Sapardi Djoko Damono, Antara Musik, Ivy Hat, dan Sajak-Sajak

Tahun lalu, aku tahu bahwa Sapardi Djoko Damono sedang sibuk mempersiapkan buku-buku barunya—yang sekarang sudah terbit, seperti Menghardik Gerimis. Aku selalu mengatakan, SDD adalah salah satu sastrawan yang produktif. Ketika ditanya hal yang menginspirasi SDD untuk terus menulis, jawabannya sederhana tapi tak ringan.

Aku memutar lagu “Gypsy in My Soul” dari Connie Evingson sebelum memulai menuliskan blog post ini. Mendengarkan suara empuk Connie, penyanyi jazz asal Amerika Serikat, yang seperti berdansa-dansi menyanyikan, “If I am fancy free and love to wander, it’s just the Gypsy in my soul.”

Bicara soal blog, sudah lama sekali rasanya tidak menuliskan sesuatu yang betul-betul “free” alias bebas sebebas-bebasnya seperti kata Connie. Pikiranku lompat ke belakang ke tahun 2008 ketika baru pertama kali membuat blog ini. Alasan utamanya karena aku adalah penyendiri yang tidak senang bercerita di dunia nyata. Maka, blog ini isinya cerita-cerita yang tidak bisa kuceritakan langsung lewat suara.

Lebih dari sepuluh tahun kemudian, aku pikir aku sudah menjadi orang yang sama sekali berbeda, tetapi ternyata tidak. Aku masih penyendiri, dan masih susah berbagi—kecuali kepada orang-orang tertentu saja. Bedanya hanyalah semakin tua, semakin lupa aku ini rasanya bercerita yang sederhana-sederhana saja, yang ringan-ringan saja, yang tidak overthinking.

Setelah selama ini cuma terpendam di benak dan laptop, sepertinya aku akan mulai memaksa—in a good way—diriku untuk rutin menulis lagi di blog ini. Kadang-kadang mungkin cerita perjalanan, kadang-kadang bisa jadi fiksi, kadang-kadang remah-remah kehidupan, apa pun saja.

 

Topi Penghangat SDD

Suara Connie masih menjadi bergaung di latar pikiranku. Kenapa tiba-tiba aku memutuskan mendengarkan Connie Evingston dan jazz; genre yang sesungguhnya tak terlalu akrab kudengarkan sehari-hari. Biasanya, setiap menulis, aku lebih memilih mendengarkan lagu-lagu romantis tentang kehidupan ala Sleeping at Last dan Vancouver Sleep Clinic, atau belakangan sedang gandrung pada semangat membara salah satu band Kpop bernama BTS (Bangtan Sonyeondan). Hanya saja, kali ini aku dengan sadar memutar “Gypsy in My Soul”.

Aku ingat betul, setahun lalu sudah berlalu sejak aku bertemu seorang penyair favoritku. Sapardi Djoko Damono atau biasa disingkat SDD saja. Waktu dulu, aku dipertemukan oleh bapak penyair ini karena sebuah pekerjaan. Dulu, waktu kuliah di FIB UI, sewaktu masih mahasiswa bau terik matahari dan belum punya pekerjaan stabil sebagai penulis, aku seringkali melihat SDD mondar-mandir di kampus karena memang ia mengajar. Kekurangberuntungan membuatku tidak pernah merasakan diajar oleh SDD—karena tepat ketika aku masuk, ia berhenti mengajar S1 dan hanya mengajar kelas Pascasarjana. Aku cuma bisa meratapi dari jauh. Kharismanya bahkan sudah menguar-nguar di udara walau dilihat dari jarak lebih dari 100 meter.

Namanya hidup, kadang-kadang apa yang kita inginkan tidak tercapai, tetapi seringkali pula terkabulkan.

Baru pada 2018, di gedung Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ), di ruangan khusus pengajar, aku mendapati diriku duduk di hadapan seorang SDD. Sama seperti di UI, ia juga mengajar di IKJ. Sekali lagi, kelas Pascasarjana. Dadaku berdegup-degup dan tangan bergetar. Oh, ini rasanya mimpi yang jadi nyata dan muncul di depan mata.

