Ke Jungfrau Region untuk Jatuh Cinta

Glacier mountains - Atre - renjanatuju.com

Sebelumnya, saya adalah orang yang skeptis kalau bicara “jatuh cinta pada pandangan pertama”. Terdengar terlalu mudah, padahal cinta sendiri bukan urusan sepele. Tapi, di musim panas yang berangin, Jungfrau Region berhasil membuat hati saya berbunga-bunga lewat keindahan lanskapnya dan jajaran pegunungan gletser yang misterius tapi memikat.

Setelah melalui perjalanan sekitar 20 jam dari Jakarta—termasuk transit di Hong Kong—, pesawat Swiss International Airlines mendarat di Zürich Airport, Switzerland, pagi-pagi sekali. Saya mengintip keluar jendela saat pesawat menuju apron. Butir-butir air luruh di kaca jendela. Landasan terbang basah. Saya membiarkan hati saya melunak memandangi hujan di Switzerland.

Seorang perempuan asal Thailand bernama Pen Tiyawarakul dari Jungfrau Railways, menjemput saya di bandara. Wajahnya cerah pagi itu. Ia menemani saya selama berada di Land of Milk and Honey ini. Kali itu, saya dan Pen bakal menjelajah Switzerland dengan fokus di Jungfrau Region.

Untuk sampai ke region tersebut, saya beperjalanan dengan kereta dari Zürich ke Interlaken.

Swiss Transfer Ticket Switzerland - renjanatuju.com

Berkat Pen, saya sudah menggenggam Swiss Transfer Ticket di tangan. Ini adalah semacam tiket terusan yang berlaku selama saya di Switzerland. Tiket bekertas tebal ini bisa digunakan untuk rute kereta ke mana saja. Saya iseng mengecek harga tiket ini. tiket ini valid hingga sebulan dengan harga 180 Euro untuk first class (sekitar Rp2,8 juta) dan 113 Euro (setara Rp1,7 juta) untuk second class.

Kereta di Swiss - Atre - renjanatuju.com

Kereta berwarna putih serupa Shinkansen di Jepang ini, membawa saya dari Zürich Flughafen (stasiun kereta yang berada di area yang sama dengan Zürich Airport) ke Interlaken, dengan terlebih dulu transit di Bern.

Interlaken adalah sebuah kota kecil di wilayah pegunungan Bernese-Oberland yang dikelilingi oleh pegunungan gletser dan diapit oleh dua danau besar bernama Danau Thun dan Danau Brienz. Dan, kota yang sudah melegenda sebagai kota resor tertua di Switzerland ini adalah gerbang utama untuk mengeksplorasi Jungfrau Region. Jika ditotal-total, waktu tempuh ke Zürich Flughafen-Bern-Interlaken sekitar 2,5 jam. Cepat, ya.

Waktu juga jadi tidak terasa karena sepanjang jalan, pemandangannya begitu menakjubkan. Mulai dari padang rumput hijau saujana, hutan pinus, jajaran chalet (rumah kayu tradisional Switzerland), sungai, lembah, pegunungan dengan puncak yang tertutup salju, sampai danau dengan air berwarna toska gelap. Sekadar peringatan, kalau sudah melewati danau besar tadi yang namanya Danau Brienz dan melela bagian puncak tiga gunung gletser, yaitu Eiger, Monch, dan Jungfrau, di kejauhan, artinya hampir tiba di Interlaken.

Oh Tuhan, selama ini saya hanya melihat gunung legendaris Eiger dari film Nordwand (North Face) karya Philipp Stölzl yang rilis pada 2008. Lalu, tahu-tahu ia ada di depan mata. Seiring perasaan kagum yang melebihi kapasitas, kereta berhenti di Interlaken OST Railway Station.

Begitu turun dari kereta, angin sejuk langsung menerpa wajah. Di awal musim panas, suhu di Interlaken yang berketinggian 567 mdpl, berkisar 16-17 derajat Celcius. Masih terbilang sejuk untuk ukuran orang-orang yang biasa hidup di negara tropis.

