Negeri Isyarat di Utara Bali Bernama Desa Bengkala

Desa Bengkala adalah sebuah desa istimewa yang memiliki komunitas tuli-bisu cukup tinggi. Dari keseluruhan penghuni desa, sekitar 2%-nya, lahir dalam keadaan kolok—bahasa Bali untuk “tuli-bisu” . Karena itu pula, Desa Bengkala sering juga disebut dengan Desa Kolok.

Sebuah gapura batu khas Bali berdiri di mulut gang. Tulisannya berbunyi “Selamat Datang di Desa Bengkala”. Ini menandai kedatangan kita di Desa Bengkala, sebuah desa di Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, di sebelah utara Bali.

Desa ini kering. Kata beberapa orang lokal, sudah lama hujan tak turun di Buleleng atau Desa Bengkala, tepatnya. Saya bisa tahu kalau mereka tak tipu-tipu. Saya lihat rumput semua berubah warna jadi kecoklatan. Saya lihat daun-daun pepohonan sudah gugur jatuh ke tanah yang gersang. Saya lihat teras rumah warga. Banyak debu menebal di sana.

Desa Bengkala Buleleng Bali Kemarau - Astri Apriyani

Desa Bengkala tepatnya berlokasi sekitar 15,6 km dari pusat Kota Singaraja atau sekitar 100 km dari Kota Denpasar. Menurut prasasti berbentuk enam lempengan tembaga dari zaman pemerintahan Paduka Sri Maharaja Haji Jayapangus Arkaja Cihna (1133-1173 M), penamaan desa pada masa itu sudah kadang-kadang disebut Bengkala, kadang-kadang Bangkala. Prasasti ini berangka tahun saka 1103 (22 Juli 1181 M) dan ditemukan pada 1971. Prasasti ini memuat catatan tentang kehidupan di Bangkala dan keluhan masyarakat terhadap perilaku pejabat kerajaan yang tidak adil dalam masalah perpajakan.

“Dari awal selanjutnya ditentukanlah batas-batas wilayah desa pada keempat arah, yaitu batas di timur tukad culikan, batas selatan Desa Bangkala adalah batu bulitan pimula, batasnya di barat tukad air raya, batasnya di utara babyara terus berbelok ke timur laut. Demikianlah luas wilayah dari Desa Bangkala.” (lempeng 6)

Isi prasasti ini ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa kuno. Saya tentu saja tidak mampu mengartikan sendiri bahasa Jawa kuno ini ke dalam bahasa Indonesia yang dimengerti semua orang. Untungnya, keenam lempengan ini sudah diterjemahkan oleh Ibu Pande dari pihak FlipMas (Forum Layanan IPTEKS Bagi Masyarakat) Ngayah Bali. Nama Ibu Pande akan muncul kembali nanti di tengah artikel.

Dalam catatan tersebut, bisa disahkan kalau Desa Bengkala telah ada sejak sangat lama. Tanggal ditulisnya prasasti ini, yaitu 22 Juli, diresmikan menjadi hari peringatan lahirnya Desa Bengkala.

Lepas dari gapura selamat datang, jalanan beraspal yang semakin mengecil dan lama-lama berkerikil mengarahkan kita memasuki Desa Bengkala. Dari tampak luar, kehidupan masyarakat Desa Bengkala selayaknya seperti kebanyakan desa umumnya. Tiap pagi, orang-orang dewasa berangkat bekerja. Ada yang bekerja sebagai guru, staf kantor desa, petani, sampai buruh serabutan, seperti kuli bangunan atau penggali kubur. Sementara, anak-anaknya berangkat sekolah, baik itu sekolah di desa ataupun ke Kota Singaraja.

Dari dalam mobil yang menderu di atas jalan berkerikil, saya melongok keluar jendela; berpapas-papasan dengan masyarakat lokal yang hendak pergi bekerja. Sebagian besar naik motor, tapi ada sebagian kecil yang terbagi-bagi antara bermobil, naik sepeda, atau bahkan berjalan kaki.

Saya datang ke utara Bali kali itu utamanya memenuhi tugas peliputan dari National Geographic Indonesia. Ada keunikan tentang Desa Bengkala yang berkaitan dengan program kerja PT Pertamina. Siapa yang sangka kalau tempat ini akhirnya punya tempat tersendiri di hati.

 

Orang-Orang Kolok di Desa Bengkala

Memasuki lebih dalam Desa Bengkala, tak ada yang terlalu berbeda dari ketika kita mendatangi sebuah desa kecil. Ada banyak mata yang mengikuti ke mana arah mobil kita bergerak. Selalu ada lambaian tangan anak-anak ke arah mobil. Saya yang melambai balik dari dalam mobil jadi ikut semangat.

Saya sendiri baru akhirnya menyadari keunikan—dan keistimewaan—Desa Bengkala ketika berhadapan wajah langsung dengan masyarakat setempat. Yaitu, tepat ketika menjejakkan kaki di tanah gersang Bengkala dan menghirup udara kering mereka. Tak sampai berapa menit kemudian, saya segera disambut oleh ucapan selamat datang lewat bahasa isyarat.

Desa Bengkala adalah sebuah desa istimewa yang memiliki komunitas tuli-bisu cukup tinggi. Dari keseluruhan penghuni desa, sekitar 2%-nya atau sekitar 48 orang, lahir dalam keadaan kolok—bahasa Bali untuk “tuli-bisu” (Profil Desa Bengkala Tahun 2012). Karena itu pula, Desa Bengkala sering juga disebut dengan Desa Kolok.

