[Bahasa] Memperhatikan atau memerhatikan?

“Bahasa itu tidak monoton. Dia bisa muncul dalam berbagai ragam dan laras,” Nazaruddin, M.A., pengajar Program Studi Indonesia FIB UI menyatakan demikian. Oleh karena itu, kita kerap menemukan penggunaan bahasa atau pembentukan kata dalam bahasa Indonesia yang tidak konsisten. Salah satu kasus inkonsistensi terjadi pada penggunaan memperhatikan dan memerhatikan.

[Fiksi] Malam Ini Aku Cuma Ingin Pura-pura Bisa Bersandar pada Ibu

Pulang kandang malam ini, Ibu masuk kamarku tanpa mengetuk. Anak bungsunya baru saja tiba dari medan perang yang terlalu berdarah-darah. Ibu mendudukkan diri di karpet biru. Si anak masih kalut oleh pikiran sendiri. “Sudah kau makan lambungmu sendiri?” suaranya berubah tipis seperti helai rambut.

Nyanyian Pedestrian

Kenyataannya, ada kaitan yang sangat kuat antara jalan kaki dengan sistem angkutan umum, dan sistem angkutan umum dengan kota yang baik. Tidak ada kota yang dianggap baik jika tidak ada transportasi umum yang baik.

[BAHASA] Tetiba dan Gegara

“Tetiba pusing, gegara liat berita kriminal di televisi.” Tetiba dan gegara adalah dua kata yang belakangan ini sering terlihat dipakai oleh para pengguna bahasa. Coba saja intip linimasa, untuk lihat bukti konkretnya.

[Fiksi] Kei Pulang

“Para lelaki itu mesti pergi, tapi ia juga mesti pulang. Sebab ada yang dikasihi dan mengasihinya di rumah,” aku sudah hapal betul Gol A Gong bilang ini berulang kali. Si Roy yang Mas Gong sendiri kesankan begajulan dan brengsek dalam novel-novelnya itu toh ternyata paham soal ini. Bahwa dalam setiap perkelanaan, harus selalu ada perjalanan…

Mampir Sejenak di Pulau Moyo

Saya banyak mendengar orang-orang menyebut-nyebut nama Putri Diana dari Inggris sejalan dengan ceritanya tentang Moyo. Tapi, saya sama sekali tidak tertarik tentang itu, kecuali akan keindahan pulau ini.