Mekarlah, Mekar: Musim Bunga Matahari Mekar di Khao Yai, Thailand

Saraburi dan Lopburi mungkin yang paling terkenal untuk urusan menikmati padang bunga matahari di Thailand. Namun, saya punya satu tempat indah lain yang menawarkan hal serupa—tak kalah indah. Selamat datang di Khao Yai.

Thailand adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki daya tarik wisata sejarah yang kental. Banyak orang biasa memutuskan berkunjung ke Thailand utamanya untuk wat hopping, alias berkunjung dari satu wat ke wat lain. Wat sendiri adalah istilah bagi masyarakat Kamboja, Laos, Yunnan, dan Thailand untuk menyebut kuil Buddha atau Hindu.

Di akhir November tahun lalu, di antara dera kerja, saya memutuskan untuk berangkat ke Thailand sendirian. Saya lupa perasaan saya waktu itu, tapi saya tahu kalau kadang-kadang melakukan perjalanan sendirian itu baik.

Saya memang bukan orang yang terlalu gandrung pada konsep solo traveling. Jadi, ketika memutuskan berangkat sendiri di trip Thailand ini, diri sendiri rada terkejut dan kejang-kejang karena gugup. Hanya saja saya yakin, setiap perjalanan punya daya tariknya sendiri.

Tidak jauh beda dengan para wisatawan yang datang ke Thailand, saya juga punya tujuan utama mengunjungi sebanyak mungkin wat indah di Thailand. Cuma ya itu, trip yang berumur lima hari ini hanya memungkinkan saya untuk menjelajah wat di Bangkok saja. Kok, tidak ke Chiang Mai? Atau Chiang Rai? Saya tahu dua kota tersebut memiliki keindahan wat yang bukan main. Tapi, lagi-lagi saya cuma bisa menyalahkan waktu yang tidak berumur panjang di Thailand.

Soal ke mana saja saya bepergian ketika di Bangkok, mungkin akan saya tuliskan dalam artikel terpisah setelah ini. Itu pun kalau kalian mau dan perlu. Nah sekarang, biarkan saya membayangkan satu hari menyenangkan di Khao Yai setahun lalu.

Sunflower field Khao Yai National Park Thailand - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Hari-hari saya menyenangkan selama di Bangkok. Penginapan yang saya pilih kebetulan sungguh juara nyaman dan juara tenang. Nama penginapannya: The Raweekanlaya Wellness Cuisine Resort di Krung Kasem Road. Tapi tetap saja, mengingat waktu itu bulan November—dan November adalah musim dimulainya bunga matahari bermekaran di Thailand—, saya merasa perlulah untuk menikmati padang bunga matahari di sana.

Musim sunflower bermekaran di Thailand jatuh di bulan November hingga Januari dan Februari.

Saya sempat kebingungan juga, bagaimana cara mencapai area pegunungan tempat biasa padang bunga matahari berada. Saya cek transportasi umum, tetapi sepertinya banyak yang menuliskan tentang kemungkinan kendaraan yang jarang dan sepi. Mau sewa kendaraan sendiri, ini tidak mungkin. Hingga akhirnya saya menemukan TakeMeTour dan berkenalan dengan Surattaya Oil.

TakeMeTour adalah salah satu layanan jasa travel yang punya tagline “See Thailand through the local’s eyes”. Kita diajak mengeksplorasi Thailand lewat kacamata pemandu lokal yang mengerti Thailand lebih dalam. Sungguh, saya tak ada kerja sama apa pun dengan TakeMeTour. Karena saya merasakan pengalaman menyenangkan bersama Surattaya, saya memutuskan ingin merekomendasikan TakeMeTour ke kalian. Harga paket TakeMeTour yang saya ambil senilai THB4.428, atau sekitar Rp2.050.000.

