Tiga Cara Berbeda Menjelajah Surakarta

Saya belum pernah ke Surakarta. Maka, ketika Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surakarta mengundang saya untuk menjelajahi Kota Bengawan ini, dengan hati riang saya menyambutnya. Dan ternyata, ada banyak cara berbeda untuk bisa menjelajah Surakarta. Ini dia tiga di antaranya.

Surakarta kini adalah sebuah kota yang terletak di Jawa Tengah, Indonesia. Di masa lalu, ia adalah wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram. Aslinya bernama Desa Sala yang letaknya di tepian Sungai Bengawan. Ya, seperti sungai yang sama seperti judul lagu legendaris karya Gesang—“Bengawan Solo”. Ia dipilih untuk menjadi pusat pemerintahan Mataram sekitar 1746 M.

Nama desa ini disebut Sala karena banyak ditumbuhi pohon sala, sejenis pinus, seperti yang digambarkan dalam “Serat Mijil” di Babad Sengkala. Dan, orang-orang Jawa kerap melafalkan Sala dalam bahasa Jawa, yaitu “Solo”. Karena itu, banyak orang menyebut kota ini dengan Solo.

Saya membaca sekilas tentang Kota Surakarta di internet ketika menyentuh Surakarta. Bandara Internasional Adi Soemarmo yang lebih luas dari bayangan saya, telah menyambut dengan landasan terbuka. Tepat sepersekian detik setelah keluar melalui pintu kedatangan bandara, hawa panas segera menelusup ke pori-pori kulit. Saya tidak menyangka kalau Surakarta sepanas ini.

Saya hanya punya waktu tiga hari di kota terbesar ketiga di Pulau Jawa ini—setelah Bandung dan Malang. Dalam keadaan tubuh siaga tapi ingin tetap santai, saya punya jadwal yang cukup ambisius untuk mengisi hari-hari di Surakarta. Tiga hari, tiga cara berbeda untuk menjelajah Sala.

pertama: Jalan Kaki Menyusuri Gang-gang

Simon and Garfunkel kedengaran bersenandung menyanyikan “The Sound of Silence” di telinga saya, ketika saya, Vira Tanka, dan beberapa kawan pejalan lain mulai berjalan kaki mengeksplorasi Surakarta.

“In restless dreams I walked alone. Narrow streets of cobblestone.”

Santai. Tempo pelan. Nikmat.

Fendy Fauzy Alfiansyah dari Laku Lampah (klik link ini untuk meluncur ke laman Facebook mereka), komunitas jalan kaki di Surakarta, menemani waktu jalan kaki saya kali ini. Titik walking tour hari ini dimulai dari Keraton Surakarta Hadiningrat yang bernuansa biru muda dan putih di berbagai bagian bangunan. Harga tiket masuk ke keraton ini adalah Rp10 ribu untuk pengunjung domestik dan mancanegara Rp15 ribu.

Komplek Keraton Surakarta Hadiningrat yang diarsiteki oleh Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwana I) ini dibangun secara bertahap mulai 1744. Kompleks keraton ini dikelilingi dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar 3-5 m dan tebal sekitar 1 meter.

Kesan pertama saya, bangunan keraton ini mirip dengan keraton di Jogja. Baru setelahnya saya ketahui kalau Pangeran Mangkubumi juga adalah arsitek utama Keraton Yogyakarta. Pantas saja.

Saya yang penasaran dengan komposisi warna di kawasan keraton, langsung saja bertanya pada Fendy. “Kalau Jogja itu keratonnya bernuansa warna hijau-kuning, ya, Mas. Filosofinya karena berkaitan dengan tanah, biar selalu membumi. Kalau Keraton Surakarta Hadiningrat, kenapa biru?” kata saya.

Fendy mengatakan, warna biru berasal dari warna lautan. Harapannya agar Keraton Surakarta Hadiningrat memiliki kekuasaan dan kekuatan sebesar dan seluas lautan.

