Apa Kata Mochtar Lubis tentang Gelisah?

“Some people lie. Some people just don’t tell the truth.”

Pagi ini kegelisahan menguar di udara. Sudah dari malam sebelumnya, tapi pagi ini ia jauh lebih pekat. Di beberapa jam sebelumnya, kegembiraanlah yang mengusap-usap relung saya dengan cara yang sangat manis. Serupa usapan ibu di pucuk kepala yang meninabobokan kala saya kecil. Tapi, di ujung hari, yang ada cuma resah.

People lie. That is life. Get used to it.” Pikiran ini memalu-malu kepala.

Ini awal segala gelisah itu muncul. Sempat ada yang menenangkan, bahwa tidak semua orang berbohong. Ada dia yang tidak berbohong. “Am not lie to you,” he said. Tapi lalu, ada pelajaran lain hari ini yang bikin kegelisahan jadi sekian kali berlipat.

“Some people lie. Some people just don’t tell the truth.”

Sejak lama, sahabat paling setia ketika hati saya gundah adalah jalan kaki dan membaca. Keduanya sengaja saya akrabi pagi ini. Setelah sekian lama tidak, pagi ini saya berjalan dalam kata-kata. Setelah sekian lama lupa, pagi ini saya kembali mencoba membaca dalam perjalanan.

Saya sempat kehilangan diri saya yang ini. Belakangan saya lebih memilih tertidur; harfiah dan tidak. Capek terus-menerus datang, meniup-niup, lalu memabukkan. Saya lupa untuk memperhatikan sekitar. Padahal saya suka memperhatikan sekitar; menjadi manusia dengan memperhatikan manusia. Hari ini saya ingin memulai lagi.

Ini rute perjalanan saya: jalan kaki 15 menit, bis 30 menit, lalu TransJakarta bisa sampai 1 jam.

***

Buku Mochtar Lubis Bicara Lurus ada di tangan saya, menemani perjalanan dari rumah menuju kantor yang menghabiskan waktu nyaris 2 jam. Tersaruk-saruk, saya membaca dalam perjalanan. Saya sudah tidak tangkas lagi ternyata untuk menyimak aspal dan buku dalam waktu yang bersamaan. Sempat tersandung di beberapa titik jalan setapak. Butuh waktu untuk terbiasa.

Ketika sudah duduk di bis pertama, saya mulai mencintai lagi saya yang ini. Saya yang tidak cuma bisa ketiduran di jalan. Saya yang adalah seorang pembaca. Tapi, saya pikir saya salah pilih buku. Ini bukan buku yang bisa menghilangkan gelisah. Mochtar Lubis malah semakin memupuknya.

***

Mochtar Lubis bicara yang besar-besar, soal feodalisme, soal Orde Lama, sedikit menyerempet politik, dan banyak membahas perihal kewartawanan.

Mochtar Lubis bicara korupsi, rakyat Indonesia yang belum dewasa, pembredelan Indonesia Raya – surat kabar yang dipimpinnya – di masa Orde Lama dan Orde Baru, sampai kekesalannya terhadap Pramoedya Ananta Toer.

Gelisah ini muncul bukan karena saya mengerti betul soal feodalisme, politik, atau birokrasi. Bukan juga karena saya paham luar biasa soal kematangan Indonesia sebagai sebuah negara. Sama sekali bukan.

Kegelisahan ini muncul karena ketika saya membaca bagian Mochtar Lubis bicara soal manakah pemimpin yang paling tepat setelah Soeharto jatuh (apakah dari pihak sipil atau militer), saya melewati seorang pemulung yang berdiri di satu bak sampah besar, melirik kanan-kiri dengan tongkat besinya yang siaga mencomot apa saja yang pikirannya perintahkan.

Kegelisahan ini muncul karena ketika Mochtar Lubis bicara soal emansipasi seperti apa yang diperlukan negara kita, seorang perempuan pengamen menggendong anaknya naik bis yang saya juga naiki. Nyanyian mereka jauh dari hal besar-besar yang ada dalam buku di hadapan saya. Nyanyian mereka saya kira cuma mengenal “makan apa hari ini” atau bahkan “bisakah kami makan hari ini”.

Kegelisahan saya muncul ketika tepat di saat Mochtar Lubis bicara kritik sastra dan sastra Indonesia zaman itu, saya sampai di Terminal Lebak Bulus yang ramai dan mau tidak mau terpikir, “Apa kondektur-kondektur bis AKAP, tukang gorengan, pedagang asongan, tukang DVD bajakan ini pernah menikmati sastra?” Atau, pertanyaan yang lebih sederhana, “Apakah mereka bisa merasakan nikmat membaca?”.

***

Kegelisahan di hari ini justru semakin jadi. Padahal, ini belum lagi setengahnya hari.

Kepala saya penuh. Oleh banyak pertanyaan yang belum tentu ada jawabannya. Oleh pertanyaan yang sudah terjawab tapi belum tentu saya mengerti artinya. Oleh pertanyaan yang sudah terjawab, yang jawabannya tidak berkenan tapi saya tidak punya daya untuk mengubahnya.

Pagi semakin menyesakkan ketika saya ingat lagi, “Some people lie. Some people just don’t tell the truth.”

Dada saya penuh. Apa kata Mochtar Lubis soal gelisah?

2 Comments Add yours

  1. aryanpoetra says:

    Follback ya 😊

  2. nianastiti says:

    Sudah lama nggak baca tulisan tentang kegelisahan, mungkin banyak orang memungkirinya, or some people just don;t tell the truth🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s