Jalan Kaki Demi Oei Tiong Ham, Si Raja Gula dari Semarang: Bagian Pertama

Menelusuri jejak Oei Tiong Ham, Si Raja Gula dan Orang Terkaya Se-Asia Tenggara di era akhir 1800-an dan awal 1900-an, di Semarang, Jawa Tengah. Bagian pertama ini menceritakan setengah perjalanan walking tour sembari mengenal siapa Oei Tiong Ham.

Banyak yang mengenal Oei Tiong Ham dengan berbagai nama. Ada yang memanggilnya Raja Gula Asia. Ada yang memilih julukan Lelaki 200 Juta Gulden. Ada yang mengenalnya dengan nama Orang Terkaya Asia Tenggara dari Semarang. Ada pula yang menjulukinya Rockefeller dari Asia, karena Tiong Ham tak jauh beda dengan John D. Rockefeller, konglomerat minyak bumi asal Amerika Serikat.

Apa pun panggilannya, hidup Oei Tiong Ham sungguh menarik. Beruntung, di Semarang, kita masih bisa menelusuri jejak-jejak Oei Tiong Ham (atau biasa disingkat OTH) yang tersebar di penjuru kota.

Bayangkan Kota Semarang di akhir era 1800-an, saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Negeri masih jadi jajahan Belanda. Bangsa Belanda alias kulit putih berada di kasta tertinggi. Pribumi ada di level terendah. Dan, di antaranya, hadir level bangsawan, ningrat, orang terpandang, orang-orang terpelajar, orang-orang kaya, dan mereka yang lebih terhormat ketimbang bangsa asli Indonesia.

Satu dari sekian banyak orang, ada seorang lelaki beretnis Tionghoa bernama Oei Tiong Ham. Di masa hidupnya, ia menjadi orang terkaya di Semarang, bahkan di Asia Tenggara, di era akhir 1800-an. Ia bukan ningrat, juga bukan bangsawan. Ia ‘hanya’ kaya, dan karenanya terhormat.

Surat kabar De Locomotief sampai-sampai menyebut OTH sebagai orang terkaya di antara Shanghai dan Melbourne, kata yang saya baca di Tirto.id.

Baru sekilas mendengar kisah hidup Oei Tiong Ham, bukankah rasanya ingin mendengar keseluruhan memorabilianya? Saya juga merasa begitu. Kawan perjalanan saya, Vira Tanka, juga sama. Maka, beruntung kami memilih menghabiskan satu hari khusus di Semarang untuk menelusuri jejak-jejak Oei Tiong Ham dipandu oleh Bersukaria Walking Tour. Astrid adalah pemandu kami hari itu.

Bersukaria Semarang Rute Radja Goela - Astri Apriyani

Sekadar catatan, karena saya yakin cerita hidup Oei Tiong Ham jauh lebih banyak lagi ketimbang apa yang dituturkan oleh Bersukaria, maka saya mulai membaca-baca beberapa artikel online juga membaca satu buku untuk tambahan pengetahuan. Akan turut saya cantumkan semua dalam tulisan ini. Sumpah, sudah lama nggak menulis yang tahu-tahu sepanjang 11 halaman Microsoft Words. Vira sudah teriak, “DIBIKIN AJA JADI BEBERAPA PART!”

Dengan alasan itu, akhirnya, cerita soal Oei Tiong Ham bakal dibagi jadi beberapa bagian. Pun sudah dibagi, rasanya blogpost ini tiap-tiapnya masih akan panjang. Jadi, kalau suka baca tulisan panjang, kamu bisa lanjut. Kalau tidak, TINGGALKAN AKU SENDIRI! *ahsek*

 

Oei Tiong Ham Sebelum Berstatus Orang Terkaya Se-Asia Tenggara

Siapa sebenarnya Oei Tiong Ham? Dari mana asalnya? Kok bisa-bisanya tiba-tiba tajir melintir horang kayah dan jadi orang kaya nomor satu di Asia Tenggara? Saya dan Vira mencari tahu secuil bagian tentang hidup OTH di satu hari yang terik bersama Astrid dari Bersukaria.