 

Mengenal Interlaken Lebih Dekat

Saya merebahkan tubuh sebentar begitu tiba di penginapan yang hanya berjalan kaki sebentar dari Interlaken OST. Tapi, lalu tidak ingin menyerah pada rayuan ranjang yang empuk dan kamar yang hangat.

Pen mengajak saya keluar, dan bertemu seorang perempuan berambut coklat kemerahan di pelataran penginapan. Namanya Betina. Wajahnya penuh freckles dan pipinya merah. Ia berdiri di sebelah dua ekor kuda yang menarik andong. Bentuknya serupa sado, tapi lebih modern. Kami menghabiskan sore itu dengan numpak sado berkeliling Interlaken. Suara ketipak-ketipak tapak kuda berselingan dengan suara Betina yang menceritakan soal kisah Interlaken.

Di masa lalu, Interlaken bukanlah kota permukiman. Kawasan permukiman terdekat berada di Unterseen, dekat Sungai Aar. Di abad pertengahan, Interlaken adalah kawasan biara. Tapi lalu pada abad 19, orang-orang Inggris mulai datang dan sampai di Unterseen.

Mereka mencintai daerah pegunungan, senang mendaki, gemar mengeksplorasi di alam. Mereka kemudian tiba di Interlaken. Menyadari potensi area ini, mereka lalu membangun sebuah kota resort di tempat ini. Hotel pertama sudah dibangun pada 1820.

Kami melewati Sungai Aar yang berair seperti jelly toska yang melintasi Interlaken. Jalan raya sangat sepi. Hanya sesekali saja mobil melintas. Orang-orang lebih memilih berjalan kaki atau bersepeda di Interlaken; menikmati tulip-tulip yang bermekaran di tepi jalan atau sekadar meresapi tiap detik waktu di kota kecil nan tenang itu.

Kami lalu melewati kawasan pusat kota tempat gerai-gerai yang menjual banyak jenis barang, seperti pakaian, aksesori, perhiasan, sampai gerai suvenir, berjajaran. Lalu, tiba di area rumah-rumah kayu yang disebut chalet berderet-deret.

Betina mengatakan, chalet berasal dari bahasa Prancis yang artinya “pondok”. Chalet-chalet berderet rapi di sisi kanan-kiri jalan.

Kami sempat singgah di Casino Kursaal, bangunan berbentuk rumah kayu yang merupakan kasino satu-satunya di Interlaken. Bahkan, kami sempat menyantap hidangan di restoran bernama Spycher yang berada di bangunan yang sama dengan Casino Kursaal. Tapi, ini bukan acara makan biasa. Karena Spycher menyebut diri sebagai “restoran folklor”, maka restoran ini menyajikan tidak hanya menu-menu khas Switzerland, melainkan juga pertunjukan budaya negara tersebut.

Casino Kursaal - renjanatuju.com

Bayangkan, ketika kami menyantap sajian, seperti rösti, sup asparagus, lamb steak, sampai cheese fondue, di panggung kecil di tengah restoran, ada beberapa lelaki memainkan akordion, terompet, keyboard, dan alat-alat musik yang berasal dari perkakas, seperti papan cuci kayu, alat tumbuk kayu, lonceng, atau koin. Lalu, menyusul seorang perempuan paruh baya memegang mikrofon dan mulai yodeling. Semuanya mengenakan pakaian tradisional Switzerland; celana hitam, kemeja putih, dan rompi atau rok bersulam.

Yodeling adalah cara bernyanyi dengan nada naik-turun berulang-ulang dengan suara suara tinggi-rendah. Suara yang keluar ketika yodeling itu serupa yodel-adle-eedle-idle-oo atau yodel-ay-ee-oooo.

