Mendaki Jalur Mardi Himal Trek, Annapurna Region, Nepal

Mardi Himal Trek - Atre - renjanatuju.com

Lima hari menjajal Mardi Himal Trek, Annapurna Region, saya mengakrabkan diri dengan bunga nasional Nepal, badai salju, hingga udara tipis ketinggian 4.000-an mdpl.

Saya menganga di hadapan anak tangga dari semen di Phedi, yang melela sejauh mata memandang. Ada ratusan mungkin ribuan anak tangga, saya tidak tahu pasti. Giri Prasetyo, partner trekking kali ini, memandang saya dengan wajah samar; sedikit khawatir, banyak semangat.

Ini pertama kalinya kami trekking di Nepal. Bagi banyak orang, menjajal jalur pendakian di Nepal adalah sebuah cita-cita, bahkan tujuan hidup. Bagi kami, ini adalah sebuah mimpi jadi nyata. Dan, kami memilih Mardi Himal Trek sebagai rute perdana.

Faktor utama memilih Mardi Himal Trek adalah trek ini less crowded karena baru dibuka, dan bikin penasaran karena puncaknya lebih tinggi daripada Annapurna Basecamp Trek (ABC 4.130 mdpl dan Mardi Himal Trek 4.500 mdpl).

Ada beberapa titik berangkat (starting point) untuk memulai trekking di Mardi Himal Trek ini. Yaitu, Phedi dan Hemja. Keduanya berjarak sekitar 30 menit dari Kota Pokhara.

Phedi adalah titik keberangkatan kami untuk menyusuri Mardi Himal Trek kali ini. Maka, mulailah perjalanan kami yang diawali dengan anak tangga beranak-pinak.

Rock stairs Mardi Himal Trek - Atre - renjanatuju.com
Mardi Himal Trek starts with a hundred (or maybe thousand) rock stairs! Get yourself ready!
Perkenalan dengan Dal Bhat

Mardi Himal adalah trek di sebelah barat Annapurna Region, yang baru dibuka pada 2012. Menurut cerita, Mardi Himal Trek dulu adalah trek para misionaris dalam menyebarkan agama.

Dari Phedi, kami menuju ke sebuah wilayah bernama Dhampush. Tentu saja, setelah ratusan tangga tadi terlewati.

Banyak orang Mongol yang tinggal di Dhampush. Prem mengenali mereka. Prem Raj Adhikari adalah lelaki yang tinggal di sebuah desa kecil di Pokhara. Ia adalah pemandu yang membantu perjalanan kami di Mardi Himal Trek, baik itu mengurus perizinan sampai membagikan banyak cerita. Saya rasa, jika di antara kawan-kawan membutuhkan pendampingan selama trek di Nepal (tidak hanya Mardi Himal Trek), saya dengan yakin merekomendasikan Prem. Untuk kontaknya, tinggal kabari saya saja, ya.

Trekking Nepal Mardi Himal Trek - Atre - renjanatuju.com
Prem and I. (Foto: Giri Prasetyo)

“Kita makan siang dulu, ya,” Prem memberitakan hal ini sembari ia masuk ke pekarangan Anu Guest House & Restaurant. Setelah sekitar 2 jam berjalan, makan siang memang ide yang bagus. Di sinilah, kali pertama saya mencoba dal bhat.

Dal bhat adalah makanan tradisional yang bisa ditemukan di India, Bangladesh, dan tentu saja, Nepal. Dal bhat berisi nasi (bhat), sup kacang-kacangan (dal), tumis sayuran (tarkari), acar, juga kari ayam, ikan, atau kambing. Enak bangettt, dan bisa refill. Tidak hanya nasi, tapi juga lauk-pauk. Semua bisa tambah sampai kenyang.

Dal Bhat Nepal - Atre - renjanatuju.com
The most favorite meal among trekkers: dal bhat.

Yang terpenting, seporsi dal bhat mengandung elemen-elemen yang dibutuhkan tubuh. Ya protein, karbohidrat, sampai serat. Pantas, ada istilah “dal bhat is power 24 hour”.

“The National Flower of Nepal”

Jalanan masih lebar dengan bukit-bukit hijau mengelilingi, ketika kami berjalan di Dhampush, Kabupaten Kaski. Perut sudah kenyang. Hati senang.

Sembari trekking, Prem berdasarkan pengalamannya menjadi pemandu jalur-jalur pendakian di Nepal, mengatakan tentang musim terbaik dan terburuk mendaki di Nepal, konteks kali ini adalah Mardi Himal Trek.

