[Fiksi] Kei Pulang

“Para lelaki itu mesti pergi, tapi ia juga mesti pulang. Sebab ada yang dikasihi dan mengasihinya di rumah,” aku sudah hapal betul Gol A Gong bilang ini berulang kali. Si Roy yang Mas Gong sendiri kesankan begajulan dan brengsek dalam novel-novelnya itu toh ternyata paham soal ini. Bahwa dalam setiap perkelanaan, harus selalu ada perjalanan…

[Fiksi] Musim-musim

Apa ada cinta yang selamanya, yang tahan meski diamuk siang dan malam, yang baginya senja itu tidak pernah tua meski ratusan kali dilumat sama-sama, yang seperti dedaunan musim gugur– memerah, terbang, dan mati bahagia berdua? Aku tidak pernah tahu nasib membawaku ke mana, Sayang. Tapi, jika hidupku bisa melengkapi hidup kau, bahkan hanya dalam waktu…

Pagi di Malang

Saya membayangkan betapa tenangnya hidup ini jika ia selalu ada di samping saya. Mulai dari menikmati pagi bersama kopi, hingga menghabiskan senja sama-sama di dermaga, lalu bersemayam dalam pelukan ketika malam.

“Hati-hati Kau…”

Saya menyayangimu, Tjuk. Sebesar apa yang terkatakan ataupun tidak pernah bisa dikatakan. Seindah rasa sayang itu sendiri yang sebenarnya tidak pernah ada yang benar-benar bisa mendeskripsikan.

Switzerland Trip on Vimeo

Jadi, ceritanya berbekal Nikon D90 plus 18-105 mm punya si patjar, saya cicil footage-footage ketika Switzerland trip tempo hari. Pas diceki-ceki lagi, kok ternyata footage-footage-nya banyak–meskipun banyakan yang jumpy dan nggak keruan secara komposisi. Akhirnya, nodong patjar buat ngeditin video ini. Untung, di sela sibuk, dia sempetin waktu buat direpotin sama saya. Danke, Djantjuk. Dan,…

[Fiksi] Diam-diam

Pagi ketika kau bangun kerja sedang diam-diam mengiris-iris rindumu.

There’s Nothing Wrong with Dreaming

Seindah-indahnya mimpi adalah yang kita coba capai ketika kita bangun. Dan, senikmat-nikmatnya bermimpi adalah yang kita tuju berdua, sama-sama, sampai jadi nyata. Goodnite, teman-teman. Selamat mimpi indah!

9

Pagi ini sebetulnya sama saja seperti pagi-pagi yang lalu-lalu. Tapi, pagi yang ini lebih manis, seperti adonan panekuk sehabis ditambah setengah kilogram gula putih.

Surabaya yang Jatuh Cinta

Matahari seperti tidak lebih terik di kota ini, dibandingkan Ibukota. Tapi, kepekatan panasnya entah kenapa lebih cepat menghitamkan kulit melebihi Jakarta.

Tjuk…

Tjuk, ada entah apa itu namanya yang berbuih-buih ketika aku melihat senja mencumbu-cumbu laut dengan asyiknya di batas sepenggalan hari. Aku kegirangan, menyaksikan biru berkecupan mesra dengan jingga yang pada akhirnya menjelma keunguan.

Di Antara Banyak Antara

Di antara tulisan trip Magelang dan Surabaya yang belum selesai, feature-feature promotor dan travel writing yang belum rampung, suara Istiqomah dari Payung Teduh yang menguar-nguar di headphone, serta rintik-rintik air dari langit yang menjelma gerimis di Jakarta sore ini; bisa kukatakan, aku merindukanmu teramat sangat setiap hari, Tjuk. Terlebih lagi di detik-detik ini.