Touring hingga ke The World’s Second Highest Road Chang La, Nubra Valley, dan Pangong Tso

Di hari ketiga, saya dan G sudah berhasil mencapai Khardung La, the world highest motorable road in the world (at that time). Di sisa hari touring di Ladakh, India, saya pikir sudah tak ada lagi yang mampu mengalahkan excitement saat di Khardung La. Ternyata, tidak demikian.

Sandy and rocky hill or mountain in Ladakh India - Astri Apriyani

Kami masih punya waktu dua hari touring dengan teman-teman Ride of My Life sebelum akhirnya kembali ke pusat kota Leh. Seperti layaknya perjalanan, yang paling nikmat itu memang prosesnya, bukan cuma ketika tiba di destinasi. Maka, okelah betapa gembiranya saya ketika bisa mencapai Puncak Khardung. Namun, di hari keempat dan hari kelima, banyak momen perjalanan yang membuat saya jatuh cinta berulang-ulang kali pada touring kali ini.

 

Day 4

Kami terbangun di kawasan Sumoor yang berketinggian sekitar 3.300 mdpl. Maka, di pagi hari, hawa dingin langsung menyergap. Untuk membayangkan, mungkin seperti ketika terbangun di puncak Gunung Slamet? (saya pribadi belum pernah mendaki Slamet, tapi ketinggiannya mirip).

Di hari keempat ini, dari Sumoor, kami akan menelusuri jalan hingga ke sebuah daerah bernama Spangmik. Ia adalah nama desa terpencil yang berada di tepi Pangong Tso alias Danau Pangong, yang masih ada dalam kawasan Ladakh, Jammu-Kashmir region. Total perjalanan hari keempat ini sekitar 130 km, dengan waktu tempuh dikira-kira sekitar 7 jam.

Sebelum berangkat, kami memenuhi perut dengan sarapan yang disediakan oleh penginapan. Sarapan sederhana ini biasa berupa roti panggang dengan selai, beragam varian masakan telur (rebus, omelet, scramble, dan lain-lain), juga kari.

Sarapan jadi penting selama touring karena kita akan terus-menerus berada di atas sepeda motor hingga waktu jam makan siang. Kita akan menelusuri jalan-jalan antah-berantah, di mana tak ada warung makan bahkan yang paling sederhana sekalipun. Karena itu, SARAPANLAH! Dan, tentu saja, stok camilan yang banyak dan simpan di tempat yang mudah diraih.

Baca juga The Best Ride of My Life (So Far) to the World’s Highest Motorable Road: Starting Point Leh, India 

Dari Sumoor ke Spangmik

Setengah perjalanan hari ini adalah tentang rute dari Sumoor ke Tangtse. Sumoor seperti yang saya ceritakan di blogpost sebelum ini, adalah kawasan lebih rindang dan banyak sand dunes. Jalanan Sumoor adalah aspal mulus nan lurus.

Dari Sumoor, arahkan Royal Enfield ke Khalsar. Baru dari sinilah, kita akan menemukan rute mengarah ke Nubra Valley. Sepanjang jalan, kami bertemu dengan jalanan rusak, jalanan berkerikil, jalanan yang melewati aliran sungai, sampai jalanan yang melewati genangan air.

Nubra Valley, the most popular valley in India or in the world maybe - Astri Apriyani

Ketika lembah yang semula kecoklatan berubah menjadi padang rumput hijau dengan hewan-hewan gembala yang asyik bersantap di sana, itu tandanya kita memasuki wilayah Nubra Valley. Ketika kita sampai di pertemuan antara Sungai Shyok dan Nubra, berarti betul kita sudah tiba di lembah terkenal ini.

Nubra adalah salah satu lembah paling populer di dunia. Di sini, tak hanya pegunungan dan perbukitan saja, tetapi juga ada sungai dan danau di sepanjang sudut.

Nubra adalah lembah memanjang yang sesungguhnya memotong Pegunungan Karakoram dengan Ladakh Range. Karena itu, di wilayah ini, kita akan banyak disuguhi pemandangan pegunungan dengan puncak bergletser dan berundak-undak. Jalan aspal mulus membentang di tengah. Kabarnya, jalan ini diaspal oleh militer dan road corps. Namun, karena cuaca, sebagian kecil bagian jalan hancur. Entah karena tersapu aliran air, tergenang banjir, atau berlubang dan berkerikil.

Through Nubra Valley Jammu Kashmir Ladakh Gopro Shot - Astri Apriyani

Lepas dari kondisi jalan, keindahan Nubra terkenal sampai ke seluruh dunia bukan tanpa alasan. Sayang, waktu itu kami datang bukan di bulan September. Mulai September, biasanya di Nubra adalah musim bunga bermekaran. Barisan pohon poplar akan menguning indah, ladang gandum juga menguning. Ditambah dengan warna-warna bunga liar berwarna-warni, membuat Nubra berkali-kali lipat lebih indah tak ada dua.

