Mencari Udara Sejuk di Sa Pa, Kota Pegunungan di Vietnam

Sempat merasa aneh pada diri sendiri karena hati ini langsung mengingat Leh di India ketika menjejakkan kaki di Sapa, Vietnam. Memangnya semirip itukah Leh dengan Sa Pa?

Jika Hanoi dikelilingi oleh bangunan-bangunan lawas, kuil-kuil ikonik, dan jalan raya aspal yang dipenuhi oleh kendaraan lalu-lalang, lain sekali dengan Sa Pa. Kota di lereng gunung berketinggian 1.600 mdpl ini adalah kota kecil tenang berhawa sejuk yang didominasi oleh bukit, hutan, dan lembah yang hijau. Hanya di pusat kota saja, Sa Pa dipenuhi oleh jajaran bangunan yang terdiri dari penginapan, kedai makan, dan landmark kota.

Sapa Valley Vietnam - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Sa Pa (disebut Cha Pa) sudah jadi wilayah yang dikuasai oleh otoritas Prancis di awal 1900-an. Tujuan utama penguasaan medis adalah untuk medis, seperti health resort, gereja, sanatorium, sampai buka kantor cabang pemerintahan di Sa Pa.

Begitu tiba di Sa Pa dengan sleeper bus sekitar 6 jam dari Hanoi, saya menjejak jalanan aspal berkerikil yang menurun menuju penginapan di Cat Cat Garden, agak jauh dari pusat kota. Kabut masih pekat. Dingin masih gigit.

Beberapa puluh menit sebelumnya, ketika pertama kali memasuki area Sa Pa, saya dan Arnellis, teman perjalanan, sempat kebingungan. Ternyata, titik tempat kami diturunkan oleh sleeper bus dengan penginapan kami masih cukup jauh. Kami bertanya ke sopir bus, tetapi ia menggeleng karena tidak bisa berbahasa Inggris. Kami melihat ke sekeliling titik yang serupa terminal, tetapi karena masih pagi, tidak ada siapa-siapa selain para penumpang bus yang sama dengan kami yang bisa ditanya.

Datanglah Nelson, lelaki muda kurus asli Vietnam yang mampu berbahasa Inggris dengan baik. Nelson mendatangi kami yang kebingungan dan bertanya seperti, “Emangnya mbaksis-mbaksis mau ke mana? Hotelnya di daerah mana? Jam segini belum ada taksi, sih.”

Kami jawab, “Mau ke Cat Cat Garden, agak jauh dari pusat kota, nih.” Kami menyodorkan peta online di ponsel kami. Nelson kemudian bolak-balik dari sleeper bus kami—yang masih menunggu jadwal kembali ke Hanoi—ke sebuah mobil kecil seukuran elf yang rupanya shuttle bus yang bisa mengantarkan penumpang ke hotel yang dituju. Persoalannya, untuk bisa naik bus itu, kita sudah harus booking in advance.

Kami belum booking. In advance sudah tidak bisa karena sudah tiba di tujuan. Nelson yang belakangan saya tahu ternyata adalah pemandu wisata berbasis Hanoi ini, membantu kami akhirnya bisa ikut diangkut oleh elf tersebut. Hanya saja, beda dari penumpang lain yang sudah booking, elf hanya mengantarkan kami hingga mulut gang penginapan—bukan sampai hotel. Tapi, ini saja sudah bagus. Kami berterima kasih pada Nelson, lelaki dengan tato semicolon (titik koma – ; ) di belakang telinga kirinya.

Kedua mata saya berkeliling hanya untuk mendapati keheningan dan kabut ketika akhirnya tiba di dekat penginapan. Ah, mungkin karena ini masih terlalu pagi, pikir saya. Setelahnya baru saya tahu, memang kawasan tempat saya menginap ini sangat tenang, tidak terlalu sibuk dan ramai.

Foggy Sapa Vietnam - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Saya dan Arne kebanyakan naik taksi atau GrabCar selama di Sa Pa. Kalau masih dekat, kami memilih berjalan kaki. Butuh waktu sekitar 10 menit naik taksi atau 20 menit berjalan kaki dari area penginapan saya untuk ke pusat kota. Untuk jarak ini, kami memilih taksi.

