[Fiksi] Kei Pulang

“Para lelaki itu mesti pergi, tapi ia juga mesti pulang. Sebab ada yang dikasihi dan mengasihinya di rumah,” aku sudah hapal betul Gol A Gong bilang ini berulang kali. Si Roy yang Mas Gong sendiri kesankan begajulan dan brengsek dalam novel-novelnya itu toh ternyata paham soal ini. Bahwa dalam setiap perkelanaan, harus selalu ada perjalanan…

[Fiksi] Ujian Kerasukan Setan

Sebutlah saja ini sebuah dongeng, bisa saja ini betul terjadi atau hanya dalam khayalan si pendongeng. Hanya saja yang berbeda, tidak seperti layaknya dongeng yang manis serta berbunga-bunga, cerita ini lebih serupa mimpi buruk–yang ketika kita tidak mengingatnya, ia terlupakan, dan ketika kita mengingatnya, kita tidak punya jalan keluar meski memikirkannya masak-masak.

[Fiksi] Negeri Dikangkangi Cumi-cumi

Ada hari-hari ketika manusia tidak terlalu suka pada apa yang dijalani tapi toh harus ia jalani juga. Bukan untuk sekadarnya, tapi untuk tahu bahwa ia kuat dan mampu bertahan. Mungkin seperti yang sedang Dama rasakan belakangan ini.

[Fiksi] Daun Ek dan Perempuan Poni

Aku merasa salah satu daun ek yang jatuh sore itu di Central Park tidak gugur langsung ke jalan setapak yang bertumpuk salju di hadapanmu. Ia terbang jauh menyisir-nyisir udara, kadang-kadang terbang sangat tinggi, kadang-kadang nyaris sekali menyentuh daratan, tapi kemudian ia sampai di lautan dan tertiup angin yang membuatnya tinggi lagi.

[Fiksi] Perempuan Malaikatku, Raya

Aku tak pernah memilih untuk jatuh cinta kepada siapa. Aku juga berharap, jodohku nanti tak sulit digapai; tak sesulit berenang melawan arus atau mendaki puncak Himalaya. Tapi, ternyata, hidup tak selalu berjalan mulus seperti keinginan kita. Masing-masing orang harus setidaknya sekali merasakan kepahitan.

[Fiksi] Diamlah Sediam yang Kaubisa

Pernah suatu ketika, seorang lelaki datang dan menyempatkan diri duduk di sampingku. Dalam diam saja. Tak berkata apa-apa. Ia bilang, “Aku temani, ya.

[Fiksi] Pencinta Kenangan yang Lupa Kenangan

Di sebuah bangku taman di kota Semarang, duduklah Kirana. Sore ini gadis itu duduk sendirian; murung, letih. Tidak terasa sudah dua tahun yang lalu sejak kepergian Lelakinya yang pergi ke Jakarta. Tidak tahu kapan akan kembali, atau tidak akan pernah kembali?

[Fiksi] Satu Datang, Satu Hilang

Nenek dan kakak ibu datang ke rumahku setelah ibu pergi dari rumah selama beberapa minggu. Nenek bilang, ibu sudah ada di rumah nenek, setelah pergi menenangkan diri dan bersembunyi dari ayah ke luar kota. Di awal Ramadhan, aku yang baru berusia 11 tahun belum mengerti benar apa yang terjadi.

[Fiksi] Matahari, Ajak Aku Jatuh Cinta

19 Mei 2007 Jakarta siang ini mendung. Akhir pekan yang cukup panjang—sejak Kamis—menyebabkan jalanan ibukota lengang. Sebagian manusia yang biasanya sibuk dengan pekerjaan lari, bersembunyi sebentar, istirahat. Liburan. Lari dari rutinitas, lari dari aktivitas kerja yang menjenuhkan.