Keraton Hadiningrat Solo

Saya pribadi menikmati keliling keraton, mulai dari Alun Alun, Komplek Siti Hinggil, Kamandungan, sampai Sri Manganti. Tidak hanya keluasan komplek ini, tapi juga keselarasan warna, keindahan ukiran atau hiasan pada bangunan—kebanyakan bertuliskan PB X alias Pakubuwono X (sultan paling kaya dan berjaya di Surakarta, 1866-1935)—serta tentu saja, cerita di dalamnya.

Saya tidak akan mendongeng panjang tentang bangunan-bangunan di Keraton Surakarta Hadiningrat. Saya tidak akan menceritakan dengan lengkap bahwa ada satu bangunan berbentuk menara setinggi 30 meter bernama Panggung Sangga Buwana, yang konon menjadi tempat pertemuan raja-raja Surakarta dengan Nyai Roro Kidul. Saya hanya bisa bilang, kalian datang langsung ke sini; menikmati keraton yang rindang dan beragam kisahnya. Akan ada abdi dalam yang lebih apik menceritakan cerita menarik di keraton.

Lepas dari komplek keraton, kami memasuki gang-gang kecil, kawasan pemukiman, dan rumah-rumah warga tidak jauh dari keraton. Saya menyapa anak-anak yang melintas dengan sepeda. Jemuran-jemuran pakaian bergantung berdampingan. Bunga-bunga bermekaran di mana-mana. Lalu, tidak lupa tersenyum pada ibu-ibu yang duduk-duduk di teras rumah.

Perumahan

Hingga tibalah di sebuah rumah bernuansa hijau yang dari luar kelihatan sangat biasa. Rumah ini tepatnya terletak di Ndalem Mloyokusuman RT 001/ RW 012 Baluwarti, Surakarta, Jawa Tengah. Bentuknya seperti rumah-rumah yang bisa kita lihat di berbagai perumahan di Indonesia. Tapi, begitu masuk ke area teras, terdapat beberapa makam dari batu hitam yang solid. Salah satunya bernama Ki Gede Sala. Siapa dia?

Makam Ki Sala

Ki Gede Sala adalah orang yang disebut-sebut sebagai pendiri Kota Solo. Tetua Desa Sala. Orang pertama di Sala. Ia bisa jadi ada ketika pada 1745, desa ini dibeli oleh Pakubuwono II seharga 10.000 keping emas.

Ndalem Mloyokusuman yang masih bernuansa biru-putih sebetulnya adalah rumah yang berusia sudah sangat tua; sekitar 250 tahun. Ia berdiri di atas lahan tanah seluas 6.666 m2. Rumah yang menjadi bangunan heritage ini, adalah milik putra PB IX bernama GPH Mloyokusumo, yang juga dikenal sebagai empu atau pembuat keris di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Explore Surakarta

Sayang sekali, ketika saya datang ke sana—setelah sowan kepada Ki Gede Sala—, rumah ini tidak boleh dimasuki. Saya hanya bisa melihat dari luar, interior di rumah biru ini. Ada foto-foto bergantung di dinding, di dekat karpet merah dan meja kayu.

Banyak pedagang wedang ronde atau wedang jahe di sekitar keraton. Sempatkan untuk istirahat sejenak, meresapi birunya Keraton Surakarta Hadiningrat, sembari ngemil wedang di tepi jalan.

Kamu bisa berkonsultasi kepada Laku Lampah tentang rute jalan kaki di Surakarta. Siapa tahu, kamu ingin mendatangi tempat berbeda dari yang saya datangi di atas.

kedua: Bersepeda Keliling Surakarta

Siapa sangka, walaupun semula agak ragu karena Surakarta sedang panas-panasnya, explore Surakarta dengan cara bersepeda ini ternyata seru juga. Asal, jangan lupa balurkan sunblock di sekujur kulit yang terbuka sebelum mulai gowes. Dan, jangan alpa mengenakan topi, pakaian yang menyerap keringat serta tidak tebal, juga stok air minum.

