In Collaboration with Embara Films for Arise

Jauh sebelum saya dan kawan-kawan dari Embara Films akhirnya berkolaborasi tahun lalu, saya sudah diam-diam jadi pengagum karya-karya mereka.

Saya ingat betul, di suatu hari yang biasa-biasa saja, saya yang adalah penduduk asli Jakarta, termenung ketika menonton Merangkum Jakarta (A Journey Through Jakarta). Waktu itu, kalau tidak salah, tahun 2012—telat beberapa tahun sejak rilis pertama kali. Waktu itu juga, saya belum terlalu akrab dengan Vimeo—yang punya banyak referensi tentang video-video terbaik. Di saat yang sama juga, timelapses dan tilt-shift di Indonesia merupakan hal anyar. Jadi, belum banyak orang yang ‘bermain-main’ dengan itu. Wajar saja akhirnya saya bengong sepanjang Merangkum Jakarta.

Itu masa-masa di mana saya masih seorang karyawan fulltime; wartawan yang sehari-hari masih ke kantor, punya cubicle sendiri, dan tiap hari, sibuk keliling kota buat cari berita.

Hidup lalu senormalnya berjalan. Kalau lagi bahagia, hidup berjalan cepat. Tapi, kalau lagi merana, jalannya hidup jadi lambat.

Embara muncul lagi tahun 2013 dengan Epic Java-nya. Semua orang yang suka beperjalanan dan suka video, pasti setidaknya pernah sekali nonton travel video ini. Epic Java adalah video perjalanan Embara selama 365 hari keliling Jawa dan merekam keindahan hingga 50 destinasi seantero Jawa.

Jawa dipersembahkan dengan begitu megah di video ini, mengingatkan saya pada karya-karya Ron Fricke, filmmaker asal Amerika Serikat, seperti Baraka dan Samsara. Sesuai judulnya, Jawa terlihat sangat epik.

Setelah itu, meskipun belum kenal dengan orang-orang di balik Embara Films—Febian Nurrahman Saktinegara dan Galih Mulya Nugraha—, tapi sudah mulai “sok akrab” di media sosial. Yah, nature-nya media sosial kan begitu, suka bikin seseorang sok kenal sok dekat, padahal belum pernah ketemu di dunia nyata.

Credit photo: Embara Films.

Intermezzo: baru saja diingatkan oleh Galih kalau kami (saya, Galih, dan Embi) pertama kali ternyata ketemu di Selasar Sunaryo, Bandung, tahun 2012. Waktu itu, saya dan kawan-kawan dari Majalah Intisari liputan tentang aristektur dan ke Bandung dalam rangka mewawancarai Mbak Sarah Ginting. Galih dan Embi ada di sana. Galih kebetulan adalah mahasiswa Mbak Sarah. Soal ingatan ini, saya agak samar. Yang saya ingat hanyalah, hari itu saya ketemu banyak arsitek hebat di Bandung; Sarah Ginting dan Yu Tsing; lalu Bandung hujan hari itu. Dingin, basah.

Sampai akhirnya, saya lupa tepatnya, tiba-tiba dapat undangan untuk penayangan Epic Java di Jakarta. Waktu itu, akhirnya ketemu langsung dengan Galih, tapi cuma sekilas. Grogi, soalnya kan ngefans. Ha-ha-ha. (Pertemuan pertama kali dengan Febian atau banyak orang yang lebih memilih memanggil ia dengan Embi, baru terjadi tahun lalu, 2017, ketika saya berkunjung ke Bali untuk bekerja sembari jalan-jalan tipis).

Dari sana, kami jadi berkawan. Nggak sesering itu juga saling temu, karena beda kota tinggal; saya Jakarta, mereka di Bandung (setahun terakhir mereka pindah ke Bali). Nggak sesering itu juga berbincang-bincang, tapi sesekali bersinggungan di dunia maya.

Saya sudah lama pensiun jadi wartawan (sejak 2013 ketika resign dari Kompas Gramedia). Sekarang, saya lebih banyak bekerja menulis naskah iklan, dokumenter, sesekali fiksi, dan jarang-jarang blogging. tidak punya kantor, tidak ada cubicle.

