Sebuah Panduan Wisata yang Biasa Saja Edisi Hanoi: Transportasi dan Akomodasi

Perjalanan saya dan Arnellis di bulan Juni 2019 ke Hanoi, Vietnam, menghasilkan panduan wisata yang jadi blogpost terbaru saya kali ini.

Sudah banyak orang yang main ke Hanoi. Sudah banyak pula yang menuliskan pengalaman wisata mereka ke Hanoi. Alhasil, tulisan tentang Hanoi sudah sangat banyak di mesin pencarian. Karena itu, saya katakan, ini sesungguhnya panduan wisata edisi Hanoi yang biasa-biasa saja. Yang istimewa mungkin, karena inilah pertama kalinya saya ke Vietnam. Semua jadi serba menarik, serba menggelitik.

It’s better to see something once than to hear about it a thousand times,” katanya ‘kan demikian.

Hanoi - Vietnam - Atre's Odyssey Blog - Astri Apriyani

Saya tiba di Hanoi pada akhir Juni. Bersama Arnellis, sahabat sejak 2003 yang sekarang menjadi guru dan pendongeng, saya tidak punya bayangan akan suhu di ibukota Vietnam tersebut. Melihat aplikasi, suhu kota ini mencapai 35° C. Kenyataannya, kota ini begitu lembap jarang angin. Dan, setelah memperjelas aplikasi, terselip info kira-kira isinya begini, “Oh karena nggak banyak angin, suhu jadi kira-kira kayak 44° C-lah.” Waduh!

Kaos katun saya basah dengan cepat, seperti habis cardio. Keringat-keringat dari leher meluncur pelan-pelan di antara dada. Saya dan Arnellis di hari pertama tiba di Hanoi, langsung menjelajah. Sekali lagi, ini panduan wisata yang biasa saja karena kebanyakan tempat yang kami datangi adalah tempat ramai dan populer—walaupun ada beberapa yang menenangkan dan less touristy.

Atas nama berbagi, maka akhirnya saya menuliskan perjalanan ke Hanoi di blog. Semoga panduan yang biasa-biasa saja ini, bisa membantu teman-teman yang seperti saya dan Arne; super clueless sebelum trip dan memutuskan banyak googling di perjalanan. Kali ini, mari kita bahas tentang transportasi dan akomodasi pilihan di Hanoi.

 

Transportasi Berkeliling Hanoi

Sejujurnya, ini yang paling banyak ditanya oleh kalian ketika saya posting foto Hanoi di Instagram. Bagi yang belum ada bayangan seperti apa jalanan Hanoi, saya pikir tidak salah kalau bilang itu semacam 11-12 dengan Jakarta. Hanya saja Jakarta jauh lebih macet.

Jalanan Hanoi didominasi oleh kendaraan-kendaraan pribadi, taksi-taksi yang mayoritas berwarna putih, dan sepeda motor dengan helm yang seperti helm sepeda. Di antara sekian banyak pilihan, saya dan Arne memilih GrabCar (bukan kalimat berbayar, ya) untuk berkeliling ke mana-mana. Tarifnya tiap kali perjalanan (jarak dekat) adalah VND20.000-30.000. Sekitar kurang dari Rp20.000-an. Murah dan adem ber-AC.

Kenapa GrabCar? Karena sewa mobil bukan pilihan, mengingat kami sama-sama tidak bisa menyetir. Sewa motor? Terlalu takut karena jalanan Hanoi ternyata keras, mengingatkan pada ruwet dan chaos-nya jalanan Jaipur atau Makassar.

Kami pribadi tidak kesulitan mendapatkan GrabCar (melalui aplikasi yang sama seperti yang kita gunakan di Indonesia). Bisa jadi salah satu alasannya adalah karena kami menggunakan nomor Vietnam.

Pembelian SIM card Vietnam waktu itu kami lakukan via Klook, dengan paket airport pick-up ke hotel sekaligus. Nanti, ketika dijemput di Bandara Internasional Noi Bai oleh pihak Klook (bentuknya taksi), supir akan memberikan SIM card yang sudah kita pesan. Sekali lagi, ini bukan kalimat berbayar. Karena memang praktis, titik penjemputan jelas, dan tek-tok komunikasinya lancar, jadi saya rekomendasikan.

 

Akomodasi Affordable di Hanoi

Semula, kami sempat bingung hendak memilih penginapan di daerah mana. Apakah di Hoan Kiem, distrik pusat keramaian berupa kota tuanya Hanoi; Ba Dinh, area terpusatnya kantor pemerintahan dan kedutaan besar, serta kawasan politik Hanoi—mungkin seperti Washington DC di USA; atau distrik Sóc Sơn yang dekat dari Bandara Internasional Noi Bai?

