“Belajarlah Menulis dari Tukang Obat,” Kata Putu Wijaya

Dalam batuk, lelaki yang identik dengan ascot cap-nya ini tampil ke muka forum. Mengenakan celana panjang dan kemeja hitam, ia sibuk mengangkat-angkat alis, mengulik MacBook silver di hadapannya.

I Gusti Ngurah Putu Wijaya pada 16 April 2012 main-main ke kantor Kompas Gramedia di Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Meski sakit, ia memaksa diri untuk mengisi kelas menulis kami–para jurnalis dari berbagai majalah yang bernaung di bawah payung KG. Saya berpartisipasi di kelas itu karena waktu itu bekerja di Majalah Intisari. Di hadapan total 12 jurnalis, Putu Wijaya berbagi pengalamannya tentang dunia tulis-menulis. Dalam beberapa jam ke depan, cerita-ceritanya berkilas-kilasan mengisi kelas.

Putu Wijaya berbagi entang apa pun perihal menulis; bagaimana cara menulis yang baik, mengakali deadline, mengontrol mood, dan lain sebagainya. Tidak secara kikuk atau penuh rangkaian formalitas.

Selayaknya berlakon, ia mengambil hati kelas dengan penuturan materi yang berplot dan bertokoh.

“Ada seorang penulis. Ia tahu betul sebenarnya apa yang ingin dia tulis. Tapi ia tetap pergi ke lapangan, mengecek; benar nggak apa yang dia mau tulis. Dia lalu menulis. Setelah menulis, mencari bahan, dan meracik, ia serahkan tulisannya kepada atasannya,” suara parau Putu Wijaya menguar di udara.

Seisi kelas hening. Sesekali Putu Wijaya terbatuk-batuk. Maaf, kurang sehat, katanya sungkan. Ia siap memegang sapu tangan handuk untuk mengurangi dengungan batuknya. Setelah reda, ia melanjutkan.

“Redaktur bilang, ‘Bagus, tapi tulisanmu tidak menarik. Coba diperbaiki.’ Penulis itu bingung. Dia sudah kerja dua hari, mencari bahan banyak sekali, membuat perbandingan-perbandingan. Ia berkonsentrasi mati-matian, menyesuaikan apa yang mau dia tulis dengan kesepakatan dalam rapat. Semua ada dalam tulisan itu. Tapi, kenapa tulisan itu masih ditolak?” kata Putu Wijaya.

Saya mengerti benar apa yang dirasakan oleh tokoh penulis dalam cerita PW. Apa yang kurang? Ini pertanyaan saya, dan mungkin juga pertanyaan 11 sisa orang yang ada di kelas ini. Putu Wijaya tidak lantas menjawab. Ia masih memasukkan drama dalam ‘pelajaran’ menulis ini.

“Penulis itu lalu ketemu pacarnya, memperlihatkan tulisannya, lalu pacar berkata, ‘Ini tulisan bagus, oke, dua jempol.’ Belum puas, penulis ini juga menemui sahabatnya dan mendapati komentar, ‘Ini tulisan bagus,'” cerita Putu Wijaya.

Tulisan sang penulis akhirnya didiamkan begitu saja. Penulis tidak memperbaiki tulisan tersebut. Ia masih berharap atasannya membaca sekali lagi dan melihat lebih jelas apa yang ingin si penulis bicarakan. Atasannya memang membaca sekali lagi, dan ia tahu, tulisan itu tidak diperbaiki.

“Komentar saya adalah, tulisan kamu bagus, bahasanya bagus, sasarannya tepat. Tapi anak muda, bagus saja tidak cukup. Perempuan itu tidak cukup hanya cantik saja untuk bikin kamu kepingin jadi pacarnya. Dia mesti punya daya pikat.”

Tokoh atasan, melalui mulut PW, meneruskan, “Bergurulah kepada tukang obat.”

Seisi kelas seketika melongo samar. Berguru pada tukang obat? Jelas, kami membutuhkan sedikit pemahaman di sini. Putu Wijaya juga ngeh sekali, kalau 12 orang di hadapannya mengernyit tanda tak mengerti. Maka, ia segera meneruskan materinya.

Seorang tukang obat di pinggir jalan adalah seorang guru. Guru yang menjelaskan pada kita bagaimana caranya membuat berita.

“Pas lihat tukang obat yang jualan, kita sudah tahu apa yang dia jual itu bohong. Mereka bilang, pil itu obat cuci darah, dan lain-lain. Tapi, ternyata kebohongan sendiri bisa dibeli orang. Caranya, tukang obat biasa memukul kentongan di awal jualan. Ia cari keributan. Ketika orang melihat dia, ia lalu mengeluarkan ular agar orang-orang berkumpul. Setelah orang berkumpul, ia main sulap, kalau perlu sampai berakrobat,” cerita Putu Wijaya mengarah ke suatu arah yang jelas.

“Tukang obat butuh waktu 2 jam untuk mengumpulkan orang, sampai keringat bercucuran, sampai orang-orang tertawa. Anehnya, orang-orang padahal tahu tukang obat ini tukang bohong, tapi tetap mampir. Lalu, di saat yang tepat, ketika semua orang sudah terpaku padanya, ia mengeluarkan dagangannya. Mungkin hanya 5-10 menit, sesudah itu cepat-cepat obat-obat itu dimasukkan lagi. Ularnya keluar lagi, akrobat lagi, orang diberi hiburan lagi. Jadi, ia memiliki strategi, taktik, dan kemampuan-kemampuan lain selain jual obat,” kata Putu Wijaya.

Sebuah tulisan tidak hanya ditentukan oleh berapa lama ia ditulis. Bukan juga hanya ditentukan oleh apa saja isinya; mana penting, mana tidak. Sebuah tulisan berhasil menarik kalau di dalamnya ada emosi, kalau di dalamnya ada rasa.

Jadi, belajarlah menulis dari tukang obat. Setidaknya, ambil yang baik-baiknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s