Katanya, musim terbaik untuk trekking di Mardi Himal Trek berkisar pertengahan September hingga awal Desember atau Februari-April. Sementara, musim terburuk adalah pada DesemberJanuari, karena jalur bisa ditutup akibat badai salju yang parah, atau Juni-awal September karena Nepal sedang musim hujan. Banyak lintah di sepanjang trek jika sedang musim hujan.

Prem kemudian berhenti di depan rumah dengan plang bertuliskan “Trekker’s Information Management System: TIMS Check Post”. Seorang petugas tak berseragam, tersenyum ramah pada kami, dan berbincang-bincang dalam bahasa Nepal dengan Prem. Rupanya, di sini, permit TIMS dicek

Perkara permit, untuk trekking di Mardi Himal Trek, kita butuh mengantongi Annapurna Conservation Area Project (ACAP) dan TIMS. Permit ini bisa diurus di Kathmandu atau Pokhara seharga NPR3.700. Di Dhampush, permit TIMS dicek. Sementara, permit ACAP dicek di Pothana.

Saya dan Giri, dengan bantuan Prem, sudah mengurus kedua izin itu di Pokhara. Prosesnya cepat, hanya sehari saja langsung jadi. Tulisan lengkap tentang permit ini, mungkin akan saya tulis di blogpost terpisah.

Tidak ada kendala berarti ketika pengecekan permit. Tidak sampai 5 menit, kami sudah bisa melanjutkan perjalanan.

Dari Dhampus, kami tiba di kawasan hutan. Beberapa bunga liar sedang cantik-cantiknya bermekaran. Ada bunga berwarna merah terang yang disebut Christmas flower, magnolia, anggrek hutan, dan bunga istimewa bagi Nepalese, yaitu rhododendron.

Rhododendron adalah bunga yang disebut dengan The National Flower of Nepal. Ia memiliki banyak jenis dan warna. Yang pertama kali saya lihat di hutan, adalah rhododendron merah. Dan, di awal Maret 2017, saat saya datang, rhododendron sedang mekar-mekarnya. 

National Flower of Nepal Rhododenron - Atre - renjanatuju.com
The National Flower of Nepal: Rhododendron.

Dipesonakan oleh bunga-bunga liar dan udara sejuk, kami agak terkejut ketika tahu-tahu tiba di Thulakarka atau Australian Camp (2.060 mdpl), saat masih pukul 14.00. Dan begitu mengecek waktu, kami sudah berjalan sekitar 5 jam–tanpa terasa.

Australian Camp adalah titik pemberhentian pertama di Mardi Himal Trek. Di sini, kami menginap di Gurans Hotel & Restaurant, yang nyaman, bersih, dan memiliki water heater di kamar mandinya.

Salah satu kenyamanan melakukan pendakian di Nepal adalah karena adanya tea houses di beberapa pos di tiap-tiap jalur. Tidak perlu membawa tenda, sebab telah ada penginapan yang bisa kita tinggali.

Semakin tinggi altitude, semakin mahal juga harga tea house. Semakin tinggi altitude, fasilitas yang disediakan semakin sederhana. Tapi, setidaknya fasilitas-fasilitas penting, seperti kamar, ranjang, kasur, selimut, ruang makan dengan perapian, makanan berat dan minuman panas, tersedia sampai di ketinggian 4.000-an. Harga satu kamar berkisar 150-400NPR.

Resham Devkota, si pemilik Gurans Hotel, adalah lelaki tinggi semampai yang ramah. Ketika kami baru tiba, ia sudah siap dengan black tea panas untuk menyambut kami. Sore itu, kami menikmati teh di teras kamar, ditemani pemandangan Annapurna II dan Annapurna IV yang anggun dan terlihat sangat dekat dari Australian Camp. Nyaris seperti meledek.

Tidur saya nyenyak malam itu.

 

Sepertiga Jalan Berkenalan dengan Hutan Rimba

Setelah menikmati pagi dengan sarapan ditemani sunrise yang muncul dari balik Annapurna II, kami beranjak dari Australian Camp. Hari kedua ini, tujuan kami adalah trekking 7 jam menuju Kokar atau Forest Camp.

Forest Camp - Atre - renjanatuju.com
There’s a clear path and clear sign in Mardi Himal Trek. So, you don’t have to worry to get lost.

