Jalan Kaki Demi Oei Tiong Ham, Si Raja Gula dari Semarang: Bagian Kedua

Kami masih duduk di bawah pohon di tepi Jalan Pahlawan, tak jauh dari Simpang Lima Semarang. Sempat memandangi sebentar bangunan bekas Hotel Siranda yang kosong tak terawat dari kejauhan. Jika dari sudut pandang Jalan Pahlawan, halaman hotel ini sudah dilalap dengan semak belukar dan pepohonan tak beraturan. Astrid sempat bilang, hotel tersebut dirumorkan berhantu. Saya tidak bisa mengiyakan, karena belum sempat riset atau bahkan mengunjunginya.

Jalan Pahlawan Semarang Oei Tiong Ham Weg - Astri Apriyani

Kami melihat ke arah yang lain. Ada bangunan-bangunan megah bercat putih dengan gerbang teralis tinggi menjulang. Sekarang, bangunan ini difungsikan sebagai kompleks Polda Jawa Tengah, Kantor Gubernur Jawa Tengah, DPRD Jawa Tengah, kampus Universitas Diponegoro Pleburan, pusat perkantoran di Jalan Pandanaran hingga ke dekat Kampung Kali. Ini yang sebetulnya jadi destinasi kami selanjutnya. Bukan karena ingin sowan pada aparat, tapi ingin melongok ke lahan bekas kompleks kediaman Oei Tiong Ham.

Perumahan Megah Oei Tiong Ham Seluas Puluhan Hektar

Bagian belakang yang kini dijadikan kantor Polda Jawa Tengah adalah bagian belakang kebun binatang milik OTH di akhir 1800-an. Kebun binatang? Iya, saking kayanya, OTH memiliki kebun binatang yang isinya kebanyakan binatang-binatang impor kesayangan anak-anak OTH. Ada kanguru, monyet, anjing, dan sebagainya. Saya sempat bertanya pada Astrid tentang izin memiliki kebun binatang di Semarang pada zaman itu. Astrid tak bisa menjawab pasti. Hanya saja melihat koneksi OTH dengan Belanda, rasanya mungkin-mungkin saja kalau OTH diizinkan melakukan apa pun yang ia inginkan. Termasuk, memiliki kebun binatang.

Kebun binatang ini pun tidak dibuka untuk umum. Hanya di saat-saat tertentu saja, seperti libur Lebaran. Di hari-hari istimewa ini, OTH akan membuka kebun binatang untuk dikunjungi masyarakat.

Di atas lahan yang kabarnya sampai seluas 9,2 hektar, kompleks kediaman OTH ini terdiri dari 200 ruangan bangunan. Mulai dari vila pribadi, paviliun-paviliun megah untuk ruang pesta keluarga, dapur, rumah untuk pelayan, rumah untuk para guru (karena anak-anak OTH home schooling), ruang kesehatan, danau buatan, sampai kebun binatang. Melihat foto lawas yang diperlihatkan oleh Astrid, saya bisa membayangkan betapa mewahnya perumahan tersebut.

Foto Lawas Kompleks Perumahan Oei Tiong Ham Semarang - Astri Apriyani

Tunggu dulu, tapi kenapa rumah OTH terletak di luar kawasan Pecinan? Bukankah di masa itu kolonial Belanda memberlakukan Wijkenstelsel—peraturan yang memisahkan pemukiman etnis Tionghoa di kota-kota besar, termasuk Semarang, di Hindia Belanda? Ini bukti betapa berpengaruh dan dekatnya OTH dengan Belanda. Ia bahkan berani dan diperbolehkan tinggal di luar wilayah yang ditentukan.

Peta Semarang Tempo Doeloe

Dulunya kami tinggal di Kampung Pecinan di daerah pinggiran Kota Semarang, tapi kemudian ayah membangun istana di daerah real estate Eropa. Kami menjadi satu-satunya orang China yang tinggal di kompleks elite tersebut. -Oei Hui Lan (Davonar, hlm. 20)

Sayangnya, kami tidak bisa memasuki area Polda karena waktu itu hari kerja dan gedung tersebut berstatus kantor yang aktif. Semakin siang, matahari Semarang semakin menyengat terutama bagian tengkuk saya. Vira dan saya berulang-ulang kali mengaplikasikan sunblock di kulit, karena teriknya bukan main.