Selama ini, kita banyak mendengar orang-orang disabilitas yang mengalami diskriminasi atau pengasingan karena dianggap aib atau kutukan. Namun, hal tersebut tidak terjadi di Desa Bengkala. Setidaknya, tidak sekarang. Masyarakat nonkolok dan kolok di Bengkala hidup berdampingan dengan rukun. Bahkan, mereka yang tidak kolok sudah belajar cara berbahasa isyarat sejak kecil, supaya dapat berkomunikasi dengan orang-orang kolok.

“Di Bengkala, masyarakat sehari-harinya menggunakan sign lokal, yang asalnya dari bahasa ibu sini. Sign ini agak beda dari Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) atau ISL (International Sign Language). Cuma uniknya di sini itu, tidak cuma orang kolok saja yang ber-sign lokal. Sekitar 80% masyarakat Bengkala, termasuk yang tidak kolok, juga bisa bahasa isyarat. Ini yang akhirnya membuat kami yang tidak kolok dan kolok bisa hidup berdampingan. Orang-orang koloknya juga jadi tidak minder, bisa berinteraksi, bisa berkomunikasi,” urai I Made Arpana, yang sudah menjabat sebagai Kepala Desa Dinas Bengkala selama 5 tahun.

I Made Arpana adalah tipikal lelaki memasuki usia paruh baya dari jajaran pemerintah daerah, lengkap dengan seragam coklat PNS, bertatanan rambut rapi, serta bertutur bahasa apik. Ia adalah orang pertama di Desa Bengkala yang saya temui yang tidak kolok tetapi fasih betul berbahasa isyarat. Saya menyempatkan diri untuk menemuinya di Kantor Kepala Desa, di ruangan pribadinya yang cukup luas. Lewat I Made Arpana, saya mengetahui tentang 6 lempeng prasasti yang menceritakan tentang Bengkala tadi. Sebab, lempeng-lempeng itu disimpan di kotak kaca di tengah Kantor Kepala Desa.

Senyum Pak Arpana sumringah. Dengan bangga, ia menceritakan keharmonisan hubungan antara masyarakat normal dan kolok. Baik masyarakat yang kolok atau tidak kolok, mereka mampu hidup bersisian dan berdampingan. Namun, mengenal lebih dalam Desa Bengkala, di antara lahan-lahan berundak, pohon-pohon jambu mete, pohon pisang, pohon mangga, sampai tanaman kunyit yang banyak tumbuh, kita bisa melihat betapa keringnya lingkungan desa, terutama jika kemarau panjang melanda seperti sekarang.

Desa Bengkala Buleleng Bali Kemarau Kering Bengkala - Astri Apriyani

Hujan ternyata sudah tidak turun sejak April, sementara waktu itu bulan sudah Oktober. Akibatnya, banyak pohon mati, sayur-mayur tidak bisa tumbuh, ladang pun kerontang. Ada persoalan ekonomi yang selalu menghantui masyarakat Bengkala umumnya, dan masyarakat kolok Bengkala khususnya.

Masyarakat normal di Bengkala memiliki pilihan pekerjaan yang beragam. Sementara, karena keterbatasan fisik yang memengaruhi rendahnya kualitas pendidikan (sebagian besar tidak bisa menulis dan membaca), masyarakat kolok memiliki opsi terbatas dalam hal pekerjaan.

Di Bengkala, rata-rata masyarakat kolok bekerja tidak tetap alias serabutan. Mulai dari penggali kubur, buruh tani, berladang, beternak, sampai pemasang pipa air desa. Faktor inilah yang akhirnya menyebabkan pertumbuhan ekonomi orang kolok rendah. Tercatat, penghasilan masyarakat kolok dari profesi penggali kubur dan buruh tani hanya Rp450.000/bulan. Penghasilan ini masih jauh dibawah UMK Buleleng, yaitu Rp 2.164.991 (per tahun 2018).

“Masyarakat kolok di sini sebetulnya senang bekerja. Animo kerjanya tinggi, sehingga kolok di Bengkala tidak ada yang bermalas-malasan. Kalau ada peluang kerja, ya, mereka kerja. Maka, kalau ada kegiatan padat karya yang ada di desa, seperti yang ada di KEM, selalu ikut serta mereka,” cerita Pak Arpana.

Berbeda nasibnya dengan orang-orang kolok, orang-orang nonkolok lebih banyak memutuskan untuk keluar Desa Bengkala untuk bekerja—bahkan untuk menikah. Sehingga, banyak generasi muda Bengkala tak tinggal untuk membangun desa. Tak heran, desa sepi.

Pak Arpana seperti menderu cepat bicara tentang desanya. Kalau mendengar sendiri, kita bisa tahu kalau Kades ini punya perhatian yang tak dibuat-buat soal Bengkala. Hanya ada satu pertanyaan besar yang sebetulnya sudah saya simpan sejak pertama kali tiba di Bengkala. Kenapa orang-orang Bengkala banyak yang terlahir kolok? Kenapa angka kolok di Bengkala tinggi?

