#BaladaFreelancer Yeah, Road Trip to Bulukumba

Kota Makassar masih terik. Di hari ketiga trip ini, saya dan Djantjuk sudah punya rencana untuk melipir sejenak dari Makassar. Kami hendak melakukan perjalanan ke Bulukumba, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang beribukota juga di Bulukumba. Road trip, road trippp~

#BaladaFreelancer Karst Maros & Kampung Berua

Saya dan Giri melanjutkan perjalanan berkeliling Karst Maros. Karst Maros berupa bentangan bukit kapur dan karang yang mencapai hingga 30.000 hektar yang memanjang di Kabupaten Pangkep-Maros. Luar biasa luas. Kawasan ini termasuk dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) yang bergelar sebagai kawasan karst terluas kedua di dunia, setelah Karst Guiling di Tiongkok. Karena berada di Desa Rammang Rammang, Karst Maros ini kerapkali juga disebut dengan Karst Rammang Rammang.

#BaladaFreelancer Makassar yang Mengenyangkan

Ya Allah, perut saya sudah lama tidak pernah sekenyang ini. Dan, saya tidak menyesal. Makassar memang betul-betul surga kuliner.

#BaladaFreelancer Sajak Kaca

Dari dalam hutan-hutan lekukan gunung-gunung di jalan-jalan setapak yang terjal dan basah

#BaladaFreelancer Mendaki Gunung, Menuju 200 Tahun Letusan Tambora

Kaldera ini terbentuk akibat letusan dahsyat Tambora pada tahun 1815. Kaldera seukuran diameter 6-7 km dengan kedalaman 1-1,5 m. Entah mengapa, begitu magis, begitu misterius. Saya dan kawan-kawan hanya sampai di bibir kaldera. Kami duduk meresapi kegagahan Gunung Tambora yang sempat melumatkan negeri di Eropa dan Amerika Utara, sembari merayakan lebih dini 200 tahun letusan Tambora yang jatuh pada April 2015.

#BaladaFreelancer Surfing di Dompu, Ke Pantai Lakey Hu’u Sudah

Pantai Lakey memang sudah jadi spot surfing terkenal di dunia ditambah lagi Lakey sudah langganan menjadi tuan rumah kejuaraan surfing internasional. Jadi, para peselancar dari Asia, Eropa, Amerika Serikat, sampai Afrika berburu ombak sampai ke NTB, ke Pantai Lakey.

#BaladaFreelancer Pacoa Jara, Kebut Kuda

Di Dompu dan Bima, pacu kuda ini disebut dengan nama lokal “pacoa jara”. Kuda sendiri memang salah satu ikon Bima. Bentuk pacoa jara itu tidak terlalu beda dengan kebanyakan balap kuda di daerah-daerah lain. Tapi, pacoa jara di Bima memang sudah menjadi tradisi yang dilakukan oleh Suku Mbojo.