Menjauhi Polda, sekitar lima menit berjalan kaki, kami tiba di kawasan bernama Gergaji Balekambang. Astrid hanya menceritakan sembari lalu bahwa di daerah ini dulunya terdapat danau buatan, tempat Sang Raja Goela leyeh-leyeh ena’. Danau ini tentu saja khusus dibuat untuk OTH. Tapi sayang, danau ini sudah tidak ada sisanya lagi. Saya harus puas hanya dengan memandangi gapura bertuliskan “Gergaji Balekambang”, sisa-sisa perayaan HUT RI ke-73.

Gergaji Balekambang Oei Tiong Ham Semarang - Astri Apriyani

Satu-satunya bangunan tersisa dari kompleks kediaman OTH dan masih difungsikan dengan baik hingga kini adalah sebuah bangunan besar di Jalan Kyai Saleh. Kini, gedung tersebut adalah milik OJK. Gedung ini dulunya adalah rumah sembahyang Keluarga Oei. Selayaknya rumah keluarga Tionghoa, dulu bangunan ini memiliki altar di tengah ruang tamu. Namun, karena sempat berganti-ganti pemilik, terjadi banyak renovasi pada rumah dan menjadikan rumah tersebut bernuansa berbeda—walaupun bentuknya masih asli seperti dulu.

Gedung OJK Semarang - Astri Apriyani

Kami perlu meminta izin pada pihak keamanan OJK untuk bisa melihat-lihat bagian dalam gedung. Di ruang tamu, terdapat lukisan tanam (seperti mural), bergambar perempuan dan lelaki Eropa. Lukisan ini, kata Astrid, sudah ada sejak zaman OTH masih mendiami kompleks. Namun, kini, jika kita punya kesempatan melihat-lihat ke dalam Gedung OJK, pemilihan gaya gorden jendela dan hiasan berwarna merah sungguh sangat Eropa. Lampu chandelier bergaya Eropa bergantung di plafon. Kata Astrid, memang lampu, gorden, dan berbagai printilan banyak yang sudah diubah. Termasuk, pintu depan yang berukir.

“Ukiran-ukiran pada pintu kemungkinan besar baru. Karena pintu-pintu ini sudah bukan jati. Sudah ringan. Karena zaman dulu, kan, pintunya pasti adalah kayu jati dan berat,” tutur Astrid.

Hal yang masih otentik dari bangunan ini sesungguhnya adalah kamar mandi di bagian belakang rumah. Di dalam kamar mandi luas itu, kabarnya ada kolam kecil untuk berendam dan tegel-tegel biru khas Belanda. Tegel delfts. Sayangnya, kamar mandi itu kini terbengkalai dan hanya menjadi gudang. Saya pun tidak bisa mengintip ke dalam ruangan itu, karena faktor akses.

delfts holland

Hal lain yang masih otentik dari rumah ini adalah tiang-tiang rumah di selasar. Jika melihat dari dekat, di bagian bawah tiang ini masih ada tercetak huruf-huruf bertuliskan perusahaan asal tiang ini diproduksi: L.J. Enthoven & Co of’s Hage Holland. Perusahaan ini kalau dicari-cari informasinya di internet, adalah perusahaan Belanda yang sudah ada sejak 1823. Dulu bernama E.B.L. Maritz & Compagnon (1787), baru dibeli oleh Enthoven dan diganti Namanya menjadi nama yang tertera pada tiang yang bisa kita lihat di Rumah Oei Tiong Ham di Semarang.

