#BaladaFreelancer Karst Maros on AREA Magazine

 

#BaladaFreelancer Pantai Bara, Bulukumba, Hari Ini

Ternyata, di pesisir yang sama dengan Tanjung Bira, berdamping-dampingan, ada pantai-pantai yang lebih tenang ketimbang Bira. Salah satunya, Pantai Bara. Untuk bisa sampai ke pantai ini, memang perlu juga membeli tiket dan masuk ke kawasan wisata Tanjung Bira. Hanya saja, jika Tanjung Bira itu lurus saja, saya dan Djantjuk mengikuti jalan mengarah ke Malioboro Beach dan Manggo Lodge untuk sampai ke Pantai Bara.

#BaladaFreelancer Pertanyaan dan Jawaban dalam Perjalanan

Karena itu saya, Anda, kita, butuh beperjalanan. Di perjalanan, kita memiliki begitu banyak pertanyaan. Dan di perjalanan pula, letak jawabannya.

#BaladaFreelancer Tana Beru, Rumah Para Pencipta Pinisi

Tana Beru dikenal sebagai desa tempat tinggal para pengrajin kapal. Mereka sudah hidup turun-temurun di desa ini, menciptakan kapal-kapal kuat sejak dulu, mulai dari kapal nelayan hingga pinisi. Ya, pinisi, kapal tradisional masyarakat Bugis-Makassar yang menandakan ketangguhan para pelaut Bugis-Makassar, dengan bentuk kapalnya yang besar dan megah.

#BaladaFreelancer Yeah, Road Trip to Bulukumba

Kota Makassar masih terik. Di hari ketiga trip ini, saya dan Djantjuk sudah punya rencana untuk melipir sejenak dari Makassar. Kami hendak melakukan perjalanan ke Bulukumba, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang beribukota juga di Bulukumba. Road trip, road trippp~

#BaladaFreelancer Karst Maros & Kampung Berua

Saya dan Giri melanjutkan perjalanan berkeliling Karst Maros. Karst Maros berupa bentangan bukit kapur dan karang yang mencapai hingga 30.000 hektar yang memanjang di Kabupaten Pangkep-Maros. Luar biasa luas. Kawasan ini termasuk dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) yang bergelar sebagai kawasan karst terluas kedua di dunia, setelah Karst Guiling di Tiongkok. Karena berada di Desa Rammang Rammang, Karst Maros ini kerapkali juga disebut dengan Karst Rammang Rammang.

#BaladaFreelancer Makassar yang Mengenyangkan

Ya Allah, perut saya sudah lama tidak pernah sekenyang ini. Dan, saya tidak menyesal. Makassar memang betul-betul surga kuliner.