Pusat kota di Sa Pa artinya adalah lokasi tempat seperti Quang Trong Square, Sapa Station, dan landmark ikonik Notre Dame Cathedral, berada. Di sanalah, keramaian baru terasa—apalagi di akhir pekan.

Iya, ketika baru tiba di Sa Pa, kami memang langsung keluar dari penginapan dan menjelajahi Sa Pa. Alasan utamanya karena kami tidak punya banyak waktu. Alasan berikutnya, karena memang super excited dan penasaran ingin tahu, “Sa Pa itu kayak apa, sih?”

Pusat kota Sa Pa sangat mengingatkan saya pada Leh, kota di utara India, ibukota Ladakh. Tidak 100% sama, tetapi ada sesuatu tentang Sa Pa yang memiliki nuansa sama dengan Leh. Mungkin, karena melihat jalanan kecilnya di antara bangunan-bangunan lama yang berjajaran atau karena merasakan hawa sejuk yang menyergap, serupa Leh?

Sapa City Lao Cai Vietnam - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Ternyata, keinginan utama kami untuk menikmati hawa segar akhirnya tercapai—hal yang tidak bisa kita dapatkan di Hanoi yang terik. Namun, ternyata pula, selama 3 hari di kota ini, kami menerima banyak hal melebihi yang kami harapkan. Selalu menyenangkan memang kalau tiba-tiba menerima sesuatu yang lebih dari ekspektasi.

Banyak dari kalian yang bertanya soal tempat-tempat menarik di Sa Pa. Dengan senang hati, kali ini, saya berbagi tempat-tempat menarik yang tempo hari sempat saya kunjungi. Catatannya hanya satu: saya berharap tinggal lebih lama di Sa Pa. Tiga hari terlalu sebentar, tapi lima hari mungkin cukup. Jadi, silakan, mari ikut saya kembali mengingat perjalanan ke Sa Pa bulan Juni lalu.

 

CAT CAT

Saya berangkat dari Hanoi dengan sleeper bus malam. Tiba di Sa Pa ketika masih awal pagi, sekitar jam 6. Tujuan pertama tentu saja penginapan.

Baca: Sa Pa, dan Hal-Hal yang Mungkin Kamu Ingin Tahu Sebelum Mengunjunginya

Di penginapan di area Cat Cat, pemandangan bukit hijau dan desa yang rindang langsung tersaji di hadapan mata. Di pagi hari dan jelang petang, kabut muncul, turun dari langit, mungkin minta dikantongi.

Sekilas tentang Cat Cat, ini adalah salah satu desa adat berjarak 3 km dari Kota Sa Pa. Desa yang populer dengan nama Cat Cat Village ini sekarang menjadi desa wisata yang menarik para wisatawan untuk melihat kehidupan masyarakat adat Sa Pa. Mulai dari rumah dan kehidupannya yang masih sederhana, hingga menyaksikan mereka menenun dan menyulam pakaian tradisional mereka.

Semula kami memilih penginapan di Cat Cat karena ingin sekali mengunjungi si Cat Cat Village. Tapi, dari sekian banyak tempat tujuan di waktu yang sebentar, Cat Cat Village malah satu yang tidak kesampaian. Kalau kalian suka berkunjung ke desa wisata, seperti Desa Sade di Lombok atau Kampung Prailiu di Sumba, Cat Cat Village sebaiknya dikunjungi.

 

SUKU-SUKU ADAT DATARAN TINGGI SA PA

Selain hawa segar dan ketenangan, Sa Pa adalah “rumah” bagi suku-suku tradisional yang terkenal tinggal di dataran tinggi. Dari sekian banyak itu, lima suku terbesar di Sa Pa, antara lain Suku Hmong (52%), Suku Dao (25%), Suku Tay (5%), Suku Giay (2%), dan Suku Xa Pho.

Sampai sekarang, masyarakat dari suku-suku tersebut masih menganut jalan hidup tradisional. Semisal masih mengenakan pakaian handmade dengan sulaman dan renda indah buatan tangan—yang kabarnya pembuatannya bisa sampai 6 bulan!

Tidak cuma orang dewasa, anak-anaknya pun masih mengenakan pakaian tradisional tersebut. Pemandangan mereka inilah yang banyak saya lihat lalu lalang ketika akhirnya tiba di pusat kota Sa Pa. Kebanyakan dari mereka terlihat sedang berjualan di pusat kota atau tepi jalan. Barang-barang yang dijual beragam, mulai dari aksesori hingga pakaian buatan mereka sendiri.