Surattaya adalah perempuan berusia 30-an yang fasih berbahasa Inggris yang ramah juga apa adanya. Yang paling penting, ia mengerti bagaimana cara menjawab tiap pertanyaan saya tentang Thailand. Seperti wat paling tua di Thailand, padang bunga matahari terindah, musim mekarnya bunga matahari, sampai tentang sejarah kerajaan Thailand. Jadi, ketika ia menjemput saya di hotel tepat pukul 08.00, saya tahu seharian itu akan sangat seru.

Flash Trip to Khao Yai National Park Thailand - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Di sedan dengan Surattaya berada di balik setir, kami memulai perjalanan dengan tujuan awalnya adalah menuju destinasi bunga matahari populer Thailand, yaitu Saraburi dan Lopburi. Keduanya adalah dua provinsi yang letaknya 110-150 km menuju timur laut Bangkok.

Musik di sedan Surattaya terdengar asing, karena berbahasa Thailand. Namun, ketika Surattaya menawarkan untuk mematikan saja musik itu, saya menolak. “Biar aja, menarik buat didengar,” kira-kira saya bilang begitu. Surattaya cuma mengangguk tertawa, sembari pandangannya memandang ke depan.

Perjalanan dari Bangkok ke kawasan padang bunga matahari semestinya menempuh sekitar 2 jam lewat jalan darat. Lepas dari jalan raya Bangkok yang ramai di pagi hari, sedan menderu di atas aspal panjang yang mengingatkan saya pada jalan panjang Poros Bulukumba. Sepi, mulus, tenang.

Kata Surattaya dalam bahasa Inggris yang berdialek, “Perjalanan macam ini yang mengkhawatirkan, karena bikin ngantuk.” Ia membenarkan letak topi di kepalanya dan mengenakan kacamata hitamnya yang semula tergeletak di dasbor mobil. Saya bisa merasakan di luar sana, terik pasti menggigit. Thailand memang sedang panas sekali saat itu.

Saya sesungguhnya bukan orang yang kuat-kuat amat menahan kantuk. Biasanya, kalau sudah ada di mobil yang berjalan di jalanan mulus, saya langsung lelap. Tapi, entah kenapa saat itu saya memilih menahan kantuk dan melontarkan banyak pertanyaan ke Surattaya. Saat itu, di kanan-kiri jalan, kami melewati area yang rindang penuh pepohonan. Namun, beberapa menit kemudian, kami akan melewati area permukiman warga.

Saya selalu terobsesi pada bunga-bungaan. Saya selalu merasa bunga-bunga liar—ataupun yang tidak liar—menyimpan sajak indah yang menyentuh hati. Saya kadang merasakan tatapan heran Surattaya ketika saya berapi-api mendramatisasi cerita tentang bunga matahari yang hendak kami kunjungi. “Itu kan hanya bunga, di mana-mana sama,” kata Surattaya yang beberapa jam berselang, sudah seperti kawan sendiri. Saya terbahak, lalu balik bilang, “Ah, kawan-kawan saya juga bilang saya terlalu puitis. Sampai-sampai mereka bosan sama cara saya mendramatisasi keadaan.” Surattaya terbahak, “Saya juga punya teman macam itu.” Kami berakhir tertawa sama-sama.

Mau itu orang Indonesia, mau itu orang Thailand, mau itu warga negara dunia, watak manusia memang tak terlalu jauh beda, ya. Selalu ada yang terlalu cuek, ada yang terlalu sensitif; ada yang baik, ada yang jahat; ada yang kocak, ada yang garing.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba Surattaya mendapat panggilan telepon. Ia yang mengenakan earphone meminta izin untuk mengangkatnya. Saya memberi tanda “silakan saja”. Surattaya mulai bicara dalam bahasa ibu yang tidak saya mengerti. Saya bisa lihat raut wajahnya masam sembari melihat jalanan di hadapannya. Tak lama ia tutup teleponnya.

