Kuliner Terfavorit di Makassar

Kalau bicara Makassar, pasti bicara makanan atau kuliner enak.

Tahun lalu, 2017, saya kembali ke Makassar untuk kedua kalinya setelah dua tahun. Tidak ada agenda yang berarti. Kali ini, rencana saya ke Makassar hanya untuk berkeliling Kota Daeng, menemani kawan sejak kuliah, Arnellis, yang baru pertama kali ke sini.

Arne ‘memesan’ trip yang santai, tidak terlalu melelahkan, dan tentu saja, mencoba kuliner Makassar yang paling enak sebanyak mungkin. Karena itu, saya memastikan betul-betul bahwa Arne terpuaskan semua pengharapannya.

Ini beberapa kuliner di Makassar yang membuat saya, dan akhirnya juga Arne ketagihan.

 

Pallubasa Serigala

Salah satu kuliner khas Makassar adalah pallubasa. Dan, pallubasa terenak dan terpopuler di Makassar adanya di Jalan Serigala. Namanya, Pallubasa Serigala. Membayangkannya saja saya sudah lapar dan ngiler. Terbayang, semangkok kuah kental yang gurih dengan serundeng mengambang, dan diisi berbagai daging.

Kita masih bisa memesan dua pilihan pallubasa. Pertama, pallubasa yang seluruhnya daging sapi tanpa lemak-lemak atau jeroan. Atau, bisa juga pallubasa campur, di mana surga seperti ada di dalamnya: babat, ati, ampela, paru, dan lain-lain.

Kalau suka, kita juga bisa minta tambahkan telur mentah yang dicelupkan ke kuah panas. makan dengan sepiring nasi putih panas dan racik kuah pallubasa dengan sambal sampai pedas, hmmmm!

Dalam percobaan pertama, Arne sampai habis empat mangkok pallubasa. Luar biasa!

 

Mie Awa Somba Opu

Setiap kali ke Makassar, kuliner yang tidak pernah luput bagi saya adalah Mie Awa. Kedai bakmi ini ada di beberapa tempat, di antaranya Somba Opu (pindahan dari Pattimura) dan Jalan Sulawesi. Kami waktu itu coba makan malam di Somba Opu.

Mie Awa ini memiliki porsi besar, dengan bentuk berkuah seperti capcay kuah dengan isi macam-macam. Ada sayur-sayuran, ada ayam, ada telur, dan lain-lain. Sungguh meriah pokoknya.

Sementara, untuk bakminya sendiri, ada dua pilihan: bakmi kering (seperti camilan anak SD) atau bakmi kuning rebus yang tipis. Campuran kenyal, hangat, kriuk, dan slurup jadi satu.

Arne pesan Mie Awa dengan bakmi kering, dan saya dengan bakmi rebus dengan sangat semangat. Saya lupa soal porsi besar itu. Alhasil, kami menutup hari dengan perut kekenyangan.

 

Coto Nusantara

Coto Makassar juga adalah salah satu kuliner khas Makassar. Nah, bicara soal coto di Makassar, saya datangnya pasti ke Coto Nusantara di Jalan Nusantara. Tempat ini selalu penuh, karena jadi favorit banyak orang. Namun, rupanya Arne bukan salah satunya.

Ketika mencoba Coto Nusantara, wajahnya tidak seantusias ketika menyerang habis Pallubasa Serigala. Bukan, bukan karena tempatnya. Rupanya, coto baginya kurang nendang. Kuahnya yang memang cenderung lebih light ketimbang pallubasa, walaupun isinya 11-12, membuat Arne tidak terpuaskan. Hatinya tetap berenang di kuah pallubasa.

Bagi saya, coto makassar dengan isi daging sapi yang diiris-iris—bisa ditambahkan jeroan—dengan tambahan ketupat, tetap terasa surgawi.

 

Bakso Ati Raja

Waktu kunjungan pertama ke Makassar, saya tidak tahu tentang bakso fenomenal di Makassar yang sudah ada sejak 1994. Kali ini, berkat kawan-kawan di media sosial yang memberitahu soal nyuknyang alias bakso ini, mata batin dan perut saya tercerahkan.

