#AussieBanget Mammoth Cave, Gua Batu Gamping Rumah Para Fosil

Margaret River selama ini kita kenal dengan wine atau coklatnya yang ena’. Tapi, ternyata wilayah yang terletak 300 km ke selatan Perth, tidak cuma soal itu. Margaret River memiliki lebih dari 150 gua yang berada di bawah Hutan Karri dan Taman Nasional Leeuwin Naturaliste. Salah satu dari ratusan gua tersebut adalah Mammoth Cave.

Memasuki Margaret River, kebun anggur terhampar di kanan-kiri jalan. Sementara, langit sangat biru dengan awan gemuk-gemuk bergerak pelan mengikuti arah angin. Kadang-kadang, kalau kita jeli, bakal terlihat padang rumput tempat para kanguru asyik berteduh di bawah pohon rindang.

Saya selalu suka Margaret River. Bukan apa-apa, region yang termasuk Western Australia ini sangat fasih kalau bicara soal ketenangan. Jalanan aspal mulus yang lurus sedikit berliku tidak banyak dilewati kendaraan. Di tepi kanan-kiri, lahan luas yang hijau bikin hati ikut adem. Belum lagi, udara cenderung lebih bersih dan sejuk. Entah hanya sugesti saya saja, atau memang benar begitu.

Margaret River adalah pilihan tepat kalau ingin mencari damai.

Hari itu, kebetulan, dari makan siang burger dan ngemil coklat, saya menyusuri jalan hingga ke Caves Road, Forest Grove, di mana Mammoth Cave berada. Hari sudah hampir sore, jadi kawasan itu sepi sekali–malah hampir tutup. Beruntung, masih ada waktu sebentar buat melihat-lihat dan masuk gua batu gamping yang besar sekali ini.

Cave tour Mammoth Cave - Atre

Ketika mendengar kata “mammoth”, saya—mungkin juga kalian—langsung berpikir pada hewan bernama sama yang hidup sekitar 5 juta tahun lalu, dan kini sudah punah. Ya, betul, mammoth yang itu; hewan besar yang masih keluarga dengan gajah, berbadan besar, dan bertaring panjang. Singkat kata, saat mendengar nama Mammoth Cave, saya sudah membayangkan ini adalah sebuah gua yang sangat besar. Dan, benar saja.

Mouth Cave Mammoth Cave - Atre

Mammoth Cave adalah gua yang terbentuk dari batu gamping sepanjang 500 m dengan kedalaman 30 m. Dari jauh saja, saya sudah bisa merasakan kemegahan gua ini. Kemudian, ketika memasuki mulut gua besar,  hal pertama yang langsung saya rasakan adalah “dingin”. Secara harfiah, dingin. Ada angin yang mungkin kalau dianalogikan seperti angin dari AC bersuhu 20 derajat Celcius, berembus saat memasuki mulut gua. Brrr.

Mammoth Cave track - Atre
Foto oleh Giri Prasetyo.

Dari mulut gua, saya lanjutkan berjalan di atas jalan setapak dari kayu yang terangkai ke penjuru gua. Wah, gua dengan penerangan remang-remang kekuningan ini terlihat semakin indah. Jalan setapak dari kayu yang well-designed dan tentunya tidak merusak, sudah dibangun di penjuru gua. Kita bisa lebih nyaman berkeliling gua. Lalu, banyak stalaktit dan stalakmit terbentuk di dalam Mammoth Cave. Seperti tirai indah—hanya saja ini dari bebatuan.

Mammoth Cave stalagtit - Atre

Sempatkan diri untuk melihat dari dekat—tapi jangan menyentuh apa pun—, dan kita akan melihat aliran air yang membatu (disebut flowstone) di dinding gua.

Mammoth Cave and friends - Atre
Foto oleh Giri Prasetyo.

Yang paling menarik, memang ada beberapa fosil di Mammoth Cave. Mulai dari macan, mamalia, sampai tulang rahang Zygomaturus (wombat raksasa) yang berasal dari 44 ribu tahun lalu! Kalau film Back to the Future perlu DeLorean untuk time traveling, di Mammoth Cave, kita cuma butuh menelusuri tiap jengkal gua untuk menikmati masa lalu. Di mana lagi bisa melihat dengan mata kepala sendiri hewan marsupial yang sudah punah ribuan tahun lalu?

Mammoth Cave - Fossil - Atre

Berkunjung ke salah satu dari ratusan gua purba di Margaret River, adalah salah satu yang harus kalian masukkan dalam daftar #AussieBanget. Tidak perlu harus Mammoth Cave, masih ada ratusan gua lainnya yang bisa jadi pilihan. Sayang, saya kesorean deh, jadi tidak bisa berlama-lama. Harus segera pergi dari sana karena para penjaga sudah waktunya menutup gua. Ah, ciao, Mammoth.

 

INFO:
Single entry Mammoth Cave:
US$22,5 (dewasa),
US$12,5 (anak-anak usia 4-16 tahun),
US$58 (keluarga: 2 dewasa, 2 anak-anak)
Buka: 09.00-17.00
Telp: (08) 9780 5911

 

 

(Tulisan ini dibuat untuk kampanye #AussieBanget kerja sama Tiket.com dan Kedutaan Besar Australia di Indonesia)

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. Gara says:

    Wow, keren. Jadi bisa belajar soal fauna-fauna di masa lalu ketika Bumi masih sepi dari manusia. Jawbone yang dimaksud gambar itu apa yang ada di sebelah kanan? (Semoga saja benar, hehe). Saya juga takjub ketika melihat penataan guanya, benar-benar sudah disiapkan untuk wisata arkeologi! Penerangan cukup dan jalur kunjungan pun jelas. Semoga gua-gua penelitian yang banyak ada di Indonesia lambat-laun bisa seperti di sana ya, dari segi-segi kepariwisataannya, hehe.

    1. Atre says:

      Iya, betul betul, well-prepared banget untuk wisata arkeologi. Dan, dengan tanggap, para penjaga guanya itu dengan ketat mengawasi untuk tidak memegang-megang apa pun di gua tersebut, supaya lestari. Coba di Indonesia serapi ini ya.

      1. Gara says:

        Mantep banget sampai ada penjaganya, hehe. Kalau di Indonesia, pengunjung mengambil barang saja bisa tidak ketahuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s