Yang membuat pertunjukan kali itu sempurna kadar ke-Swiss-annya adalah ketika alpenhorn muncul di atas panggung. Alpenhorn adalah alat musik serupa terompet tetapi panjang hingga menyentuh tanah atau lantai. Alat musik ini muncul di iklan Ricola yang legendaris itu. Saya bahkan sempat diberi kesempatan untuk membunyikan alpenhorn. Percobaan pertama gagal. Percobaan kedua, alpenhorn hanya berbunyi uwoong lemah. Baru di percobaan ketiga, alat musik ini berbunyi cukup layak. Ha-ha-ha. Jujur deh, memainkan alpenhorn tidak semudah kelihatannya.

Kami kembali menaiki sado. Semakin sore, telapak tangan dan tengkuk saya mulai meremang. Dingin mulai menggigit. Tapi, Betina dan Pen terlihat santai saja. Betina dengan wajahnya yang cerah malah menunjuk jauh. Saya menyusuri arah telunjuknya, dan mendapati pemandangan luar biasa jelita di kejauhan. Jajaran pegunungan dengan ujung puncaknya berwarna putih—itu gletser, tentu saja—kelihatan sangat besar. “That’s the Alps,” kata Betina. Ada nada kebanggaan dalam suaranya. Pen menenangkan, “Besok kita bakal main-main ke gunung, ya. Tenang saja.”

 

Trottibike dan Sensasinya

Di pagi yang baru, Interlaken masih juga terus mendung. Tapi, hari ini kami beranjak ke Grindelwald yang berketinggian 1.034 mdpl. Kami memutuskan naik mobil—tidak berkereta—dengan jarak tempuh sekitar 1 jam.

Jalan raya yang sepi dan berliku-liku berdamping-dampingan dengan jalur kereta Jungfrau Railways yang sudah ada sejak 1912. Karena itu, sepanjang jalan, saya menikmati betul ketika kereta melintas dan menyusul mobil yang saya tumpangi. Keindahan berlipat-lipat karena puncak Eiger (3.970 mdpl), Mönch (4.107 mdpl), dan Jungfrau (4.158 mdpl), serta chalet-chalet yang bertebaran di atas padang rumput menemani di sisi kiri-kanan jalan.

Typical sight in Jungfrau Region - renjanatuju.com

Setelah melewati Waldspitz, Bort, dan Schreckfeld, kami tiba di Grindelwald. Ada apa, sih, di Grindelwald, sampai saya harus menginjakkan kaki di sana? Here’s the thing. Switzerland itu sangat cantik di setiap sudutnya, di setiap penjurunya. Pegunungan gletser ada di mana-mana. Chalet-chalet, padang rumput, taman tulip, atau padang salju, banyak ditemukan di berbagai tempat di Switzerland. Intinya, ke region mana pun di Switzerland, kita akan bisa menemukan keindahan yang sulit disadari kekurangannya. Tapi, Pen mengajak saya ke Grindelwald utamanya untuk trottibike.

Trottibike adalah perpaduan antara scooter dan sepeda. Ia punya tempat pijakan kaki seperti scooter, sementara sisanya—ban, stang, dan rem—seperti sepeda. Sewa trottibike per perjalanan adalah CHF18 atau sekitar Rp250.000.

Kami naik gondola dari Grindelwald menuju Bort (1.570 mdpl). Bort merupakan Alpenspielplatz Trottibike Strecke. Artinya kurang lebih, stasiun awal trottibike.

Trottibike Grindelwald - renjanatuju.com

Sampai detik ini, saya bisa bilang, ini adalah momen ‘bersepeda’ paling indah. Dari Bort, saya meluncur di jalan beraspal sepi yang menurun dan berliku, melewati pedesaan Grindelwald yang hijau, dengan chalet-chalet yang berwarna-warni. Saya juga melewati taman bunga, kebun sayuran milik warga, dan sekali lagi, jajaran pegunungan gletser yang terlihat sangat dekat dan sangat megah. Pengalaman ber-trottibike sejauh 4,5 km itu tidak bakal saya lupakan. Ya gembiranya, bergairahnya, atau berdebarnya.