Sebelum memilih, kami menimbang-nimbang. pertimbangannya, tempat-tempat mana saja yang mau kami datangi? Meskipun pasti tersebar, setidaknya ada satu titik di mana semua tempat tersebut gampang dan dekat untuk dicapai. Kami akhirnya memilih penginapan di kawasan Hoan Kiem atau yang lebih dikenal dengan Old Quarter. Jaraknya sekitar 45 menit dari bandara, tapi berjarak tempuh menit ke tempat-tempat ikonik Hanoi.

Penginapan yang kami pilih adalah penginapan menggemaskan dengan harga terjangkau bernama Maison D’Orient Hotel. Alamatnya di 26 Ngo Huyen, Hang Trong Ward, Hoan Kiem District, Hanoi. Perlu masuk ke gang kecil yang ramai akan restoran dan toko, untuk kemudian menemukan hotel ini di sudut jalan. Dari luar, hotel ini terlihat sangat kecil dan sesak, tapi begitu masuk, rasanya homey.

Letak Maison dekat dengan beberapa landmark ikonik Hanoi, seperti St. Joseph Cathedral, Hoan Kiem Lake, dan tentu saja, kawasan Kota Tua Old Quarter. Dekat di sini artinya adalah sedekat bisa dicapai dengan berjalan kaki tak lebih dari 10 menit.

Kami memilih kamar tipe Cinnamon Grand Room yang—secara mengejutkan—luas. Hotel ini bisa dipesan melalui banyak cara; Agoda, Booking.com, Tiket.com, Traveloka, dan lain-lain. Persamaan di antara kesemuanya adalah Maison D’Orient Hotel ini memiliki reputasi baik di antara para pelanggan. Harganya pun menyenangkan di saku. Sekitar Rp350.000-450.000-an (tergantung tipe kamar) jika sedang ada promo, dan sekitar Rp500.000-600.000-an harga normal.

Saya dan Arne merasakan pengalaman sangat baik di Maison si 2-star boutique hotel ini. Tambah sayang begitu tahu kalau interior keseluruhan hotel ini didesain dengan gaya tradisional Hanoi, mulai dari pemilihan furnitur, ornamen, sampai tema kamar bernama rempah-rempah.

Small unique detail: each bedroom bears the name of a local spice: star anise, cinnamon, lemongrass, ginger, etc., and its air perfumed with fresh extract of those spices.

Furnitur dan tableware-nya bahkan dibuat dan dilukis handmade oleh perajin lokal Vietnam. Well, terdengarnya saya begitu memuja-muji Maison D’Orient Hotel ini, tapi sebahagia itulah saya menginap di sini. Mungkin, semua itu karena di awal tidak ada ekspektasi terlalu tinggi. Maka, ketika kenyataan lebih menyenangkan daripada pengharapan, manusia memang cenderung melambung terlalu tinggi.

Old Quarter Street, Hanoi, Vietnam - Atre's Odyssey Blog - Astri Apriyani

Saya dan Arne akhirnya sudah bisa mencentang transportasi dan akomodasi di Hanoi dalam daftar “nggak clueless lagi”. Selanjutnya, kami ‘hanya’ perlu memilih tempat-tempat seru di Ibukota Vietnam ini untuk dieksplorasi. Itinerary kami selama di Hanoi akan saya tuliskan di postingan berikutnya, ya.

 

Selanjutnya: Sebuah Panduan Wisata yang Biasa Saja Edisi Hanoi: Itinerary

 

 

6 Comments Add yours

  1. mysukmana says:

    Baru aja ngobrolin tentang vietnam sama temen travel..eh scroll nemu ini..
    Mupeng deh mupeng hehehe

    1. Atre says:

      Horeee! Berangkatlah sudah, Massss! 🙂

  2. Olive B says:

    waahh .. catatan Vietnamku masih mengantre. waktu di Vietnam aku juga kemana – mana naik Grabbike, malah ngojek dari Hoi An ke Da Nang demi ngejar kereta wkwkw. Kalo grabcar sekali nyobain di Sapa

    1. Atre says:

      Grab memang bisa diandalkan ya di Vietnam. Aku perlu GrabCar karena memang berdua sama temenku sih, kamu waktu itu solo traveling ya?

      1. Olive B says:

        iyaa .. kalo berdua gak mungkin umpel2an ma babang ojek kan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s