#MengingatMei98: Kisah Nyata Peristiwa Glodok, Tragedi Trisakti, Hingga Citra Mall Klender

Sekarang, sudah Juni. Tapi, bulan lalu, saya melewati Mei dengan biasa-biasa saja. Bekerja, beperjalanan, dan lebih banyak sibuk dengan pikiran sendiri—sembari di sela-sela itu, begadang karena asyik dengan Netflix. Hingga, tiba-tiba saya ingat, bagi banyak orang, bulan Mei tidak akan selamanya bisa berjalan biasa-biasa saja.

Mei 1998 sudah mengendap dalam benak masyarakat Indonesia sebagai periode gelap sekaligus terang. Gelap karena begitu banyak kesedihan terjadi di bulan dan tahun tersebut. Mulai dari pembunuhan, pembakaran, pemerkosaan, sampai penjarahan. Tapi juga terang karena di era itulah lahir sebuah masa yang penuh harapan; reformasi.

Soeharto, presiden kala itu yang memimpin rezim bernama Orde Baru selama 32 tahun, dipaksa turun pada 21 Mei 1998. Alasannya banyak, krisis moneter, korupsi besar-besaran, belum lagi perkara pelanggaran HAM sepanjang dirinya menjabat.

Saya kemudian berupaya mengintip sejarah Indonesia di bulan Mei 1998 itu di internet. Api di mana-mana. Wajah-wajah ketakutan dan beringas berbaur dalam satu bingkai. Bangkai mobil dan reruntuhan bangunan hangus berserakan di jalan-jalan. Saya sontak mengingat film-film bertema perang, seperti The Bang Bang Club (2010), Year of Living Dangerously (1982), atau The Killing Fields (1984), ketika melihat foto-foto tersebut. Padahal, Indonesia tidak dalam keadaan perang terbuka. Tapi, kengeriannya persis sama.

Melihat itu semua, saya seperti bukan melihat Indonesia. Saya tidak mengenali negeri sendiri. Meskipun masih SD saat itu, saya sudah memiliki ingatan yang samar tentang peristiwa Mei 1998. Yang sedikit saja masih diingat dari momen itu hanyalah, sekolah libur dan ibu bilang, jangan main jauh-jauh; kerusuhan. Sisanya, saya lihat di televisi mobil-mobil dan gedung-gedung dibakar. Banyak korban meninggal, luka-luka, atau bahkan menghilang dan sampai sekarang tidak ditemukan.

Itu sudah terjadi pada 1998, nyaris 20 tahun lalu. Tapi, banyak orang masih mengingat Mei. Banyak orang bersemangat menyalurkan energinya untuk turun ke jalan. #MelawanLupa. #MengingatMei. Ada yang dengan sajak, diskusi, sampai berkampanye damai—di luar Aksi Kamisan yang dilakukan oleh keluarga korban Mei 1998 dan masyarakat yang peduli.

Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) juga salah satu yang rajin mengingatkan orang-orang supaya tidak lupa pada peristiwa yang terjadi di Mei 1998. Dan, pada tahun lalu, saya mengikuti napak tilas #MengingatMei yang dilakukan oleh Kontras. John Muhammad, alumni Teknik Arsitektur Universitas Trisakti yang juga adalah salah satu aktivis yang terlibat dalam demonstrasi 1998, ikut dalam napak tilas ini.

Napak tilas seperti apa? Kami mendatangi beberapa tempat penting yang berkaitan dengan kejadian-kejadian tidak hanya yang berkaitan dengan 1998, tapi juga beberapa peristiwa pelanggaran HAM lain yang terjadi di Jakarta, seperti Kasus Tanjung Priok 1984 yang saya tulis di SINI. Kami sekaligus mendengarkan cerita dari saksi mata yang berada di tempat kejadian saat kerusuhan Mei 1998 terjadi.

***

Pada 21 Mei 2016, saya bersama kawan-kawan berkumpul di kantor Kontras sejak pagi. Sekitar 20-an orang ada di sana. Semuanya mengenakan atasan hitam. Semuanya bergabung untuk menolak lupa atas peristiwa Mei 1998.

John Muhammad membuka hari dengan beberapa patah kalimat yang sangat sendu, tapi nyata. “Saya ingatkan teman-teman, bahwa hampir semua upaya kritik di zaman Orde Baru itu kemudian selalu berujung, atau diskenariokan untuk di ujungnya ada kerusuhan. Seperti Peristiwa Malari, sebuah demo yang damai, kemudian berujung kerusuhan. Begitu pula dengan peristiwa 1998, ketika mahasiswa ingin melakukan aksi di dalam kampus, beberapa kali ditakut-takuti supaya tidak aksi. Kemudian tuntutannya naik menjadi keluar turun ke jalan, lagi-lagi ditakut-takuti. Bahkan, ada satu perintah yang terkenal dari Wiranto, ‘Apabila keluar, pasti berhadapan dengan kami (militer, red).’”

