Keindahan yang Sederhana di Pantai Santolo, Garut

Masih di Garut, di suatu pagi yang biasa-biasa saja, saya sampai di daerah pesisir sebelah selatan Garut. Bangunan-bangunan yang tidak tertata rapi berjajaran di pinggir-pinggir pantai. Ada yang berupa penginapan kelas melati, ada rumah makan, ada rumah para nelayan. Semua berjejal rapat.

Pagi itu, saya keluar dari penginapan bermaterial kayu yang ada di lantai 1. Tangga-tangga kayu diselimuti pasir di mana-mana.

Matahari sudah tinggi, tapi lingkungan sekitar penginapan masih sepi. Rupanya, keramaian terjadi di pinggir pantai, tempat sebuah pasar ikan kecil-kecilan berada. Sembari berjalan menuju dermaga, saya melihat beragam jenis ikan laut diperjualbelikan, dari mulai sampai hiu. Iya, hiu. Sayang sekali, bayi-bayi hiu kelihatan mati dan kaku di tampah. Para nelayan mungkin belum memahami bahwa hiu adalah hewan yang dilindungi dan beberapa spesiesnya terancam punah. Bayi-bayi hiu itu dihargai Rp35.000 per ekor.

Ketika saya bertanya asal tangkapan hiu tersebut, para penjual melengos pelan. Tidak lagi menawarkan dengan semangat, malah takut menatap mata saya.

Tidak mendapat jawaban apa-apa, saya kembali menyisir pasir dari pasar ikan ke dermaga. Perahu-perahu motor nelayan berbaris rapi. Di dekat dermaga, ada perahu-perahu yang dikhususkan untuk transportasi, mengantre menunggu penumpang. Perahu-perahu transportasi ini mengantarkan kita dari daratan ini ke pulau sebelahnya yang letaknya hanya 100 meter. Tepatnya, ke pintu gerbang sebuah pantai wisata. Ketika berperahu menuju gerbang tersebut, monyet-monyet kelihatan bertengger di pepohonan tepi pantai.

Perahu motor ke Santolo

Pantai Santolo, namanya. Karena hari itu Minggu, pantai dengan pasir putih dan karang-karang di tepiannya itu ramai oleh pengunjung. Kebanyakan rombongan keluarga. Mereka menggelar tikar dan makan bersama. Beberapa anak main bola di pasir. Beberapa anak yang lain bermain dengan ombak dan berenang-renang.

Pantai ini sangat sederhana, sebetulnya. Masih terlalu sepi untuk ukuran pantai wisata. Kios-kios cenderamata berdiri sederhana di beberapa titik. Saya dengan gerakan sangat refleks, berjalan menjauh dari keramaian, tiba di tempat laguna berada tidak jauh dari tepi pantai.

Pantai Santolo

Saya hanya duduk-duduk di karang-karang besar yang ada di pinggir pantai. Saya melihat kawan-kawan asyik menyeburkan diri sembari merekam dengan kamera-kamera mereka. Saya malah mengeluarkan catatan, sembari menajamkan telinga.

Suara anak-anak yang bermain bola kedengaran sayup di kejauhan. “Bola mana, bola?” kata salah satu anak yang baru saja menendang bola terlalu jauh hingga ke laut. Beberapa anak mengenakan kaos kesebelasan dengan nama “Guteres” dan “Pamungkas”.

Seorang anak perempuan dan anak lelaki mendekati laguna, tetapi tidak menyeburkan diri. Mereka hanya berjongkok sembari mengorek-ngorek karang tertutup lumut yang ada di depannya. “Itu kepiting, tuh,” kata si anak lelaki yang lebih besar.

Santolo saya anggap tidak terlalu luar biasa. Tapi, cukup mampu membuat hati yang rusuh kembali tenang. Cicit burung yang sayup-sayup juga kedengaran membuat sepi jadi terlalu melenakan.

DCIM100GOPRO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s