Menembus Angin dan Salju di Reykjavik*

Jalan kaki adalah salah satu cara menyenangkan untuk mengeksplorasi Reykjavik, ibukota Islandia. (Foto: Giri Prasetyo)
Jalan kaki adalah salah satu cara menyenangkan untuk mengeksplorasi Reykjavik, ibukota Islandia. (Foto: Giri Prasetyo)

Gambaran umum tentang sebuah ibukota yang ramai, padat, dan macet, seketika buyar ketika saya tiba di Reykjavik. Dan saya memilih menjelajahi ibukota Islandia ini dengan berjalan kaki, meskipun harus menembus angin dan salju.

“Hi, do you love this country?”

Tiba-tiba terdengar teriakan dari sebuah sedan yang berhenti di jalanan karena terhadang lampu merah. Sepintas saya melihat, setirnya ada di sebelah kiri, seperti umumnya mobil- mobil di Eropa. Saya yang saat itu sedang menjadi pedestrian di Reykjavik bersama Giri Prasetyo, serentak menoleh ke sumber suara. Dua perempuan berambut cokelat melambai-lambaikan tangan kepada kami.

Saya membalas dengan teriak pula, “Yes! Your country is so beautiful!

Enjoy your stay,” kata mereka sembari berlalu karena lampu sudah berubah hijau.

Saya memang sejak lama suka berjalan kaki. Mulai dari trekking keliling taman nasional, atau sekadar jalan kaki di seputar kota. Karena itu, saya mengamini perkataan Rebecca Solnit, pengarang Amerika yang menulis Wanderlust: A History of Walking (rilis 2002).

Kata Rebecca, “Kota adalah sebuah bahasa, dan berjalan kaki (mengitarinya) adalah upaya untuk berbicara dengan bahasa tersebut.”

Singkatnya, berjalan kaki adalah salah satu cara manusia untuk memahami sebuah kota. Inilah alasan utama saya memilih jalan kaki untuk menikmati Reykjavik.

** *

Reykjavik walking tour

Reykjavík (dibaca rayk-yə-vik) terletak di barat daya Islandia, dan sudah ada sejak tahun 874 sebagai pemukiman permanen pertama di Negeri Api dan Es ini. Tapi, baru pada 1786 kota ini resmi menjadi kota perdagangan hingga kini. Tahun tersebut akhirnya ditetapkan sebagai lahirnya Kota Reykjavík.

Selama di Islandia, kami menginap di Northern Comfort Apartment, sebuah penginapan di Jalan Skipholt, berharga terjangkau tapi berfasilitas lengkap, mulai dari wi-fi gratis di kamar sampai dapur yang lengkap dan modern.

Sekitar pukul 8 pagi, kami keluar dari penginapan. Wuuush…! Angin dingin langsung menerpa wajah kami. Embusan napas terlihat berasap. Jalan raya masih kosong. Hanya ada satu-dua orang terlihat di jalanan. Saya melirik ponsel, suhu menunjukkan angka 1°C. Giri sepertinya mulai kedinginan, karena saya lihat dia menggesek-gesek kedua telapak tangannya.

Tapi cuaca tidak menyurutkan tekad kami. Kami pun memulai perjalanan. Tiap langkah kami berbunyi kresss… kresss…kresss—suara es halus yang terinjak sepatu. Salju menumpuk di trotoar, peninggalan hujan salju semalam.

Destinasi pertama adalah Hallgrímskirkja di Skólavörðustígur. Butuh waktu 10-15 menit jalan kaki dari apartemen kami ke bangunan gereja ini. Hal pertama yang saya lakukan ketika berhadapan dengan Hallgrímskirkja adalah diam tak bergeming.

Saya terkesima menyaksikan gereja setinggi 73 meter ini. Apalagi saat memandang patung Leifur Eiríksson—penjelajah pertama Islandia dari era Viking—seberat 50 ton yang dibuat oleh Alexander Stirling Calder, pematung asal Amerika Serikat. Patung ini berdiri gagah di pelataran gereja.

Hallgrímskirkja adalah gereja terbesar di Islandia, bangunan tertinggi di Reykjavik, dan bangunan tertinggi keenam di Islandia. Desainnya sungguh unik karya arsitek Guðjón Samúelsson.

Butuh waktu 41 tahun membangun gereja ini, mulai 1945-1986. Menurut sang arsitek, desain Hallgrímskirkja terinspirasi aliran lava basalt di alam Islandia yang terkenal akan gunung berapinya. Ah, ya, bentuknya mengingatkan saya pada kolom-kolom basalt di Reynisfjara, pantai berpasir hitam di pesisir selatan Islandia.

Memasuki gereja, kekaguman saya bertambah. Tidak hanya karena lampu-lampu kekuningan yang menyala temaram di dalamnya, tapi juga karena jendela-jendela besar yang hampir menyentuh atap. Lengkungan-lengkungan di langit-langit juga tak kalah mengagumkan. Ada juga pipe organ buatan Jerman setinggi 15 meter dan memiliki sekitar 5 ribu pipa.

