#AussieBanget Lone Pine Sanctuary dan Kenyataan yang Lebih Indah dari Mimpi

The Gate - Lone Pine Sanctuary - Atre

Seumur hidup, saya menghabiskan banyak waktu untuk mengagumi hewan-hewan khas Australia, seperti koala, quoka, sampai kangguru. Entah dengan menonton segala video tentang mereka, atau sekadar dengan sigap menandai “likes” potret-potret mereka di media sosial. Yah, contoh sederhana yang mampu meningkatkan semangat hari, setara dengan pesan Whatsapp yang tidak-hanya-dibaca-saja-tapi-juga-dibalas, atau menemukan uang ratusan ribu tak terduga di saku celana.

Kalau ditanya lima atau enam tahun lalu, bisa bertemu dengan hewan-hewan secara langsung itu mungkin cuma mimpi. Minimal yang bisa dipikirkan paling-paling sebatas memandang mereka di kebun binatang atau taman safari di Indonesia.

I still remember the days I prayed for something that I have now.

Siapa sangka bertahun-tahun kemudian, saya berkesempatan main bareng koala dan kangguru bahkan di alam bebas di rumah mereka, Australia?!

Hari belum siang ketika saya tiba di Lone Pine Koala Sanctuary di Fig Tree Pocket, Queensland. Kawasan yang hanya berjarak 12 km dari Brisbane City ini adalah suaka untuk koala pertama dan terbesar di dunia. Dan, ia sudah ada sejak 1927. Ketika tiba di area ini, saya tidak merasa berada di kawasan perkotaan khas Brisbane. Pepohonan, padang rumput hijau, dan taman-taman membuat suaka ini begitu rindang. 

Suaka ini diberi nama “lone pine” berawal dari pohon tersebut yang ditanam oleh Keluarga Clarkson, pemilik pertama kawasan ini. Dulu, Lone Pine hanya memiliki dua koala bernama Jack dan Jill. Hingga akhirnya, sekarang, di Lone Pine seluas 18 hektar ini, ada sekitar 130 koala yang hidup.

Lone Pine Sanctuary Loket - Atre

Fee Entrance Lone Pine Sanctuary - Atre

Setelah sempat mengantre untuk membeli tiket seharga US$32 (dewasa) atau US$20 (anak-anak), saya mulai dengan hati gembira, menelusuri jalan setapak batu. Hal pertama yang dilihat adalah kelelawar-kelelawar yang sedang tidur bergelantungan di batang-batang kayu di dalam kandang. Kaki-kaki mereka mencengkeram batang kayu, dan membiarkan tubuh mereka terbalik. Saya pikir, tidur mereka lelap. Karena, meskipun sekeliling mereka banyak suara anak-anak berteriak dan orang-orang dewasa tertawa, mereka toh tetap tenang.

Lewat dari area kelelawar, saya melihat kerumunan orang memandang ke beberapa pohon dengan tatapan meleleh. Mata mereka berbinar-binar menghadapi batang-batang kayu besar dengan dedaunan yang jarang-jarang, persis seperti mata yang berkaca-kaca setelah menonton semua TVC Thai Insurance. Belakangan, baru saya tahu kalau pohon itu adalah pohon ekaliptus (eucalyptus). Rupanya, hewan berbulu lebat–cenderung kasar–berwarna abu-abu di punggung dan putih di perut, menemplok dan tertidur tenang di batang pohon itu. Saya ingin teriak, tapi malu disangka norak. ITU KOALA! GEMASSSHHHHHH! AMPUNNNNNN!

Koala Sleeping Lone Pine Sanctuary - Atre

Koala Sleeping - Lone Pine Sanctuary - Atre

Area koala di Lone Pine Sanctuary dibedakan menjadi beberapa bagian. Mereka dibedakan berdasarkan usia. Bayi koala, anak-anak, dan koala dewasa berada di sangkar yang berbeda. Saya sempat melihat, koala-koala tersebut susul-menyusul menguap. Beberapa ada yang memanjat batang pohon, kemudian saling menemplok ke punggung sesama, lalu tidur lagi. Lazy day, eh mate? Saya hanya bisa melihat kegemasan itu dari balik tembok (batang-batang pohon ini memang dipagar oleh tembok setinggi pinggang orang dewasa, yang membentuk jarak aman supaya koala tetap nyaman, tidak merasa terancam, dan kita tidak sembarangan menyentuh mereka), sembari menahan gremet-gremet di dada.

Saya datang saat pagi, dan sebagian besar dari koala tersebut sedang tidur. Kita semua tahu bahwa koala memang membutuhkan waktu tidur yang lama sekali setiap harinya. Mereka biasanya tidur hingga 20 jam sehari. Tapi, saya pribadi tidak keberatan. Bahkan ketika tidur pun mereka sungguh menggemaskan!

Saya tak tahulah berapa lama menatap mereka tak beralih. Seperti diserap dementor, tapi bedanya, kebahagiaan saya tidak hilang, malah berlipat-lipat. Baru di menit ke puluhan sekian, tiba-tiba, saya sangat ingin menoleh ke kanan.

