[Travel Tips] Tips Jadi Freelance Writer

SVINAFELLSJOKULL - RENJANATUJU.COM
When in Iceland.

Pada Oktober 2017, saya dikontak oleh Sisternet.co.id yang ingin mewawancarai saya tentang kehidupan dan segala hal tentang menjadi seorang penulis lepas. Hasil wawancaranya sudah terbit di situs Sisternet, tentu saja.

Selama ini, banyak orang yang penasaran dengan bagaimana cara saya berproses hingga sampai di titik sekarang ini. Banyak juga yang bertanya, alasan akhirnya saya menjadi penulis dan bagaimana untuk bisa jadi penulis. Lalu, saya pikir, kenapa hasil wawancara tersebut tidak sekaligus saya posting ulang di blog ini? Jadi, inilah dia, semoga bermanfaat bagi teman-teman yang baru ingin memulai menjadi penulis lepas, atau ingin menjadi penulis.

Sisternet.co.id – 1 Oktober 2017

Hai, Sisters! Zaman sekarang bekerja itu ada banyak pilihannya. Tidak mesti kantoran atau pakai seragam, kamu juga bisa memilih pekerjaan sebagai seorang freelancer, yaitu seseorang yang menawarkan jasanya untuk mengerjakan sesuatu pada klien. Ada banyak jenis pekerjaan freelance, salah satunya adalah menjadi freelance writer seperti yang dilakukan oleh Astri Apriyani.

Perempuan ini sudah menjalani kerja sebagai freelancer selama 4 tahun. Dari menulis travel feature untuk berbagai majalah, termasuk National Geographic Indonesia, menulis blog, narasi iklan, naskah film, sampai menulis untuk content website pun dilakoni.

Penasaran dengan seluk beluk pekerjaan ini? Yuk, simak obrolan Sisternet bersama pemilik akun Instagram dan Twitter @atre7 ini!

Hai Sister Astri! Boleh memperkenalkan sosok Astri Apriyani dan profesinya kini?
Saya adalah freelance writer dan fulltime traveler.

Mengapa Sister Astri memilih untuk bekerja sebagai freelancer dan tidak bergabung dalam sebuah perusahaan tertentu?
Oh, saya dulunya pekerja fulltime sekitar 7 tahun. Saya tidak serta-merta menjadi freelancer. Dulu, saya bekerja di beberapa media, beberapa kali pindah, mulai dari media kecil hingga media raksasa, sebagai jurnalis.

Sekadar info, menjadi  jurnalis adalah cita-cita saya sejak masa sekolah. Tapi, ternyata, cita-cita itu sendiri pun bisa berubah, ya. Setelah 7 tahun bekerja fulltime, setelah menghitung-hitung segala macam, mengkalkulasikan semuanya, saya memutuskan untuk resign dan menjadi freelancer. Tidak terasa, sekarang sudah 4 tahun saya menjadi freelancer.

Bicara mengenai freelance, menurut Sister Astri apakah freelancer bisa disebut sebagai profesi?
Tentu saja, itu juga bentuk dari profesi yang membutuhkan keahlian tertentu. Hanya saja yang membedakan adalah waktu kerjanya.

Freelancer atau penulis lepas itu, kan, tidak bergaji, apakah seseorang dengan pekerjaan itu bisa memiliki masa depan yang cerah?
Musuh utama para pekerja itu–tidak cuma penulis–adalah diri sendiri. Perkara masa depan cerah, fulltimer pun belum tentu punya masa depan cerah, kalau dirinya tidak punya kendali atau kontrol baik terhadap diri sendiri. Tapi, kesulitan freelancer memang berkali-kali lipat lebih banyak daripada fulltimer.

Freelancer harus mendisiplinkan diri sendiri, karena tidak ada deadline atau jam kantor yang ditetapkan dari pihak lain.

Freelancer harus bergerak terus, tidak boleh berhenti belajar, karena kompetisi itu nyata. Freelancer harus me-manage waktu sendiri untuk mengerjakan pekerjaan, karena tidak ada bos atau atasan yang mengingatkan atau membuatkan jadwal untuk menyelesaikan pekerjaan. Masa depan cerah itu bisa diraih, asal freelancer disiplin, bisa manage waktu dan pendapatan, tidak malas, dan punya kontrol atas diri sendiri.

