Kain Tenun Ikat Sumba Timur dan Proses Penciptaannya

Beberapa tahun belakangan ini, Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur memang naik ke permukaan sebagai destinasi wisata kesayangan banyak orang. Termasuk, saya.

Beberapa orang memutuskan menjelajah Sumba karena lanskapnya yang istimewa. Beberapa yang lain mungkin kepincut cerita budayanya, mulai dari kampung-kampung adat, sistem kepercayaan marapu, kampung raja, pasola, dan sebagainya. Namun, tak sedikit juga yang jauh-jauh main ke Sumba untuk mengenal lebih dekat dengan kain tenun ikatnya.

Kain Tenun Ikat Sumba - Astri Apriyani

Saya pribadi mentasbihkan diri sendiri sebagai orang yang beruntung karena sudah berkesempatan tiga kali ke Sumba. Meski saya akui, panorama bukit berundak-undak dan pantai-pantai berpasir putih yang bersih tak bisa berhenti dibicarakan, tapi belajar tentang perjalanan proses penciptaan kain tenun ikat Sumba adalah yang membuat saya akhirnya merasa mengerti tentang Sumba sepenuhnya.

Bersama Jaladwara Wisata Ekologi, saya dan beberapa kawan pejalan dari Jakarta, Bandung, hingga Jogja, menyusuri satu demi satu proses penciptaan ajaib di depan mata di Sumba Timur. Tepatnya, menemui beberapa pengrajin di Desa Lambanapu dan Mauliru. Mulai dari bunga kapas, hingga akhirnya menjadi lembar kain tenun ikat Sumba bermotif indah yang jadi harta berharga Sumba.

Proses dari hulu ke hilir pembuatan kain tenun ikat ini memang sangat panjang. Langkahnya saja, kalau betul-betul dihitung, ada hingga puluhan langkah. Sudah bisa menyaksikan para pengrajin di area Desa Lambanapu dan Mauliru melakukan beberapa di antaranya saja, saya sudah merasa cukup beruntung.

Di Waingapu, Sumba Timur, kita bisa menginap di homestay milik keluarga Raja Prailiu. Letaknya masih berada di kawasan Kampung Prailiu, si Kampung Raja. Umbu Uman, salah satu anak raja, adalah salah seorang yang bisa dimintai bantuan apa pun jika bicara soal Sumba Timur. Sang ibu, Mama Ratu bernama Mama Etha (Margaretha), juga adalah seorang ratu Prailiu yang rendah hati dan selalu bisa diajak bicara apa pun tiap kali kita berkunjung ke rumahnya di Kampung Prailiu.

 

Memetik kapas dan belajar pahudur

Di Lambanapu, sebuah rumah beratap jerami dan berteras panggung milik Mama Dan terlihat sejuk. Padahal, udara di Sumba sekitarnya sukses bikin kepala rungsing. Terik ampun-ampunan. Gersang juga bikin debu naik ke permukaan. Tenggorokan langsung berulang-ulang minta disebor air dingin.

Waktu itu siang belum juga sepenggalan, tapi gerah sudah basah. Saya tiba di teras rumah Mama Dan dan langsung ber-“ahhh” panjang karena adem. Beruntung betul Mama Dan, rumahnya dikelilingi oleh pepohonan tinggi nan rindang. Mama Dan yang sejak tadi saya sebut adalah seorang ibu berkacamata yang ke mana-mana selalu mengenakan sarung kain tenun ikat dan selalu mengunyah sirih pinang. Rumahnya kerap jadi tempat kumpul banyak kegiatan menenun. Mungkin salah satu alasannya dipilih juga karena rindang.

Waktu itu, kami sudah siap dengan sepatu dan topi. Rencananya, hari itu akan diawali dengan berjalan kaki dengan rute pendek. Untuk memulai perjalanan menelusuri proses kain tenun ikat, tak lain tak bukan hal yang pertama kali harus dilakukan adalah sowan ke sumber kain: pohon kapas.

Di Lambanapu, pohon-pohon kapas tidak banyak-banyak amat tapi juga tak jarang. Kadang-kadang, para pengrajin malah sengaja menanam dan merawat pohon kapas di kebun-kebun belakang rumah mereka.

Kami menelusuri jalan setapak, melalui aliran air sungai kecil yang jernih dan kuda-kuda yang sedang istirahat di bawah bayangan pohon. Mereka kadang-kadang menoleh ke arah kami yang melintas. Tidak kaget, biasa saja. Kami juga melewati beberapa lahan sawah dan ladang milik warga. Sampai tahu-tahu pohon-pohon kapas berdiri tegak di hadapan kami.

Di Jakarta atau kota-kota besar, bunga-bunga kapas ini sedang marak jadi salah satu tipe bunga kering yang laku dijual sebagai buket bertema bohemian. Biasanya, si bunga kapas akan ditata letaknya sedemikian rupa bersama baby breath, tangkai gandum kering, pampas grass, sampai lavender kering. Indah, sih, tapi di Sumba, kegunaan bunga kapas ini melebihi kegunaannya sebagai penghias ruangan.

