[Travel Tips] Traveling dengan Google Flights dan Google Trips

Google Travel punya kabar bahagia buat kita yang suka traveling. Mereka dalam waktu dekat bakal meluncurkan dua produk baru, yaitu Google Flights dan Google Trips.

Dunia punya cara sendiri untuk selalu mengingatkan bahwa para pejalan atau petualang adalah orang-orang yang beruntung sekaligus malang.

Kita punya akses sangat luas untuk menikmati keindahan di alam semesta. Tapi, juga punya risiko besar untuk tidak kembali ke rumah atau terluka di tengah jalan. Kita akan selalu disuguhi panorama membuai sepanjang perjalanan. Tapi, selalu dibayang-bayangi celaka yang bisa terjadi kapan saja.

Amelia Earthart, perempuan pertama yang terbang solo melintasi Samudera Atlantik, pasti penuh sekali hatinya ketika berada di udara dan terbang setara dengan awan-awan. Tapi, ia lalu hilang, sampai kini tidak ditemukan. George Mallory, pendaki gunung Inggris yang dispekulasikan sebagai orang pertama yang sampai di puncak Everest, bersama Andrew Irvine pada 1924. Tapi, keduanya lalu hilang. Jasad Mallory yang membeku baru ditemukan pada 1999 oleh tim yang dipimpin oleh Conrad Anker. Daftar ini masih sangat panjang. Tapi, seperti halnya menulis, berpetualang juga butuh keberanian.

To struggle and to understand. Never the last without the first. That is the law,” George Mallory pernah bilang begitu.

Siapa bilang traveling hanya persoalan hura-hura? Sangat keliru.

Seiring berjalannya waktu, teknologi juga semakin maju. Artinya apa? Risiko perjalanan semakin kecil. Bukan hilang sama sekali memang, tapi setidaknya berkurang. Banyak berita buruk tentang perjalanan setiap harinya, tapi banyak juga berita gembira. Jadi, saya ingin membalikkan mood tulisan ini yang semula mendung—seperti hari ini—menjadi lebih cerah.

Plan a Journey

Selama ini, memutuskan untuk akhirnya berangkat traveling saja sebetulnya sudah bikin capek. Memberanikan diri untuk naik pesawat (tidak semua orang bisa santai saat naik pesawat). Menenangkan diri untuk tidak stres karena akan meninggalkan pekerjaan selama beberapa lama. Atau, memberanikan diri untuk mencoba hal baru saat nanti tiba di sebuah destinasi.

Belum lagi, kita masih harus mengatur banyak urusan untuk mempersiapkan perjalanan. Mulai dari membeli tiket pesawat/ kereta/ bus, menentukan hotel, membuat rancangan perjalanan tiap-tiap hari, menyewa transportasi selama trip, dan lain-lain. Kalau dijabarkan seperti ini, mempersiapkan sebuah perjalanan, kok, jadi terdengar menyeramkan, alih-alih menyenangkan?

Oke, coba tarik napas dulu yang dalam. Lalu, embuskan lewat mulut pelan-pelan. Kalau masih panik, coba putar lagu andalan yang bisa bikin tenang. Kalau saya, lagu-lagu The Album Leaf adalah solusi. Nah, jika sudah tenang, baru teruskan baca lanjutan di bawah ini. Ada solusi praktis dari Google.

Minggu lalu, saya diundang ke kantor Google Indonesia di Sentral Senayan II, Jalan Asia Afrika. Di dalam lift menuju lantai 28, saya tidak punya ekspektasi apa-apa. Begitu menerima rilis di meja registrasi, saya hanya sekelebat membaca judulnya “Perkenalan Singkat Produk-produk Google Travel: Rencanakan dan Nikmati Liburan Impian Anda bersama Google”.  

ericzimmerman334Begitu memasuki sebuah ruangan dengan meja oval besar, dan kursi-kursi kerja, Eric Zimmerman (Director, Product Management, Travel Google Travel) muncul di panggilan konferensi. Wajahnya terpampang besar di dinding. Jason Tedjakusuma dari Google Indonesia juga ada di ruang itu.