Apa “dos and don’ts” seorang freelancer?
Do’s:

  • Siapkan selalu CV paling update, portofolio yang terangkum rapi, serta rate card. Ketiga hal ini yang paling sering diminta sewaktu-waktu.
  • Selalu penuhi deadline sesuai waktu, karena akan ada saatnya para klien itu kembali kalau pekerjaan kita bagus.
  • Upayakan memiliki kontrak kerja–meskipun per project–sebelum memulai pekerjaan, termasuk di dalamnya perihal termin pembayaran dan kuota revisi.
  • Jalin hubungan yang baik dengan klien.

Don’ts:

  • Jangan menelantarkan pekerjaan, hingga melewati deadline yang disepakati.
  • Take every project very seriously, baik itu klien kecil atau klien besar. Reputasi kita jadi taruhannya. Jangan mentang-mentang klien kecil, lalu dikerjakan dengan setengah hati atau diremehkan. Jangan.

Ada tips networking?
Saya selalu suka traveling, bukan cuma karena anaknya gampang stres, tapi karena itu salah satu jalan untuk memperluas jaringan. Di luar itu, saya senang ikut kursus menulis, karena bisa juga ketemu kawan-kawan yang satu passion atau yang berada di dalam industri.

Punya pengalaman yang tidak terlupakan sebagai freelancer?
Tidak terlupakan ini bisa artinya negatif dan positif sih ya, tapi saya ambil positifnya saja deh ya. Saya bisa diundang ke berbagai negara, seperti Switzerland dan Australia, karena pekerjaan saya sebagai freelance writer ini. Tidak perlu takut tidak bisa pergi karena cuti sudah habis misalnya. Banyak sekali opportunity yang tidak terduga karena profesi sebagai freelancer ini.

Apa momok yang mengerikan bagi seorang freelancer?
INVOICE TELAT CAIR! HA-HA-HA.

Kalau begitu bagaimana cara Sister Astri menghadapi klien yang telat mencairkan invoice?
Sampai sekarang, saya hanya beberapa kali menghadapi klien-klien yang melanggar deadline pembayaran. Selama ini, hanya perlu ‘meneror’ lewat jaringan pribadi saja, sampai akhirnya semua hak terpenuhi. Belum sampai yang lebih parah daripada itu.

Hmm. Kembali pada profesi sebagai penulis lepas, biasanya untuk menulis dapat ide dari mana saja?
Ide datang dari hal-hal kecil di sekitar saya. Mulai dari tontonan, musik, buku, peristiwa yang terjadi di depan mata, sampai kadang-kadang, mimpi.

Apakah ada waktu-waktu tertentu buat Sister Astri untuk memulai sebuah karya?
Bisa kapan saja sih, tapi lebih sering mood datang saat tengah malam.

Bicara mengenai penulisan naskah, susah nggak, sih?
Kalau dibandingkan dengan menulis artikel untuk media seperti yang sudah saya jalani selama 10 tahun terakhir ini, menulis naskah memang cenderung lebih membutuhkan teknik lebih. Karena itu, saya merasa perlu untuk punya basic knowledge tentang ini dan memutuskan mengambil kursus singkat penulisan skenario. Tapi, kalau soal sulit, itu relatif. Lebih kompleks mungkin, lebih tepatnya.

Apa sebenarnya yang membuat Sister Astri “menulis”?
Saya sebetulnya adalah orang yang tidak terlalu senang bicara di depan umum. Saya juga bukan orang yang dengan mudah membagi-bagikan cerita hidup kepada banyak orang. Karena itulah saya menulis. Menulis membuat saya merasa bisa meluapkan apa yang tidak bisa saya luapkan, menceritakan apa yang tidak bisa saya ceritakan secara langsung. Saya menulis karena saya merasa saya butuh.

Bagaimana caranya membuat orang agar membaca hasil karya Sister Astri?
Ketimbang bicara basa-basi panjang lebar, saya lebih suka membagi karya saya. Kadang-kadang membaginya di social media, kadang-kadang bangga menunjukkannya langsung di jaringan pribadi kepada teman-teman.

Pernahkah Sister Astri mengalami hilang mood atau kehabisan ide? Jika pernah, apa yang dilakukan supaya bisa mood lagi?
Belum. Semoga jangan. Saya dulu termasuk orang yang percaya pada writers block, sampai akhirnya saya belajar bahwa writers block is bullshit. Orang mengalami writers block hanya karena tidak tahu apa yang ingin ia tulis. Faktornya adalah kurang riset. Saya sekarang percaya ini. Bahwa butuh riset yang baik sebelum menulis sesuatu.

Kalau persoalan mood, mmm, saya biasanya siapkan kopi dan playlist musik khusus untuk “menulis” sebelum memulai kerja. Biasanya sih aman kalau ritual ini sudah dijalankan.