Ada beberapa cabang Bakso Ati Raja tersebar di Makassar, tapi waktu itu saya dan Arne mencobanya di kawasan yang tidak jauh dari hotel: Bakso Ati Raja di Pantai Losari. Kami mencoba makanan ini untuk dinner, sehabis hujan di Makassar.

Dengan cuaca yang dingin, sungguh pas menikmati bakso kasar dengan kuah bening yang sedap, ditambah bakso goreng yang sumpah enak banget dicocol sambal. Kalau suka pedas, kuah bening bakso tadi bisa ditambahkan sambal kuning super pedas, dan jangan lupa jeruk nipis untuk rasa segar. Hmmmmm…

Kali ini, Arne sampai bungkus bakso goreng di Ati Raja saking enaknya.

 

New Losari Seafood Restaurant

Setiap kali keluar Jakarta, terutama keluar pulau, makanan wajib coba adalah seafood. Apalagi, kalau destinasi yang dituju adalah kawasan pesisir atau kepulauan. Di Jakarta, ikan-ikan bakar yang segar adalah kemewahan yang langka. Kalaupun tidak langka, harganya mahal. Kalau di luar Jakarta, ikan-ikanan sampai kerang-kerangan segar sungguh berlimpah dengan harga yang terjangkau.

Di Makassar, kami mencoba salah satu rumah makan seafood paling favorit, yaitu New Losari Seafood Restaurant di Jalan Cenderawasih. Hidangan yang kami pilih, tentu saja, ikan kerapu bakar dengan bumbu woku (nan pedas-manis nyam), tumis kangkung (tidak pernah ketinggalan), dan cumi bakar. Ikan dan cuminya tidak terkatakan segarnya. Kentara betul dari rasa daging ikannya yang manis dan cuminya yang tidak amis.

 

 

Gustoso Gelato dan Bistropolis

Makassar memang panas. Karena itu, seperti kalau ke Bali, sepertinya tepat kalau mencari es krim atau gelato di Makassar. Hari pertama tiba di Makassar, saya dan Arne sama-sama ambisius untuk mencari gelato memuaskan. Setelah berputar-putar dengan mobil sewaan, kami akhirnya tiba di Gustoso Gelato di Jalan Sangir no. 52.

Nama Gustoso mengingatkan kita pada toko gelato di Bali bernama Gusto, ya. Entah mereka terinspirasi atau tidak, tapi toko gelato kecil yang sudah nyaman ber-AC ini betul-betul cukup menggembirakan hati dan ubun-ubun yang kepanasan.

Selain gelato, Gustoso juga menyajikan sorbet dan yoghurt. Favorit saya, tentu saja kopi dan coklat.

Selain Gustoso, kami menyempatkan juga mampir ke salah satu kafe bergaya industrial dan rustic yang mengingatkan pada kafe-kafe di Kemang bernama Bistropolis. Secara nuansa, Bistropolis tidak khas Makassar. Kafe ini sudah sangat modern. Di Jakarta pun banyak. Tapi, sekali lagi tapi, kalau tiba-tiba ingin nongkrong di kafe ketika di Makassar, datang ke sini adalah sebuah ide yang sempurna. Dan, psstttt, dark chocolate gelato-nya ena’ bangetttt! Parah.

 

 

Toko Cahaya Oleh-oleh

Tak mau banyak omong tentang toko ini, tapi Toko Cahaya ini letaknya di Jalan Sulawesi (dulu bernama Jalan Tempelstraat). Toko ini didirikan oleh The Tjang King pada 1905. Ini adalah toko oleh-oleh pertama di Makassar, konon katanya demikian.

Saya dan Arne tempo hari memilih Toko Cahaya untuk membeli oleh-oleh karena ternyata isinya beragam. Mulai dari kopi, kacang-kacangan (termasuk kacang disco khas Makassar), sampai tas, beragam aksesori, dan pakaian dijual di sini. One stop shopping.

 

Ke Makassar memang tidak akan pernah lengkap kalau tidak makan dan tidak bertambah berat badan ketika pulang ke kampung halaman. Makanya, saya dengan yakin dan pasti berpikir kalau artikel ini tentunya bakal berguna bagi teman-teman yang akan berkunjung ke Makassar. Selamat mengeksplorasi Makassar!

 

Baca juga: Jalan-Jalan ke Tanaberu, Rumah Para Pencipta Pinisi di Sulawesi Selatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s