Berangkat Kita Bertemu Salju Abadi

Switzerland memang dikenal dengan pegunungan yang di puncaknya bersemayam salju abadi (gletser). Jadi, salah satu agenda wajib jika mengunjungi negara ini adalah menikmati panorama pegunungan gletser.

Di Jungfrau Region, saya beruntung bisa datang ke tempat-tempat indah, di mana salju abadi menjadi highlight. Dekat dari Grindelwald, Pen mengusulkan agar kami mampir ke First Mountain. Bukan, bukan karena gunung ini memiliki puncak paling tinggi di Switzerland makanya bernama “first”.

Konon, nama First berasal dari bahasa Jerman yang artinya “mountain ridge”. Artinya dalam bahasa Indonesia, ya, gunung.

Kembali, dari Grindelwald, kami naik gondola di cable way yang sudah beroperasi sejak awal 1990-an untuk sampai ke First. Istimewa, karena untuk bisa sampai ke ketinggian 2.167 mdpl, kita hanya perlu duduk manis di gondola sekitar 25 menit. Jangan hilang fokus, karena lewat perjalanan puluhan menit itu, bisa jadi kamu bakal menyaksikan pemandangan salah satu yang terindah sepanjang hidupmu.

Untuk tiba di First, saya melintasi beberapa stasiun. Di sini, saya melihat dua wajah Grindelwald. Ketika di Waldspitz dan Bort, saya menikmati Grindelwald yang hijau dengan perbukitan yang tinggi-rendah. Semakin tinggi, begitu melewati Schreckfeld dan akhirnya tiba di First, perbukitan hijau mulai berganti perbukitan putih tertutup salju.

Saya memuaskan diri menjejakkan kaki di salju. Bunyi krenyes-krenyes muncul saat langkah kaki menginjak es halus itu. Saya beruntung karena siap dengan jaket thermal berlapis-lapis, sarung tangan tebal, dan boots waterproof dengan kaos kaki wool yang tebal. Dinginnya sungguh menusuk. Tapi, pemandangan dari puncak First tak terkatakan.

Dari First Mountain Lodge, satu-satunya penginapan di First, saya menikmati waktu. Saat langit jernih tak berkabut, saya melihat gondola-gondola yang terlihat begitu kecil di kejauhan, berjalan pelan. Chalet-chalet juga terlihat sangat kecil dari atas sini. Gradasi bukit berwarna putih, coklat, lalu hijau, terlihat berantakan tapi tetap indah. Puncak Eiger berdiri gagah tepat di hadapan saya. Tapi lalu angin mengencang. Kabut turun dengan cepat. Pemandangan hilang dari pandangan. Memang saatnya untuk kembali turun. Sampai jumpa lagi, First!

Pen kemudian punya kejutan lagi untuk saya. Kami berangkat ke Top of Europe, tempat saya bakal kembali bisa menikmati salju abadi. Untuk mencapai tempat tersebut, kami kembali ke Interlaken untuk menaiki kereta 2,5 jam dari Interlaken OST menuju Jungfraujoch Station, stasiun terakhir Jungfrau Railway.

Jungfrau Railway ini sendiri berusia 100 tahun di tahun 2012 yang digagas oleh pengusaha pemilik pabrik pemintal benang, Adolf Guyer-Zeller. Railway sepanjang 9,3 km ini dibangun selama 16 tahun, dan selesai pada 1912. Dana yang dihabiskan sekitar 16 juta Swiss Franc.

Selama 2,5 jam, kereta ini melewati beberapa stasiun dengan panorama berganti-ganti. Seperti Interlaken dan Grindelwald menyajikan pemandangan padang rumput hijau. Ketika tiba di Kleine Scheidegg (2.061 mdpl) dan Eigergletscher (2.320 mdpl), daratan mulai tertutup salju yang menebal dan langit tertutup kabut tebal. Setelah Eigergletscher, kami memasuki terowongan panjang dan gelap yang menembus perut Eiger dan Mönch (luar biasa!), melewati Stasiun Eigerwand (2.865 mdpl), Eismeer (3.160), dan akhirnya tiba di Jungfraujoch.