Jalan setapak yang semula dikelilingi pepohonan, berganti jalan berkerikil dan tangga batu yang berantakan. Beberapa kali, perjalanan kami disela oleh kawanan kerbau hitam yang berbaris panjang. Beberapa orang Nepal juga mengangguk ramah tiap kali berpapasan.

Namaste. Iya, ketika mendaki di Nepal, kesenangannya adalah ketika bertemu dengan orang lain dalam perjalanan, baik itu sesama pendaki atau warga lokal. Tiap kali berpapasan ini, kita akan selalu disapa “namaste”, yang kemudian kita respons juga dengan “namaste”.

Namaste memang sudah terkenal sebagai salam atau ucapan terima kasih dalam bahasa Nepal. Maka, setiap kali berpapasan atau bertemu orang lain ketika trekking, sudah tradisi untuk saling melempar salam.

Bukit-bukit hijau mulai menghilang di kejauhan. Berganti dengan Machapuchare, atau Fish Tail. Hati saya lompat, dan menghasilkan teriakan senang. Sementara Giri dengan karakternya yang santai, tampak tenang. Walaupun, psstt, saya tahu hatinya pasti juga jompak-jompak.

Giri and Fish Tail - Atre - renjanatuju.com
Giri and Fish Tail.

Kami lalu tiba di Pothana, di kawasan perkampungan yang juga menjadi penginapan, di ketinggian 1.900 mdpl. Kok, turun lagi? Rupanya, di sinilah permit ACAP kami–yang tadi sempat saya katakan–dicek. Sama seperti pengecekan yang pertama, permit ACAP kami aman.

“Mirip Gunung Gede, ya?” tiba-tiba Giri berpendapat.

Forest Mardi Himal Trek - Atre - renjanatuju.com
The forest in Mardi Himal Trek.

Saya sedikit saja setuju. Mirip memang, tapi jika dilihat lebih dekat, vegetasi di Mardi Himal Trek jauh berbeda dari Gede. Pepohonan ek (oak) mendominasi hutan ini. Dan, saya bertemu lagi dengan rhododendron lebih banyak warna; merah, pink, sampai ungu. Sisanya, memang mirip Gunung Gede, sih; dengan jalur setapak yang sudah jelas, pohon-pohon tinggi, dan trek yang landai tapi panjang.

Di tengah hutan, saya sempat panik ketika Prem berjalan sangat jauh di depan tak kelihatan lagi, dan Giri tertinggal di belakang–lututnya cedera dan sakit–juga tidak kelihatan. Saya dengarkan bunyi alam yang sangat sunyi. Seperti berdengung-dengung di telinga. Tapi, panik itu mampir cuma sebentar. Saya tarik napas dalam-dalam dan melihat sekeliling. Meski jalur bercabang-cabang, saya lalu melihat warna biru dan putih di batang-batang pepohonan.

Sign of the right trek - Atre - renjanatuju.com

Jalur pendakian di semua trek, termasuk Mardi Himal Trek, memiliki penanda serupa bendera yang digambar di batang pohon, berwarna biru-putih. Untuk mengidentifikasi jalur yang benar, ikuti saja jalur yang terdapat tanda tersebut.

Setelah sempat beristirahat di Deurali (2.100 mdpl), menjelang sore, kami baru tiba di Forest Camp. Kami menginap di Hotel Green View & Restaurant, tea house bertembok batu milik Pro Suk Bahadur Gurung, yang memiliki toilet duduk, yang orang Nepal sebut dengan “western toilet”. Setelah kelar trekking, baru saya tahu, kalau toilet di Green View Forest Camp adalah yang terbersih dan ternyaman di antara yang pernah saya coba.

 

Bertahan di Suhu Ekstrem dan Oksigen Tipis

Prem sebelumnya menceritakan, bahwa Mardi Himal Trek memungkinkan kita bisa melihat dari dekat Annapurna South (7.010 mdpl), Hiunchuli (6.441 mdpl), dan Fish Tail (6.993 mdpl). Perjalanan trekking di hari ketiga dan keempat membuat saya dan Giri sadar akan hal itu.

Mardi Himal Trek - Atre - renjanatuju.com

Dari Forest Camp, kami hanya melewati Hotel Rest Camp yang berhadapan langsung dengan Fish Tail. Tidak mampir, karena kami mengejar 3 jam perjalanan menuju Humal atau Low Camp setinggi 3.050 mdpl.

Berhari-hari trekking, saya bertemu orang-orang dari beragam bangsa dan usia. Saya kagum ketika di Low Camp bertemu lelaki tua bernama Andre dari Belgia yang gemar solo trekking di Nepal.