Saya lihat Pak Arpana dan beberapa staf yang ada di dalam ruangan di Kantor Kepala Desa itu diam sejenak. Mungkin memilih atau memilah kata-kata yang tepat untuk disampaikan. Hingga akhirnya, Pak Arpana tak jadi mengeluarkan kata sepatah pun. Ia beranjak dari kursi nyamannya, lalu mengarah ke lemari buku di pojok ruangan.

Saya sebelumnya meminta maaf kepada pembaca karena sama sekali lupa akan judul buku ini, pun penulisnya. Saya ingat saya mencatatnya, tapi karena sudah beberapa tahun lalu, saya pun lupa di mana catatan itu berada. Yang jelas, buku yang dipindahtangankan oleh Pak Arpana ke tangan saya adalah buku penelitian seorang ilmuwan yang menghabiskan waktu bulanan bahkan tahunan tinggal di Bengkala.

Ringkas kata dari penelitian tersebut adalah bahwa menarik ke belakang, orang-orang di Bengkala melakukan pernikahan saudara. Alhasil, gen yang lahir daripada pernikahan itu menjadi recessive dan melahirkan anak-anak bisu-tuli. Dari penelitian itu pula, diperkirakan sekitar 66% kemungkinan bahwa gen DFNB3 (Deafness Neurosensory Autosomal Recessive 3) ini terjadi sekitar 13,2 generasi yang lalu.

Dalam buku tersebut juga tercantum, berdasarkan hasil wawancara dengan tetua di Desa Bengkala di awal 1990-an, orang kolok pertama di desa tersebut lahir 7 generasi yang lalu. Sampai sekarang, pernikahan yang melibatkan orang dari Desa Bengkala kerapkali melahirkan anak-anak kolok.

Saya sendiri sempat bertemu dengan pasangan menikah yang istrinya tidak kolok dan suaminya kolok, melahirkan tiga anak yang tidak kolok. Di lain kasus, saya bertemu pasangan yang keduanya kolok, lalu melahirkan dua anak kolok dan satu anak tidak kolok. Perkara yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Yang mengkhawatirkan sebelum adanya sosialisasi soal gen resesif ini, masyarakat Bengkala meyakini bahwa kekolokan mereka itu karena kutukan, bahwa desa atau keturunan mereka dikutuk. Berkat penelitian ini, baru ketahuan bahwa ternyata tingkat kolok yang tinggi di Bengkala terjadi karena pernikahan bersaudara di masa lalu.

Karena komunitas kolok yang tinggi, PT Pertamina kemudian bekerja sama dengan FlipMas Ngayah Bali menjalankan beberapa program di Bengkala. Entah sebesar apa peran CSR ini. Namun, pihak-pihak yang telah saya sebutkan tadi selama beberapa tahun belakangan merancang-rancang rencana dan menjalankan beberapa program di Bengkala. Mereka membangun program bernama Kawasan Ekonomi Masyarakat atau disingkat saja dengan KEM.

KEM ini menurut masyarakat lokal Bengkala, berupaya melibatkan mereka secara dekat dengan berdiskusi atau ekskursi (pemetaan). Saya pikir sudah benar, karena tak ada yang lain yang mampu mengenali potensi dan kebutuhan desa lebih daripada masyarakat desa itu sendiri.

Lepas dari sowan ke Pak Arpana, saya dan beberapa teman kemudian mengunjungi KEM yang dimaksud. Kau tahu bunyi gemeletak ranting yang terinjak atau daun kering yang kau remas? Seperti itu suara tanah berkerikil di kawasan salah satu KEM yang menempati lahan sekitar lima hektar milik salah seorang warga bernama I Wayan Sandi.

Dalam tiap KEM, biasanya terdiri dari bale bengong (gazebo), wantilan (gazebo utama), bale tenun, dapur, rumah adat Kolok, rumah pemilik lahan, kamar mandi, sumur penampung air, kandang-kandang untuk hewan ternak (babi, sapi, ayam), sampai lahan untuk menanam sayur di musim penghujan. Persis inilah yang saya lihat di KEM ini. Hanya saja, lahan tanam itu sedang tak berfungsi karena kemarau. Tanah terlalu kering untuk ditanami apa pun.

Desa Bengkala Buleleng Bali Musim Kemarau - Astri Apriyani

I Wayan Sandi berusia 60 tahun, ini kolok. Istrinya sudah tak ada, tapi di lahan yang sama, tinggal pula anak, menantu, dan para cucu. Anak Sandi juga kolok, bernama Wayan Ngarda. Ia menikah dengan Kadek Sri Sami, yang tidak kolok. Keluarga ini adalah yang tadi sempat saya sebutkan tentang pasangan yang satu kolok dan yang lain tidak kolok lalu melahirkan anak-anak yang semua tidak kolok. Anak-anak Ngarda semua tidak kolok. Namun, meskipun tidak kolok, Sri Sami dan anak-anaknya fasih betul bahasa isyarat. Mereka bisa dengan lancar berkomunikasi dengan kolok Sandi dan kolok Ngarda. Tak ada masalah, dan tak ada yang aneh dari pemandangan itu.

Sejak menikah pada 1989, perempuan tidak kolok yang biasa disapa Mbok Sami ini, tinggal bersama Ngarda dan Sandi, beserta anak-anak dan cucu-cucu Mbok Sami yang terlahir normal. Mereka semua tinggal di lahan seluas hingga 5 hektar milik keluarga Sandi di Dusun Kelodan.