Lalu, tahun lalu, pas ke Bali, saya dapat cerita kalau Embara sedang ada project seru berjudul Homa, yang kabarnya akan rilis tahun 2018. Trailer-nya sudah bisa dilihat di akun media sosial mereka (Trailer Homa).

Embara juga sudah melahirkan banyak karya bagus, seperti music video Tulus berjudul “Ruang Sendiri” dan “Manusia Kuat”. Tapi, saya baru tahu kalau mereka ada project lain di luar itu. Ini yang saya tahu belakangan karena mereka meminta saya terlibat.

DEMI APA, DIAJAK KOLABORASI SAMA IDOLA? YA LANGSUNG IYA-IN LAH!

 

Project ini (akhirnya) diberi judul Arise. Kenapa? Nanti juga paham kalau sudah nonton (atau, ada teman-teman yang sudah nonton duluan di sini?)

Selama ini, karya-karya Embara Films yang sifatnya personal tidak pernah melibatkan narasi. Arise adalah yang pertama. Jadi, sebuah kebanggaan, juga beban cuy! Ha-ha-ha.

Begitu menonton Arise pertama kali versi belum bernarasi, saya ingat betul betapa saya merasa melankolis. Saya entah kenapa mengingat masa-masa sulit, sampai akhirnya tercerahkan. Mungkin, karena video ini menangkap banyak momen indah yang merekam manusia yang kecil dan dunia yang luas, menggambarkan gelap berubah jadi terang, mengingatkan saya pada hidup yang bukan cuma tentang jatuh, tapi juga tentang bangkit. Bukan cuma tentang minta didengarkan, tapi juga belajar mendengarkan.

Terakhir, bagaimana kita tidak lupa untuk mengingat siapa diri kita, dan apa mimpi-mimpi kita. Maka, jadilah narasi yang sekarang ini muncul di video.

Lalu, saya akhirnya penasaran, kenapa Embara ingin membuat Arise? Karena penasarannya semakin jadi, saya lalu ‘teror’ banyak melempar pertanyaan ke Galih dan Embi tentang hal ini. Banyak cerita menarik, ternyata, di balik pembuatan Arise. Kalau juga mau tahu, baca terus sampai kelar, ya.

Credit photo: Embara Films.

 

Kenapa terpikir untuk bikin Arise, dan kenapa Amerika Serikat?
Bi: Dari dulu, saya pingin banget ke Yosemite karena nonton film Tom Lowe yang Timescapes (2012). Waktu ke AS buat yang ketiga kali, dapat visa 5 tahun, saya kebetulan diajak teman di AS—Jason—yang punya pass ke taman nasional di seluruh AS (buat eksplorasi TN AS). Waktu itu, saya cari tanggal-tanggal pas bulan mati supaya bintang-bintang jelas.

(Well, pantas bagian langit malam berbintangnya super bagus *gigit jari*)

 

Di bagian mana saja di Amerika Serikat yang terekam dalam Arise?
Bi: Pertama, Portland. Lalu, San Fransisco dan Monterey (bagian pantai-pantai, tebing-tebing, dan jalan tol—timelapse).

Saya bareng empat kawan sewa mobil, dan road trip. Lanjut ke California, tepatnya ke Sequoia National Park, lihat pohon-pohon terbesar di dunia setinggi hampir 100 meter, dan setua sekitar 2.500 tahun. Di California, sempat juga ke Yosemite. Tujuan utama, El Capitan, lihat orang-orang dari seluruh dunia rock climbing. Tapi, di luar El Capitan, banyak spot lain juga. Bagus banget. Total perjalanan Arise itu 11 hari roadtrip.

 

Ada kendala selama roadtrip?
Bi: Nggak ada kendala yang berarti. Taman nasional di AS itu udah enak banget; semua tersedia, akses mudah, masuk taman nasional kayak masuk taman bermain. Paling kendalanya cuma harga penginapan di dekat TN itu mahal-mahal. Jadi, semakin dekat TN, semakin mahal; kayak Rp4 juta per malam dengan besar sekitar satu kamar.