Ia bilang, telepon itu dari kawan pemandu TakeMeTour yang lain. Ia bilang kawannya itu baru saja dari Lopburi dan Saraburi mengantarkan wisatawan. Kawan Surattaya tahu kalau kami juga hendak ke tujuan sama, maka ia mengabarkan berita terbaru. “Bunga matahari di Lopburi sama Saraburi belum mekar, sis,” kira-kira kawan Surattaya lapor begitu.

Surattaya bilang, mulai mekar bunga matahari memang bulan November. Namun, kadang-kadang, jadwal mekarnya terlambat sehingga November baru mekar hanya sedikit sekali. Itu yang terjadi tahun lalu. Saya lalu tak bisa berpikir. Kami sudah di tengah jalan, betul-betul sudah setengah jalan. Saya pandangi saja jalanan yang melintas cepat di luar jendela.

Tahu-tahu Surattaya punya ide. “Ayo kita coba ke Khao Yai!” seperti ada bohlam menyala di kepalanya.

Sejujurnya, saya tidak familier dengan nama itu. Khao Yai. Khao Yai. Khao Yai. Iya betul, mau tiga kali diulang, tetap saja saya seperti tidak pernah mendengar nama itu. Kata Surattaya, ini memang destinasi indah di Thailand yang belum terlalu populer. Di sana, selain bertitel kawasan taman nasional, juga merupakan padang bunga matahari kesayangan masyarakat lokal Thailand—murni karena belum terlalu ramai. Saya segera meraih ponsel dan mulai googling-googling tentang Khao Yai.

Sunflower season Khao Yai Thailand - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Ah gilak, cakep amat!

Saya langsung mengacungkan jempol ke Surattaya. Untungnya, rute kami masih searah antara Lopburi dan Khao Yai. Khao Yai itu sekitar satu jam dari Lopburi. Nuansa perjalanan cerah lagi, secerah matahari Thailand hari itu.

 

KHAO YAI NATIONAL PARK

Khao Yai berjarak 3 jam jalan darat dari Bangkok. Letaknya berada tepat di Provinsi Nakhon Ratchasima atau Korat di timur laut Thailand. Ia adalah taman nasional tertua Thailand (sudah ada sejak 1962), dan termasuk taman nasional ketiga terbesar di Thailand. Wuih.

Belum terlalu populer di antara wisatawan mancanegara, Khao Yai ini ternyata merupakan destinasi “the next big thing” Thailand. Banyak yang bisa dieksplorasi di taman nasional ini, mulai dari mengenal lebih dekat kehidupan wildlife Thailand, hiking, jelajah air terjun, sampai bertani buah-buahan khas Thailand. Di luar aktivitas yang banyak itu, Khao Yai ternyata juga lahan di mana bunga matahari tumbuh subur.

Khao Yai yang terletak di kaki gunung dan memiliki cuaca yang sejuk (sekitar 20° C di siang hari dan 10° C di malam hari), merupakan tempat yang tepat untuk bertanam bunga matahari. Ada beberapa padang bunga matahari sangat luas di sini. Bunga-bunga ini mekar di bulan November hingga awal Januari.

Tiga jam setelahnya, saya dan Surattaya tiba di sebuah jalan aspal yang mengecil tapi tetap mulus. Di kejauhan, saya bisa lihat bukit-bukit hijau membentang dan langit yang sangat biru. Saya memandang Surattaya yang ikut tersenyum. Mungkin dia pikir, “Well, satu lagi customer yang puas.”

Pelan-pelan, bukit-bukit semakin dekat seiring sedan yang keluar dari jalan aspal. Kami mulai memasuki area bertanah merah, dan parkir di sana. Ketika keluar sedan, saya baru sadar, ternyata di sekeliling saya adalah padang bunga matahari yang super luas. Mata saya memang minus 3, jadi maklumi kalau sukar melihat jelas ke arah kejauhan.

Khao Yai National Park sunflower field blooming - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Di sana, hanya ada beberapa orang yang ikut bersenang-senang di antara bunga matahari. Sepi! Hore!