Saya dan G menyempatkan diri berhenti di Nubra. Kami memandangi para kuda hidup bebas di alam lepas. Saya melambai-lambai ke arah mereka, tapi mereka sibuk makan rerumputan. Average altitude Nubra adalah 3.048 mdpl. Oksigen masih banyak, tak terlalu tipis. Udara juga segar sekali—meski dingin.

Kami lanjutkan perjalanan menuju Tangtse. Sesekali, kami melewati kawasan militer India berwarna coklat muda yang seperti berkamuflase dengan bukit-bukit pasir di sana. Saya sempat penasaran dengan aktivitas sehari-hari para tentara di dataran tinggi ini. Belakangan ini, akhirnya terjawab. Kawasan Ladakh, Jammu-Kashmir, ini memang area perbatasan riskan yang sewaktu-waktu bisa terjadi bentrokan.

Tangtse wajib kita singgahi karena di sini kita kembali melakukan permit check. Dan, dari rute panjang ratusan kilometer hari ini, hanya di kawasan Tangtse inilah tempat kita punya cukup banyak pilihan untuk makan siang. Menu makan siang saya coba tebak apa? Ya betul, tak lain tak bukan adalah momo dan mie instan Maggie pakai telur andalan. Meski makan di warung-warung kecil sederhana, tapi kalau pemandangannya pegunungan megah, sih, rasanya jadi mewah.

Lunch break after permit check Ladakh India - Astri Apriyani

Dari Tangtse, kami menuju titik akhir touring hari itu, yaitu Spangmik. Di Spangmik, kami akan menginap satu malam di penginapan yang lanskap di halaman depan adalah Pangong Tso dan di halaman belakangnya adalah Karakoram.

Kami meninggalkan Nubra yang teduh itu di belakang. Rasanya masih belum puas, tapi perjalanan harus dilanjutkan agar kami tak kesorean tiba di Spangmik. Di bagian ini, tak ada kendala yang terlalu berarti hingga akhirnya kita tiba di sebuah panorama paling epik seumur hidup saya.

Ketika motor menderu di jalan yang sepi dan lurus, dari kejauhan tiba-tiba melela danau raksasa yang airnya berkilau-kilau. Sebagai background, jajaran pegunungan mengelilingi danau tersebut. Kedatangan di Pangong Tso bertambah epik karena muncul pelangi di atas danau yang airnya kali itu berwarna biru gelap. Kabarnya, air danau Pangong kerap berubah-ubah tergantung musim, mulai dari biru tua hingga emerald.

Tak terasa, kami tiba di ketinggian 4.300 mdpl. Danau megah yang saya lihat itu adalah Pangong Tso, yang terakhir saya ke sana, hanya bisa diakses melalui sisi bagian India (tidak di bagian Tiongkok). Bagi orang India, air di danau ini dianggap sebagai sumber air suci yang tak boleh dijamah dan harus dijaga. Ia juga menjadi sumber air bersih tak hanya di banyak kawasan India, tapi juga Tibet, Tiongkok, dan negara-negara lain di sekitarnya.

Pangong Tso Spangmik Jammu Kashmir - Astri Apriyani

Entah mungkin dipaksa istirahat oleh semesta, ketika tepat tiba di penginapan, hujan turun deras. Padahal tadinya, mau letakkan dan simpan barang dulu di penginapan lalu kembali ke Pangong Tso untuk menikmati keindahannya dari dekat. Tapi, rencana gagal. Akhirnya, kami hanya bisa memandangi kemegahan Pangong Tso dari jarak jauh.

Satu hal yang saya sadari, jika dalam bayangan, area Pangong Tso adalah kawasan yang masih alami, ternyata tidak. Di sepanjang tepi danau, sudah banyak berdiri penginapan dan warung makan yang mengerubungi danau. Dalam hati, ini mengganggu pemandangan. Tapi, di sisi lain, kita bakal kesulitan mencari tempat berteduh atau menginap kalau tak ada bangunan ini. Perasaan saya bimbang memikirkan hal ini.

Hari itu, akhirnya dihabiskan hanya di penginapan. Kami memandangi dari balkon hujan yang tak kelar-kelar hingga malam. Dingin semakin menyergap, tapi untung, saya tertidur dengan hati hangat.

 

Day 5

Baru kali ini selama touring, saya terbangun dengan menggigil parah. Dingin sungguh pekat. Saya pikir hujan bisa lebih menghangatkan, tapi kali ini tidak. Sialnya pula, fasilitas air panas di penginapan yang kami pilih di Spangmik ini tidak berfungsi baik. Alhasil, air panas yang semula berfungsi, di tengah mandi, hilang. Saya keluar kamar mandi dengan tubuh yang berasap, karena suhu udara yang dingin bertemu dengan suhu tubuh saya yang hangat.