Traditional Ethnic Tribe Sapa - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Saya sempat kewalahan di satu momen di depan Notre Dame Cathedral yang super ramai di akhir pekan. Pasalnya, kerapkali orang-orang suku dataran tinggi ini menyergap para wisatawan dan sedikit memaksa untuk membeli barang dagangannya. Ini membuat tak nyaman, meski sesungguhnya masuk akal. Mereka sedang mencari nafkah.

Suku-suku ini—selain di penjuru Sa Pa—juga bisa terlihat di desa-desa adat di Sa Pa. Seperti Cat Cat Village, Ta Phin Village, Ban Ho Village, dan lain-lain. Sementara, untuk bisa membeli kain atau pakaian etnik/ tradisional suku-suku dataran tinggi ini, kita tidak selalu harus pergi ke desa-desa tersebut. Kita bisa menemukan pakaian-pakaian tradisional tersebut dijual di toko-toko di Kota Sa Pa.

Pakaian-pakaian tradisional ini kabarnya dibuat dengan tangan bisa sampai dengan 6 bulan untuk satu potong pakaian. Karena itu, harganya pun tidak bisa murah. Harganya bisa dimulai dari harga VND500.000 hingga puluhan juta. Seperti kain Sumba atau wastra di Indonesia yang meskipun mahal, tetapi sungguh sebanding dengan upaya pembuatannya.

Traditional Clothes Sapa - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

 

NOTRE DAME CATHEDRAL

Bernama lain Notre Dame du Rosaire, ini adalah gereja yang peletakkan batu pertamanya dilakukan pada 1926. Ia diresmikan pada 1935, dan direstorasi 2007. Notre Dame Cathedral dipelihara dengan baik, karena itu sampai sekarang, bangunannya masih berdiri tegak dan terlihat gagah. Semuanya terbuat dari batu.

Sa Pa pernah dijajah oleh kolonial Prancis. Karena itu, bangunan-bangunan lama yang masih ada di kota ini terpengaruh oleh gaya arsitektur Prancis. Beberapa bangunan yang masih ada sekarang adalah mereka yang untungnya tidak ikut hancur karena Perang Dunia II.

Notre Dame Cathedral hanya buka di akhir pekan, tapi bersiaplah, di saat itu suasana akan sangat ramai. Tidak hanya di dalam gereja, tetapi juga di halaman gereja dan Quang Trong Square yang berada di seberang Notre Dame Cathedral. Antara wisatawan lokal yang kebanyakan berada dalam grup besar, bercampur baur dengan masyarakat setempat yang menjajakan dagangan di jalanan.

Notre Dame Cathedral - Astri Apriyani - Atre's Odyssey 2

Kekisruhan ini menyenangkan buat saya, yang sebetulnya tidak suka keramaian. Sebab apa? Karena banyak ragam gaya berpakaian yang tumpah ruah di jalanan ini, mulai dari yang tradisional dan modern. Karena juga, mendengar banyak bahasa yang asing di telinga saya berbaur jadi satu, adalah sebuah harmoni yang aneh tapi menarik.

Traditional Clothes Sapa Ethnic Tribe - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

 

QUANG TRONG SQUARE

Jujur, sesungguhnya saya baru tahu kalau ternyata alun-alun itu punya nama sendiri, yaitu Quang Trong Square. Tepat di hadapan Notre Dame Cathedral, lahan lapang seperti mini colosseum ini ada. Kalau dilihat dari beragamnya aktivitas, Square ini seperti jadi tempat duduk-duduk dan tempat main paling favorit banyak orang.

Square Sapa - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Ketika sore hari mampir ke sini, saya melihat banyak anak sedang bermain bola di tengah Square, dengan di kanan-kiri mereka banyak orang foto-foto diri dengan background keramaian Sa Pa. Banyak pula yang hanya duduk-duduk di bagian berundak Square, sekadar menikmati waktu sore di sana dan berbincang-bincang bersama teman-teman.

Saya dan Arne adalah salah dua dari banyak orang yang memilih duduk-duduk saja menikmati akhir hari. Bicara tentang rencana esok hari tentang berangkat ke Atap Indochina, Fansipan; tentang makan malam hari ini; dan tentang keinginan lain yang pribadi.