Mardi Himal Trek - Atre - renjanatuju.com
This is Andre from Belgium.

“Saya sudah pensiun. Ketimbang duduk di rumah, lebih baik di sini,” kata Andre. Betul juga, daripada menghabiskan masa tua duduk menonton televisi di rumah, memang sungguh sangat lebih baik untuk berkelana. Itu pun kalau memang mampu. Kami tinggalkan Andre di Low Camp karena kami harus melanjutkan perjalanan.

Lepas dari Low Camp, melewati Cloudy Hill (Badal Danda), tidak ada lagi pepohonan tinggi, hutan, dan bunga. Sejauh mata memandang hanya ada rerumputan berwarna cokelat, dan angin kencang yang membuat udara semakin dingin. Kain penutup wajah, semacam scarf atau syal, sangat membantu menutupi wajah dari terpaan angin dingin. Jadi, jangan lupa dibawa.

Jajaran pegunungan salju mulai jelas dan mengelilingi kami; Annapurna, Hiunchuli, dan Machapuchare. Puncak Mardi Himal juga sesekali terlihat, sesekali tertutup puncak glacier tiga gunung tadi. Dan di titik ini, jaket thermal, long john berdobel-dobel, kupluk wol, dan sarung tangan wol sudah menjadi kawan setia saya, meskipun hari masih siang. Dinginnya bisa mencapai 5 derajat Celcius.

Jalan setapak mulai didominasi jalan landai berangin. Rumput-rumput kecokelatan dan bebatuan cokelat tua besar-besar mulai mendominasi pemandangan. Sampai akhirnya, menjelang sore, angin mengencang dan hujan salju disertai kabut mulai turun.

Saya tidak bisa melihat jauh ke depan, dan kembali berjalan sendirian. Sebelah kanan saya jurang. Sebelah kiri aman. Prem tertutup kabut di depan sana. Giri juga tersamarkan kabut di belakang sana. Hingga di sebuah batu besar, Prem duduk menunggu. Katanya, “Kita cuma tinggal 5 menit lagi sampai High Camp.” Saya bisa bernapas lega ketika melihat sosok yang saya kenal mendekat. Sebagian besar wajahnya tertutup Buff, tapi saya bisa tahu, kedua matanya berbinar-binar. Pertanda, ia senang. Capek, tapi senang.

High Camp Mardi Himal Trek - Atre - renjanatuju.com
High Camp, the highest and last tea house in Mardi Himal Trek.

Sudah sore ketika kami tiba di High Camp (Kew) di ketinggian 3.580 mdpl. Jaket dan sekujur tubuh kami mulai tertutup salju. Dingin sekali. Baru ketika memasuki ruang tamu High Camp yang memiliki penghangat, kami bisa betul-betul plong. Prem yang datang membawa black tea panas, tersenyum lebar ke arah kami. Sementara, pendaki-pendaki lain yang sudah tiba di High Camp sejak siang, ikut bergembira atas kesuksesan kami sampai di sini. Kehangatan itu tidak lagi hanya berasal dari pemanas ruangan, tapi dari hati tiap pendaki yang ada di sana.

Saya pikir, di High Camp ini, saya akan sudah tidak bisa bernapas dengan benar. Tapi, meskipun oksigen memang lebih tipis dari biasanya, saya masih bisa mengatur napas dengan baik. Lebih bersyukur lagi karena saya dan Giri tidak terkena altitude sickness.

High Camp adalah titik tertinggi dan terakhir di mana ada tea house. Dan di sinilah, kami merasakan tidur dengan pakaian juga kaos kaki bertumpuk-tumpuk, ditambah sleeping bag dan selimut, sarung tangan, semua serba lengkap, tapi masih menggigil kedinginan. Rupanya, menurut Prem, malam itu suhu mencapai hingga -20 derajat Celcius. Brrr…

 

Menuju 4.500 Mdpl

Dini hari, kami bangun. Air dalam botol minum kami membeku. Badan kaku karena dingin begitu menyengat. Tapi, kami tiba di saat penting, menuju Mardi Himal Basecamp (4.500 mdpl), titik akhir trek ini. Jadi, kami harus mengalahkan rasa mager dan beku. Banyak trekker yang sudah berangkat sejak pukul 05.00. Tapi, kami baru berangkat sejam setelahnya.