Kami bertemu Astrid di Taman Indonesia Kaya, taman kota yang dulu—bahkan sampai sekarang juga masih—dikenal dengan nama Taman KB. Ini adalah titik awal kami memulai Rute Radja Goela dengan Bersukaria. Hati bahagia. Meski dimulai awal hari, sekitar pukul 08.00, ternyata Semarang sedang cerah. Kami bersiap-siap menikmati terik hari ini. Untungnya, walking tour ini bakal melewati banyak daerah berbayangan dan rindang.

Bersukaria sendiri adalah sebuah penyelenggara tur yang bercerita yang mengajak kita menjelajahi kota dengan cara yang tidak membosankan. Mereka hingga kini memiliki 14 rute regular, serta rute-rute spesial, seperti Rute Earth Hour atau Rute Nyepi, yang mungkin digelar setahun sekali. Raja Goela termasuk salah satu rute regular mereka.

Tak berapa setelah bertemu Astrid—seorang perempuan Jakarta yang kini merantau ke Semarang—, kami sudah berada di jalanan kota Semarang. Tiga perempuan berjalan bersisian menyusuri trotoar di kawasan Jalan Menteri Supeno yang sudah nyaman untuk pedestrian. Terdengar mesra. Di antara kendaraan-kendaraan lalu-lalang di akhir pekan itu, kami melambatkan langkah dan bernapas lebih dalam. Kami buka telinga lebar-lebar, karena ini saatnya beperjalanan mengenal Raja Goela.

Selayaknya kehidupan, berstatus sebagai orang kaya bagi Oei Tiong Ham tidak terjadi dengan serta-merta. Prosesnya panjang. Dan, seperti film drama, semua diawali dengan si tokoh utama tak punya apa-apa alias miskin.

Oei Tiong Ham lahir di Semarang, 19 November 1866. Menurut Wikipedia, OTH adalah pendiri perusahaan multinasional pertama di Asia Tenggara dan pemimpin masyarakat Tionghoa di Semarang. Namun, jauh sebelum ia menjadi orang terpandang di Semarang, OTH sebetulnya datang dari keluarga imigran. Sang Ayah, Oei Tjien Sien, adalah seorang Tionghoa totok yang merantau dari Tong An, Fujian, Tiongkok.

Menurut Oei Hui Lan dalam Kisah Tragis Oei Hui Lan: Putri Orang Terkaya di Indonesia True Story, “Oei Tjien Sien adalah pemberontak berasal dari Amoy dan melarikan diri dari Pemerintahan Manchu karena ikut pemberontakan Taiping. Ia kabur hanya dengan apa yang melekat pada dirinya. Ia meninggalkan kelima saudaranya (Oei Tjien Sien adalah anak bungsu). Ia semula hendak ke Amerika tapi gagal. Akhirnya, ia naik kapal, lalu sampai di Semarang.”

Sang ayah, Oei Tjien Sien, sama sekali tak punya uang ketika tiba di Semarang. Namun, karena pada dasarnya ia tak gampang padam, Oei Tjien Sien memutuskan bekerja di pelabuhan. Ia ingin mengubah nasibnya yang miskin. Tak hanya bekerja kuli angkut, ia mencoba berdagang: menjual beras dan porselen, awalnya. Lambat laun, kerja kerasnya itu panen. Bisnis Oei Tjien Sien berjalan lancar, bahkan berkembang pesat. Ia menjadi orang terkaya di Semarang di era 1800-an. Skala “terkaya”-nya masih dalam level kota. Bukan pongah, bukan congkak.

