Perasaan Ramadhan

Ingatan tentang Ramadhan adalah ingatan tentang rumah lama yang diam-diam membeku, menyepi.

[Fiksi] Malam Ini Aku Cuma Ingin Pura-pura Bisa Bersandar pada Ibu

Pulang kandang malam ini, Ibu masuk kamarku tanpa mengetuk. Anak bungsunya baru saja tiba dari medan perang yang terlalu berdarah-darah. Ibu mendudukkan diri di karpet biru. Si anak masih kalut oleh pikiran sendiri. “Sudah kau makan lambungmu sendiri?” suaranya berubah tipis seperti helai rambut.

[Fiksi] Satu Kesempatan Besar

Jika Tuhan punya kesempatan besar, dan masing-masing hamba-Nya mendapat satu, aku akan menghabiskannya untuk memilih mati di pangkuanmu.

[Fiksi] “Jangan pernah takut pulang.”

Hingga akhirnya anak terakhirnya muncul di ambang pintu, memanggul beban akbar karena tidak mengatakan yang seharusnya dikatakan pada ibunya. Wajahnya lalu layu. “Ma, aku pulang.”

[Fiksi] Menjadi Manusia

…Serentak, semua yang terikat pada saya terlepas. Saya sudah lupa caranya bisa menenangkan orang lain yang butuh saya ada. Dunia malah jadi semakin egois. Sebab, yang ada cuma saya dan segala urusan kesayaan saya.

[Fiksi] Dia Menyayangi Saya dalam Diam

Di sela jarum jam yang sangat jarang berdetak bersamaan, saya dan Ibu hidup. Tidur kami sudah jarang punya mimpi yang sama. Bagi saya, tidur dan mimpi adalah barang langka. Sementara Ibu bilang, tidur dan mimpi adalah kewajiban.