Saya yang baru tiba, ikut menghambur dan menelusuri jalan-jalan setapak di antara bunga matahari yang tingginya melebihi kepala saya. Surattaya cuma menggeleng, dan beberapa kali menawarkan, “Sini, aku fotoin.” Surattaya tidak mengerti kalau foto itu poin penting kesekian. Yang paling penting adalah lari-lari di antara padang bunga ini dan berteriak, “Wohoooo…” Ha-ha-ha.

Sunflower field Khao Yai National Park Thailand - Astri Apriyani - Atre's Odyssey 3

Di bulan November, bunga-bunga matahari di Khao Yai sudah mulai bermekaran. Malah hampir seluruhnya sudah mekar. Karena saya tiba di sana ketika tepat tengah hari, para bunga matahari sedang tegak menghadap matahari. Untunglah, Surattaya punya ide sigap untuk mengubah destinasi dari Lopburi ke Khao Yai ini.

Beberapa jam setelahnya, saya menghabiskan banyak waktu menelusuri padang bunga matahari yang luas ini. Sembari sesekali menikmati waktu menjadi model foto Surattaya. Tepat ketika sudah mulai kepanasan dan kecapekan, saya mengajak Surattaya pulang. Tapi sebelumnya, jangan lupa beli camilan biji bunga matahari yang dijual di sekitar padang.

Sunflower season in Thailand Khao Yai - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

 

HAL-HAL LAIN YANG BISA DILAKUKAN DI KHAO YAI

Kalau tahu lebih awal ternyata ada tempat bernama Khao Yai dan kalau tahu ternyata Khao Yai semenarik ini, saya pasti akan menghabiskan waktu lebih lama di sini. Sekitar 2-3 hari sepertinya lebih ideal.

Setelahnya saya baru tahu kalau Khao Yai adalah bagian dari Dong Phayayen-Khao Yai Forest Complex yang mendapat gelar World Heritage Site dari UNESCO. Kompleks ini mencakup 5 wilayah yang dilindungi, mulai dari Khao Yai hingga perbatasan Kamboja.

Luas Khao Yai National Park sekitar 2.168 km², termasuk area hutan hujan dan padang rumput. Berada di bagian barat Pegunungan Sankamphaeng, dan di barat daya Khorat Plateau.

Kawasan Taman Nasional Khao Yai memiliki tiga musim utama: musim hujan (Mei-Oktober) yang lembap dengan suhu rata-rata 27° C di siang hari, musim dingin (November-Februari) dengan suhu sekitar 22° C di siang hari, dan musim panas (Maret-April) yang suhu di siang hari mencapai 20–30° C.

Saya tidak sempat bertemu hewan-hewan khas yang berumah di Taman Nasional Khao Yai ini, seperti gajah, macan, siamang, babi liar, sampai rusa. Atau, menikmati keberagaman vegetasi yang terdiri dari hingga 3.000 spesies tanaman. Tapi, kira-kira inilah hal-hal yang ingin saya lakukan jika suatu hari saya kembali lagi ke Khao Yai:

 

Camping
Ada beberapa camp sites di kawasan taman nasional, di mana sudah tersedia penyewaan tenda dan perlengkapan kemping lain, seperti kantong tidur, bantal, selimut, hingga toilet. Dua di antaranya adalah Lam Takong Camp Site dan Pha Kluaymai Camp Site. Di tiap camp site tersebut, ada jalur trekking menarik yang bisa disusuri.

Sepertinya menarik untuk mencoba kemping, trekking, sekaligus melakukan aktivitas lain di sana, seperti bird watching.

 

Explore Waterfalls
Khao Yai rupanya punya beberapa air terjun indah di dalamnya. Track menuju air terjun ini pun beragam. Ada yang membutuhkan trekking pendek, sampai super panjang bahkan membutuhkan bantuan pemandu.