Jungfraujoch disebut juga sebagai Top of Europe. Ini adalah stasiun kereta api tertinggi di Eropa

Saya sudah kagum sendiri ketika menyadari bahwa untuk mencapai puncak gunung berketinggian 3.454 mdpl, saya hanya duduk di kereta, tak perlu berkeringat mendaki. Tapi, begitu akhirnya betul-betul sampai, kagum berubah jadi meleleh karena jatuh cinta lagi.

ADolf Guyer - renjanatuju.com

Mulai dari turun kereta, saya langsung bertemu patung megah Adolf Guyer-Zeller, yang namanya sudah saya sebutkan sebelumnya. Lalu, saya asyik mengikuti tur yang tersedia di Jungfraujoch. Tur di sini maksudnya bukan berjalan mengikuti seorang pemandu. Tapi, memasuki satu ruangan menuju ke ruangan lain yang ada di sana.

Tur Jungfraujoch dimulai dari Jungfrau Panorama, tempat kami menikmati audio visual 3D panorama Jungfrau. Lalu, memasuki terowongan Alpine Sensation; tempat adanya snow ball raksasa ‘berisi’ Switzerland. Dari terowongan, saya tiba di Eispalast (Ice Palace) seluas 1.000 m2 yang dibangun pada 1930-an. Istana es ini berbentuk serupa labirin dengan suhu mencapai -3° C. Beberapa bagian di Ice Palace meninggi hingga 15 cm setiap tahun. Di dalamnya, ada banyak patung es berwujud elang sampai penguin. Ada juga Sherlock Holmes raksasa terbuat dari es!

Kami lalu naik lift menuju teras Sphinx di ketinggian 3.571 mdpl, tempat observatorium astronomi tertinggi di dunia, sekaligus platform pandang tempat kita bisa memandang padang gletser yang luas. Dan akhirnya, Plateau! Ini adalah jajaran salju bagian selatan yang luas dekat dengan puncak Jungfrau (Jungfrau artinya virgin). Saya berupaya untuk membuat snow angel di sana, tapi tak sukses. Sebab, angin terlalu kencang dan dingin bertambah dingin. Suhu sampai mencapai -10 derajat Celcius. Brrr. Tapi, tak mengapa.

Plateau Top of Europe - renjanatuju.com

Saya tetap bahagia karena akhirnya bisa merasakan kedinginan di kawasan yang termasuk dalam UNESCO Natural World Heritage Site.

Seiring kabut yang semakin tebal di Plateau, maka berakhir juga cerita perjalanan saya kali ini. Tak disangka, jatuh cinta pada pandangan pertama itu bisa terjadi. Dan, jatuh cinta pada orang atau tempat yang sama itu mungkin.

 

(Tulisan ini terbit dalam Majalah Maxim Indonesia edisi Agustus 2017, edisi cetak terakhir dari majalah tersebut)

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. mysukmana says:

    Kapan kak atre ngajakin jalan2 kek gini..belum pernah nyentuh salju wkwkw..

    1. Atre says:

      Aku percaya tiap orang ada rezekinya masing-masing. Semoga kamu sedang dalam proses yaaaaaa 🙂

      1. mysukmana says:

        bener kak..heheh mantap deh kak atre kata katanya..

  2. Liza Fathia says:

    Indah sekali kaaak. Swiss itu Benar2 indah. Aku langsung googling film Norwand dan kepingin nonton.

    1. Atre says:

      Tapi hati-hati ya setelah nonton Norwand langsung depresi. Soalnya, filmnya based on true story dan rada tragis. Huhuhu.

      1. Liza Fathia says:

        Apa? Aku baru siap donlod filmnya kaak. Aih, harus nonton dgn timing yang pas berarti.

      2. Atre says:

        Tapi itu film bagus. One of the best adventure movie of all time–versi aku tapi. Hihihihihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s