Perusahaan Belanda Tiang Gedung OJK Semarang - Astri Apriyani

Saya bisa bayangkan Oei Tiong Ham menjelajah sekitaran kompleks perumahan dengan mengenakan pakaian Eropa yang rapi. Tak seperti orang Tionghoa zaman itu yang memiliki taochang (kuncir rambut seperti di film kungfu), OTH memotong rambutnya pendek, menghilangkan taochang dari kepalanya. Dengan jas yang melambai-lambai, ia bakal hilir-mudik di selasar ini dengan santai.

Keluarga dan Warisan 200 Juta Gulden

Seperangkat kursi lawas di selasar Gedung OJK ini sukses bikin betah. Saya, Vira, dan Astrid berakhir dengan duduk lama sekali di sini. Beberapa kali harus menerima tatapan pihak sekuriti yang terlihat dari ekor mata. Mereka mungkin heran, kenapa tiga perempuan ini betah betul di gedung yang mereka pikir spooky. Namun, kami abaikan saja. Astrid bersuara memecah hening.

“Ada banyak versi tentang berapa banyak Oei Tiong Ham menikah. Ada yang bilang tujuh kali, delapan kali, ada yang bilang sembilan kali. Di antara banyak versi itu, banyak literatur menulis kalau ketika wafat, Oei Tiong Ham memiliki 8 istri, 18 selir, dan 42 anak. Itu yang tercatat resmi. Nggak tahu juga yang nggak ketahuan,” urai Astrid.

Banyaknya istri, anak, dan cucu, juga selir ini yang pada akhirnya menciptakan huru-hara atau perkara pelik di akhir-akhir hidup Oei Tiong Ham. Semua terkait dengan pertikaian pembagian warisan dalam keluarga, yang semakin kisruh ketika Oei Tiong Ham wafat pada 1924.

Jauh sebelum Oei Tiong Ham menjadi kaya dan memiliki keluarga sangat besar, ia adalah lajang putus asa yang suka judi. Sang ayah, Oei Tjien Sien, pengusaha yang nantinya kita kenal dengan julukan “Orang Terkaya Se-Semarang” ini seringkali menyuruh OTH untuk melakukan banyak pekerjaan. Salah satunya menagih utang ke beberapa orang (debt collector).

Astrid cerita, “Pernah suatu hari, Oei Tiong Ham diperintahkan sang ayah untuk menagih uang 1.000 gulden ke seseorang. Godaan datang ketika uang sudah di tangan OTH. Ia menghabiskan uang tersebut di meja judi, dengan harapan, jika ia menang, uang itu bisa untuk modal bisnis. OTH kalah. Uangnya habis.”

Masih menikmati angin sepoi-sepoi di selasar Gedung OJK, cerita ini ternyata bergulir ke momen di mana OTH bertemu dengan istri pertamanya; Raden Ajeng Kasinem, seorang perempuan dari keluarga bangsawan Jawa. Singkat kata, OTH yang putus asa dan ingin bunuh diri karena takut pada ayahnya, diselamatkan oleh Kasinem. Meskipun cinta mereka ditentang orangtua OTH (karena Kasinem Jawa dan OTH Tionghoa), mereka tetap berakhir menikah. Rasanya seperti mendengar kisah cinta Romeo dan Juliet.

Astrid menyatakan, hanya ada dua istri OTH yang sempat tinggal di kompleks kediaman OTH yang luas ini; Raden Ajeng Kasinem dan istri kedua OTH, Goei Bing Nio. Itu pun tidak dalam waktu yang bersamaan. Ketika OTH memutuskan untuk menikah lagi dengan istri kedua, Raden Ajeng Kasinem ogah dipoligami.

Kasinem memutuskan keluar dari rumah dan berpisah dari OTH. Padahal, hanya Kasinem satu-satunya orang yang boleh memasuki seluruh ruangan di kompleks perumahan itu, termasuk ruang kerja OTH. Goei Bing Nio saja tak boleh memasukinya.

Dari istri kedua, Oei Tiong Ham memiliki dua anak; Oei Tjong Lan dan Oei Hui Lan. Dalam buku karya Agnes Davonar, Oei Hui Lan menceritakan kalau kakaknya Oei Tjong Lan berbeda dari dirinya. Oei Tjong Lan lebih cantik, lebih tinggi, dan berambut lurus. Sementara, Hui Lan berambut keriting. Hui Lan adalah sosok yang terekam dalam foto hitam-putih yang terkenal sempat dipajang di Hotel Tugu Malang.