Hanya saja, begitu mengingat ini hari terakhir saya dan G ikut touring, gigil ini berubah sendu. Seperti ada perasaan menggantung, hendak berpisah dengan salah satu sumber kebahagiaan. Seperti mau tak mau harus merayakan akhir, tapi belum seutuhnya rela. Maka, sarapan pagi itu—setelah mandi air dingin yang cukup menyiksa—terasa hambar. Hangat di perut, tapi tak nyaman di lidah. Kenyang di perut, tapi tak mengenyangkan hati.

Semua berubah ketika akhirnya keluar dari restoran penginapan yang serba kayu itu. Langit cerah. Mendung dan hujan sudah habis kemarin. Tanah memang masih basah, tapi melihat awan sudah ginuk-ginuk putih bersih di atas sana, ada harapan yang terbit. Saya pikir, rasanya hari ini harus dinikmati seutuh-utuhnya. Maka, itulah keputusan terakhir saya.

 

Dari Spangmik Kembali ke Leh

Rute hari kelima touring adalah dari Spangmik kembali lagi ke Tangtse lalu mendaki hingga ke Chang La dan berakhir di Leh. Hari itu akan ada 160 km jarak yang mesti dijajal, dengan total waktu sekitar 8 jam jika lancar.

Karakoram Range Spangmik Pangong Tso Ladakh India - Astri Apriyani
Karakoram Range tepat di belakang penginapan di Spangmik.

Untuk kali ini, saya ucapkan selamat tinggal dulu kepada Pangong Tso dan Karakoram Range yang indah. Saya berdoa semoga bisa kembali lagi. Jujur, di hari kelima ini, bokong saya sudah mulai tak keruan rasanya. Namun, saya kemudian tahu diri. Kalau saya saja begini, bagaimana G yang membawa Royal Enfield ini sendirian? Pasti berkali-kali lipat lebih lelah.

Highlight perjalanan hari ini tentu saja Chang La (5.300 mdpl), yang waktu itu (di tahun 2018) digadang-gadang sebagai The World’s Second Highest Road setelah Khardung La. Bahkan, ada papan batu yang mengumumkan hal tersebut.

Sebelum mencoba meraih ketinggian 5.300 mdpl, dari Tangtse, kami mampir dulu di Durbuk. Sekali lagi, kami berhenti untuk permit check. Karena memang touring bareng operator, segala urusan cek izin ini sudah diurus oleh Gaurav, touring leader kami. Jadi, saya dan G hanya tinggal terima jadi.

Setelah itu, tak jauh berbeda dengan medan ketika menuju Khardung La, kami mulai menemui jalan berliku-liku dan menanjak. Kadang-kadang, hanya berliku-liku saja baru kemudian menanjak. Kadang-kadang, berliku-liku dan dalam waktu yang bersamaan juga menanjak. Yang kedua ini sungguh sulit. Apalagi kenyataannya, jalanan yang dilewati rusak, berkerikil, dan berpasir. Ada apa, sih, ya dengan jalanan berkerikil dan berpasir? Kenapa jalanan macam ini bikin kita rentan jatuh dan meleset?

Selama 7 kilometer, kami menanjak dan turun Chang La. Seperti tadi yang saya bilang, jalanannya tak beraspal. Lebih berkerikil dan berpasir, sesekali juga berlubang. Di satu sisi jalan, kita selalu bersisian langsung dengan jurang. Sementara, di sisi yang lain adalah dinding gunung yang terdiri dari bebatuan, yang sewaktu-waktu bisa longsor. Untunglah, hari itu kabut tidak terlalu tebal.

Teman dari Singapura sempat terjatuh tepat di depan kami ketika melalui jalanan berliku dan menanjak. G bahkan harus berhenti dan membantu motornya kembali bangkit. Melihat itu, hati saya sempat mengkerut juga. Perjalanan ini memang penuh risiko. Tapi, saya lalu mengingat tempelan stiker di kaca penginapan di Leh. “Falling is not a crime. Lack of effort is.

Hingga akhirnya, kami tiba di Chang La. Hore! The world’s second highest road in the world. Double horray! Sama seperti di Khardung La, kami tiba ketika puncak sedang ramai. Banyak mobil travel dan motor yang diparkir berjajaran di sana. Semua orang sedang sibuk antre foto di papan batu bertuliskan Chang La. Setelah akhirnya berhasil foto, kami bergegas turun dari ketinggian 5.300 mdpl itu. Sebab, kenyataannya memang kita tidak diperbolehkan berlama-lama di sana. Jika terlalu lama, kita akan riskan terkena AMS (Acute Mountain Sickness). Jangan lebih dari 20 menit.