“Tanah ini jadi milik keluarga sudah bergenerasi-generasi. adat, bergenerasi-generasi. Orangtua saya normal. Anak-anaknya ada empat; yang tiga normal tapi sudah meninggal, dan satu lagi saya,” kata Sandi dibantu terjemahan bahasa isyarat oleh Ketut Sentanu, Kepala Dusun Kajanan.

Khusus di Bengkala, KEM mulai berjalan pada 8 Juli 2017. Program-programnya beragam, yang fokusnya meningkatkan kualitas pendidikan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat kolok di Bengkala pada khususnya. Target utamanya, life skill. Supaya dalam hidup, orang-orang kolok di Bengkala percaya diri, berdaya, dan punya kemampuan yang tidak berbeda dari masyarakat normal.

Tiap akhir pekan, kata masyarakat setempat, di KEM ini akan ramai orang. Di gazebo, biasa banyak orang—baik itu perempuan atau laki-laki, anak-anak atau orang dewasa—yang belajar atau berlatih tari, seperti Tari Jalak Anguci dan Tari Baris Bebek Bengkala. Di ruang yang lain, beberapa perempuan memilih belajar membuat kain tenun Bengkala atau belajar batik lukis. Ada pula yang lebih senang mendalami cara memproduksi jamu.

Desa Bengkala Buleleng Bali Membatik KEM Bengkala - Astri Apriyani

Contohnya, Ngarda di luar pekerjaannya sebagai buruh, ia kini jago menari. Ia salah satu penari yang kerap ikut rombongan tari kolok diundang keluar Bengkala. Sementara, Sri Sami jago membuat jamu. Ia dengan rutin membuat jamu-jamu, mengemasnya dengan apik bersama ibu-ibu lain yang tinggal di sekitar KEM, lalu menjual jamu-jamu itu dengan menitipkannya di warung-warung di Bengkala.

Saya beberapa kali mampir ke KEM. Satu kali ketika bukan akhir pekan. Di saat itu, KEM terlihat sepi. Hanya ada cucu-cucu kolok Sandi yang sedang asyik main air dan mandi-mandi di kolam renang mini. Ah, aktivitas paling pas di tengah kerontang Bengkala belakangan ini, benak saya yang kegerahan.

Desa Bengkala Buleleng Bali KEM Bengkala - Astri Apriyani

Satu kali saya mampir ketika akhir pekan. Benar saja, KEM terlihat meriah. Banyak orang yang melakukan hal macam-macam. Ada yang membatik, menenun, membuat jamu, atau latihan yoga dan tari. Tunggu, bagaimana bisa orang bisu-tuli menari? Bagaimana mereka mendengar musik pengiring tariannya? Itu juga yang saya pikir semula. Tapi, ternyata toh, tak ada yang tak mungkin di dunia ini.

 

Ketika Masyarakat Tuli-Bisu Menari di Desa Bengkala

Di sebuah dunia yang normal, para penari bergoyang mengikuti iringan dan tabuhan musik. Di dunia tuli-bisu, para penabuh menyesuaikan musik pengiring dengan lenggak-lenggok sang penari. Hasilnya sama: sebuah tarian yang memikat.

Siang itu di akhir pekan, area KEM ramai dengan orang-orang hilir-mudik. Anak-anak dan orang dewasa, laki-laki dan perempuan, berkumpul di wantilan, gazebo utama dan terbesar, di tengah KEM. Para perempuan telah siap dengan selendang yang mengikat di pinggang mereka. Para lelaki duduk-duduk di tepian wantilan, mengamati dengan tertarik apa yang para perempuan hendak lakukan. Sementara, saya menopang dagu memerhatikan gerak-gerik mereka yang setengah pemanasan setengah bercanda dengan bahasa isyarat.

Sesekali saya ikut tertawa karena mereka tertawa, padahal tak terlalu mengerti apa yang mereka becandakan. Saat itu, saya ingat betul, berharap saya bisa luwes dan mengerti bahasa isyarat. Saya ingat Khakha, salah seorang kawan yang fasih berbahasa isyarat. Well, ia memang menggeluti bidang itu secara akademis.

Salah seorang perempuan dewasa memberikan aba-aba dengan bahasa isyarat agar semua perempuan memusatkan perhatian pada dirinya. Nama perempuan itu adalah Pande Wayan Renawati. Ia adalah dosen Teologi Susastra Hindu di Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, yang juga adalah anggota FlipMas Ngayah Bali Divisi Kebudayaan dan Rohani.

Hari yang panas itu kemudian menjadi tentram dan damai karena situasi yang semula riuh, menjadi sunyi. Di wantilan itu, para perempuan yang semuanya kolok sedang melakukan pelatihan yoga, dipimpin oleh Ibu Pande yang memandu gerakan yoga dengan bahasa tubuhnya.

“Awalnya, pada 2016, saya dipercaya untuk mempersiapkan sesajen di Bengkala tiap kali ada acara-acara, karena sesuai dengan ilmu saya yang berkaitan dengan keagamaan. Namun, ketika akhirnya masuk di Divisi Kebudayaan dan Rohani di FlipMas Ngayah Bali ini, saya berpikir ulang, apa yang harus saya lakukan untuk Bengkala, yang sekiranya mereka juga butuhkan. Singkat kata, akhirnya saya ingin mengembangkan yoga,” tutur Ibu Pande di waktu senggangnya.