Di Sumba, para mama atau anak-anak biasa mengumpulkan bunga-bunga kapas ini untuk kemudian dipintal sendiri menjadi benang. Cara manual memintal benang dari kapas menggunakan tangan disebut pahudur.

Proses Pahudur Kain Tenun Ikat Sumba - Astri Apriyani

Penjelasan ringkasnya, kapas dari bunga tersebut dikumpulkan. Kita mulai pilin-pilin kapas tersebut menjadi untaian panjang. Dari untaian tersebut, pilinan kapas sudah berwujud seperti benang tebal. Kita bisa menggulungnya dalam gulungan benang di tahap ini. Percayalah, proses nyatanya tidak sesederhana ini. Kalau tidak berpengalaman, pengerjaan memilin dan menjadikannya benang bisa sangat lama. Dan, kapas itu pun rentan putus. Kalau sudah putus, ulangi dari awal memilinnya.

Di teras rumah Mama Dan, saya menyaksikan para ina (mama-mama) memilin kapas dengan sangat cepat. Mereka memang sudah berpengalaman. Saya maklum. Jadi, alih-alih merusak benang-benang itu dengan untaian yang ringkih, saya serahkan semua pada mereka.

 

Potong nila

Setelah belajar pahudur, Kak Esi, anak dari Mama Dan, mengajak kami kembali main ke kebun dekat rumah. Kembali lagi kami melewati daerah persawahan, jajaran pohon kelapa, sapi-sapi yang kenyang, dan kuda-kuda yang masih berteduh.

Di hadapan sebuah padang penuh semak-belukar, tiba-tiba Kak Esi mengatakan, “Ayo, mulai!” Mulai? Apa yang mau dimulai? Kak Esi menunjuk ke (yang saya pikir) arah sembarang belukar. Saya bingung, mengangkat bahu. Kak Esi lalu terbahak, “Tanaman nila.” Ah, saya baru paham.

Proses Nila Kain Tenun Ikat Sumba - Astri Apriyani

Saya dan teman-teman mendekati tanaman-tanaman pendek yang kami kira hanya rumput liar tak berguna. Beberapa tanaman berdaun kecil-kecil dengan ranting kecil yang bercabang-cabang mulai dicabuti oleh Kak Esi, diikuti oleh teman-teman lainnya.

Kami sedang mencabuti tanaman nila. Tanaman ini adalah yang nantinya menjadi pewarna alam berwarna biru untuk kain tenun ikat.

Proses Nila Kain Tenun Ikat Sumba - Astri Apriyani

Warna tanaman nila itu tentu saja hijau, dengan warna daun yang hijau selayaknya tanaman biasa. Namun, rupanya, ketika dicampur dengan kapur, tanaman ini kemudian menghasilkan warna biru tua alias indigo.

Tips bagi yang ingin membantu para pengrajin mencabuti tanaman nila, siapkan sarung tangan agar tangan tak terluka. Siapkan juga topi karena besar kemungkinan kita akan berada di bawah matahari terik dalam jangka waktu lumayan lama.

 

Kabukul dan pamening

Masih di kawasan Desa Lambanapu, seorang perempuan paruh baya bernama Mama Aris membuka pintu rumahnya dan berbagi kepada kami soal kabukul dan pamening. Kabukul adalah proses pemintalan benang hingga berbentuk bola benang. Kabukul adalah proses yang dilakukan setelah melakukan pahudur yang di atas sudah saya ceritakan.

Dari bola benang itu, langkah selanjutnya adalah pamening. Ialah menyusun atau menata benang-benang di alat tenun (bingkai kayu, wanggi), sehingga nantinya mudah diikat berdasarkan motif yang diinginkan. Kata Mama Aris, butuh waktu sekitar seharian untuk menyelesaikan proses pamening satu helai kain.

 

Karandi dan hondu

Sama seperti pamening, karandi yang merupakan proses selanjutnya dalam pembuatan tenun ikat Sumba biasa dilakukan seharian (1 hari). Setelah pamening, benang-benang yang sudah disusun di bingkai kayu tersebut dibagi menjadi banyak kumpulan benang yang sama rata, untuk kemudian diikat.

Proses pengikatan benang-benang ini disebut hondu. Kami mampir ke rumah Mama Into untuk belajar hondu. Mama yang satu ini tinggal di sebuah rumah sederhana, tapi dengan halaman sangat luas. Rata-rata rumah di Sumba memang memiliki halaman luas. Di halaman belakang, biasanya berkeliaran babi-babi atau kuda-kuda yang jadi binatang peliharaan utama di Sumba.

Proses Hondu Kain Tenun Ikat Sumba - Astri Apriyani

Dulu, benang-benang diikat menggunakan tali gewang (kalita), atau bisa disebut juga tali yang terbuat dari pohon palem. Namun, sekarang, banyak perajin tenun ikat mengganti tali gewang dengan tali plastik atau rapiah. Kebetulan, Mama Into masih menggunakan tali gewang untuk proses hondu. Jadi, kami bisa melihat cara hondu yang paling alami.

