#AussieBanget Fringe World Festival Australia: Fringe Festival Terbesar Ketiga di Dunia

Bokeh

Begitu tahu bahwa saya tiba di Australia bertepatan dengan digelarnya Fringe World Festival 2017, bukan main senangnya. Australia memang dikenal juga karena berbagai gelaran festivalnya yang seru. Salah satunya adalah, fringe festival-nya yang disebut-sebut terbesar ketiga di dunia.

Apa itu fringe festival?

Kalau soal ini, saya juga baru tahu kalau pertama kali istilah fringe festival itu digunakan oleh Robert Kemp, dramawan asal Skotlandia. Istilah ini muncul karena melihat beberapa kelompok teater independen yang tidak diundang ke Edinburgh International Festival kedua pada 1948, tapi mereka tetap tampil di venue-venue tidak resmi di luar ruangan. Waktu itu, disebut round the fringe.

Sekarang, kita menyebut fringe untuk menggambarkan festival yang menggabungkan beragam bentuk seni. Fokus pada performing arts.

Festival fringe ini bisa diadakan hanya beberapa hari, tapi ada juga yang berbulan-bulan. Nah, untuk Fringe World Festival Australia, ia diadakan selama sebulan penuh di beberapa lokasi di Perth. Di antaranya, Fringe Central at The Perth Cultural Centre, The Pleasure Garden, dan Fringe at Cathedral Square. Sekali-sekali, ada juga pertunjukan pop up yang diadakan di tempat-tempat ikonik Perth, seperti Perth Town Hall, City of Perth Library, Elizabeth Quay, atau St George’s Cathedral.

Fringe Central

Ambience yang “hidup” seketika terasa ketika saya memasuki area Fringe World Festival di The Perth Cultural Centre. Beberapa tenda yang warnanya cerah berdiri di beberapa titik. Mengingatkan saya pada musim sirkus atau pasar malam. Sesekali, beberapa perempuan yang mengenakan kostum—ada badut atau peri—berlalu lalang. Bahkan, ada perempuan berkostum putri duyung yang tinggal di akuarium raksasa—sebagai bagian dari pertunjukan.

Semakin sore, para pengunjung yang mengenakan pakaian santai; lebih banyak bergaya bohemian atau gipsi; semakin memadati area. Mereka melompat-lompat dari satu tenda ke tenda lain.

Di Festival Fringe tahun ini, sekitar 20 Januari-19 Februari, ada 700 pertunjukan di 150 venue di Australia yang bisa dinikmati. Mulai dari teater, sirkus, tari, kabaret, puppet, stand up comedy, visual arts, dan sebagainya. Juki Mala, Danger Cabaret, The Royal Croquet Club, Poncho Circus, sampai Fringe World Mermaids, hanyalah segelintir performer dari ratusan yang ikut meramaikan Fringe World Festival 2017.

Beberapa pertunjukan ada yang gratis, dan ada yang berbayar.

Ini pertama kalinya saya mendatangi festival jenis ini. Biasanya, hanya menonton sirkus-sirkus kecil di tenda seadanya. Itu pun waktu masih kecil. Tapi, ini jauh lebih mengesankan.

Fringe Festival bohemian style - Atre
Foto oleh Giri Prasetyo.

Kebanyakan orang, selain mengejar tontonan pertunjukan, juga menghabiskan waktu di beberapa kafe sederhana di area festival. Atau, sekadar duduk-duduk di atas rumput. Sangat santai. Semoga bisa bertemu lagi oleh Fringe Festival Australia tahun depan.

The A Team

(Tulisan ini dibuat untuk kampanye #AussieBanget kerja sama Tiket.com dan Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s