Aura gelap seperti menggantung di kepala saya. Tidak habis pikir saya. Kali ini bukan pada pemerintah atau politikus yang mengorbankan banyak orang untuk kepentingan pribadi/ golongan—yang kerap mengubah aksi damai menjadi kerusuhan, dengan provokasi sana-sini. Tapi, saya tak habis pikir pada masyarakat Indonesia yang hingga kini mungkin masih ada saja yang percaya bahwa kerusuhan Mei 1998 hanyalah bualan atau omong kosong yang tak memakan korban.

Hari itu, kami mendatangi beberapa tempat yang menjadi saksi bisu pada Mei 1998, sekaligus mendengarkan kesaksian beberapa saksi mata yang ada di sana saat itu. Cuaca Jakarta sangat panas sejak pagi. Dengan bus tua ber-AC ala kadarnya, kami berangkat ke Glodok; destinasi pertama perjalanan hari itu.

#MengingatMei98 di Glodok.

Glodok

Dari zaman pemerintahan Hindia Belanda, Glodok sudah dikenal sebagai pecinan terbesar di Batavia. Mayoritas masyarakat yang tinggal di kawasan ini adalah keturunan Tionghoa. Sampai kini pun demikian. Banyak rumah toko, baik itu bangunan lama yang sudah ada dari zaman Belanda atau bangunan baru, berjajar di kawasan Jakarta Barat ini. Glodok akhirnya juga dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan terbesar di Jakarta, yang kebanyakan orang Tionghoa.

Pada Mei 1998, Glodok adalah kawasan yang terkena perusakan, penjarahan, sampai pembakaran yang parah. Kenapa orang Tionghoa menjadi sasaran saat itu? Kenapa sampai sekarang pun masyarakat Tionghoa banyak menerima pesan kebencian dari banyak pihak?

“Di zaman Orde Baru, pemerintah memperlakukan orang-orang Tionghoa hanya boleh berdagang. Tidak boleh jadi birokrat, politikus, dan lain-lain. Karena itu, orang-orang ini bekerja sebagaimana (yang diperbolehkan, yaitu) jadi pedagang. Dan, sukses. Akhirnya, ada kecemburuan. Kecemburuan ini membentuk stigma, seolah-olah mereka (kaum Tionghoa) menikmati kekayaan. Padahal, masyarakat Tionghoa di Indonesia menjadi seperti itu karena sistem yang mendukung mereka untuk berdagang terus,” ucap John.

Lalu, ketika akhirnya masyarakat Tionghoa mendominasi sektor perdagangan di Indonesia, ataupun di Jakarta khususnya, banyak pihak yang mungkin ketar-ketir. Sejatinya, orang Tionghoa sudah mengalami diskriminasi sangat panjang. Menarik kala ke belakang, di Jakarta—dulu masih bernama Batavia—pernah terjadi pembantaian habis-habisan sampai 10.000-an orang masyarakat Tionghoa di kawasan Kota Tua. Peristiwa itu disebut Geger Pecinan, terjadinya tahun 1740. Alasannya senada.

Semula, pemerintah kolonial Belanda membuka kesempatan bagi banyak imigran Tiongkok datang ke Batavia untuk berdagang. Hingga akhirnya, orang-orang Tionghoa menguasai perdagangan dan imigran yang datang kian banyak. Deportasi kemudian diberlakukan bagi orang-orang Tiongkok yang miskin atau mencurigakan (entah apa maksudnya). Hal ini memunculkan kecurigaan dan keiri-hatian masyarakat terhadap bangsa Tiongkok karena orang Tionghoa hidup sejahtera karena perdagangan, sedangkan masyarakat lokal jauh dari makmur. Keresahan dan kecurigaan kemudian memuncak pada Oktober 1740. Puluhan ribu orang Tionghoa gugur dibantai. Mereka diburu di jalan, rumah sakit, tepi sungai, bahkan di rumah mereka sendiri.

Mei 1998 seperti punya pola serupa dengan Geger Pecinan. Berawal dari ide yang ditanamkan di kepala masyarakat bahwa orang Tionghoa itu jahat, kerusuhan bulan itu menjadikan orang Tionghoa di berbagai daerah di Indonesia, sebagai sasaran. Tapi, yang kita tidak tahu adalah bahwa ini bukan “perang” antara pribumi dan Tionghoa.

“Ini adalah perang yang dikobarkan oleh pemerintah atau negara kepada kita. Orang-orang minoritas selalu ada, dipelihara, untuk menjadi musuh imajiner. Pemerintah kerapkali membutuhkan musuh jika ada suatu masalah yang dibuat-buat. Dalam kasus 1998, kaum Tionghoa menjadi musuh imajiner tersebut. Musuh imajiner ini ditumbuhkan, karena itulah terjadi kerusuhan,” tutur John.