The Queu - Lone Pine Sanctuary - Atre

Di situlah, saya melihat antrean panjang tidak jauh dari sangkar koala. Di dekat antrean tersebut, ada papan yang kira-kira bilang, “Eh, kamu… kamu bisa lho cuddling dengan koala di sini.” Wah, mata saya terbuka lebar sangat perlahan, persis seperti ketika Flash diberitahu sebuah lelucon onta oleh Nick Wilde dalam film Zootopia. Persis.

Sebelum diprotes warga netizen, sebelumnya, saya mau katakan kalau menyentuh koala di beberapa negara bagian Australia memang dilarang. Alasannya, dulu di awal abad 20, koala diburu secara besar-besaran untuk diambil bulunya atau dagingnya untuk dimakan. Akhirnya, koala menjadi langka dan eksistensinya terancam.

Untuk melindungi spesies ini dari kepunahan, koala masuk dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN) dengan status Vulnerable (Rentan) pada 2016. Pemerintah Australia juga akhirnya berinisiatif untuk melindungi spesies ini dengan membentuk suaka, juga melarangnya untuk diburu atau ‘sekadar’ dipeluk.

Situasi yang unik kemudian berkembang. Di beberapa wilayah Australia, seperti Victoria, New South Wales, Tasmania, atau Northern Territory, koala resmi dilarang untuk disentuh. Tapi, nyatanya, tidak di semua tempat berlaku larangan ini. Kita bisa cuddling dengan koala di Queensland, salah satunya di Lone Pine Sanctuary. Tapi dengan catatan, tiap koala hanya boleh memeluk sekitar 30 menit saja.

Ticket Photo with Koala - Atre

Dengan membayar tambahan biaya seharga US$18, saya akhirnya masuk dalam antrean panjang untuk memeluk koala. Biaya ini juga mencakup foto oleh pihak suaka, yang nantinya bakal dicetak dalam bentuk kartupos, dan bisa diambil di toko suvenir di kawasan tersebut. Dana yang terkumpul dari kegiatan ini akan digunakan untuk penelitian serta perawatan koala.

Ketika antrean sudah semakin dekat, jangan tanya kabar detak jantung saya. Semakin cepat debarannya terjadi. Salah satu impian akhirnya jadi nyata.

Ranger and Koala - Lone Pine Sanctuary - Atre

Akhirnya, mata seorang perempuan ranger berseragam persis seperti Steve Irwin The Crocodile Hunter, mengarah kepada saya. Ia memberi tanda supaya saya mendekat. Seperti terhipnotis, saya manut. Sembari melihat ke sekeliling, ada empat ranger di sana. Tiap ranger bertanggung jawab atas satu barisan panjang. Saya berhadapan dengan ranger nomor tiga. Ia memeluk koala di dadanya. Sang koala memeluk ranger dengan nyamannya. Walaupun cakar-cakar di tangan dan kakinya terlihat panjang dan runcing, kegemasan koala ini tidak surut.

Ranger Koala Lone Pine Sanctuary - Atre
Foto oleh Giri Prasetyo.

Ada etika sebelum kita akhirnya diperbolehkan memeluk sang koala. Tiap ranger bertugas menjelaskan etika tersebut kepada satu demi satu pengunjung. Bukan pekerjaan mudah, karena sewaktu-waktu bisa terjerat kebosanan akut karena mengucapkan hal yang sama berulang-ulang kali entah berapa ratus kali setiap hari.

Kembali ke etika, secara ringkas tata caranya adalah, posisi tubuh kita harus tegak lurus sebelum menggendong koala. Lalu, posisi kedua tangan harus menangkup (untuk menahan bokong si koala) di sekitar pinggang. Posisi leher kita juga harus tegak, mencegah kepala koala terantuk dagu atau kepala kita. Baru ketika posisi siap, ranger akan dengan tenang ‘menyerahkan’ koala ke tangkupan tangan kita.

Oh, kepala sang koala sempat bergerak ke kanan dan kiri, mungkin mencari posisi paling nyaman untuknya (kembali) tidur. Lalu, ia rebahkan kepalanya di dada sebelah kanan saya. Rasanya, ah, tak terkatakan. Antara tegang dan excited. 

Koala Lone Pine Sanctuary - Atre 1
Foto oleh Giri Prasetyo.

Rupanya, tubuh kita diharuskan tegak supaya sang koala nyaman dan mengira kita adalah batang pohon favoritnya. Karena tidak diperbolehkan membelai, saya hanya bisa merasakan bulu-bulu koala dari bokongnya yang duduk di kedua telapak tangan saya, dan dari kepalanya yang menyundul ke dagu saya. Semula saya pikir, bulu mereka sangat halus seperti anjing atau kucing. Tapi ternyata tidak. Bulu koala sedikit lebih kasar dan tebal, tapi tetap nyaman. Sangat hangat.