Jalan Pahlawan Semarang Oei Tiong Ham Weg - Astri Apriyani

Setelah menyeberang jalan di zebra cross, kami tiba di sebuah tepi jalan. Menunjuk ke satu arah di seberang, Astrid bercerita bahwa sepanjang jalan tersebut dulu bernama Oei Tiong Ham Weg. Setelah era Orde Baru, nama itu diubah menjadi Jalan Pahlawan. Jejak-jejak Oei Tiong Ham dipudarkan; entah sengaja, entah karena pemerintah tak pikir panjang. Tak heran, kalau zaman sekarang, orang-orang asli Semarang sendiri tak banyak yang menyadari bahwa dulu Semarang pernah begitu hebat dari segi perdagangan. Bahkan, orang terkaya di Asia Tenggara berasal dari kota ini.

Setelah berhasil secara ekonomi, Oei Tjien Sien menikah dengan seorang perempuan bernama Tjan Bien Nio. Dari sini, mereka memiliki tiga anak lelaki dan empat anak perempuan. Oei Tiong Ham kabarnya adalah anak sulung.

Oei Tjien Sien adalah seorang Tionghoa yang religius. Anak-anaknya dididik untuk taat beragama, yaitu konghucu. Hingga ketika besar, sebagai seorang Peranakan, Oei Tiong Ham istimewa karena ia fasih berbahasa Melayu, tapi juga belajar di sekolah swasta Tionghoa.

Oei Tjien Sien sukses membangun usaha dagang yang semula fokus menjual dupa dan gambir. Baru pada 1863, ia mendirikan Kongsi Kian Gwan, yang pada 1893, Namanya berubah menjadi N.V. Handel Maatschappij Kian Gwan, lalu di kemudian hari diganti namanya menjadi Oei Tiong Ham Concern oleh Oei Tiong Ham.

Perusahaan ini besar tak hanya karena menjual barang dagangan biasa. Penjualan opium yang pada waktu itu legal (dijual bebas tetapi terbatas) di wilayah Hindia Belanda, jadi produksi utama perusahaan.

“Selang waktu berlalu, saya jadi tahu ternyata opium itu sejenis narkoba yang bisa menenangkan pikiran. Dan ayah adalah salah satu penjual opium terkenal di Jawa. Ia juga mengekspor semua hasil bumi di Jawa, seperti kopi, cengkeh, karet ke Eropa dan Asia. Ayah juga suka menghisup opium bila sedang senggang.” -Oei Hui Lan, anak Oei Tiong Ham (Davonar, hlm. 21)

 

Konglomerasi Pertama Hindia Belanda

Kami cukup lama duduk di bawah pohon rindang di sekitar Jalan Pahlawan. Beberapa orang sempat melirik dari dalam mobil atau dari atas motor saat melintasi kami. Ngapain ini anak panas-panas begini keluyuran, mungkin itu yang di benak mereka. Tapi, mungkin juga bukan.

Duduk kami nyaman di situ, karena teduh. Astrid masih juga menceritakan hidup Oei Tiong Ham dengan sesekali melihat air wajah kami; apakah kami tertarik, atau kami bosan. Saat ia merasa kami masih tertarik, Astrid melanjutkan cerita tentang perusahaan milik Keluarga Oei itu.

Sebelum sampai ke cerita Astrid, saya sempat membaca beberapa artikel bahwa usaha Keluarga Oei yang semula bernama Kongsi Kian Gwan itu, semula bergerak di bidang perdagangan gambir, karet, kapas, tapioka, dan kopi. Yang patut disebutkan lagi, perusahaan ini sudah berkembang dan sukses sejak diurus oleh Oei Tjien Sien, hingga ia meninggal pada 1890 dan meninggalkan warisan 10 juta gulden. Namun, ketika Oei Tiong Ham turut andil mengurus perusahaan dan mengubah nama jadi Oei Tiong Ham Concern (OTHC), perusahaan ini kian raksasa. Salah satu alasannya karena mereka melakukan ekspansi bisnis ke ranah kayu, properti (real estate), opium, sampai perbankan. Namun, lepas dari semua bisnis itu, Oei Tiong Ham dikenal banyak orang dengan julukan Raja Gula.