 

“Kita akan conference call dengan Eric ya membahas produk-produk terbaru Google Travel,” ucap Jason. Kawan-kawan dari berbagai media, seperti Detik.com, Kompas Travel, Femina, Sindo, dan lain-lain, mulai menyimak wajah Eric—menunggunya bicara.

Eric sekarang berada di Singapura. Khusus melakukan panggilan konferensi bersama media-media Indonesia dan Malaysia secara bersamaan untuk membahas tentang Google Flights dan Google Trips, produk travel terbaru dari Google.

Google Travel berupaya tetap menyelaraskan langkah dengan kemajuan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat beberapa tahun belakangan. Terutama, dalam hal traveling. Google menyediakan produk-produk travel yang praktis dan informatif dalam waktu yang bersamaan. Tidak hanya diakses lewat komputer (desktop), tapi juga melalui ponsel pintar.

Entah kenapa saya langsung bergidik. Mungkin, akan ada suatu masa saat Google mendeteksi seluruh aktivitas kita sehari-hari. Ingin ke mana kita, nuansa hati kita di hari tertentu, sampai mendeteksi kebutuhan biologis kita tiap saat—makan, buang air, sampai keinginan biologis yang satu itu.

Google Flights

Wajah Eric yang putih pucat berkacamatan masih betah menampakkan diri di dinding. Suaranya lunak, dan ia mulai bicara tentang topik pertama: Google Flights.

Eric menyadari, perilaku masyarakat kini tidak bisa lepas dari ponsel. Terutama ketika sedang dalam perjalanan. Google Flights mencoba memudahkan persoalan rumit yang selama ini ada ketika hendak merencanakan perjalanan. Yaitu, mencari maskapai dan jadwal penerbangan yang sesuai dengan anggaran.

screenshot-google-flights

Google Flights dengan interface yang clean berwarna putih-biru—serupa dengan tampilan pencari di Google Maps—mengumpulkan seluruh jadwal penerbangan ke sebuah destinasi, baik lokal atau internasional, di tanggal tertentu, beserta harga dan penawaran promo yang sedang berlangsung. Informasi di Flights digadang-gadang update.

Di saat itu juga, di ruangan tempat Eric masih presentasi dengan semangat, saya mencoba-coba Google Flights melalui browser ponsel. Saat ini, Flights baru tersedia dalam bahasa Inggris.

 

Di halaman muka versi web, langsung terlihat opsi Round Trip jika ingin melakukan perjalanan pulang pergi, One Way jika ingin hanya pulang atau hanya pergi, dan Multi City untuk perjalanan ke beberapa negara. Sementara versi ponsel, halaman muka terdapat penunjuk pencarian (Search), Explore, dan Saved. Tidak hanya penerbangan, tapi ada juga hotel.

Saat ini, penelusuran hotel sudah tersedia di seluruh Asia, sementara Google Flights baru tersedia di India, Jepang, dan Malaysia. Indonesia menyusul paling lambat akhir tahun ini.

Fungsi ini langsung mengingatkan saya pada situs-situs pencari jadwal transportasi (kereta, bus, pesawat, dan lain-lain), seperti Utiket. Juga, tidak bisa melepaskan pikiran dari situs-situs travel agent online, seperti Tiket.com atau Traveloka. Produk ini memang baru, tapi konsepnya sudah sangat familiar.

Eric menggarisbawahi, “Tapi, kami tidak berusaha menjadi travel agent atau semacamnya.”

Betul, sih. Karena kita tidak bisa membeli tiket atau apa pun di Google Flights. Jika sudah menemukan penerbangan yang cocok, kita bisa menyimpannya. Jika ingin membeli, ketika mengklik jadwal yang dipilih, kita akan diarahkan langsung ke situs resmi maskapai. Sementara untuk penelusuran hotel, hasil pencarian akan diarahkan ke Google Maps berisi informasi (alamat, nomor telepon, dan website resmi) hotel tersebut.

Lalu, apa yang membedakan Google Flights dengan travel agent lain di luar persoalan jual-beli?