Yoga diharapkan mampu menjadi jalan bagi masyarakat untuk bermeditasi, menenangkan diri, mendamaikan jiwa, serta membangun kepercayaan diri. Dan, kembali kepada Enam Filsafat Agama Hindu (Sad Darsana), yoga diharapkan menjadi salah satu cara untuk menghubungkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui gerakan-gerakannya.

“Ada sekitar 35 gerakan, yang saya klasifikasikan menjadi beberapa tahap: pemanasan, dasar yoga, konsentrasi yoga, dan pendinginan. Lewat gerakan-gerakan yoga ini, saya ingin masyarakat kolok terutama lebih berbahagia. Sekarang, ada kepuasan tersendiri kalau melihat mereka tertawa bahagia selepas yoga,” cerita Ibu Pande.

Saya mengangguk-angguk paham. Saya bukan yogi, tapi saya rutin yoga di rumah tiap pagi. Saya mengerti kalau ada kedamaian dan kebahagiaan yang mutlak tiap kali selesai yoga. Mungkin itu yang dimaksud Ibu Pande.

Tidak berhenti pada yoga saja, gerakan-gerakan yoga tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah tarian bernama Tari Yogi Nandini—juga ciptaan Ibu Pande. Gerakan-gerakan Tari Yogi Nandini pada dasarnya sama dengan gerakan-gerakan yoga.

Kenapa bernama Tari Yogi Nandini? Sebab, yogi artinya orang yang melaksanakan yoga dengan penuh kepercayaan diri, suka cita, dan penghayatan jiwa raga. Sementara, Nandini yang artinya “menyenangkan” adalah simbol lembu betina yang melambangkan tak kenal takut dan kuat. Sama seperti Nandini dalam ajaran agama Hindu aliran Siwa. Jadi, gerakan Tari Yogi Nandini mencerminkan tarian yang penuh penghayatan dan kekuatan.

Jika Tari Yogi Nandini masih dalam tahap penyempurnaan dan belum pernah dipentaskan di depan umum sebelumnya, lain dengan Tari Jalak Anguci dan Tari Bebile ciptaan Ibu Dayu. Siang itu, di KEM, tak hanya Ibu Pande yang sibuk melatih tari masyarakat Bengkala. Ada pula Ibu Dayu.

Bernama lengkap Ida Dayu Tresnawati, perempuan yang sama kreatifnya dengan Ibu Pande, adalah anggota FlipMas Ngayah Bali bidang Kesenian, khususnya berkaitan dengan kesenian di Desa Bengkala. Ia sejak 2017 terlibat dalam pemberdayaan kesenian di Bengkala melalui tari-tarian.

“Tahun 2017, kami membuat program kesenian khususnya seni tari untuk orang-orang kolok. Mereka memang tidak bisa berbicara atau mendengar, tapi potensi dan keinginan mereka untuk berkembang melalui tarian itu terlihat di mata mereka,” kata Ibu Dayu.

Hingga kini, ada dua tarian yang telah diciptakan oleh Ibu Dayu. Keduanya adalah Tari Jalak Anguci dan Baris Bebek Bingar Bengkala (Bebile). Tari Jalak Anguci terinspirasi dari burung jalak. Jalak artinya burung, dan anguci artinya suara yang merdu. Ini menjadi perumpamaan bahwa biarpun para penari Jalak Anguci kolok, mereka bisa tetap berkomunikasi lewat tarian. Tarian ini diciptakan dalam waktu 2 bulan dan berdurasi sekitar 7-8 menit. Jalak Anguci ditarikan oleh dua perempuan kolok, bernama Luh Budarsih (19 tahun) dan Komang Reswanadi (13 tahun).

Desa Bengkala Buleleng Bali Tarian Bengkala - Astri Apriyani

Sementara, Tari Baris Bebek Bingar Bengkala (Bebile) menggambarkan semangat dari masyarakat kolok yang tetap ceria melakoni apa saja yang ada dalam hidup mereka. Ibu Dayu menggarap gerakan tarian ini dalam waktu 3 bulan. Berdurasi sekitar 8 menit, Bebile ditarikan oleh 7 lelaki yang kesemuanya kolok, yaitu I Wayan Ngarda, Wayan Sumendra, Made Subentar, Putu Juliarta, Made Karyana, Sugita, dan Made Sudarma.

Desa Bengkala Buleleng Bali Tari Jalak Anguci - Astri Apriyani

Kedua tarian ini diiringi oleh pemusik yang bisa mendengar dan berbicara yang terdiri dari 7 lelaki dan memegang alat musik yang berbeda-beda. Mereka adalah Ketut Ardike (kecek), Made Sumertanu (gong), Wayan Sumarta (suling), Jero Mangku Sayang (suling), Wayan Rediaka (kendang), Wayang Sutama (suling), dan Made Srikita (petuk dan kenang). Seperti selayaknya orang-orang tidak kolok di Desa Bengkala, mereka rata-rata mengerti dan bisa berbicara dalam bahasa isyarat.

“Bisa bahasa isyarat kolok, tapi kalau untuk mengiringi tarian ini, biasanya supaya tarian dan musik harmonis, antara penabuh dan penari itu kode-kodean. Antara penabuh mengangguk-angguk atau gerakan tangan, biar penari bisa lihat,” Wayan Rediaka pada kendang memberi bocoran.