Foto Oei Hui Lan di Hotel Tugu - Vira Tanka
Foto Oei Hui Lan di Hotel Tugu Malang. Foto oleh Vira Tanka.

Memang dasar flamboyan dan sulit bersetia, Oei Tiong Ham kembali menikah. Kali ini dengan sepupu jauh Goei Bing Nio. Ini membuat Bing Nio akhirnya keluar dari rumah dan pindah ke Inggris untuk hidup bersama Oei Tjong Lan dan Oei Hui Lan. Rumah mereka berada di London, sekitar Brooke Street.

Rupanya, meski sudah berpisah dengan Goei Bing Nio, Oei Tiong Ham masih terus mendukung keluarga di Inggris tersebut secara finansial. Kabarnya, tak ada yang namanya

Ketika dewasa, Oei Hui Lan akhirnya menikah dengan Wellington Koo, seorang diplomat Tionghoa yang sempat menjabat Menlu Republik China di bawah Generalissimo Chiang Kai-shek. Ia pun terkenal sebagai salah satu sosialita Eropa. Bahkan, dalam periode singkat pada akhir 1926 hingga pertengahan 1927, Hui Lan sempat menjadi Ibu Negara Republik China saat Wellington Koo menjadi Pejabat Presiden Republik China yang berkedudukan di Beijing.

Teman-teman sepergaulan Oei Hui Lan kabarnya sekelas Edda Mussolini, Madame Chiang Kai-shek, Winston dan Randolph Churchill, sampai Queen Elizabeth. Ngeri-ngeri sedap level sosialitanya. Saya langsung mengira-ngira siapa sosialita zaman sekarang yang levelnya seperti Hui Lan kala itu. Tak ada yang terlintas di kepala.

Lalu, bagaimana hidup Oei Tiong Ham setelah berpisah dari Goei Bing Nio, dan menikah dengan istri ketiga? Hidupnya masih berputar dan berpusat di Semarang di rumah yang sama. Dengan lebih banyak istri, selir, dan anak-anak yang lahir, Oei Tiong Ham membentuk keluarga besar. Hingga akhirnya, di jelang akhir hayat hidupnya, saat hidup bersama Lucy Ho, OTH pindah ke Singapura.

Kala itu, di awal 1920-an, saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda dan masih berada di bawah jajahan kolonial Belanda, negeri ini masih memberlakukan peraturan Belanda tentang pengaturan warisan. Bahwa semua anak harus mendapatkan pembagian harta yang merata dalam hal warisan.

“Sebelum meninggal, Oei Tiong Ham pindah ke Singapura. Alasannya, ia tidak ingin semua anaknya dapat warisan merata. Entah uang, gedung, dan lain-lain. OTH merasa, tidak semua anak pantas mendapatkan warisan. Karena ingin menghindari peraturan itulah, OTH pindah ke Singapura. Ia buat surat warisan di sana. Singapura waktu itu masih bagian dari Kerajaan Inggris, jadi peraturannya berbeda dengan di Hindia Belanda,” cerita Astrid.

Foto Oei Tiong Ham di Hotel Tugu - Vira Tanka
Foto Oei Tiong Ham di Hotel Tugu Malang. Foto oleh Vira Tanka.

Oei Tiong Ham meninggal pada 1924 di Singapura. Penyebabnya, kabarnya serangan jantung, tapi beberapa pihak tak percaya. Banyak orang yang heran karena usia OTH belum terlalu tua (sekitar 50-an) dan orang Tionghoa biasanya berusia panjang. Ketika hendak otopsi, hal ini tidak bisa dilakukan karena banyak kendala.

Banyak praduga bahwa Oei Tiong Ham dibunuh.