Seorang perempuan keturunan Tionghoa bernama Yunita, dari LBH Jakarta, kemudian muncul di hadapan kami. Ia mengambil alih toa. Meskipun saat itu ia masih kecil, ia ingat beberapa kejadian yang terjadi saat Mei 1998. Terutama, di Glodok. Sebab, ia bersama keluarga tinggal di kawasan tersebut.

Kami berjalan menyusuri jajaran rumah-toko di Glodok; keluar dari Jalan Brustu ke arah Hayam Wuruk. Seperti semut-semut hitam, kami berjalan berbaris rapi di tepi jalan, sembari mendengarkan cerita Yunita. Mayoritas toko di Glodok sudah pulih dan direnovasi. Sisa-sisa pembakaran, pengrusakan, atau penjarahan sudah tidak terlihat lagi. Aktivitas jual-beli sudah pulih seluruhnya. Hanya, di beberapa sudut, kami melihat beberapa gedung terbengkalai. Saya melihat satu-dua bangunan yang ditumbuhi tanaman menjalar, dalam keadaan hangus dan rusak. Menurut Yunita, ketika Mei 1998, sebagian besar rumah-toko di Glodok bernasib seperti bangunan hangus tersebut. Disertai dengan api yang berkobar di mana-mana, dan pecahan kaca yang berkeping-keping di jalan.

Glodok #MengingatMei98

“Zaman Mei 1998, saya masih kecil. Saya tinggal di sini. Di daerah sini mengalami penjarahan besar-besaran. Dulu, di sini, banyak kaca pecah. Ada beberapa gedung yang dibakar. Tapi di sini rata-rata hancur, dijarah. Karena banyak barang yang dijarah, nggak heran, banyak orang yang bangkrut. Yang heran justru, waktu itu, kami nggak melihat apparat,” saksi Yunita.

Saya pribadi kembali mencari potret-potret saksi Mei 1998 di internet. Saya melihat ratusan atau bahkan ribuan orang berkerumun di tengah jalan, berhadapan dengan kepulan asap yang membakar barang-barang jarahan. Orang-orang membawa batu, kayu, apa saja yang mereka temukan di jalan, lalu melemparkannya ke kaca jendela bangunan. Karena itu, pecahan kaca berserakan di mana-mana. Banyak juga gedung dilalap api. Tapi tidak hanya di Jakarta. Penjarahan dan pembakaran gedung juga terjadi di beberapa kota lain di Indonesia, seperti Medan.

“Karena kerusuhan terjadi di beberapa kota dalam waktu yang bersamaan, waktu itu, ada lima kementrian; Kehakiman, Pemberdayaan Perempuan, Kejaksaan Agung, Keamanan, dan Dalam Negeri, membangun tim pencari fakta untuk kasus 1998. Dari sana, mereka menemukan pola yang ada di mana-mana pada 1998,” urai Yunita.

Pola pertama, persiapan. Fase ini melibatkan provokasi. Ada orang-orang yang menyebarkan rumor, lalu memicu orang-orang untuk membuat keributan. Para provokator ini berupaya menarik massa dan mengadu domba masyarakat.

Menurut Yunita, “Massa sendiri banyak macamnya. Ada massa provokator yang biasanya memiliki kemampuan menggunakan senjata, pakai HT, dan mampu mengordinasi masyarakat. Lalu, ada massa aktif; orang-orang yang bukan tinggal di daerah tempat kerusuhan, tidak tahu dari mana asalnya, tapi mengordinasi diri sendiri. Ketiga, massa pasif, yaitu orang-orang yang diajak. Tapi, ketika diprovokasi, mereka jadi massa aktif. Mereka langsung menjarah, melakukan penimpukan, pengrusakan, dan sebagainya.”

Pola kedua, pengrusakan. Setelah massa berkumpul, tahapan selanjutnya adalah membuat massa bergerak untuk merusak. Seperti melempar botol, melempar batu, sampai membakar.

“Mulai di sini, kita nggak tahu lagi pelakunya siapa. Karena massa sangat banyak, kita tidak bisa melihat,” ujar Yunita.

Terakhir, pola ketiga, penjarahan. Semua toko dijarah. Kalau digembok, gembok dihancurkan. Beberapa diambil untuk pribadi. Beberapa yang lain dibakar di tengah jalan. Tapi, tetap ada berita baik di antara yang buruk. Beberapa rumah orang Tionghoa kala itu kabarnya banyak juga yang selamat karena dilindungi oleh orang pribumi. Karena sekali lagi, Mei 1998 memang bukan ‘perang’ antara Tionghoa dan pribumi, tapi pemerintah dan masyarakat. Tidak ada kebencian rasial di antara masyarakat. Tapi, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja membuat Mei 1998 adalah tentang kebencian terhadap satu ras tertentu.