Di antara air terjun tersebut, saya berandai-andai bisa mampir ke air terjun tiga tingkat Haew Narok Waterfall setinggi 80 m yang merupakan air terjun tertinggi di Khao Yai National Park; Haew Suwat Waterfall, air terjun 20 m yang jadi tempat syuting film The Beach Leonardo Di Caprio; atau si 700 m Haew Sai Fai Waterfall.

 

Gaur Viewing Khao Paeng Ma
Gaur itu adalah sejenis lembu liar yang hidup di kawasan Khao Yai, tepatnya di Khao Paeng Ma. Di area seluas 8 km² ini, banyak segerombolan gaur yang kerap muncul secara berkala. Yang semula berpopulasi sangat sedikit, kini, gaur yang dilindungi oleh pihak taman nasional dibantu WWF, mulai menunjukkan peningkatan jumlah populasi. Rasanya menarik melihat bagaimana gaur hidup di alam bebas di sini. Mungkin, rasa serunya seperti melihat banteng liar di Cidaon, Taman Nasional Ujung Kulon, atau komodo di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo.

 

Hiking Yod Khao Khieo Mountain
Mungkin jika punya kesempatan, akan menarik untuk mendaki titik tertinggi di Provinsi Nakhon Nayok yang berada di Yod Khao Khieo Mountain. Setinggi 1.292 mdpl, puncak gunung ini kabarnya bisa diakses dengan kendaraan. Selain menikmati keindahan lanskap dari ketinggian, kita ternyata bisa melihat dari dekat kehidupan hewan liar, terutama burung-burung dan gajah.

 

Sheep, Alpaca, Donkey Feeding Primo Piazza
Ternyata, selain keindahan alam, Khao Yai juga punya daya tarik wisata ‘buatan’. Saya ini pencinta alpaca, terus gemas setelah tahu kalau di Khao Yai kita bisa bertemu langsung dengan alpaca—juga domba dan keledai—di Primo Piazza. Tak perlu jauh-jauh ke Machu Piccu.

Kenapa saya sebut buatan? Karena, lingkungan di Primo Piazza dibuat dengan arsitektur khas Italia, membuat kita seolah berada di Tuscan. Lengkap dengan kafe-kafe, farm, dan taman bunga.

 

Wine Tasting PB Valley
Tempo hari, saya hanya sempat late-lunch di PB Valley Khao Yai Winery ini. Surattaya sempat menawarkan untuk wine tasting, tetapi ternyata karena akhir pekan, antrean sangat panjang dan padat. Saya memutuskan untuk tidak melakukannya, karena wine tasting butuh waktu santai dan tenang. Tapi lalu, saya masih memikirkannya sampai sekarang.

Rasanya, menjelajah kebun anggur sekaligus melihat proses membuat wine dari dekat di PB Valley akan menyenangkan untuk dilakukan. Apalagi melihat kebun anggur di sini sangat luas dan tak kalah indah dengan vineyard di Margaret River, Australia.

 

Baca juga: Mountain Biking Sekaligus Wine Tasting di Western Australia

 

Saya tiba di Bangkok malam hari. Perjalanan pulang dari Khao Yai menuju Bangkok ternyata sangat indah. Matahari yang mulai terbenam menghasilkan suar-suar kecil di kaca depan sedan. Surattaya di kursi pengemudi yang semula asing berubah akrab. Mungkin ini keindahan solo traveling, ya; bertemu orang asing di jalan dan berakhir menemukan teman.

Bangkok to Khao Yai Thailand - Astri Apriyani - Atre's Odyssey

Sampai jumpa lagi, Khao Yai! Terima kasih untuk satu hari yang menyenangkan!

3 Comments Add yours

  1. Olive B says:

    tulisan ini beracun, saya membacanya hingga titik terakhir hahaha

    1. Atre says:

      Lho aku baru liat komenmu iniiii. Ahahahahha, langsung kerasa pingin ke Khao Yai nggak akhir taun ini? 😁 *ratjun*

      1. Olive B says:

        maunya sih langsung muncul di kebun bunga saat baca wkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s