Bisnis gula milik Oei Tiong Ham di awal 1900-an itu sukses besar. Sebab, ketika di Indonesia, banyak orang masih memproduksi, menggunakan, dan hanya menjual gula aren, OTH sadar akan permintaan gula putih di Eropa yang besar tapi produsen yang minim. Karena itu, ia mulai mengembangkan bisnis gula putih di Indonesia.

Oei Tiong Ham di Pringsewu - Astri Apriyani
Foto Oei Tiong Ham masih tergantung di dinding Pringsewu di kawasan Kota Lama Semarang.

Dulu, kantor Kongsi Kian Gwan berada di bangunan yang sekarang ditempati oleh Pringsewu di Kota Lama Semarang.

Bisnis gula Oei Tiong Ham dimulai ketika ia bertemu konsul Jerman, Mr. Thendor. Orang ini menghampiri Oei Tiong Ham di kedai. Ia ingin membeli rumah Oei Tjien Sien untuk beristirahat di masa pensiunnya. Cuma waktu itu Oei Tjien Sien bilang ke Oei Tiong Ham, ‘Kalau kita menjual rumah, itu seperti kehilangan muka.’ Buat orang Tionghoa, jual rumah itu sama saja menjual diri. Maka itu, bapaknya Oei Tiong Ham tidak menjual rumah,” urai Astrid tentang asal mula bisnis gula OTH.

Kami melanjutkan berjalan kaki saat mengetahui kalau ternyata Oei Tiong Ham akhirnya bernegosiasi dengan Mr. Thendor tersebut. OTH akan menjual rumah ketika orangtuanya sudah meninggal. Timbal baliknya, orang itu akan memodali bisnis gula putih OTH dan berjanji menjadi advisor di perusahaannya nanti supaya bisnis lancar. Saya bayangkan mereka akhirnya berjabat tangan tanda sepakat.

“Gula adalah jawaban dari pemikiran ayah (Oei Tiong Ham). Gula yang dihasilkan dari pohon tebu juga terbukti cocok di tanah Jawa. Jadi, ayah membeli lahan luas untuk ditanami tebu. Masa itu Revolusi Industri belum sampai ke Pulau Jawa, tapi ayah sudah mendengarnya. Ia mendatangkan ahli-ahli Jerman untuk memberikan nasehat perihal mesin-mesin yang diperlukan untuk bercocok tanam dan mengolah tebu menjadi gula,” cerita Oei Hui Lan (Davonar, hlm. 117).

Saat tiba Oei Tiong Ham menjalankan perusahaan, ia mengurusnya dengan cara Eropa alias logis. Bisa jadi ini salah satu alasan bisnis gula Oei Tiong Ham jadi besar. “Zaman itu, tuh, kalau orang Tionghoa sukanya nepotisme, OTH tidak mau seperti itu. Orang-orang yang bekerja di perusahaannya adalah mereka yang ahli di bidangnya. Mau itu Belanda, Tionghoa, pribumi, bahkan kalau bisa didatangkan ahli dari luar negeri. Itu alasan bisnis OTH lebih besar dari orang-orang Tionghoa di Semarang,” suara Astrid timbul tenggelam diselak suara kendaraan-kendaraan melintas.

Belum lagi perkara teknologi. Pabrik-pabrik gula Oei Tiong Ham yang kebanyakan berada di luar Semarang (Demak, Jepara, Madiun, dan sekitarnya), kabarnya adalah yang pertama menggunakan teknologi elektrifikasi. Contohnya, PG Rejoagung di Madiun digadang-gadang jadi pabrik gula pertama di Hindia Belanda yang dijalankan dengan tenaga listrik.