Satu peristiwa lain terkait Mei 1998 adalah tentang peristiwa pemerkosaan perempuan oleh masyarakat. Banyak pihak yang menyangkal bahwa peristiwa ini betul terjadi. Beberapa pihak ada juga yang menutup-nutupi jumlah korban yang sebenarnya. Tapi, satu hal yang saya ingin sampaikan, jangan lagi memalingkan pandangan. Kejahatan ini memang nyata.

“Tim pencari fakta menemukan setidaknya di Jakarta, Medan, Surabaya, dan sekitarnya, ada sekitar 85 kasus, yang korbannya mayoritas etnis Tionghoa dan beberapa perempuan pribumi dari berbagai macam kelas. Dari 85 kasus, 52 gang rape (diperkosa beramai-ramai), 14 pemerkosaan dengan penganiyaan, 10 penganiyaan seksual, dan 9 pelecehan seksual. Dan, ini terjadi di Jakarta dan sekitarnya, Medan, dan Surabaya,” tambah Yunita.

Entah karena hari itu memang semakin panas atau karena mendengar data TGPF, hati saya sakit. Sekali lagi, lebih karena masyarakat Indonesia sendiri banyak yang masih beranggapan bahwa kejadian ini tidak benar atau hanya gadang-gadangan. Padahal, setidaknya ada 3 korban perkosaan yang bersaksi. Sisanya, banyak kesaksian dari kalangan dokter, rohaniawan, psikolog, orangtua korban, dan saksi mata.

Untuk membantu penyelidikan, BJ Habibie mendirikan badan independen yang nantinya dikenal dengan nama Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dan Tim Gabungan Pencari Fakta yang beberapa kali sudah saya sebut di atas.

Tapi, kendala tetap muncul. “Sangat sulit mencari orang yang mau mengakui kalau mereka diperkosa pada peristiwa Mei. Bahkan tim pencari fakta kesulitan. Walaupun mereka tidak tahu lokasi pasti kejadian pemerkosaan di mana, tapi mereka menemukan bahwa korban itu nyata. Sayangnya, di hukum Indonesia, pemerkosaan hanya baru dianggap terjadi jika korban melapor (walaupun banyak pasal di KUHP yang membahas tentang hukum pemerkosaan dengan tegas, seperti pasal 285, 286, 289, atau 290, dengan hukuman hingga sembilan tahun penjara). Padahal, korban biasanya tidak pernah melapor. Jangankan melapor ke polisi, melapor ke orang terdekat juga malu sekali, dan trauma. Mereka tidak percaya pada institusi hukum yang kemungkinan bisa menyelesaikan kasus mereka jika mereka melapor ke kepolisian. Jadi memang banyak kasus yang tidak terungkap. Meski ada bukti, pemerintah menyangkal bahwa kasus pemerkosaan pada Mei 1998 hanya isu saja.”

Yunita tiba-tiba termenung. Kami semua tidak bersuara. Suara yang terdengar hanya deru kendaraan di jalan raya di daerah Glodok.

“Di zaman itu, media hanya menyorot bahwa orang-orang tertentu saja (etnis Tionghoa, maksudnya) yang punya kemampuan untuk membeli banyak bahan kebutuhan pokok, lalu menyimpannya (saat itu krisis moneter dan sembako mahal). Media tidak menyorot ketika masyarakat umum melakukannya. Sehingga menimbulkan kebencian. Ada juga kebencian-kebencian terhadap kaum Tionghoa, yang diungkapkan di masjid dan tempat ibadah. Cukup sistematis disiapkan beberapa tahun sebelumnya,” cerita Yunita.

Yunita menyampaikan keheranannya. Bahwa pada 1998, menurut banyak kesaksian yang ia dengar, massa bergerak sangat cepat. Kemudian, dengan cepat pula memutuskan untuk menjarah lalu membakar. Chaos. Pertanyaannya, kenapa di beberapa kota, di waktu yang sama, peristiwanya bisa begitu persis: jarah, rusak, bakar? Apa Anda tidak merasa aneh hanya dengan mendengarnya saja?

Bangunan terbengkalai di Glodok #MengingatMei98

“Beberapa teman saya, bukan dari etnis Tionghoa, malah mengaku ada yang mengajak mereka menjarah,” kata Yunita.

Saya memandang bangunan hangus di Glodok yang ada di hadapan saya. Si empunya gedung bisa jadi sudah menyelamatkan diri dan hidup tenang di luar negeri—tempat di mana etnisnya tidak dianggap kriminal, atau bisa jadi malah hidupnya berantakan karena kebangkrutan menimpa. Saya tidak pernah tahu. Orang-orang yang saya tanya di sekitar bangunan itu pun tidak ada yang tahu. Saya lalu meninggalkan bangunan itu di belakang. Tapi sama sekali tidak melupakan apa yang pernah terjadi di sana.

