[Fiksi] Hidup Mampir Minum

BBM positif naik. Para mahasiswa turun ke jalan dan berharap pemerintah mau menarik kembali titahnya yang suci itu. Kalau dipikir-pikir, mana mungkin juga keputusan itu bisa ditarik? Sudah banyak juga bukti-bukti sebelumnya bahwa penarikan keputusan tidak akan pernah terjadi. Contohnya, masih soal kenaikan BBM pada 2005, premium yang tadinya Rp2.500 naik jadi Rp4.500.

[Fiksi] Perempuan Malaikatku, Raya

Aku tak pernah memilih untuk jatuh cinta kepada siapa. Aku juga berharap, jodohku nanti tak sulit digapai; tak sesulit berenang melawan arus atau mendaki puncak Himalaya. Tapi, ternyata, hidup tak selalu berjalan mulus seperti keinginan kita. Masing-masing orang harus setidaknya sekali merasakan kepahitan.

[Fiksi] Pencinta Kenangan yang Lupa Kenangan

Di sebuah bangku taman di kota Semarang, duduklah Kirana. Sore ini gadis itu duduk sendirian; murung, letih. Tidak terasa sudah dua tahun yang lalu sejak kepergian Lelakinya yang pergi ke Jakarta. Tidak tahu kapan akan kembali, atau tidak akan pernah kembali?

[Fiksi] Satu Datang, Satu Hilang

Nenek dan kakak ibu datang ke rumahku setelah ibu pergi dari rumah selama beberapa minggu. Nenek bilang, ibu sudah ada di rumah nenek, setelah pergi menenangkan diri dan bersembunyi dari ayah ke luar kota. Di awal Ramadhan, aku yang baru berusia 11 tahun belum mengerti benar apa yang terjadi.

[Fiksi] Matahari, Ajak Aku Jatuh Cinta

19 Mei 2007 Jakarta siang ini mendung. Akhir pekan yang cukup panjang—sejak Kamis—menyebabkan jalanan ibukota lengang. Sebagian manusia yang biasanya sibuk dengan pekerjaan lari, bersembunyi sebentar, istirahat. Liburan. Lari dari rutinitas, lari dari aktivitas kerja yang menjenuhkan.