Klimaksnya adalah ketika saya naik ke lantai 8 menggunakan lift, dan tiba di titik tertinggi Hallgrímskirkja. Dari ketinggian, saya bisa melihat Reykjavik secara total, 360°. Rumah-rumah kelihatan begitu kecil, tapi tertata rapi dengan cat berwarna- warni. Dari kejauhan, terlihat pucuk-pucuk pegunungan berselimut es.

** *

Dari Hallgrímskirkja, kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Tjörnin di Central Reykjavik. Beberapa kali kami berpapasan dengan para pemuda setempat yang juga sedang berjalan kaki—rata-rata menyumpal telinga mereka dengan headphone. Saya langsung membayangkan lagu-lagu Sigur Rós di kepala saya, sehingga saya seolah bisa merasakan nikmatnya mendengarkan musik sembari jalan kaki.

Tiba di Skothusvegur, dari jauh sudah terlihat Danau Tjörnin. Di musim dingin, danau itu membeku. Tapi pada saat kami ke sana, danau itu belum cukup beku, sebagian masih berupa air, sehingga belum bisa dijadikan arena ice skating. Beberapa orang terlihat duduk-duduk di tepi danau sedalam 16 meter ini. Ada yang memberi makan unggas-unggas yang sedang berenang di bagian danau yang tidak membeku.

Kabarnya, ada sekitar 40-50 spesies unggas, termasuk Mallard, Arctic tern, angsa Greylag, sampai bebek, yang biasa mampir ke danau ini. Ah, sungguh menggemaskan memandangi tingkah polah mereka bermain air.

Mumpung berada di Tjörnin, saya menyempatkan diri mampir ke beberapa bangunan menarik di sekitar wilayah tersebut, di antaranya Reykjavík Art Museum, National Gallery of Iceland, Free Lutheran Church, dan bertandang ke patung Tómas Gudmundsson, penyair Islandia di tepi danau.

Sebelum menghabiskan waktu di shopping street, kami mampir sebentar ke kawasan pesisir. Menyusuri Lækjargata sambil sesekali melipir ke jalan-jalan kecil menikmati mural, tahu-tahu kami tiba di Harpa, satu lagi bangunan di Reykjavik yang membikin saya berdecak kagum. Dari jauh, Harpa sudah terlihat keren.

Harpa adalah salah satu bangunan modern—baru dibuka pada 2011—yang layak dikunjungi. Gedung konser ini dibangun dari kerangka baja yang dilapisi panel-panel kaca geometris dengan warna-warna berbeda. Ketika tertimpa sinar matahari atau lampu-lampu pada malam hari, bangunan ini tampak berkilau-kilau cantik.

Ada beberapa tempat menarik lain di dekat Harpa. Tinggal jalan sedikit ke belakang Harpa, terdapat Old Harbour yang dibangun antara tahun 1913-1917. Lalu, sekitar 5 menit jalan kaki dari Harpa, kami pun tiba di Sólfar atau The Sun Voyager.

Solfar

Sebuah karya pahatan yang dibuat oleh Jón Gunnar Árnason di bilangan Sæbraut ini bentuknya begitu ikonik dan sudah berdiri di tepi teluk sejak 1990. Karya pahat ini penanda perayaan 200 tahun Kota Reykjavik. Karya seni dari stainless steel dan granit berukuran 9 × 7 × 18 meter ini terinspirasi sebuah kapal. Maknanya menggambarkan harapan, penjelajahan ke tempat-tempat yang belum terjamah, dan kebebasan.

* * *

Tidak mau berlama-lama terombang-ambing di kapal Sun Voyager, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi pamungkas.

Kami sengaja menjadikan Lauvadegur sebagai tujuan terakhir dari rangkaian tur jalan kaki ini. Bukan hanya karena kami bakal betah berlama-lama di sini, tapi juga karena tempat ini searah dengan jalan pulang ke penginapan.

Laugavegur adalah salah satu shopping street tertua di Islandia, dan sudah ada sejak 1885. Berbagai barang tersedia di sini—dari yang bermerek lokal hingga yang high brand. Dari kartu pos, pakaian tradisional Islandia, sampai perhiasan.

Salah satu shopping street tertua di Reykjavik.
Salah satu shopping street tertua di Reykjavik.

Kalau lapar, jangan khawatir. Banyak restoran dan kafe bertebaran. Saya sempat menyicipi soup in a bread di sebuah restoran bernama Svarta Kaffid. Restoran kecil ini sukses bikin perut saya hangat dan kenyang dengan harga yang relatif tidak mahal. Tapi, dibutuhkan kesabaran menunggu. Pengunjung kerap harus antre untuk mendapat tempat duduk.

Sup hangat di tengah udara Iceland yang dingin. Tepat!
Sup hangat di tengah udara Iceland yang dingin. Tepat!

Di akhir hari, suhu Reykjavik yang sempat menghangat di tengah hari, anjlok lagi, kali ini hampir menembus minus derajat Celcius. Saatnya kembali ke kehangatan kamar, beristirahat sambil melemaskan kaki yang pegal-pegal setelah berjalan kaki keliling kota.

* * *

* Tulisan ini terbit di Majalah Pesona edisi September 2016.

2 Comments Add yours

  1. kunudhani says:

    pemandanganya ciamik, bagus bner😀

    1. Atre says:

      Iceland emang paling-paling banget soal keindahan landscape. Semoga enjoy yaaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s