 

Universitas Trisakti

Bus tua masuk ke pelataran parkir sebuah area pergedungan yang bertuliskan “Universitas Trisakti”. Kampus sepi sore itu.

Universitas Trisakti adalah salah satu tempat yang jadi saksi penting peristiwa Mei 1998. Banyak mahasiswa Trisakti turut terlibat dalam gerakan mahasiswa saat itu. Mereka ikut menduduki gedung MPR/DPR. Mereka ikut pula turun ke jalan dan menuntut beberapa agenda penting kepada pemerintah. Mereka juga bagian dari gerakan yang melahirkan era reformasi.

Para mahasiswa berhasil mendorong Soeharto lengser dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia sejak 1966 pada 21 Mei 1998. Berbagai agenda lain yang dituntut oleh mahasiswa adalah adili Soeharto dan kroni-kroninya, laksanakan amandemen UUD 1945, hapuskan dwi fungsi ABRI, pelaksanaan otonomi daerah seluas-luasnya, tegakkan supremasi hukum, dan ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN.

Tapi, setiap perjuangan selalu memakan korban. Universitas Trisakti menjadi tempat gugurnya empat mahasiswa Trisakti yang tewas tertembak pada 12 Mei 1998. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977-1998), Hafidin Royan (1976-1998), dan Hendriawan Sie (1975-1998). Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital, seperti kepala, tenggorokan, dan dada.

“Waktu 13 Mei 1998, saya ingat di bawah jembatan layang situ (dekat Universitas Trisakti, red) ada truk sampah. Truk ini di dalamnya ada 3 orang, termasuk supir. Supirnya kemudian membakar truknya sendiri, lalu mengajak masyarakat untuk ikut membakar. Masyarakat ada yang bergerak ke arah Roxy, ada ke arah utara. Dalam waktu cepat, kerusuhan menjalar di mana-mana. Bahkan secara sistematis, di Solo, di Medan, di mana pun, itu terjadi kerusuhan. Ada upaya—ketika kami sedang berkabung—untuk menjadikan kasus penembakan mahasiswa Trisakti sebagai sebuah ‘tempat’ konsolidasi. Ada Megawati, Amien Rais, Gus Dur, datang,” cerita John.

Menurut banyak cerita, penembakan di sekitar Universitas Trisakti sudah dimulai sejak siang sampai malam. Para penembak terlihat siaga di jalan layang dekat kampus. Semula, para mahasiswa menganggap bahwa suara tembakan yang dilepaskan menggunakan peluru karet—yang notabene tidak mematikan. Para mahasiswa pun merasa aman karena mereka berada di lingkungan kampus, tidak membahayakan atau mengancam siapa pun.

Plakat korban gugur mahasiswa Trisakti Mei 1998.

Saya kemudian melihat beberapa tanda peringatan begitu memandang ke tempat kaki berpijak, di area yang dulu digunakan oleh jurusan arsitektur, tapi kini dipakai oleh teman-teman desain. Nama empat mahasiswa Trisakti tercantum di sana, di titik-titik yang tidak terlalu berjauhan. Ternyata, para mahasiswa kala itu sama sekali tidak aman—meskipun berada di kampusnya sendiri.

“Hafidin (Royan) itu ikut demo tapi sebagai peserta. Ia berlari dari arah sana (pelataran parkir Trisakti), kemudian ditembak di tengkuk. Idin meninggal di tempat. Pertama kali lihat ada korban, waktu itu memang Idin, sampai jam 17.00 itu saya pikir ini hanya peluru karet. Tidak ada peluru tajam. Waktu lihat Idin meninggal, makanya kami bingung. Belum sempat berduka. Kok ada yang mati?” cerita John yang ada di tempat kejadian saat itu.

Empat korban itu terkena tembak di kampus. Pertanyaan-pertanyaan John Muhammad mungkin juga terlintas di benak banyak orang. Dan, kalau dipikir lagi pun, ada benarnya.

Kenapa peluru-peluru itu jatuh di tempat mematikan? Kenapa tidak di lengan, misalnya, atau di paha? Kenapa mahasiswa yang ada di lingkungan kampus ini ditembak? Siapa yang menembak? Jika memang tentara, kenapa di pengadilan militer, tuduhannya adalah pelanggaran prosedur, bukan pembunuhan? Apa prosedur yang sebenarnya?

“Jenis senjata yang digunakan untuk menembak teman-teman Trisakti adalah jenis stayer. Umumnya, senjata macam ini digunakan oleh pasukan elite Polri. Tapi semua belum pasti. Proses uji coba proyektil peluru saja berubah-ubah. Awalnya di Bandung, lalu dibawa ke Kanada, Irlandia, Singapura, tapi pada intinya semua mengarah pada senjata strayer,” urai John lagi.