Dari artikel di Liputan6.com, sejarawan Semarang Jongkie Tio menceritakan, bahwa kesuksesan bisnis gula OTH salah satu faktornya adalah karena terjadinya krisis gula pada 1880. Banyak pabrik gula tidak mampu membayar utang. OTH kemudian membeli PG-PG tersebut dan menguasai bisnis gula. OTH sempat menjadi pemilik 5 pabrik gula lewat akuisisi, diawali dengan Pabrik Gula Pakis (1894), PG Rejoagung, Tanggulangin, Krebet, dan Ponen. Total luas lahan lima pabrik gula tersebut mencapai 7.082 hektar. Masih juga heran kenapa Oei Tiong Ham dijuluki Raja Gula?

Oei Tiong Ham Concern terus merambah tak hanya di Hindia Belanda, tapi juga negara-negara lain, seperti London (Kian Gwan Western Agency, Ltd., 1910), Singapura, Bangkok, Hong Kong, Shanghai, Mexico, Karachi, Amsterdam, hingga New York (rekanan Seligman and Company). Angka ekspornya mencapai 145.000 ton per tahun.

Karena kesuksesannya itu, Gubernur Jenderal Belanda saat itu, Mr. Baron van Heeckeren, mengangkat OTH sebagai pemimpin Tionghoa di Semarang, atau disebut Mayor de Chineezen.

Astrid menambahkan, “Karena dekat dengan Belanda pula, Oei Tiong Ham bahkan boleh mengenakan pakaian-pakaian Belanda. Padahal, strata belanda paling tinggi. Pribumi atau Tionghoa aturannya tidak boleh mengenakan pakaian Belanda.”

Horang kayah mah bebash!

Perjalanan hidup Oei Tiong Ham jelas bukan cuma satu sisi. Bukan cuma tentang kerja, kerja saja, kerja terus, atau kerja banget. Seiring perusahaannya yang menggurita, kehidupan domestik Oei Tiong Ham semakin berliku.

Sudahkah saya sebut kalau di akhir hayatnya, Oei Tiong Ham meninggalkan 8 istri, 42 anak, dan entah berapa banyak selir juga cucu? Hanya saja, kisah keluarga dan nasib perusahaan setelah Oei Tiong Ham meninggal sebaiknya saya pecah ke bagian kedua. Termasuk juga cerita tentang anak perempuan Oei Tiong Ham bernama Oei Hui Lan, yang paling terkenal karena fotonya yang dianggap mengerikan.

Oei Hui Lan Oei Tiong Ham
Sumber: Wikipedia

Bagian pertama rampung sampai di sini. Sampai jumpa di bagian kedua, teman-teman pencinta bacaan panjang! Respect!

 

Bahan Bacaan:
Davonar, Agnes. Kisah Tragis Oei Hui Lan: Putri Orang Terkaya di Indonesia True Story. AD Publisher, 2012: Jakarta
“Oei Tiong Ham, Si Raja Gula dari Semarang”, diterbitkan Tirto.co pada 7 April 2017, https://tirto.id/oei-tiong-ham-si-raja-gula-dari-semarang-cmhf.
Ige, Edhie Prayitno. “Oei Tiong Ham dari Semarang, Konglomerat Pertama Asia Tenggara”, diterbitkan Liputan6.com pada 19 Januari 2018, https://www.liputan6.com/regional/read/3230526/oei-tiong-ham-dari-semarang-konglomerat-pertama-asia-tenggara.

2 Comments Add yours

  1. Olive B says:

    dengar – dengar, lukisan oma Hui Lan di the Sugar Baron Room Hotel Tugu sudah diganti dengan yang lebih nyaman dipandang pengunjung kk.

    1. Atre says:

      Hola, Olive. Iyaaa, aku juga dapat kabar dari Vira Indohoy kalau kabarnya foto Oei Hui Lan yang di Tugu sudah dipindah dan disimpan karena banyak yang concern foto itu bikin ambience hotel jadi seram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s