Oh, jadi itu kuncinya. Semua tergantung pada kode yang sudah disepakati. Kode yang berupa gerakan.

Nuansa yang terpancar dari kedua tarian tersebut jauh berbeda dari kesyahduan Tari Yogi Andini. Tari Jalak Anguci dan Bebile menggunakan musik pengiring langsung dari permainan kelompok tabuh, sementara Tari Yogi Andini menggunakan rekaman musik.

Ketika sore itu akhirnya Tari Jalak Anguci dan Bebile ditampilkan di wantilan, banyak orang dari luar KEM kemudian berkumpul karena terpancing oleh genta gong, tepakan kendang, pukulan gendang besar, siulan suling, dan alat-alat musik lain yang bergaung di udara. Keriuhan kedua tarian ini tidak mereda hingga tarian selesai.

Bagi Ibu Dayu, awal mengajar masyarakat kolok cukup menantang, sebab ia sendiri semula tidak bisa berbahasa isyarat. Namun, hal itu tidak membuatnya patah semangat. Ada Pak Kanta yang membantunya menjembatani komunikasi antara dirinya dan penari kolok.

Pak Kanta adalah tokoh masyarakat yang dihormati dan dituakan di Desa Bengkala. Beliau bisa berbicara dan mendengar, tetapi menjadi penghubung yang sempurna antara dunia bicara-dengar dengan dunia bisu-tuli. Lelaki paruh baya yang bernama lengkap Ketut Kanta ini, sekarang memiliki jabatan Ketua Kelompok KEM 1 Kelodan, Desa Bengkala.

Selama di Bengkala, Pak Kanta adalah orang yang paling siaga membantu saya. Mau ketemu siapa, bisa bilang Pak Kanta. Mau ke mana, minta ditunjukkan jalan oleh Pak Kanta. Selain siaga, Pak Kanta adalah salah satu orang yang selama ini berperan penting untuk perkembangan taraf hidup masyarakat kolok Bengkala.

Sejak akhirnya kembali ke Bengkala setelah sempat merantau di kota, ia memfokuskan hidupnya di Bengkala untuk mengajarkan orang-orang kolok lebih berpendidikan, berkembang, dan punya kemampuan hidup. Caranya, dengan mengajarkan baca-tulis, mengajarkan life skill, membuat berbagai workshop, dan lain sebagainya. Bahkan sebelum Pertamina masuk ke Bengkala, ia bersama beberapa anggota masyarakat yang lain berkontribusi membuat Bengkala lebih berdaya, terutama untuk orang-orang kolok.

Kembali ke tarian, gerakan yang ditarikan oleh orang-orang kolok sengaja dibuat sederhana. Tujuannya, agar para penari kolok mampu mengikuti dan mencerna apa yang diajarkan. Keunikannya adalah jika selama ini dalam tarian, penari mengikuti melodi musik, kini para pemusiklah yang menyesuaikan gerakan penari yang kolok, tentu tetap disesuaikan dengan aba-aba dari para pemusik.

Desa Bengkala Buleleng Bali Tarian Bengkala 2 - Astri Apriyani

“Terjadi ketidaksinkronan itu sering. Memang tidak bisa sempurna seperti orang normal, tapi karena penabuh memberi kode dan penari menerima kode, kadang-kadang tarian tetap terlihat indah. Kalau lihat dari kejauhan, bahkan kadang-kadang ada yang tidak tahu kalau para penari ini sebetulnya kolok,” cerita Pak Kanta.

Betul kata Pak Kanta, jika saya tak tahu bahwa para penari ini bisu-tuli, saya tak bakal menduga. Sebab, gerak tari mereka walaupun tidak sempurna, tetapi sungguh selaras dengan musik pengiring. Kerja sama yang apik betul antara penari dan pemusik. Ini yang namanya main kode berbuah manis.

 

Pendidikan Orang-Orang Kolok di Bengkala

Sore akhirnya datang. Matahari terbenam, turun semakin jingga. Orang-orang pulang ke rumah masing-masing. Baru petang saja, Bengkala sudah sepi. Melihat orang-orang membubarkan diri, saya dan teman-teman ikut pulang ke penginapan terdekat di Buleleng. Weekdays besok datang. Rata-rata orang kolok akan kembali bekerja, entah sebagai petani, buruh, gali kubur, dan lain-lain. Yang jelas, saya bakal kembali lagi ke desa ini esok hari.

Di luar berbagai pelatihan untuk orang-orang kolok yang dilakukan oleh banyak pihak, ada satu agenda yang bisa dibilang paling penting. Yaitu, pengentasan buta huruf untuk orang-orang kolok dewasa dan anak-anak. Lingkaran kemiskinan pada orang kolok di Bengkala entah sudah dimulai sejak kapan. Yang jelas, lingkaran itu seperti belum ingin terputus—tapi ada titik terang.

Saya kembali ke Bengkala ketika sore baru awal dan petang belum datang. Karena ini awal pekan, banyak anak masih belajar di sekolah dan orang dewasa bekerja. Bagi orang-orang kolok, sejak KEM hadir, ternyata ada beberapa program khusus di bidang edukasi. Di antaranya, program Aksara Kolok Kelih yaitu pengentasan buta huruf untuk orang-orang kolok dewasa; program pendidikan SMP pra inklusi; dan di masa depan, akan dikembangkan SMP Inklusi Satu Atap di Desa Bengkala untuk memfasilitasi anak-anak kolok dan non-kolok lulusan SD agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya.