Dita dari Kontras, yang berkuliah di Universitas Gajah Mada, Jogja, menambahkan, ketika peristiwa Trisakti, sebetulnya beberapa hari sebelumnya ada mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Jogja, juga meninggal saat demonstrasi. Namanya, Moses Gatotkaca. Ia dipukul benda tumpul di kepala. Kematian Moses membuat Jogja sangat ‘panas’ saat itu.

“Mendengar kasus Trisakti, apalagi langsung masuk televisi, kami di Jogja sangat marah. Kota-kota lain juga. Kami langsung melakukan aksi. Sayangnya, kemudian aksi itu diikuti kerusuhan besar; 13, 14, 15 Mei. Saya ingat aksi yang kami lakukan di Jogja, selain merespons kasus Trisakti, tapi juga merespons kerusuhan massal yang terjadi 1 hari kemudian,” tutur Dita.

Para mahasiswa menuntut tentara bertanggung jawab atas penembakan yang terjadi di Universitas Trisakti dan Yogyakarta. Mahasiswa-mahasiswa Jogja melakukan aksi berjalan kaki sehari penuh, menyerukan masyarakat bahwa musuh sebenarnya bukan orang-orang Tionghoa.

“Musuh kita adalah negara. Musuh kita adalah militerisme,” tegas Dita.

Saya sendiri tidak habis pikir. Aksi mahasiswa itu adalah aksi damai. Sebelum terjadi penembakan, para mahasiswa bahkan sempat turun ke jalan dan membagikan bunga kepada masyarakat. Kenapa berubah rusuh dan memakan banyak korban? Saya cuma bisa memandang Monumen Tragedi 12 Mei, yang berbentuk 4 tugu berwarna perak, dengan batu-batu di sekitarnya yang berjumlah 98 buah, di pelataran Kampus A Trisakti.

Museum Trisakti.

Tidak jauh dari monumen, di lobi Gedung Dr. Syarif Thajeb, terdapat Museum Trisakti yang sederhana. Potret besar empat mahasiswa Trisakti yang gugur pada 12 Mei 1998 menggantung di dinding. Di tengah museum, diorama melambangkan tentara yang membawa senjata melawan mahasiswa berdiri tegak. Bagian paling mengharukan bagi saya adalah ketika melihat satu per satu foto yang diambil di hari H demonstrasi, beberapa jam sebelum penembakan. Apa yang sempat hidup, kemudian harus mati.

Museum Trisakti #MengingatMei98.

Taufik Ismail turut merasakan belasungkawa atas gugurnya empat mahasiswa Trisakti. Ia menulis sajak sehari setelah keempatnya gugur. Sampai kini, sajak tersebut bisa dilihat di Museum Trisakti.

Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata. Tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu sedan. Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru. Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad 21. Tapi malaikat telah mencatat prestasi kalian tertinggi di Trisakti bahkan seluruh negeri karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari kata Reformasi. Damai dengan darah arteri sendiri. Merah putih yang setengah tiang ini, menunduk di bawah garang matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi. Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama dan kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih jauh dan kita memerlukan peta dari Tuhan.

 

Yogya Plaza

Hari sudah gelap ketika bus tua tiba di Klender. Tepatnya, di parkiran Citra Mall Klender yang dulu bernama Yogya Plaza. Begitu turun dari bus, saya baru sadar hujan sedang turun. Maka, payung-payung hitam membuka, bergerak ke bagian belakang mal. Kami berkumpul di sana.

Saya sempat masuk ke dalam Citra Mall. Banyak orang yang mengatakan bahwa bangunan ini angker karena kejadian 1998. Tapi karena kebelet pipis, saya paksakan diri untuk berani. Di dalamnya, seperti layaknya mal kecil, gerai-gerai berjajaran di lantai dasar. Saya tidak melihat di dua lantai atas ada apa saja; tidak sempat. Satu hal yang saya pikirkan, betapa sepi mal tersebut. Banyak gerai yang kosong. Aktivitas berbelanja pun tak ramai. Saya menerka-nerka, apa ini karena memang sudah malam atau memang karena berhantu?

Tepatnya pada 13 Mei 1998, bangunan berlantai 5 yang dulu masih bernama Yogya Plaza menjadi salah satu tempat yang jadi sasaran penjarahan masyarakat. Maklum, Yogya Plaza merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta Timur saat itu.

Saya sempat membaca kisah Hasanudin atau Dede—nama panggilannya—, salah satu orang yang selamat dari peristiwa Yogya Plaza. Perjuangannya bertahan hidup sempat ditulis di Tempo. Menurut Dede, sebelum terjadi kebakaran, banyak orang—lelaki, perempuan, tua, muda—lalu lalang di dalam mal; memecahkan kaca gerai, kemudian mengambil barang-barang apa saja. Ada yang menggunakan troli, ada yang dengan tangan. Tapi, tak lama kemudian, muncul asap disusul api yang berkobar. Dede menyaksikan banyak orang terbakar dan tidak selamat. Sementara, Dede berhasil menyelamatkan diri keluar dari mal dengan turun menggunakan tali jemuran yang disiapkan masyarakat. Tapi, tidak semua orang selamat seperti Dede. Ada sekitar 400-an orang yang meninggal karena terbakar di mal tersebut.