Bersama kawan-kawan dari The A Team dipimpin oleh Mas Ajib, kami memulai biking tour dari titik mulai di The Royal Surakarta Heritage Solo MGallery by Sofitel. Bersepeda keliling Surakarta dimulai dari hentakan pedal di hotel di Jalan Brigjend Slamet Riyadi.

bersepeda di Surakarta

Sehari-hari, masih banyak warga Surakarta yang memilih sepeda sebagai transportasi utama mereka. Maka, sungguh menyenangkan ketika kami bersepeda keliling kota, dan bertemu mereka. Bunyi krang kring klakson terdengar nyaring saling sahut.

Hanya saja, kekurangannya adalah, menjelajah kota beramai-ramai membuat tempat-tempat yang kita mampiri tidak terlalu bisa didalami lebih lanjut. Dan, seringkali terpisah-pisah dengan si pemandu. Ini bagian kurang nikmatnya bagi saya. Seperti contohnya, dalam tur sepeda kali ini, saya dan kawan-kawan hanya berhenti sebentar di depan bangunan Bank Indonesia dan Balai Kota Surakarta. Tak berapa lama, kami segera bersepeda kembali menuju Pasar Gede.

Pasar Gede Hardjonagoro adalah pasar terbesar di Surakarta. Letaknya di Jalan Urip Sumohardjo. Ya, ia berada di kawasan pecinan Kampung Ketandan. Ia sempat direnovasi pada 1920 dan kini sudah dicanangkan sebagai bangunan cagar budaya sejak 1997.

Pasar Gede Solo

Menarik betul, ia tidak seperti pasar tradisional yang biasanya identik dengan becek atau bau. Begitu memasuki pasar ini, saya disambut oleh sayur-mayur segar serta rempah-rempah yang berlimpah. Memasuki lebih dalam pasar ini, buah-buahan menggoda, daging-dagingan, dan sembako dijaga oleh para pemiliknya yang dengan wajah sumringan menjajakan jualannya.

Jujur, di otak saya, hanya satu yang saya pikirkan ketika memasuki pasar ini. Yaitu, es dawet telasih yang terkenal uwena’. Dan, tentu saja pas dinikmati setelah berpanas-panasan. Kolaborasi dawet, telasih, bubur sumsum, irisan nangka, santan, dan es bersatu padu dalam mangkok. Ketika menelusuri kerongkongan, mereka menciptakan kepuasan dahaga yang luar biasa. Apalagi, ketika berhasil menyecap rasa manis santan, dinginnya kuah yang bercampur dengan telasih, serta kenyalnya bubur sumsum dan dawet. Satu mangkok kurang, tapi dua mangkok kebanyakan. Well, lebih baik kebanyakan ketimbang penasaran. Satu mangkok lagi, Bu!

es dawet telasih pasar gede - renjanatuju

Setelah segar karena es dawet telasih, kami kembali melanjutkan nggowes. Semakin siang, rupanya langit Surakarta justru semakin gelap. Pertanda akan hujan. Saya yang ada di baris depan rombongan ini, beberapa kali menengok ke belakang. Saya melihat barisan kami seperti permainan “ular naga panjangnya” yang bermain di tepi jalan aspal Surakarta.

Kami lalu berbelok ke sebuah lahan di kawasan Gladak. Sebuah benteng berwarna putih terlihat seperti ‘dikawal’ oleh dua pohon besar dan rindang di depannya. Ada pula jembatan yang di bawahnya terdapat sungai atau parit yang mengering.