The World's Second Highest Road Chang La India - Ladakh Jammu Kashmir - Astri Apriyani

Saya dan G kembali naik ke Royal Enfield Classic 500 cc andalan kami selama 5 hari ini. Kami sedang menyusuri jalan turun dari Pass ketika tiba-tiba salju turun deras. Saya pribadi dalam hati bahagia karena ketemu salju lagi setelah sekian lama. Namun, G pasti mencak-mencak karena jalanan jadi licin dan berlumpur.

Jika biasanya saya dan G berbincang sepanjang jalan, kali itu saya diam. Membiarkan G fokus pada jalanan. Kali ini, kabut mulai menebal. G semakin berhati-hati dan memelankan motor. Terutama ketika kami baru saja melewati kerumunan yang menyaksikan sebuah mobil putih jatuh ke jurang. Astaga. Saya bahkan eratkan pegangan kepada G, seolah itu bakal membantu kalau kami jatuh.

Dalam diam, di tengah salju yang tiba-tiba turun, saya putar kembali memori lima hari terakhir. Kalau dipikir-pikir keindahan yang tiap detik saya lihat belum sepenuhnya saya syukuri. Perayaan sudah bisa menjejakkan kaki di Khardung La dan Chang La saja belum saya rayakan dengan cara yang pantas. Karena itu, saya terkesiap. Semoga Tuhan tahu kalau saya bersyukur.

Ladakh India Astri Apriyani

Dari Chang La, jalanan terus menurun. Hingga akhirnya kami tiba di jalan mendatar dan tanpa sadar sudah tiba di area bernama Karu. Di sini, banyak monastery mulai kelihatan di atas bukit di kejauhan. Desa-desa dan perumahan di tepi jalan mulai jadi pemandangan biasa. Ini artinya tak lama lagi kami bakal tiba di Leh. Dan, benar saja, tak sampai sore, hari itu kami kembali ke Hotel Khasdan, hotel tempat pertama kali kami menginap di awal touring ini. Kami selamat sampai di Leh.

Touring Ladakh bagi saya dan G berakhir di sini. Namun, bagi teman-teman yang lain, mereka masih harus melanjutkan perjalanan tiga hari lagi dengan titik akhir di Manali. Perpisahan tak bisa lagi dielakkan. Tapi, setidaknya kami sudah sama-sama menikmati pengalaman luar biasa yang bahkan sampai bisa diberi titel “one of the best ride of our life”.

Terima kasih, Ride of My Life, Gaurav dan Murfi sebagai road captain. Terima kasih, teman-teman seperjalanan dari berbagai negara. Terima kasih, Jammu-Kashmir, atas sambutan indahnya. Semoga suatu hari kami bisa kembali lagi. Namun, untuk kali ini, izinkan saya mengingat kembali perasaan gembira saat akhirnya bisa menikmati makanan, cake, dan kopi enak di Leh. Dan, mandi air hangat yang nyaman… oh, air hangat!

Akhir kata, julley, Ladakh. I miss you.

 

Catatan:
* Kini, gelar The World’s Highest Motorable Road in the World dan The World’s Second Highest bukan lagi dikantongi oleh Khardung La dan Chang La. Sekarang, mereka ada di posisi 10 dan 11. Daftar Top 10 The Highest Motorable Road in the World ada di situs Devil on Wheels.

** Sebagian besar foto lanskap saya ambil ketika motor jalan, ketika kami menderu di atas aspal.

*** Kalau ada yang bertanya-tanya dalam hati atau benak, “Kok nggak ada culture-culture-nya lo, Tre, di Ladakh?” Well, memang mau dibuat terpisah. Habis ini ada satu tulisan lagi ya soal Ladakh edisi ke biara, soal nyaris ketemu Dalai Lama, soal stupa, soal rumah-rumah khas di Ladakh, dan lain-lain.

4 Comments Add yours

  1. adnabilah says:

    Super gorg pics & seems like you had an incredible time Kak. Meskipun daerahnya arid tapi cantik in its own way, kayak di pegunungan Andes yang emang tone-nya coklat2 tanpa penghijauan gitu. Thanks for sharing! Hi from a new reader 🙂

    1. Atre says:

      Thank you sekali sudah mampirrrr.

      Iya, meskipun berpasir dan coklat gitu, tapi indahnya magis. Aduh, sayang aku belum pernah ke Andes. Huhuhu.

  2. Selesai membaca ini, aku mbayangin kalau motoran bareng Bettam disana pasti aku minta beberapa kali berhenti karena dingin kebelet pipis. Hahahaha

    1. Atre says:

      Persoalan banget sih cari tempat pipis kalo di tengah wilayah terbuka tanpa pohon gitu, Kak. Huhuhuhu. Lain kali pokoknya mesti bawa minimal sarung, buat nutupin kalo pipis hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s