Sapardi Djoko Damono - Penyair Indonesia - renjanatuju.com

Dengan topi khasnya yang menempel di kepala dan raut wajah yang tua tetapi entah bagaimana cerah ceria, SDD yang sedang menunggu mulainya kelas mengajakku berbincang. Entah kenapa, hal pertama yang aku tanyakan adalah perihal topi. Bukan tentang puisi, bukan soal kondisi negeri, bukan soal keluarga, tetapi yak, soal topi berjenis ivy hat yang ia sering kenakan. Ia sempat mengernyit samar, bisa jadi karena dua hal: terlalu sering ditanyakan soal ini atau tak pernah ada yang banyak bertanya soal ini.

“Sebetulnya, sebelum saya, kan, ada Putu Wijaya yang lebih dulu pakai topi begini. Jadi, saya pikir, ini sama sekali bukan khas saya, tapi karena banyak yang bilang ini ciri khas saya, ya saya iya-kan saja. Padahal, kalau saya pribadi, pakai topi ini karena suka modelnya. Saya tidak pernah beli model lain. Di rumah, mungkin ada sekitar 30-an topi seperti ini. Ada yang beli di Frankfurt, Paris, Korea Selatan, ada juga yang biasanya dibelikan mahasiswa atau teman yang sedang keluar negeri,” akhirnya SDD bercerita panjang soal topi. Ia bahkan sempat membuka topi yang sedang ia kenakan untuk kulihat lebih dekat. Terlihat rambutnya yang memutih dan tipis ketika topi tersebut dilepas.

BACA JUGA: Belajar Menulis dari Tukang Obat, Kata Putu Wijaya

Di Indonesia sulit menemukan ivy hat yang sesuai keinginan dan selera SDD. Karena itu, lebih sering, ia menemukan topi idamannya di luar negeri. Aku teringat pada Thomas Shelby dan Keluarga Shelby, karakter-karakter yang hidup di Inggris era akhir abad 19-an dan awal abad 20-an dari serial terkenal keluaran Netflix berjudul Peaky Blinders yang kerapkali mengenakan topi sejenis. Seperti juga Thomas Shelby, SDD terlihat gagah dengan topi tersebut.

“Banyak orang yang terinspirasi dari gaya Bapak,” kataku. SDD juga terbahak. Padahal, alasan ia awalnya mengenakan topi tersebut untuk alasan kehangatan dan kenyamanan.

“Saya suka sekali ke mal, jalan-jalan. Salah satu kekhasan mal itu adalah dingin. Kalau badan, saya bisa pakai jaket, tapi kepala ini, lho. Jadi pusing saya. Salah satu caranya saya temukan, ya, pakai topi. Eh, tapi kemudian nggak mau dilepas, ke mana-mana dipakai.”

SDD tahun ini berusia 79 tahun. Aku yang tidak tinggal bersama bapak kandung sulit untuk membayangkan bagaimana merawat seorang bapak yang sudah paruh baya. Ternyata, mereka rentan kedingingan—di luar memang rentan penyakit.

Aku sempat bertanya-tanya kepada diri sendiri, kenapa urusan topi dibahas begitu panjang. Aku pikir, SDD pasti jengah. Namun, kulihat ia senang dan bangga pada topinya. Mungkin karena, ya, hidupnya kini baru lengkap dengan kehadiran ivy hat tersebut. Seperti aku yang belakangan merasa hidup kurang lengkap jika tak mengenakan kalung berbandul simbol om (aum) yang kubeli di Leh, India.

 

Sapardi dan Musik

Begitu semua pertanyaan tentang topi yang bertahun-tahun bikin penasaran sudah terjawab, aku akhirnya beralih pada yang utama. Tak bisa dijelaskan, tapi aku-usia-17-tahun mungkin sudah bisa hidup tenang sekarang.

Tahun lalu, aku tahu bahwa SDD sedang sibuk mempersiapkan buku-buku barunya—yang sekarang sudah terbit, seperti Menghardik Gerimis. Aku selalu mengatakan, SDD adalah salah satu sastrawan yang produktif. Ketika ditanya hal yang menginspirasi SDD untuk terus menulis, jawabannya sederhana tapi tak ringan.