Kehidupan Setelah Oei Tiong Ham Wafat

Ketika wafat, Oei Tiong Ham mewariskan harta senilai 200 juta gulden. Bentuknya, ada uang, perusahaan, dan aset-aset lainnya. Tuajir pisan, pokoknya. Tapi tajir pun bisa juga berakhir tragis.

Dari Singapura, OTH dipulangkan ke Semarang. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga di daerah Pamularsih, dari Klenteng Sam Poo Kong agak ke sebelah timur. Hingga akhirnya, makam kembali dipindahkan ke Singapura.

Bagaimana dengan perusahaan-perusahaan milik Oei Tiong Ham yang ditinggalkan?

Setelah Oei Tiong Ham wafat, perusahaan juga mengalami masalah. Kalau baca di artikelnya Tirto.id, bisnis gula kebetulan pas betul mengalami kelesuan di era 1930-an karena malaise alias Depresi Besar (1929-1939). Di masa lesu itu, perusahaan milik OTH dipegang oleh Oei Tjong Hauw sampai era 1950-an. Dari bernama Kongsi Kian Gwan, ia diubah jadi Oei Tiong Ham Concern.

Oei Tjong Hauw adalah anak OTH dari istri ketiga. Mungkin, kamu familier dengan nama Oei Tjong Hauw? Nggak? Ya nggak apa-apa. Yang jelas nama dia masuk sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal juga sebagai tokoh nasional. Ia mewakili masyarakat Tionghoa dalam diskusi BPUPKI yang akhirnya melahirkan Pancasila.

“Meskipun tokoh nasional, Oei Tjong Hauw itu anggota partai sosialis Indonesia yang dilarang oleh pemerintahan Soekarno. Makanya, waktu itu, Oei Tjong Hauw ditangkap. Aset-asetnya diambil oleh pemerintah,” masih cerita Astrid.

Yang jelas, kejayaan Oei Tiong Ham Concern kelar pada 1964. Perusahaan dinasionalisasi. Salah satunya masih bisa kita lihat di kawasan Kota Lama. Ada plang tulisannya PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), perusahaan bidang perkebunan tebu dan multibisnis lain. Ada pula pabrik-pabrik gula (PG) yang letaknya di luar Semarang, turut disita. Seperti PG Rejoagung di Madiun, Jawa Timur.

Saya dan Vira sempat menjelajahi Kota Lama Semarang sebelumnya. Kami melihat plang bertuliskan yang sama itu terletak di dekat Pringsewu dan sejajaran dengan Hero Coffee. Bangunan tempat plang RNI bergantung. Namun, sehari-hari, gedung tersebut sepertinya terlihat sepi.

Rajawali Nusindo - Astri Apriyani

Salah satu aset Oei Tiong Ham yang juga jatuh ke tangan pemerintah Indonesia adalah satu-satunya bangunan yang tersisa dari kompleks kediaman nan luas OTH. Bangunan ini kini dikenal dengan nama Gedung OJK—tempat saya, Vira, dan Astrid duduk-duduk kebetahan di sore hari itu.

Rute Radja Goela Bersukaria Semarang - Astri Apriyani

Bangunan di Jalan Kyai Saleh ini kerap bergonta-ganti fungsi. Sejak semula menjadi rumah sembahyang Oei Tiong Ham, bangunan ini pernah menjadi tempat les, disewakan untuk tempat pernikahan, sampai pada 2017, ia disewakan ke pihak OJK. Baru pada 2019, bangunan ini resmi dibeli dan menjadi milik OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Regional III Jawa Tengah dan DIY. Diperkirakan, bangunan ini dibangun pada akhir 1800-an.

Kami sekeluarga tinggal di Kota Semarang, tepatnya di Jalan Gergaji. Pada saat itu, negeri tempat saya tinggal bernama Hindia-Belanda dan dipimpin oleh seorang ratu dari Belanda bernama Ratu Wilhelmina. Rumah keluarga kami sangat besar dan berarsitektur klasik Eropa dengan campuran etnik China seperti negeri asal kami, dengan luas tanah 9,2 hektar,” kisah Oei Hui Lan dalam buku (Davonar, hlm. 19).