Menurut saya, ini justru yang menarik: informasi berlimpah yang otomatis tersedia saat kita mencari tiket.   Misalnya begini, kita mencari tiket Jakarta-London. Saat hasil keluar, yang muncul tidak hanya daftar tiket yang dicari, tapi juga informasi tentang London. Informasi ini otomatis dibagi berdasarkan kategori contoh saja, “hal paling populer atau dicari di London”, seperti Museums, Musical Theaters, atau Shopping. Dan, saat kita klik kategori-kategori ini, ia akan langsung direct ke Google Search dengan kata kunci yang dimaksud.

Tersedia juga peta yang menunjukkan itinerary-itinerary must visit di sana. Begitu banyak destinasi, begitu banyak foto, video, dan informasi dalam satu wadah. Saya pikir ini praktis. Tapi, tetap saja kita membutuhkan koneksi internet untuk mengakses Flights.

 

Google Trips

Jujur, saya lebih bersemangat akan produk yang kedua ini: Google Trips. Alasannya banyak. Pertama, karena Trips bisa diakses secara luring (luar jaringan alias offline). Kedua, Trips memiliki basis data (data base) mencakup lebih dari 200 destinasi terpopuler di dunia, dan ini bakal terus bertambah. Ketiga, Trips bisa disesuaikan dengan ketertarikan pribadi kita. Dan keempat, kapan lagi punya asisten perjalanan yang mumpuni dan bisa diandalkan bahkan dalam keadaan kita fakir sinyal dan fakir Wi-Fi?

You don’t have to spend your time typing, typing, and typing,” tambah Eric. Atau, tidak perlu buka tab di browser banyak-banyak.

Jadi rupanya, Trips ini bisa diunduh di Apps Store atau Play Store sebesar 8,52 MB ketika belum unduh tambahan-tambahan lain di dalam aplikasi. Kalau sebelumnya mengecek “things to do” dan “how to get there” di Lonely Planet, misalnya, lalu mengecek soal “must try activities” di aplikasi lain, dan “reservation tiket pesawat dan hotel” juga di tempat lain, setelah ada Trips, semua bisa di satu tempat.

screenshot-google-tripsDi Google Trips, informasi penerbangan dan hotel terkoneksi dari e-mail. Ada juga kolom Things to Do, Food & Drink, Getting Around, sampai rekomendasi itinerary di peta. Bahkan, ada kolom bernama For You, tempat seluruh rekomendasi khusus dari sebuah destinasi buat user yang dikumpulkan oleh Google. Semua dalam satu wadah. Gimana nggak semangat yakan ngerencanain trip?! Bukan stres, tapi justru nagih.

“You don’t have to open another tab. You don’t have to typing. You just have to click and change the data, the day, or the hotel. It’s saving a lot of time,” ucap Eric lagi.

Fitur paling saya suka itu adalah Day Plans (Rencana Harian). Ketika klik Day Plans di aplikasi Trips, kita langsung diarahkan ke peta berisi itinerary-itinerary di destinasi kita berada. Cukup pin beberapa itinerary yang kita minati, lalu klik magic wand berwarna merah di kanan bawah. Google Trips akan otomatis mengatur rencana perjalanan hari itu sesuai rute yang paling baik. Ia sekaligus memberi info tentang transportasi, jarak tempuh, etika tip, dan info-info basic lain saat kita traveling. Seperti, kuliner, tempat-tempat, dan sebagainya.

Penentuan rute biasanya melihat letak hotel, jarak satu tempat ke tempat lain, sampai cuaca. Yap yap, asisten pribadi yang bisa diandalkan.

Dan, ingat sekali lagi, semua bisa diakses offline.

Saat ini, Google Trips tersedia di semua negara dalam bahasa Inggris. Jika sebuah trip yang dirancang di Google Trips sudah berakhir, kita bisa menyimpannya untuk lain waktu, atau menghapusnya.

Kebetulan, bulan depan akan ada perjalanan ke Malang, Bromo, dan sekitarnya. Waktunya mencoba mereka untuk pertama kali. Tidak sabar ingin mencoba traveling dengan mulai dibantu oleh Google Flights dan Google Trips. Semper fortis!  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s