“Bisa dibilang, yang memotivasi dan menginspirasi saya adalah diri sendiri. Maksud saya, pengarang adalah orang yang sudah terlanjur jatuh cinta pada bahasa. Ngopeni bahasa itu memperbaiki dan mengembangkan. Jangan membiarkan bahasa busuk. Jangan membiarkan bahasa lekang. Membuat bahasa yang jernih, bersih, segar, itu tugas utama dari seorang penulis,” katanya.

Sajak Sapardi Djoko Damono

Supaya tetap suka menulis, SDD mengakui, tips utamanya adalah ia harus selalu mencintai bahasa. Tidak berhenti, terus-menerus mengolah. Puluhan tahun SDD memberi contoh nyata bahwa menulis itu bisa langgeng dan jadi pekerjaan yang tahan lama—kalau tidak bisa dikatakan kekal.

Aku ingat ia sekali bilang setahun lalu, di ruang Pascasarjana bertembok serba putih dan sofa tak terlalu empuk, “Yang bikin orang bisa menulis ya dirinya sendiri, ada niat untuk menulis. Itu sudah. Dan, karena menulis itu semacam prosesi yang menuntut kesendirian, jadi ya tidak bisa diganggu. Saya bisa nulis di kantor, di mana saja, pesawat terbang, bis, kereta api, tapi harus merasa sendiri. Bukan sunyi. Saya kalau menulis harus mendengarkan musik.”

“Gypsy in My Soul” sudah sejak lama usai di laptopku. Lagu yang sebetulnya adalah salah satu lagu favorit SDD tersebut sudah digantikan dengan lagu-lagu favorit SDD yang lain, mulai dari Enya, Adele, sampai The Beatles. Semua adalah penyanyi yang masuk dalam daftar “lagu kerja” SDD.

“Puisi itu sama dengan kitab suci.”

“Kalau Al-Quran, misalnya, dibaca biasa, nggak enak. Harus dilagukan, seperti puisi. Karena hanya dengan dibunyikan, kata itu memiliki tenaga magis. Nah, penyair harus punya “kuping” akan musik. Saya merasa betul kalau orang tidak suka musik atau seni bunyi, mesti puisinya grunjalan. Padahal puisi, kan, harus dibaca. Puisi itu, kan, lisan,” tambah SDD panjang.

Tips buat para penulis dari SDD: musik bisa mencairkan otak yang sedang mengalami writers block—itu pun kalau kamu percaya bahwa writers block itu nyata.

 

Sajak-Sajak Romantis dan Sosial SDD

Sangat legendaris karena sajak-sajak cintanya, SDD enggan menyebut dirinya adalah seorang yang romantis. Ia bukan tipikal orang yang senang merayu (dengan sajak). Ia bahkan tidak pernah membuat sajak untuk istri. “Puisi itu audiensnya bukan keluarga saya. Keluarga saya suka sastra, tapi bukan puisi. Dan, itu malah baik, artinya jadi tidak ganggu-ganggu,” katanya.

Hanya saja, banyak yang tidak sadar kalau SDD bukan hanya tentang sajak-sajak tentang cinta. Padahal, sejak akhir 1960-an berkarya, separuh sajak SDD adalah sajak sosial atau sajak protes. Ketika ditanya, sajak paling favorit yang sudah SDD tulis, ia memilih “Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari”.

Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

 

Aku pribadi punya favorit yang berbeda. Aku pilih “Yang Fana adalah Waktu”, sajak yang dibuat oleh SDD pada 1982.

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.

Kita abadi.

 

Tidak terasa, angin sudah berbau dini hari. Untuk orang yang lama tak menulis sebuah blogpost, tulisan ini lumayan juga. Lumayan panjang, maksudnya. Ah biar bagaimana, semoga kalian bisa menikmatinya!

 

P.s. kalau kamu, apa sajak dari SDD favoritmu?

2 Comments Add yours

  1. Kalau saya paling suka sajaknya yang berjudul Aku Ingin.
    Seperti keinginan saya dalam mencintai seseorang atau mencintai apapun dalam kehidupan ini secara sederhana, meskipun terkadang kenyataannya tidak bisa sesederhana itu 🙂

    1. Atre says:

      Kadang-kadang hidup penuh drama yang nggak tertebak. Jauh dari kata sederhana. Tapi, sajak “Aku Ingin” memang salah satu karya legendarisnya SDD. Nice taste, Kak Nat! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s