Tiga Cara Berbeda Menjelajah Surakarta

Saya belum pernah ke Surakarta. Maka, ketika Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surakarta mengundang saya untuk menjelajahi Kota Bengawan ini, dengan hati riang saya menyambutnya. Dan ternyata, ada banyak cara berbeda untuk bisa menjelajah Surakarta. Ini dia tiga di antaranya.

Mlaku-mlaku Nang Surakarta

Atas undangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta, saya berangkat ke Surakarta untuk pertama kalinya beberapa bulan lalu. Seru banget.

[Travel Tips] Google App for Traveler

Google App, produk baru dari Google, memudahkan kita untuk merencanakan perjalanan, referensi ide, mengingatkan waktu, dan sebagainya. #SelaluTauYangBaru #SelaluTauBali

Apa Kata Mochtar Lubis tentang Gelisah?

Kegelisahan ini muncul karena ketika Mochtar Lubis bicara soal emansipasi seperti apa yang diperlukan negara kita, seorang perempuan pengamen menggendong anaknya naik bis yang saya juga naiki. Nyanyian mereka jauh dari hal besar-besar yang ada dalam buku di hadapan saya. Nyanyian mereka saya kira cuma mengenal “makan apa hari ini” atau bahkan “bisakah kami makan hari ini”.

Merayakan AirAsia Bloggers’ Community 3rd Anniversary di Jakarta

Suara Nia Novelia (AirAsia Indonesia) dari seberang telepon terdengar renyah. Ia bicara dengan nada suara bersemangat. Yang dibicarakan adalah perkara undangan AirAsia Bloggers’ Community (AABC) 3rd Anniversary Party yang kali ini digelar di Jakarta. Tepatnya, di DoubleTree by Hilton, Cikini. Saya menjadi salah satu blogger asal Indonesia yang menerima undangan ini.

[Bahasa] Memperhatikan atau memerhatikan?

“Bahasa itu tidak monoton. Dia bisa muncul dalam berbagai ragam dan laras,” Nazaruddin, M.A., pengajar Program Studi Indonesia FIB UI menyatakan demikian. Oleh karena itu, kita kerap menemukan penggunaan bahasa atau pembentukan kata dalam bahasa Indonesia yang tidak konsisten. Salah satu kasus inkonsistensi terjadi pada penggunaan memperhatikan dan memerhatikan.