Benteng tersebut rapi jali, bersih dengan cat berwarna putih, atap berwarna kuning, dan pintu yang berteralis. Di sisi kanan, tertulis sebuah kata dengan huruf yang kesemuanya kapital. VASTENBURG.

benteng vastenburg surakarta - renjanatuju

Vastenburg adalah benteng yang dibangun pada 1745 di zaman kolonial Belanda. Tua banget, memang. Ia sempat tidak dipakai sejak 1980-an, alhasil tidak terawat. Tapi, karena pada 2014 direstorasi, Vastenburg kembali segar. Sayang sekali, bangunan ini sedang tidak bisa dimasuki. Padahal, dilihat dari depan, terdapat rusa-rusa yang hidup bebas di taman rumput di dalam Vastenburg.

Dalam keadaan agak kecewa, saya kembali menggenjot sepeda. Saya sempat melewati masjid tua yang dibangun oleh Sunan Pakubuwono III pada 1763 bernama Masjid Agung Keraton Surakarta. Dari kejauhan, Gapura Paduraksa bernuansa putih gading dan biru sudah terlihat gagah. Hingga sekarang, masjid ini masih berfungsi aktif sebagai tempat ibadah dan pusat syiar Islam. Sekali lagi, saya hanya sempat lewat, tidak masuk ke masjid ini.

masjid agung surakarta - renjanatuju

Dan, hari bersepeda ini diakhiri dengan mampir ke Pasar Triwindu. Kalau kalian suka hal-hal berbau vintage alias jadul, pasti suka pasar yang berada di Jalan Pangeran Diponegoro ini. Begitu kelar memarkir sepeda, saya melihat beberapa orang asing keluar dari pasar ini. Wajah mereka terang.

Ternyata, Pasar Triwiduri memang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Berbagai barang antik, mulai dari koleksi lampu antik, gramofon, keramik, onderdil otomotif yang langka, sampai peninggalan keraton berusia ratusan tahun, ada di sini. Kita cuma perlu bersabar dan teliti untuk menemukan barang-barang menarik yang kita inginkan. Telusuri lorong demi lorong, toko demi toko di pasar ini. Hidden gems are everywhere.

 

ketiga: jeep Off-road

Sekitar enam jip—sebagian hardtop, sebagian softtop—meluncur berbarisan di jalanan beraspal. Gerimis tipis mulai turun. Karena alasan kenyamanan dan kesehatan, saya memilih untuk berkendara dengan jip hardtop bermerek Jeep berwarna oranye bersama Vira Tanka dan Pak Toro. Mas Aris dari Abu Sultan Racing Team (ASRT) asal Surakarta, ada di balik kemudi.

tahura surakarta - renjanatuju

Saya sudah membayangkan akan memutar lagu-lagu tema traveling paling favorit untuk menemani perjalanan off-road kali ini. Ya Jónsi, Coldplay, Of Monsters and Men, Silampukau, Daughter, M83, Float, Sore, dan banyak lagi daftar yang muncul di kepala. Tapi, kenyataannya, semua playlist di ponsel saya tidak bisa disambungkan ke mobil. Mau diputar dari ponsel pun, kalah oleh suara deru jip. Lalu, yang tertinggal hanya flashdisk Mas Aris berisi lagu-lagu miliknya.

“Aku sungguh masih sayang padamu. Jangan sampai kau meninggalkan aku…”

Lagu-lagu dari band Indonesia, ST12, menjadi soundtrack off-road kami. Mulai dari yang terbahak, sampai akhirnya kami mulai menikmati—walaupun tidak bisa sing along karena tidak tahu liriknya. Hingga akhirnya, lagu-lagu ini seperti fade out, tersamarkan oleh kesenangan memandangi lanskap di luar jip.

Off-road ini berangkat dari Surakarta, lalu akan mengeksplorasi wilayah Karanganyar dengan singgah di beberapa destinasi menarik. Tepatnya di wilayah Taman Hutan Rakyat (Tahura) K. G. P. A. A. Mangkunagoro 1 seluas 231 hektar. Sekadar informasi, tahura di Desa Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar, ini telah diintegrasikan dengan objek wisata lain, yaitu Candi Sukuh.