Desa Bengkala Buleleng Bali SD Inklusif Bengkala - Astri Apriyani

“Dari data desa tahun 2018, ternyata banyak anak kolok yang putus sekolah. Mereka sudah lulus SD, tetapi tidak bisa meneruskan SMP karena harus sekolah di kota. Di desa, kan, memang belum ada, jadi memang terbatas. Karena itu, kami programkan SMP pra inklusi,” lanjut Ajar Darmawan, Spv. HSSE DPPU Ngurah Rai. Ia menemani saya hari itu untuk mampir ke beberapa sekolah.

Saya sedang berada di SDN 2 Bengkala. Bangunannya tak jauh beda dengan sekolah-sekolah dasar negeri di Jakarta; sederhana dan apa adanya. Lapangannya tidak terlalu besar, tetapi rindang. Ketika saya memasuki ruang kelas, ia tak ber-AC tetapi teduh. Papan tulisnya masih menggunakan kapur, belum berspidol. Saya duduk sejenak di kursi dan meja kayu yang panjang, bernostalgia masa kanak-kanak. Termenung sebentar, tapi kemudian sadar.

Pak Kanta dan Pak Arpana menyusul datang ke sekolah. Disusul lagi oleh beberapa anak kolok yang hendak belajar dan beberapa pengajar yang rupanya adalah mahasiswa dari Universitas Pendidikan Ganesha. Mereka menyusul masuk ke ruang kelas tempat saya duduk tadi.

Desa Bengkala di Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, dikenal dengan sebutan Desa Kolok tanpa alasan. Dari lebih 3.000 jiwa di Desa Bengkala, terdapat sekitar 48 orang mengalami tuli-bisu atau dalam bahasa Bali disebut kolok. Sebagian besar masyarakat kolok di Desa Bengkala hingga saat ini tidak melek aksara. Dari total kolok di desa tersebut, hanya ada 4 orang yang berpendidikan SMP, 5 orang lulus SD, lalu sisa 39 orang masih buta huruf.

Selama ini, Desa Bengkala sudah memiliki sekolah inklusi milik desa bernama SDN 2 Bengkala. SD yang sudah ada sejak 1978 dan semula adalah SD umum ini, pada 2007, berubah menjadi SD Inklusi. Anak-anak normal dan kolok bisa belajar bersama berdamping-dampingan. Saat ini, jumlah siswa di SDN 2 Bengkala ada 78 orang, termasuk 4 siswa kolok. Sementara, untuk guru pendamping khusus di SD, sekarang ada dua orang.

“Sebelum 2007, komunitas tuli-bisu di Bengkala tidak mengenyam pendidikan. Namun, setelah ada inklusi, anak-anak kolok bisa belajar. Mereka ditempa berbagai ilmu matematika, sains, dan juga diajarkan tiga bahasa isyarat yang berbeda; lokal, Bisindo, dan ISL. Mereka diajarkan bersaing,” ujar I Made Arpana, Kepala Desa Dinas Bengkala yang sebelumnya sempat ditemui di kantor desa.

Di sekolah itu, anak-anak kolok yang baru datang mengucapkan “halo” dalam bahasa isyarat. Rata-rata dari mereka berusia sekolah dasar. Salah satunya ada Ariana.

Orang Kolok Desa Bengkala Buleleng Bali - Astri Apriyani

Anak lelaki bernama lengkap I Ketut Ariana (14 tahun) ini beberapa tahun lalu diundang ke Jakarta. Ia bersama 12 orang tuli-bisu lainnya menyanyikan Indonesia Raya dengan bahasa isyarat di acara pembukaan Asian Para Games 2018. Ariana adalah salah satu anak kolok yang lulus SD Inklusi dan memegang ijazah SD. Saya yang tak bisa berbahasa isyarat mendapat bantuan dari seorang warga lokal Bengkala saat mengajak Ariana berbincang-bincang.

Desa Bengkala Buleleng Bali Orang Kolok Tuli Bisu - Astri Apriyani

Ariana cerita, ketika sekolah, ia belajar dan bergaul bersama orang normal tanpa batasan. Wajahnya sumringah, bahkan ia mengakui kalau ia senang belajar. Hanya saja, dalam bahasa isyarat ia mengatakan, kalau sekolah lanjutannya jauh di kota. Oleh karena itu, ia putus sekolah.

Itu kenyataannya. Di Bengkala, SD Inklusi—yang memungkinkan orang-orang kolok untuk sekolah berdampingan dengan orang-orang tidak kolok—ternyata belum cukup untuk dapat mengeluarkan masyarakat kolok dari buta huruf. Banyak orang kolok dewasa yang tidak bisa ikut bersekolah di SD Inklusi karena faktor usia yang tidak memenuhi syarat. Banyak juga anak kolok yang sudah lulus SD Inklusi dan ingin meneruskan sekolah, akhirnya harus putus sekolah karena SMP Inklusi terletak jauh dari desa. Mereka juga seringkali lebih memilih bekerja untuk membantu ekonomi keluarga.