Apa yang mendasari Sister Astri menyukai dunia menulis? Apakah ada background menulis waktu kuliah dulu?
Saya sejak sekolah sudah suka pelajaran bahasa, lalu kuliah di jurusan Sastra Indonesia, Universitas Indonesia. Sebetulnya, kuliah di jurusan ini bukan otomatis akan langsung jadi penulis sih, ya. Tapi saya akhirnya memilih jalan ini karena sudah kadung jatuh cinta.

Omong-omong tadi menyebut diri sebagai fulltime traveler? Kalau traveling, biasanya destinasi favorit kemana?
Indonesia Timur sejauh ini menjadi favorit saya. Sementara kalau luar negeri, Nepal dan Iceland masih menjadi kesayangan.

Bagaimana Sister Astri memilih tujuan wisata? Apakah dari budayanya, atau jaraknya, atau apa biasanya
Karena salah satu profesi saya juga adalah travel writer dan dipublikasikan di media, untuk traveling, pada akhirnya saya memilih tempat-tempat yang tidak hanya ada dalam daftar “bucket list” saya, tapi juga yang menarik atau unik untuk ditulis di media.

Tapi, saya pribadi selalu punya ketertarikan pada musim dingin dan salju, jadi seringnya pemilihan destinasi di luar negeri selalu berkaitan dengan ini. Sementara, untuk dalam negeri, saya selalu tertarik pada seni dan budaya, jadi sebisa mungkin memilih destinasi karena seni dan budayanya yang sangat unik.

Apa yang paling disukai ketika traveling?
Perasaan berdebar-debar dan excited dalam waktu yang bersamaan, karena mendatangi tempat asing yang sama sekali baru. Juga, bertemu banyak orang dengan kebudayaan yang sama sekali berbeda dari apa yang saya jalani sehari-hari.

Jika Sister Astri adalah sebuah benda, Sister Astri akan memilih menjadi apa dan mengapa?
Saya selalu mengasosiasikan diri dengan ilalang, yang tidak perlu dirawat sulit, tapi tetap tumbuh. Tidak terlalu suka diperhatikan, tapi tetap kuat dan indah dengan caranya sendiri.

Sedap! Ok, last! Boleh, dong dibagi tipsnya buat pembaca Sisternet yang ingin memulai profesi sebagai freelancer.
Sebelum akhirnya memutuskan resign dari pekerjaan tetap dan menjadi freelancer, pertama jangan lupa kalkulasi tentang link, bekal, dan pengalaman yang dimiliki; apakah sudah cukup atau tidak.

Lalu, kalkulasikan kemampuan diri; apakah sanggup untuk berjalan sendiri, mengalami ketidakstabilan di awal, mengatur waktu sendiri, mendisiplinkan diri sendiri. Kalau semua sudah oke, silakan mulai merambah dunia freelance yang rimba tapi menyenangkan.

Terima kasih sudah berbagi di Sisternet. Sukses terus Sister Astri!
Sama-sama, Sisternet!

 

Artikel ini juga bisa dilihat di situs Sisternet di TAUTAN INI.

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Ratih says:

    Salam kenal mba Astri.. seneng baca tulisan2nya, ringan tp berbobot. Bangga ada generasi Indonesia spt ini.. Smoga sukses berkah selalu yaa.
    Sy seneng nulis jg, tp udah telat sptny memulai karir penulis..hehe..

    1. Atre says:

      Terima kasih banyak, Mbak Ratih, atas ungkapan-ungkapan baiknya. Saya pribadi merasa, menjadi penulis tidak punya batas kadaluarsa atau tenggat. Ini bagi saya untung. Tidak seperti pengaju beasiswa atau karyawan yang punya limit usia. Jadi, kalau Mbak Ratih punya gairah untuk jadi penulis, saya rasa bisa dimulai dari sekarang. Tidak ada kata terlambat.

      Semoga bersemangat selalu ya mengejar cita-citanya.

  2. natalia indah says:

    Mba Atre, bikin kursus menulis di Bali dong.. aku langsung jadi peserta pertama deh 🙂

    1. Atre says:

      Ya ampun, Kak Nat, bertemu juga di sini. Hahahaha. Nanti aja kalo aku ke Bali lagi, bertemu dan bincang-bincang yaaaaa.

      1. Natalia Indah says:

        Aku disuruh Calvin buat baca-baca blog mu yang bahasanya ya ampun bikin aku terpana. Hayuk mau banget aku 😀

      2. Atre says:

        Calvin emang paling-paling bisa bikin ge er yes, Nat. Ayooo nanti kalo aku ke Bali kuberkabar-kabar yaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s