#MengingatMei98: Kisah Nyata Peristiwa Glodok, Tragedi Trisakti, Hingga Citra Mall Klender

“Tim pencari fakta menemukan setidaknya di Jakarta, Medan, Surabaya, dan sekitarnya, ada sekitar 85 kasus, yang korbannya mayoritas etnis Tionghoa dan beberapa perempuan pribumi dari berbagai macam kelas. Dari 85 kasus, 52 gang rape (diperkosa beramai-ramai), 14 pemerkosaan dengan penganiyaan, 10 penganiyaan seksual, dan 9 pelecehan seksual. Dan, ini terjadi di Jakarta dan sekitarnya, Medan, dan Surabaya.”

#MenolakLupa Tanjung Priok 1984: Sebuah Cerita Saksi Mata

“Apa yang terjadi di Tanjung Priok itu tak lepas dari peraturan Orde Baru, tidak boleh ada pandangan apa pun selain Pancasila. Atau disebut asas tunggal. Tidak boleh ada orang yang meyakini asas-asas lain. Ada upaya sakralisasi Pancasila,” urai John Muhammad, salah satu aktivis alumni Universitas Trisakti, membuka kisah tentang peristiwa pelanggaran HAM Tanjung Priok 1984.

Apa Kata Mochtar Lubis tentang Gelisah?

Kegelisahan ini muncul karena ketika Mochtar Lubis bicara soal emansipasi seperti apa yang diperlukan negara kita, seorang perempuan pengamen menggendong anaknya naik bis yang saya juga naiki. Nyanyian mereka jauh dari hal besar-besar yang ada dalam buku di hadapan saya. Nyanyian mereka saya kira cuma mengenal “makan apa hari ini” atau bahkan “bisakah kami makan hari ini”.

[Bahasa] Memperhatikan atau memerhatikan?

“Bahasa itu tidak monoton. Dia bisa muncul dalam berbagai ragam dan laras,” Nazaruddin, M.A., pengajar Program Studi Indonesia FIB UI menyatakan demikian. Oleh karena itu, kita kerap menemukan penggunaan bahasa atau pembentukan kata dalam bahasa Indonesia yang tidak konsisten. Salah satu kasus inkonsistensi terjadi pada penggunaan memperhatikan dan memerhatikan.

Nyanyian Pedestrian

Kenyataannya, ada kaitan yang sangat kuat antara jalan kaki dengan sistem angkutan umum, dan sistem angkutan umum dengan kota yang baik. Tidak ada kota yang dianggap baik jika tidak ada transportasi umum yang baik.

[BAHASA] Tetiba dan Gegara

“Tetiba pusing, gegara liat berita kriminal di televisi.” Tetiba dan gegara adalah dua kata yang belakangan ini sering terlihat dipakai oleh para pengguna bahasa. Coba saja intip linimasa, untuk lihat bukti konkretnya.

Restorasi Film: Kapan Kami Dianggap Penting?*

Ruang bersuhu rata-rata 9-10 derajat celcius ini pun terlihat suram. Potret sebuah ruang yang dipelihara ala kadarnya. Di bagian langit-langit, muncul jamur. Beberapa kaleng film sudah berkarat parah, tapi dibiarkan begitu saja. Padahal, lambat laun, karat pada kaleng tersebut akan menyambar pita-pita seluloid di dalamnya. Film otomatis rusak.

Perempuan Berhak Orgasme*

Pernah orgasme? Pentingkah pertanyaan ini diajukan kepada perempuan Indonesia, mengingat menurut penelitian hanya 30% yang pernah mengalami orgasme?

Surabaya dan Kampung-kampung Etnis

Dari mulut Ketua RT di Banyu Urip, saya mendapati bahwa kampung-kampung Surabaya punya banyak situs atau makam tua tidak terjamah. Dari mulut supir taksi, saya mendengar cerita sembari melihat sendiri rumah-rumah di Darmo yang megah-megah dan indah-indah.

Menulis Lebih Baik

Buat Pramoedya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Menulis seperti menciptakan prasasti tentang diri kita yang jejaknya bisa dilihat bertahun-tahun kemudian. Membuat kita merasa ada.