Quang Trong Square - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

 

SAPA STATION

Di sisi lain dari Notre Dame Cathedral, dari Quang Trong Square, ada sebuah bangunan megah mencuri perhatian berwarna hijau dan kuning keemasan. Jendela-jendelanya besar-besar dan banyak. Dari sini kita tahu kalau bangunan ini terinspirasi dari arsitektur Eropa. Bangunan ini adalah Sapa Station.

Sapa Station - Astri Apriyani - Atre's Odyssey 3

Agak sulit menemukan info soal Sapa Station, terutama tahun dibangun dan apakah ini adalah bangunan lama yang selamat atau bangunan baru yang gayanya ‘menyesuaikan’ arsitektur Prancis. Yang jelas, bangunan Sapa Station ini adalah salah satu bangunan ikonik dan tak bakal terlewat mata.

Di dalam Sapa Station yang bernama lengkap Sun Plaza Sapa Station ini, berisi tidak hanya stasiun kereta, tetapi juga hotel mewah (satu-satunya hotel berbintang lima di Sa Pa; Hotel de la Coupole) dan Sun World Shopping Mall.

Saya pribadi terkesima pada detail interior bangunan ini yang terkesan megah dan mewah. Coba saja perhatikan lantainya, juga detail-detail lampu, teralis pagar dan jendela, atau tiang-tiang dekat stasiun kereta. Coba juga nikmati keluasannya yang menambah kesan luxurious. Mau akhirnya naik kereta atau tidak, mau kalian orang yang romantis atau tidak, sekadar main saja ke Sapa Station pasti bikin terkesima.

Sapa Station Building - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

 

 

SA PA LAKE

Sebetulnya, saya akui, rada terlambat mengetahui tentang keberadaan danau mungil di tengah kota ini. Saya dan Arne sempat melintasi danau ini ketika dalam perjalanan ke Sa Pa Market untuk mencari suvenir kerajinan tangan lokal Sa Pa, sekaligus mencari ATM. Dan, ini tepat sebelum balik ke Hanoi. Lebih gemasnya lagi, karena Sa Pa Lake ini hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari Notre Dame Cathedral. Akkk!

Buat kalian yang kebetulan main ke Sa Pa, jangan lupa ada Sa Pa Lake yang aduhai. Danau berair toska jernih ini dibatasi dengan pagar, dan memiliki pemandangan latar bangunan-bangunan pertokoan warna-warni Sa Pa. Mengingatkan saya pada pemandangan di kanal-kanal di Stockholm.

Sa Pa Market juga bolehlah untuk dikunjungi, meski ketika saya datang ternyata terlalu sepi. Banyak toko yang tutup, dan pedagang yang tak terlalu banyak ragamnya. Tapi, kalau penasaran, mampir saja. Saya berhasil membawa pulang alias membeli dua gelang etnik Vietnam dan beberapa pouch beraksen sulam tradisional yang cantik dari sini.

 

EAT AND DRINK IN SA PA

Perkara makan di Sa Pa memang gampang-gampang susah. Arne sempat mengeluhkan ketika baru saja tiba di Vietnam, ia sulit menemukan wisatawan berhijab di luar dirinya. Agak tidak nyaman ketika mencoba makan di tepi jalan dan banyak orang lalu lalang menatap dirinya dan hijabnya dengan terang-terangan.

Ketika di Hanoi, masih lebih mudah mencari tempat makan halal. Meski tidak banyak, tetapi bisa ditemukan tempat-tempat yang sudah bersertifikat halal. Nah, lain halnya dengan di Sa Pa. Tidak ada sertifikat atau label halal di sana. Alhasil, kami memilah-milih makanan hanya yang berbahan halal, seperti daging sapi atau ayam.

Sapa Deli 2- Sapa Vietnam - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Selama tiga hari di Sa Pa, dan total 5 hari di Vietnam, kami baru menyadari sesuatu. Jika di Jakarta, kita bisa makan pho sebebas hati; mau pagi, siang, sore, atau malam. Sungguh berbeda dengan di Vietnam, dan lebih ketat lagi di Sa Pa. Pho ternyata adalah menu sarapan—mungkin seperti bubur ayam atau bubur kacang hijau kalau di Jakarta. Jadi, pho seringkali tidak tersedia saat siang atau malam. Sedihnya.