Kembali ke rombongan #MengingatMei, di hadapan kami, berdiri tegak Ibu Darwin dan Ibu Sanu. Ibu Darwin adalah orangtua dari Eteh Karyana, guru bahasa Inggris, yang ditemukan meninggal di Yogya Plaza. Sementara, Ibu Sanu adalah orangtua dari salah satu korban yang jasadnya belum ditemukan sampai sekarang.

“Dari sekolah, anak saya menuju mal ini. Api udah menyala-nyala. Di depan trotoar, anak saya berdiri dengan teman-temannya, melihat gedung, dan ada anak kecil terkurung api. Anak saya langsung lari masuk ke Jogja Plaza, tidak kembali lagi. Yang ibu dapatkan hanyalah sebungkus abu berisi dompet dan KTP yang tidak terbakar. Kenapa ini harus terjadi? Ibu berusaha untuk kuatkan, ikhlaskan, tetapi hanya satu pertanyaan ibu, kenapa ini harus terjadi?” cerita Ibu Darwin.

Kenapa 400-an orang harus menjadi korban pembakaran Yogya Plaza? Siapa yang membakar?

Tahun ini memasuki tahun ke-19 peristiwa penjarahan dan pembakaran Yogya Plaza terjadi. Namun, sampai kini, pihak keluarga dan pihak lain yang peduli pada kasus ini merasa, tidak ada perhatian dari negara. Presiden memang telah berganti-ganti beberapa kali. Namun, tuntutan untuk mengusut pelaku kasus Mei 1998 tidak lebih dari sekadar wacana, janji-janji belaka.

Saya ingat, di awal pemerintahannya, Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk menuntaskan persoalan pelanggaran HAM di Indonesia, termasuk kasus Mei 1998. Tapi sampai detik tulisan ini dibuat, Juni 2017, komitmen itu belum lunas.

“Banyak orang yang kehilangan suami, anak, saudara karena mereka tewas terbakar di sini (Yogya Plaza). Kami, keluarga korban, menunggu keadilan yang belum terwujud. Cuma ini yang kami perjuangkan sejak dulu: keadilan,” suara Ibu Darwin meninggi.

Kawan-kawan dari Kontras kemudian memberikan perkembangan terakhir dari peristiwa Mei 1998. Kasus ini pernah dimasukkan dalam mekanisme pengadilan ad hoc. Berkas-berkas telah diselidiki oleh Komnas HAM—institusi yang berkewajiban melakukan penyelidikan untuk kasus pelanggaran HAM berat. Berbagai temuan Komnas HAM kemudian telah diserahkan kepada Kejaksaan Agung.

“Tapi, lalu terjadi bolak-balik berkas. Artinya, Kejagung tidak menerima berkas itu tanpa alasan yang bisa ditafsirkan secara komprehensif. Apakah kurang saksi, apakah kurang bukti, kurang verifikasi, pokoknya tidak terlalu kuat. Sehingga, tidak bisa diperbaiki. Wah, bolak-baliknya sudah tidak terhitung,” jelas Puri Kencana Putri dari Kontras.

Proses yang terjadi jika semua berjalan lancar adalah, ketika Kejagung menerima berkas-berkas Komnas HAM, pengadilan HAM ad hoc bisa diproses dengan keputusan presiden. Tapi, karena berkas tidak juga diterima, proses stagnant.

“Banyak juga yang pesimistis melihat gestur antara Komnas HAM dan Kejaksaan Agung. Sepertinya setelah Simposium 65, kasus Mei 1998 ini ditarik ke gerbong rekonsiliasi. Artinya, semua pelaku dan korban berada di situasi setara, dan proses di luar hukum akan ditempuh. Ini menarik karena dalam kasus Mei 1998, kita masih bisa mencari siapa orang yang diduga kuat bertanggung jawab. Sumber fakta juga masih bisa ditelusuri dan diverifikasi. Tapi, kalau rencana pemerintah adalah mengambil langkah rekonsiliasi, —tidak hanya kasus, tapi secara kolektif, seperti Mei 1998, penembakan misterius (petrus), orang hilang, dan sebagainya—, untuk apa kita punya agenda penegakkan hukum, untuk apa kita punya UU No. 26 tahun 2000 (tentang pengadilan HAM), untuk apa kita punya definisi kejahatan terhadap kemanusiaan, genosida, dsb? Itu yang masih dipertanyakan hingga saat ini,” tambah Puri panjang.