Ketika berada di pelukan, sang koala sangat tenang. GEMASHHH. Tapi, tidak lama kemudian—seperti tak lebih dari satu menit—, sang koala diambil oleh ranger. Hati saya teriak “NOOOOOOOOOOOOOO! TIDAKKKKKKKK!” sangat panjang, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulut. Yang ada, saya hanya mengucap, “Thank you!” lalu menuju tempat hand sanitizer berada (dianjurkan untuk membersihkan tangan setelahnya), dan dalam diam, mengarah ke jalan keluar. Sebetulnya masih tidak puas, tapi mau bagaimana lagi. Saya harus move on. Semoga lain kali bisa memeluk koala kembali lebih lama.

Untuk mengusir gundah, saya kembali berkeliling mengeksplorasi Lone Pine Sanctuary. Saya baru ingat, bahwa suaka ini tidak hanya tentang koala. Tapi, banyak juga hewan khas Australia lain yang menarik, seperti kanguru, Tasmanian Devil, wombat, platypus, emu, serta beragam jenis burung, seperti kakatua, nuri, dan lorikeets.

Kangaroo Forest - Lone Pine Sanctuary - Atre

Saya akhirnya mengarahkan kaki ke area 2 hektar tempat 130 kanguru berkeliaran bebas. Di sini, kita bisa memberi makan kanguru-kanguru secara langsung. Makanannya bisa kita beli sebelumnya di general store dekat pintu masuk. Dibungkus dalam kantong kertas, makanan kanguru ini mengingatkan saya pada sereal rasa coklat. Saya memerhatikan orang-orang di sekeliling saya memberi makan para kanguru. Beberapa menghampiri manusia karena memang lapar. Beberapa yang lain terlihat hanya rebah-rebahan di bawah pohon, ogah makan. Mungkin, ini waktunya tidur siang mereka.

Feeding Kangaroo at Kangaroo Forest - Atre

Bagaimana cara memberi makan kanguru? Cukup letakkan makanan tadi di telapak tangan. Lalu, biarkan para kanguru makan dari sana. Rasanya, geli-geli basah. Dalam artian yang sebenarnya. Geli karena lidah-lidah para kanguru menyusuri makanan di telapak tangan kita. Dan, basah karena air liur mereka buyar seketika. Kalau terlalu jijik dengan cara ini, sebetulnya bisa juga meletakkan makanan di tanah. Tapi, apa serunya?

Karena sempat menonton sebuah film tentang kanguru yang suka menendang, saya sebetulnya agak takut-takut mendekat. Tapi, dengan kekuatan mantra “mumpung di sini”, akhirnya ketakutan memang harus dihadapi. Saya julurkan tangan berisi makanan ke hadapan beberapa kanguru. Mereka yang semula memandang saya dengan tatapan “ape lu?!”, akhirnya takluk karena lapar. Mereka mendekat, dan makan dengan tenang. Selagi mereka sibuk dengan makanan, saya beranikan diri mengelus tubuh dan kepala mereka yang berbalut bulu cokelat itu. Halus.

Kangaroo Forest Lone Pine Sanctuary - Atre
Foto oleh Giri Prasetyo.

Beberapa burung camar kerap mendekat pula. Mereka seperti ingin juga diperhatikan dan diberi jatah makanan. Hanya emu-emu saja yang tetap dingin menatap para manusia. Mereka menjauh ketika kita mendekati mereka. Mereka berjalan pelan menghindar dengan kaki-kakinya yang panjang. Seolah bilang, “bodo amat“.

Lone Pine Sanctuary - Emu

Wah, gawat ini. Kalau dibiarkan, saya mungkin bisa sampai sore duduk-duduk di bawah pohon bersama para kanguru ini. Mereka sangat menyenangkan, dan tidak merepotkan. Karena itu, berada di sekeliling mereka sungguh bikin betah.

Sebelum keluar dari kawasan Lone Pine, sempatkan untuk mengintip sejenak hewan-hewan lain yang juga menarik. Kelelawar, buaya, ular, kura-kura, kadal, dan jangan lupakan untuk melihat aksi hewan tercepat di dunia: elang peregrine (peregrine falcon) yang mampu terbang dengan kecepatan 389 km/ jam—mengalahkan cheetah dengan 120 km/ jam.

Bloggers Peak - Atre
Foto oleh Giri Prasetyo.

Menariknya, buat para blogger atau pencinta media sosial, ada sebuah area khusus bernama Blogger Area di Lone Pine Sanctuary. Di sini, tersedia area duduk yang nyaman, Wi-Fi gratis, USB power station, dan ketenangan yang bikin para blogger dijamin bisa fokus menulis. Lone Pine ini seperti sudah tahu apa yang ada dalam pikiran social media addict. Asal ada koneksi internet, colokan listrik, dan tempat duduk ena’, pasti tidak akan ada keluhan.

Ah, this is one of the perfect time when reality is better than dream.

Alamat Lone Pine Sanctuary

708 Jesmond Road, Fig Tree Pocket
QLD 4069, Australia
Buka: 09.00-17.00

 

(Tulisan ini dibuat untuk kampanye #AussieBanget kerja sama Tiket.com dan Kedutaan Besar Australia Indonesia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s