Berdasarkan pengalaman, saya bisa bilang, berikut tempat-tempat makan dan hangout menarik yang saya coba. Catat saja sebagai bahan referensi jika suatu hari ke Sa Pa.

 

The Hmong Sisters

Siang restoran, malam pub. The Hmong Sisters terletak di 31 Mường Hoa, TT. Sa Pa, Sa Pa. Saya dan Arne makan siang di sana. Steak untuk Arne dan noodles untuk saya. Kedai ini punya jendela besar di banyak sudut. Jadi, sembari makan, kita bisa sembari menikmati lalu lalang Kota Sa Pa.

 

Fansipan Terrace Café & Homestay

Menurut review internet, ada beberapa kafe yang seringkali disebut “sangat populer”. Ada Café in the Clouds, Good Morning, dan Fansipan Terrace Café. Mereka memiliki pemandangan perbukitan Sa Pa yang rindang.

Egg coffee Vietnam - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Saya akhirnya memilih hangout di Fansipan Terrace Café. Alasannya, ambience­-nya oke dan pelayan-pelayannya pun ramah. Di sini, saya mencoba untuk pertama kalinya egg coffee alias kopi telur, varian minuman kopi khas Vietnam. Ena’, tapi saya pribadi lebih suka Vietnam drip coffee. Tidak cuma kafe ternyata yang ada di sini. Tersedia pula penginapan berharga terjangkau nan sederhana buat kalian para backpacker.

 

Sapa Deli

Yang satu ini sukses menjadi kedai makan terfavorit di Sa Pa. Meskipun mungil, Sa Pa Deli sangat nyaman dengan interior yang kental akan lokalitas. Saya sempat mencoba sarapan di sini dengan memesan menu beef pho. Alamak, enaknya! Porsinya besar pula. Sungguh recommended!

Sapa Deli 3 - Sapa Vietnam - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

 

Streetfood Sa Pa

Baik siang atau malam, di tepi jalan, selalu ada jajanan berupa daging dibungkus sayuran atau beragam macam skewers. Hanya saja karena sebagian besar adalah daging babi (yang saya tidak bisa makan), jadi saya tidak mencoba streetfood ini.

Night life Sapa Vietnam - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Ada satu lagi destinasi terpenting yang ada di Sa Pa, yaitu Fansipan, gunung tertinggi di Indochina. Namun, saking penting dan serunya perjalanan ke Fansipan, saya merasa ia layak untuk mendapat ruang satu artikel terpisah. Cerita tentang Fansipan akan saya posting setelah ini, ya.

 

Quang Trong Square 2 - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Akhir kata, kalian tidak perlu terlalu percaya-percaya banget pada ulasan yang saya katakan panjang-panjang di atas. Bukan karena apa yang saya katakan bohong. Hanya saja, kadang-kadang apa yang satu orang rasakan bahagia, yang lain bisa merasakan yang berbeda. Apa yang satu orang alami menyenangkan, yang lain bisa mengalami yang sebaliknya. Karena toh sesungguhnya, perkara perasaan dan pengalaman memang sangat personal, sangat intim.

Yang jelas, sekarang saya akhirnya jadi kangen Leh dan pulang bawa berkantong-kantong pikiran tentang kabut di Sa Pa. Akhir kata, hamba yang lelah karena seharian ini jungkir-balik mood-nya, mengucapkan, “Selamat menikmati Sa Pa, baik dan buruknya!”

4 Comments Add yours

  1. Olive B says:

    Sapa Station itu bangunan baru yg bernuansa 1920an, aku dah ketemu infonya kak. Kubagi sini ya:

    Cable car dibangun 2014, dibuka untuk publik 2 Februari 2016. Sapa Station adalah proyek berikutnya yang dibangun bareng2 dengan MGallery Hotel sejak 2016. Hotel mulai beroperasi pada Februari 2018, sedang Sapa Station 31 Maret 2018.

    1. Atre says:

      Wahhh, terima kasih, Oliipppp, atas tambahannya. Ternyata memang gedung baru tapi bernuansa lawas aja ya.

      1. Olive B says:

        sama – sama, aku soalnya penasaran juga lihat bangunan itu.

        btw, hotelnya beroperasi Desember 2018, bukan Februari 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s