Oei Tiong Ham meninggalkan warisan sekitar 200 juta gulden Belanda atau sekitar Rp27 triliun. Karena itu, OTH kerap dikenal dengan nama Lelaki 200 Juta Gulden. Ketika pembagian warisan, Oei Hui Lan yang datang ke Semarang untuk sekaligus mengantarkan sang ayah ke tempat peristirahatan menceritakan proses jalannya pembacaan warisan.

Pengacara ayah membacakan surat wasiat di hadapan anak-anak dan gundik-gundik ayah. “Saya, atas nama Oei Tiong Ham, diberikan kuasa untuk membacakan warisan yang akan diberikan kepada istri, gundik-gundik, putra-putri keluarga almarhum Oei Tiong Ham. Dengan ini, saya akan meneruskan wasiat terakhir yang disahkan oleh Oei Tiong Ham. Oei Tiong Ham akan memberikan warisan kepada istri sah dari almarhum sebesar 12 juta $AS, Oei Tjong Lan mendapatkan 1 juta $AS, dan Oei Hui Lan mendapatkan 15 juta $AS. Perusahaan terpimpin atas nama Kian Gwan dibagi kepada tiga pihak terpilih, yakni Lucy Ho, Oei Tjong Swan, dan Oei Tjong Haow.” (Davonar, 225)

Lanjutan dari surat wasiat itu adalah bahwa ada enam putra Oei Tiong Ham lainnya, yaitu Oei Tjong Tjhiat, Oei Tjong Yan, Oei Tjong Ik, Oei Tjong Le, Oei Tjong Bo, Oei Tjong Hiong, dan Oei Tjong Tjay mendapatkan beberapa perusahaan yang akan diwakilkan oleh Oei Tjong Swan dan Tjong Haow. Nama Oei Tjong Tjay adalah satu-satunya yang disebut dalam laman Wikipedia, tentang orang yang kini mengelola bisnis OTH berbasis di Belanda.

Sudah bisa diduga, pihak-pihak yang tidak disebutkan dalam surat warisan tersebut pada akhirnya mengajukan gugatan perdata. Di sini perkara warisan mulai pelik. Banyak terjadi perebutan dan gugat-menggugat. Termasuk, gugatan untuk hak kepemilikan kompleks perumahan di Semarang yang oleh Oei Tiong Ham resminya diberikan kepada Lucy Ho.

Tiang Rumah Oei Tiong Ham Semarang - Astri Apriyani

Hingga akhirnya Lucy Ho wafat, perkara warisan masih terus membara. Tak ada habisnya.

Semakin lama duduk di selasar Gedung OJK rupanya semakin bikin kedua mata berat. Ngantuk banget. Sebelum akhirnya mager dan tak mau beranjak, kami sudahi walking tour Rute Radja Goela bersama Bersukaria sore itu. Di luar tempat-tempat yang saya ceritakan di atas, sebetulnya Astrid juga mengajak kami ke beberapa tempat saksi sejarah eksistensi Oei Tiong Ham. Namun, alangkah baiknya jika kalian langsung minta ditemani oleh teman-teman Bersukaria dan jalan kaki bersama mereka. Dijamin, lebih seru.

Sampai jumpa di agenda jalan-jalan selanjutnya.

Bahan Bacaan:
Davonar, Agnes. Kisah Tragis Oei Hui Lan: Putri Orang Terkaya di Indonesia True Story, AD Publisher, 2012: Jakarta.
“Oei Tiong Ham, Si Raja Gula dari Semarang”, diterbitkan Tirto.co pada 7 April 2017, https://tirto.id/oei-tiong-ham-si-raja-gula-dari-semarang-cmhf.
Ige, Edhie Prayitno. “Oei Tiong Ham dari Semarang, Konglomerat Pertama Asia Tenggara”, diterbitkan Liputan6.com pada 19 Januari 2018, https://www.liputan6.com/regional/read/3230526/oei-tiong-ham-dari-semarang-konglomerat-pertama-asia-tenggara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s