“Ini yang akhirnya menggerakkan Pertamina bersama FlipMas Ngayah Bali untuk mengadakan program edukasi nonformal di Desa Bengkala bernama Sekolah Inklusi Pra SMP. Jadi, masyarakat kolok Bengkala yang ingin belajar atau meneruskan sekolah setelah lulus SD Inklusi, tidak perlu jauh-jauh ke kota. Waktu belajar pun bisa dipilih. Mengingat banyak yang memilih bekerja pada pagi sampai siang hari, maka sekolah bisa dilakukan sore hari,” ucap Ajar.

“Dimulai pertengahan 2017, ada tiga komponen dalam program edukasi ini. Terdiri dari keaksaraan dasar di mana masyarakat kolok belajar calistung, keaksaraan fungsional di mana mereka memelajari ilmu alam, ilmu sosial, berhitung, dan lain-lain lewat keterampilan sosial, lalu baru menginjak pendidikan SMP Inklusi. Akhirnya, bentuk pendidikannya adalah SPNF (Satuan Pendidikan Nonformal). Kenapa nonformal? Karena usia yang ingin belajar berbeda-beda, tidak bisa dijadikan pendidikan formal,” tutur I Wayan Karyasa, anggota FlipMas Ngayah Bali Divisi Pendidikan, yang juga adalah dosen Universitas Pendidikan Ganesha.

Program edukasi ini sehari-harinya bisa terus berjalan karena bantuan Pak Kanta yang berlaku sebagai guru juga pembina program, serta para tutor yang merupakan mahasiswa dari Universitas Pendidikan Ganesha. Di sela jadwal kuliah yang padat, para tutor ini secara sukarela mengajar masyarakat kolok, baik di KEM atau ruang kelas SDN 2 Bengkala.

Desa Bengkala Buleleng Bali SDN 2 Bengkala - Astri Apriyani

Saya menyaksikan sendiri proses belajar anak-anak kolok di SDN 2 Bengkala sore itu. Kelas Sekolah Inklusi Pra SMP biasa diadakan sore hari (Senin-Kamis), karena pada pagi hari, sekolah ini berfungsi sebagai SD Inklusi. Sepanjang kegiatan belajar, bahasa isyarat jadi bahasa pengantar untuk menjelaskan pelajaran. Tentu saja, para tutor mesti sudah luwes berbahasa isyarat. Saya bisa lihat, anak-anak ini antusias untuk belajar. Mereka rajin mencatat semua pelajaran di buku yang mereka bawa. Sesekali, mereka bahkan berani maju ke depan kelas untuk mencoba menulis di papan tulis.

“Pak Karyasa sudah memberi instruksi sebelum kami terjun langsung ke Desa Bengkala, bahwa kami akan mengajar orang kolok. Jadi, hal pertama yang kami persiapkan adalah belajar bahasa isyarat. Waktu itu, belajarnya Bisindo di YouTube. Minimal tahu alfabet. Tapi waktu awal-awal, kami sempat shock juga. Ternyata tidak semudah itu. Untung ada Pak Kanta yang intens membantu,” ucap Kadek Daivi Wahyuni dan Ni Putu Riska Novelia yang sudah dua tahun menjadi tutor di Desa Bengkala. Mereka diajak oleh I Wayan Karyasa, yang kebetulan adalah dosen mereka di kampus Undiksha.

Tahun 2017, program Aksara Kolok Kelih sudah dilakukan dengan peserta adalah orang-orang kolok dewasa (kelih artinya dewasa) produktif yang belum pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Mereka belajar keaksaraan dasar. Hasilnya, kini ada sekitar 8-10 orang yang aktif di KEM sudah bisa calistung. Sementara, program yang kini sedang berjalan adalah keaksaraan fungsional untuk kolok kecil atau anak-anak.

“Aksara dasar pengetahuannya setara dengan SD kelas 1-3 SD, sementara aksara fungsional itu grade-nya setara dengan kelas 4-6 SD,” tambah I Wayan Karyasa.

Dalam keaksaraan fungsional, ada lima mata pelajaran yang sudah dimulai sejak tahun lalu. Ialah belajar mejejahitan (canang, sesajen), memasak, belajar batik lukis, membuat keripik, dan menyulam. Yang belum terlaksana adalah membuat dupa. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta program menjadi objek pendidikan. Selayaknya sembari menyelam minum air, mereka bisa belajar ilmu berhitung atau ilmu alam sekaligus melatih life skill yang bisa digunakan di kehidupan nyata.

Program edukasi Sekolah Inklusi Pra SMP ini memang belum berjalan lama, tetapi Pak Kanta sebagai pendamping masyarakat kolok, merasakan perubahan positif yang sudah terjadi secara bertahap. Masyarakat kolok kini lebih berani untuk berkomunikasi dan bersosialisasi. Mereka pun pelan-pelan melek aksara dan bisa calistung.

“Ke depannya, pada 2019, kami fokus untuk merealisasikan SMP Inklusi di Desa Bengkala,” tutup Pak Ajar.

Perjalanan yang awalnya saya pikir hanya sekadar pekerjaan, rupanya bisa juga membangkitkan semangat pribadi untuk belajar. Melihat orang-orang kolok di Bengkala yang membara betul semangatnya buat cari ilmu, sukses bikin saya ikutan terpicu. Semoga harapan di masa datang warga Bengkala bisa tercapai: Desa Bengkala bisa siap menjadi destinasi wisata minat khusus atau desa wisata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s