara bermotor di jalan raya. Sekali lagi, karena jalan kaki pun termasuk salah satu moda transportasi, bukan sekadar “aksesori” jalan.

Trotoar adalah hak pejalan kaki. Baik orang normal, maupun kaum difabel. Ini yang belum bisa sepenuhnya banyak pejalan kaki rasakan.

Anthony membayangkan, mungkin Peraturan Daerah 8 Tahun 2007 Tentang Ketertiban Umum perlu diamandemen. Perda tersebut menyatakan, selain TransJakarta, tidak boleh ada yang masuk jalur busway. Dikatakan pula, pejalan kaki harus berjalan di tempat semestinya. “Nah, tapi tidak ada poin yang bilang kalau kendaraan tidak boleh masuk trotoar. Kayaknya harus ada,” suara Anthony.

Lepas dari itu, jika merunut logika, para pengendara motor akan sungkan untuk mengambil jatah pejalan kaki di trotoar, jika banyak pejalan kaki yang menggunakan trotoar tersebut.

Tinta yang berpengalaman bekerja sama dengan pemerintah memberitahu, “Pemerintah dananya ada, kok (untuk membuat trotoar-red). Tapi asal dipakai.”

Jadi, rasanya sudah tidak perlu lagi naik motor hanya untuk membeli gula ke warung dekat rumah. Ayolah, mulai membiasakan diri jalan kaki.

P1110727
Ini salah satu trotoar di Jalan Sudirman. Trotoar habis untuk para pedagang dan area duduk-duduk untuk makan.

______

DID YOU KNOW?

Sekitar 80% trotoar masih digunakan pedagang kaki lima dan pengendara sepeda motor serta dijadikan lahan parkir.  -Data Koalisi Pejalan Kaki

Hanya sekitar 20% jalan di Jakarta yang dilengkapi trotoar dengan ukuran ideal, yaitu 3 meter. -Data Koalisi Pejalan Kaki

Pada 2010, terdapat 31.234 orang yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Sekitar 60% adalah pengendara sepeda motor. Di peringkat kedua terbanyak adalah pejalan kaki; sekitar 15%. –Data Kepolisian RI

*Bisa dibaca di Majalah Intisari Februari 2013

5 Comments Add yours

  1. johanesjonaz says:

    trotoar sebagai sarana penunjang pariwisata juga belum dipikirkan sepertinya😛

  2. ronny fauzi says:

    banyak orang enggan berjalan kaki karena fasilitasnya tidak memadai. pemerintah enggan membenahi infrastruktur bagi pejalan kaki dengan pertimbangan, “Buat apa? Wong tidak ada yang pakai juga.” Mbulet deh jadinya.

  3. baru beberapa kali ngerasain jalan kaki di trotoar surabaya, sama anak-anak juga rasanya beda banget. biasanya asal lewat aja. berharap bisa selalu jalan kaki, apalagi kalau sedang berwisata.

    btw, itu RUJAK center bener-bener mewakili kata rujak sepertinya ya Tre??

    1. Atre says:

      Woohhh ini dia blogmu yaaa?

      1. iyes buuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s