Hondu dilakukan dengan sangat kencang supaya bagian yang terikat tidak ikut terkena pewarna. Tak semudah kelihatannya, tali gewang harus diperlakukan dengan hati-hati. Jika terlalu dipaksa, ia putus. Jika tak kencang, pewarna bisa masuk dan merusak hasil kain tenun ikat nantinya.

 

Ngiling

Dari hondu, kita tiba di proses ngiling. Kalian mungkin bertanya-tanya, “Masih berapa banyak lagi ini prosesnya?” Nah, masih banyak. Makanya, jangan pernah memandang kain tenun ikat Sumba atau wastra Nusantara lainnya dengan sebelah mata. Prosesnya begitu panjang dan rumit. Hasilnya pun begitu memesona.

Balik ke ngiling. Ini adalah proses merendam kumpulan benang yang sudah diikat (hondu) tadi di dalam ramuan pewarna alami. Kalau pewarna biru (indigo), berasal dari tanaman nila. Kalau merah, asalnya dari tanaman mengkudu atau akar kombu.

Kami mampir ke Desa Mauliru dan berkunjung ke rumah Mama Konda Aha untuk melihat proses celup biru (indigo) kain tenun ikat ini. Mama Konda Aha yang sembari mencelup sembari sibuk mengunyah sirih pinang, tak terganggu dengan tangannya yang kebiruan. Ia mencelup benang-benang ke dalam racikan pewarna itu dengan tangannya yang tanpa sarung. Sementara, untuk melihat proses pewarnaan merah (kombu), kami melihatnya di kediaman Pak Kornelis.

Biasanya, racikan pewarna itu ditambahkan dengan campuran kapur sirih dan kemiri untuk memperkuat warna. Perendaman dilakukan semalaman, lalu dijemur di bawah sinar matahari sekitar 2-3 hari. Namun, proses perendaman ini bisa sampai 5-10 kali diulang untuk mendapatkan kedalaman warna yang diinginkan.

Proses pewarnaan masih dilanjutkan dengan hondu mau, kawilu, dan kombu. Jika pewarnaan biru selesai, dilakukan proses pewarnaan warna lain, seperti merah (kombu).

 

Katahu

Setelah semua proses perendaman warna selesai, lanjutlah ke katahu. Ialah proses melepaskan semua ikatan tali gewang. Di sini mulai kelihatan motif dari si kain tenun ikat.

 

Wallahu dan pameirang

Di Mauliru, saya pribadi sempat terkesima begitu melihat hasil perendaman warna-warna alami yang njelimet tapi worth it itu. Di rumah Ama Yabu, saya melihat sendiri Ama melakukan proses wallahu. Yaitu, memisahkan benang-benang yang sudah direndam pewarna dan sudah kering dijemur beberapa hari. Warna benang-benang tersebut sudah terlihat sangat elok.

Dari wallahu, benang diatur sesuai dengan susunan yang benar untuk membentuk motif. Proses ini disebut pameirang. Lalu, jangan lupa jika susunan sudah benar, bagian atas dan bawah benang yang sudah dirangkai di bingkai kayu, diikat (karandi).

 

Tinu

Ada beberapa proses lain, seperti kawu dan pawunang sebelum akhirnya benang ditenun di bingkai kayu (tinu). Namun, kebetulan, saya tidak sempat mampir untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Saya hanya sempat melihat bagaimana benang-benang itu ditenun hingga kemudian melalui proses kabakil, yaitu proses dirapikannya ujung kain tenun ikat supaya terikat kencang dan tidak terurai atau terlepas-lepas.

Di luar jalan-jalan sore berkeliling desa, perjalanan saya di Lambanapu dan Mauliru, dari satu perajin ke perajin lain, membuka mata saya semakin lebar bahwa kain tenun ikat Sumba Timur adalah kekayaan budaya yang tak ternilai harganya. Melihat prosesnya yang begitu panjang dan upaya penciptaannya yang begitu rumit nan delicate, semestinya jangan ada lagi yang menyia-nyiakan harta ini.

Kain Tenun Ikat Sumba Timur

 

Jika memang tak punya kemampuan untuk membeli kain-kain tenun ikat Sumba ini, setidaknya, kita bisa menghargainya dengan cara lain. Entah dengan mendukung para perajin, mengapresiasinya, atau dengan tak henti-hentinya mengangkat keindahannya ke hadapan publik. Sedikit gambaran panjangnya perjalanan kain tenun ikat Sumba Timur dari mulai kapas hingga jadi sehelai kain ini semoga mencerahkan jiwa dan pandangan kita akan berharganya ia.

Panjang umur, wastra Nusantara!

3 Comments Add yours

  1. mysukmana says:

    bisa gitu ya bikinnya, rumit..
    hal hal seperti ini memang butuh ketelitian dan kesabaran..
    apalagi cara bikinnya manual banget..

    1. Atre says:

      Sama kayak kain batik ya Mas. Punya kerumitan tersendiri. Tapi emang effort besar itu hasilnya nggak pernah bohong ya.

      1. mysukmana says:

        kain batik kalau tulis memang rumit, kalau cap lebih mudah cepet dan murah kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s