Jadi, waktu itu, kami cari penginapan yang agak jauh, yang minimal 1 jam perjalanan gitu; harga sekitar Rp2 juta per malam. Tapi, tipikal penginapannya ini rumah yang bisa cukup 6 orang. Sebetulnya, bisa buka tenda di TN, tapi harus punya permit. Cuma kemarin nggak terpikir ke sana, karena jalannya bukan sama fotografer atau traveler.

Kendala satu lagi, karena ya itu, berhubung jalannya bukan sama fotografer atau traveler, waktu buat syuting terbatas. Bintang-bintang baru muncul jam 8. Total gelap jam 9. Timelapse cuma sampe 2 jam harus udah pulang karena nggak enak sama yang nganter. Harus menahan ego. Ha-ha.

 

Bagian paling favorit?
Bi: Menikmati langit malam berbintang di Yosemite. Berkesan banget karena ini, kan, hal yang saya pingin sejak 5 tahun lalu. Akhirnya, kesampean. Apalagi dengan jalan yang nggak diduga-duga. Awalnya, ngebantuin teman di Bali, terus berakhir dengan bisa buat karya di AS. Kalo ke AS sendiri, backpacking sendiri, kayaknya nggak mungkin sampai sana.

Pas lihat bintang, ngeshoot, mikir sendiri, “Semesta kayak mengatur jalan sedemikian rumit tapi malah akhirnya betul-betul terjadi.”

Gal: Kalau saya, justru bagian plankton dan ubur-ubur. Saya selalu menganggap Charles Darwin adalah Arsitoteles di abad 19. Dan, kaitan antara tulisan dan adegan plankton dan ubur-ubur itu mengingatkan saya akan asal-mula kehidupan dalam reaksi kimia di air sampai menghasilkan sel kompleks pembentuk organisme kehidupan.

 

Apa kesulitan memproduksi video ini?
Gal: Video ini sebetulnya nggak direncanakan akan menjadi Arise seperti sekarang. Kesulitan awalnya adalah bagaimana video ini nggak sama jiwanya seperti video Embara sebelumnya; Southwest Solitude. Terus di tengah-tengah, saya kepikiran harus coba memasukkan narasi dan mengajak penulis untuk terlibat supaya karyanya jadi lebih luas segmennya. Setelah itu, semuanya lantjar jaya!

Nggak nyangka juga Atre bisa langsung nyambung dan menerjemahkan visual melebihi espektasi saya dan Mbi.

(Atre: Dan, di sini saya ge er luar biasa, tentu sajaaa!)

 

Bagaimana tanggapan publik soal video Arise?
Alhamdulilah, semua suka. Tanggapan publik bagus. Sebetulnya, mereka nggak pernah mengira Embara bakal kerja sama dengan penulis yang bisa buat naskah tulisan yang penuh dengan perenungan dan menggugah. Dari semua yang nonton, mereka senang justru dengan pesan yang dibawa oleh narasinya.

 

Ah, begitulah. Bagi saya pribadi (sekarang udah Atre yang ngomong, ya, guys!), ini semacam sebuah impian jadi nyata. Bukan melebih-lebihkan, memang kolaborasi dengan Embara jadi salah satu keinginan sejak lama. Dan, harapannya, ini bukan yang terakhir kali. Sukses selalu untuk Embara Films. Ditunggu rilis Homa-nya sungguh sangat segera, ya.

Terakhir, buat kalian yang belum nonton Arise, nih saya kasih tautannya di bawah. Jangan lupa tinggalkan jejak kalau sudah nonton, ya. Karena oh karena, sesungguhnya, kebahagiaan seseorang ketika berkarya adalah saat mendapatkan tanggapan; entah wujudnya puja-puji, saran, kritik, apa pun. Selamat menonton!

“Silence speaks to you. Can you hear it? Can you remember your dream now?”
– Arise, 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s