Giant rock Mardi Himal Trek - Atre - renjanatuju.com

Setelah bertemu beberapa kali bongkahan batu besar dan padang rumput berwarna cokelat, kami sampai di sebuah plang bertuliskan “Mardi Himal” dengan tanda panah mengarah ke kanan. Dari ketinggian ini, Annapurna dan Machapuchare seperti berada sejajar dengan kami. Daratan yang kami injak mulai dipenuhi salju yang menumpuk dari hujan salju hari sebelumnya.

Mardi Himal Basecamp, tujuan kami, terlihat samar di kejauhan. Lutut Giri semakin menggigit. Sementara, saya mulai merasa nyeri di bagian paha.

Tapi kemudian, saat tinggal satu jam menuju Mardi Himal Basecamp, Prem membuyarkan ketenangan. Dia menunjuk ke arah Mardi Himal Basecamp. Wajahnya tidak senang.

Heavy fog - Mardi Himal Trek - Atre - renjanatuju.com
Heavy fog on our way to Mardi Himal Basecamp.

Mardi Himal Basecamp yang semula jelas terlihat, kini tertutup kabut. Kami berpapasan dengan beberapa trekker yang memutuskan kembali ke High Camp. “Too cloudy. It’s dangerous to continue,” kata mereka yang berangkat satu jam lebih awal dari kami.

Saya dan Giri saling melihat. Dilema. Para trekker itu bilang, kabut sangat tebal. Jalur yang dekat dengan jurang, tidak kelihatan. Prem juga bilang, kabut ini biasanya diikuti dengan badai salju yang turun setelahnya. Tapi, saya dan Giri berpikir, sayang kalau sudah sampai sejauh ini, tapi tidak sampai ke titik terakhir pendakian. Kami lalu bergeming saja di satu puncak bukit; memandang jauh Mardi Himal Basecamp yang semakin tidak kelihatan.

Heavy fog - Mardi Himal Trek - Atre - renjanatuju.com

Kabut kini semakin tebal. Bahkan, semakin turun dan menutupi Annapurna dan Machapuchare. Sementara, Prem menunggu keputusan saya dan Giri dengan sabar. Kami akhirnya, memikirkan faktor keselamatan dan kebaikan bersama, sepakat untuk kembali ke High Camp. Kami berjalan turun ke High Camp dalam diam.

Mardi Himal Trek - Atre - renjanatuju.com

***

Keesokan harinya, ketika kami hendak melakukan perjalanan turun, hujan salju tidak berhenti-henti. Perjalanan jadi lebih sulit, karena dingin menjadi dan salju mulai menumpuk. Bahkan, ketika sudah di titik akhir perjalanan di daerah Pedhi, hujan salju berganti dengan hujan air yang deras.

Low Camp Heavy Snow - Atre - renjanatuju.com
Low Camp covered with snow.

Dua hari kemudian, setelah sudah berada di Pokhara, saya mendapat kabar dari Prem. “Setelah kamu dan Giri pulang, High Camp badai salju parah sekali. Salju sampai setinggi paha!” Prem mengabari lewat Facebook messenger. Baru setelahnya saya tahu bahwa jalur pendakian Mardi Himal Trek ditutup tepat setelah saya dan Giri sudah kembali ke Indonesia. Saya tidak henti-hentinya bersyukur, saat di atas, masih mendapat hari-hari yang cerah.

Tidak ada yang pasti di Himalaya. Tidak ada pula yang mudah. Semua perjalanan memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Dan kali ini, kabut tebal-lah yang menguji kami. Tapi, kami melihat sisi terangnya: salah satu mimpi telah jadi nyata, dan kami pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apa.

 

 

INFO:
Travel Insurance

Ketika pergi ke luar negeri, saya biasa membeli asuransi perjalanan. Bukan hanya karena hal ini jadi salah satu persyaratan pengajuan visa, tapi juga karena penting. Nah, ketika ke Nepal ini, saya tidak memilih asuransi perjalanan yang biasa-biasa saja, karena akan naik gunung ke ketinggian sampai 4.500 mdpl (banyak asuransi perjalanan yang tidak meng-cover asuransi lebih dari sekian ribu mdpl, jadi pilih dengan bijak).

Kami waktu itu memilih asuransi perjalanan dari World Nomads Insurance. Asuransi ini bisa menanggung kecelakaan hingga ketinggian maksimal 6.000 mdpl.

 

 

*Ini adalah tulisan orisinal (dengan berbagai penambahan) dari artikel yang terbit di Majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi Juli 2016 dengan judul “Sang Ardi yang Tak Pasti”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s