 

Penculikan Aktivis

Pernah dengar nama Wiji Thukul, penyair yang kerap menulis sajak-sajak pro-demokrasi, sekaligus aktivis Partai Rakyat Demokratik? Kasus Mei 1998 turut menyeret beberapa nama aktivis dari berbagai kalangan, termasuk Wiji, dalam daftar yang dicari oleh Kopassus Mawar. Sejak April hingga Mei 1998, beberapa aktivis dan pelajar menghilang. Khusus Wiji Thukul, ia sudah bersembunyi sejak Juli 1996, dan Sipon (istri) melaporkan bahwa Thukul hilang pada 2000. Beberapa ada yang kembali, beberapa ada yang hilang. Setidaknya, ada 13 aktivis yang tidak diketahui keberadaannya.

Apa rasanya menunggu ketidakpastian, seumur hidup?

“Banyak di antara orang hilang ini adalah kawan baik saya di Gerakan Mahasiswa. Waktu itu, kami mendirikan organisasi atau gerakan mahasiswa, Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi. Ada di 9 kota di Indonesia sejak 1994. Sejak saat itu, kami sering menyuarakan protes-protes kepada pemerintah. Saat situasi politik mulai memanas setelah krisis moneter, gerakan rakyat meningkat, kemudian terjadilah penculikan para aktivis. Termasuk Wiji Thukul yang berasal dari Solo. Kemudian, ada beberapa orang lainnya, diambil di Rumah Susun Klender; Mugiyanto, Nezar Patria, dan Petrus. Jati dan Reza baru pulang dari LBH, diikuti, masuk ke RSCM, mereka diambil di RSCM. Beberapa orang dilepaskan, masih ada 13 orang yang hilang sampai sekarang,” cerita Mbak Dita dari Kontras.

Beberapa orang yang sempat diculik, tapi dilepaskan, telah bersaksi mengenai kejadian yang mereka alami. Artikel-artikelnya banyak beredar di mana-mana. Mereka disiksa di sebuah tempat tak tahu di mana, bentuknya seperti penjara bersel-sel, dengan sekat tembok yang tidak kedap suara. Mereka bisa mendengar atau sempat berkomunikasi dengan para aktivis yang sampai sekarang hilang itu. Kenyataannya, mereka memang sempat diculik. Tapi, kemudian, ke mana mereka sekarang? Tidak ada yang tahu.

Sebagai aksi protes dan tuntutan, para orangtua, kerabat, kakak, adik, dan para korban pelanggaran HAM—tidak hanya Mei 1998, tapi juga Tanjung Priok 1984, Talangsari 1989, Tragedi 27 Juli 1996, Pembunuhan Munir 2004, Lapindo, GKI Yasmin, dan kasus-kasus pelanggaran HAM lain yang pernah terjadi di Indonesia—tidak pernah absen datang ke Istana Negara setiap Kamis. Aksi mereka kita kenal dengan nama Aksi Kamisan. Kita bisa ikut bergabung untuk mendukung aksi ini dengan melihat caranya di SINI.

Gerimis tipis yang turun malam itu, seolah menyimbolkan betapa kesedihan itu nyata adanya. Meski terasa samar jauh di lubuk hati, rindu akan keadilan yang hangat, selalu menemani.

Kita sebagai masyarakat mungkin saja tidak bisa berbuat banyak. Tapi, kita harus terus merawat kenangan 1998 dalam hidup kita. Kita harus terus bicarakan soal itu. Kita harus selalu #MengingatMei.

Museum Trisakti untuk memperingati gugurnya empat mahasiswa Trisakti.

 

 

( Data di tulisan ini sebagian besar berasal dari penuturan kawan-kawan Kontras dan LBH Jakarta )

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. kunudhani says:

    Sukaa, informatif skli tulisannya 👏👍

    1. Atre says:

      Semoga bermanfaat 🙂

  2. viraindohoy says:

    gue heran, kok ada yang menganggap kejadian itu rekayasa.. emangnya gak nonton berita atau baca koran, atau ngobrol sama tetangga? atau, udah nonton berita tapi tetap mengganggap itu bohon? *geleng-geleng gak habis pikir *

    1. Atre says:

      Biasanya mereka itu yang tinggal di kawasan yang minim informasi atau berada di lingkaran yang tidak tersentuh sama kejadian itu. Jadi, ga bisa nonton berita, nggak ada juga kawan atau keluarga yang jadi saksi. Yang lebih suram lagi, kadang-kadang, ada pihak-pihak tertentu yang memang sengaja menutup-nutupi kejadian itu, dan ada aja yang percaya 😦

  3. Terima kasih sudah menuturkannya kembali kak T.T

    1. Atre says:

      Senang bisa bermanfaat yaaa. Semoga akan selalu banyak orang yang ingat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s