[Fiksi] Malam Ini Aku Cuma Ingin Pura-pura Bisa Bersandar pada Ibu

Pulang kandang malam ini, Ibu masuk kamarku tanpa mengetuk. Anak bungsunya baru saja tiba dari medan perang yang terlalu berdarah-darah. Ibu mendudukkan diri di karpet biru. Si anak masih kalut oleh pikiran sendiri.

“Sudah kau makan lambungmu sendiri?” suaranya berubah tipis seperti helai rambut.

Yang ditanya hanya manjawab “belum”, lalu kembali masuk ke kabut pikiran yang menyesatkan.

Bangsat! Masa bodo pada katakata yang minta dipoles sampai licin hari ini. Mati saja sana kau narasi yang jati dirinya sudah tidak lagi bisa aku kenali! Mati kau!

Lalu, dalam benak, ada adegan-adegan seorang perempuan membawa belati yang mata pisaunya tidak panjang, tapi sangat tajam. Ia kelihatan merajam-rajam seperti bentuk-bentuk kata yang warnanya hitam-hitam. Biarpun sudah buyar, katakata masih dicincang oleh si perempuan. Sepertinya ia masih belum puas. Baru ketika Z hancur tidak bisa dikenali lagi wujudnya, perempuan itu ngos-ngosan dan terduduk; kembali ke karpet biru, yang di hadapannya ada ibunya sendiri.

Ibu mana tahu pikiranku sesibuk itu. Yang ibu tahu, aku sedang rindu saja pada satu-satunya lelaki yang paling kucintai, yang belum juga sampai ke pelukan. Ibu cuma tahu, aku sekarat mendambakan tidur cukup. Ibu tidak tahu aku ini sedang berpikir hendak jadi pembunuh.

Tapi ibu akhirnya bertanya dalam tatap matanya yang gaduh, “Kenapa, Nak? Sudah berapa bagian hatimu yang kau tusuk-tusuk sendiri?”

Lalu aku balik bertanya banyak sekali ke ibu soal seandainya. Apakah seandainya bapak masih bersama kita, ia akan jadi orang pertama yang menggotongku ke rumah sakit ketika aku celaka dihajar sakit, misalnya. Atau, apakah ketika aku tibatiba butuh dibekali sekeping kenangan manis yang emas, bapak bisa segera muncul di hadapanku dan memberikanku tidak cuma sekeping, tapi sekarung keping emas itu.

Aku lalu bersandar pada ibu. Aku menangis di bahunya sepuas yang aku bisa. Aku membasahi pundak ibu, bahkan hingga ke seluruh pakaian tidurnya, sampai air mataku menggenang-genang di pelupuk matanya. Aku lalu memeluk ibu seperti ketika aku baru pulang dari sekolah dasar, tenggelam dalam dua lengannya yang menolak capek.

Tapi semua itu tidak betul-betul aku lakukan. Semua hanya terjadi di dalam pikiranku. Aku berpura-pura bersandar pada ibu. Berpura-pura menangis di bahunya. Juga, berpura-pura memeluknya.

Dan, ibu tidak pernah tahu sampai kini. Bahwa aku sering bermimpi membunuh kepura-puraan. Tapi di akhir mimpi, seringnya aku yang dibunuh kepura-puraan. Ia menang, aku pura-pura, dan ibu tidak tahu.

Ibu tetap tidak  tahu. Bahkan sejak tadi, ibu sudah pergi dari kamar tanpa suara. Ia tidak sempat lihat, anak perempuannya berkelahi dengan mimpi. Mimpinya sendiri.

2 Comments Add yours

  1. fertamatara@gmail.com says:

    Gila! Gw baca artikel lo sambil ga sengaja dengerin treece-nya kenny G…netesin air mata🙂

    1. Atre says:

      Ferrryyyyyyyy… *pukpuk*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s