Bincang-Bincang di Beranda

Sudah lama betul rasanya aku ingin bercerita padamu tentang apa yang terjadi di hidupku. Terakhir kali aku benar-benar menuang semua isi botol—bukan dalam bentuk sajak, bukan fiksi, bukan cerita pendek, bukan pula karya-karya—, tapi murni ocehanku yang tak punya kerangka, tak jelas juntrungannya, ah– aku bahkan tidak ingat. Mungkin, curahan hati yang kumaksud itu pun sudah bersembunyi di halaman belakang, di lubang draft yang kau saja tidak mau lagi orang lain membacanya.

[Cerpen] Belah Jeruk

Di era modern seperti sekarang, agak langka menemukan seorang lelaki usia matang 30-an yang masih perjaka. Lans, pemuda Surabaya, adalah salah satu “unicorn” yang eksis. Selama ini, Lans tak pernah peduli akan statusnya yang masih perjaka tersebut, sampai akhirnya tiba-tiba ia mendapat serangan kepanikan jelang pernikahannya. Terutama tentang bagaimana ia mengatasi malam pertamanya nanti jika ia sendiri tidak punya pengalaman?

Maka, di waktu yang sempit, Lans kemudian berpetualang. Ia berupaya melepas status perjakanya. Bagaimana caranya?

[Cerpen] Saudade Marto

Lama tinggal di jalan raya di Ibukota, tak punya rumah, tak banyak uang, dan hidup susah, Marto kadang merasa bersalah pada Soleh, sang anak yang masih kecil. Ia tak minta dilahirkan, tapi tak juga bisa hidup berkecukupan. Ia tak minta jadi anak seorang pemulung. Di ujung putus asa, Marto dan Soleh memilih jalan yang tak terduga.

The Three Faces

Cara manusia berinteraksi dengan sesama, cara membentuk karakter pribadi, cara mengekspresikan diri, semua itu jelas berbeda. Masyarakat Jepang secara filosofis, mengenal konsep “Three Faces”. Bahwa setiap dari kita memiliki tiga wajah.

Cerita dari Karst Maros dan Kampung Berua

Saya melanjutkan perjalanan berkeliling Karst Maros. Karst Maros berupa bentangan bukit kapur dan karang yang mencapai hingga 30.000 hektar yang memanjang di Kabupaten Pangkep-Maros. Luar biasa luas. Kawasan ini termasuk dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) yang bergelar sebagai kawasan karst terluas kedua di dunia, setelah Karst Guiling di Tiongkok. Karena berada di Desa Rammang Rammang, Karst Maros ini kerapkali juga disebut dengan Karst Rammang Rammang.

Jalan-jalan ke Tana Beru, Rumah Para Pencipta Pinisi

Tana Beru dikenal sebagai desa tempat tinggal para pengrajin kapal. Mereka sudah hidup turun-temurun di desa ini, menciptakan kapal-kapal kuat sejak dulu, mulai dari kapal nelayan hingga pinisi. Ya, pinisi, kapal tradisional masyarakat Bugis-Makassar yang menandakan ketangguhan para pelaut Bugis-Makassar, dengan bentuk kapalnya yang besar dan megah.

Percakapan di Tengah Pandemi

Setiap hari, ketika di tengah perjalanan, kita selalu saling bertanya: apakah besok mau menunggu matahari terbit atau mengejar senja? Seakan-akan, itu adalah sebuah keputusan hidup dan mati, suatu hal yang sangat penting, seolah harga diri kita bergantung sepenuhnya padanya. Ah, tapi aku malas bangun pagi, katamu. Ya, tapi senja belakangan juga tak mampir karena langit…