Begitu mencapai tahura yang berada di kaki Gunung Lawu, udara mulai menyejuk. Gerimis masih turun. Tapi, justru membuat perjalanan semakin syahdu. Saya melihat air-air hujan jatuh di sela-sela hutan pinus yang cukup rapat. Lalu, bulir-bulir air jatuh di jendela jip.

Sayup-sayup suara Charlie minta perhatian, “Jangan-jangan kau menolak cintaku. Jangan-jangan kau ragukan cintaku.” Siapa yang sudah menolak cinta Charlie? Coba tolong bantu lelaki ini supaya tidak terlalu gamang.

Setelah berpuluh-puluh pohon pinus silih-berganti memanjakan mata, kami tiba di kawasan Candi Sukuh. Candi yang sangat sensual, menurut saya.

Di candi yang dibangun di era Majapahit sekitar 1293-1500 ini, banyak relief dan patung yang berkaitan dengan seksualitas; lingga dan yoni sebagai representasi penis dan vagina, patung lelaki memegang penisnya yang besar, sampai relief yang menggambarkan posisi orang mengangkang.

Saya sejujurnya bisa berlama-lama di sini. Selain karena banyak patung menarik, tapi juga karena keindahan bangunan Sukuh. Ia tidak seperti candi-candi Hindu kebanyakan yang berbentuk bulat atau persegi panjang. Tapi Sukuh malah berbentuk trapezium serta dikelilingi oleh patung-patung ukiran dari batu. Sungguh mengingatkan saya pada bangunan-bangunan peninggalan Suku Maya, seperti Tikal di Guatemala atau Lamanai di Belize.

Kian sore, kabut mulai pelan-pelan turun. Karena itu, kami memutuskan berangkat lagi. Beberapa menit kemudian, pepohonan pinus kembali mengelilingi.

off road surakarta - renjanatuju

Di area Tahura K. G. P. A. A. Mangkunagoro 1, suara tonggeret nyaring berbunyi. Faktanya, di sini terdapat 47 jenis burung, termasuk elang jawa yang langka itu, hidup bebas. Selain burung, ada rusa, babi hutan, perkutut, kera, sampai macan tutul. Belum lagi, ada sekitar 58 koleksi pohon yang tumbuh, seperti cemara gunung, walik putih, atau pinus.

Jika sedang tidak ingin off-road, kita bisa memilih aktivitas lain. Boleh berkemah atau trekking. Bisa juga mendatangi beberapa tempat menarik di dalam kawasan tahura ini, seperti Sendang Raja (sumber mata air), Air Terjun Parang Ijo, Goa Angin, dan lain-lain.

Kian memasuki hutan menuju puncak bukit, hujan menderas. Kawan-kawan yang numpak jip softtop karena atap jip tidak bisa dipasang, seketika kuyup. Ketika hujan turun, kabut turut turun. Jarak pendek sangat minim. Ditambah topografi kawasan tahura yang bergelombang dan berbukit.

Seharusnya masih ada titik singgah yang ingin kami datangi. Tapi sayang, hari sudah gelap, hujan turun sangat deras, dan kabut sangat pekat. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain kembali ke penginapan di Kota Surakarta. Padahal, ada Candi Cetho atau perkebunan teh Kemuning, yang sepertinya menarik untuk diceritakan kembali. Ah, lain kali kembali lagi ya Surakarta!

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. Liza Fathia says:

    Seru banget kk kisah perjalanan ke solo. Dari dulu kepingin banget kesana

  2. Gara says:

    Ah iya, di Tahura kemarin belum kesampaian ke Sendang Raja. Ke Goa Angin pun hanya lewat karena sudah kehabisan waktu juga. Memang mesti balik lagi dan jelajah di sana lagi. Banyak yang bisa dieksplorasi dari Surakarta Raya, hehe. Terima kasih buat rekomendasi Laku Lampahnya, langsung meluncur ke lamannya, hehe.

    1. Atre says:

      Sama-samaaa. Saling merekomendasikan yaaaa, Gara 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s