Mesin Waktu Rumah Baterman, Semarang

Tempo hari ketika mampir di Semarang, saya beruntung sempat main—bahkan masuk ke dalam—Rumah Baterman di Jalan Kyai Saleh.

“Sebentar, rumah ini biasanya nggak bisa dimasuki sembarangan. Aku izin dulu, ya,” kata Astrid, seorang perempuan yang menemani saya dan teman perjalanan saya kali itu, Vira Tanka, ketika walking tour Semarang bersama Bersukaria.

Rumah Batterman Tampak dari Pintu Masuk - Astri Apriyani

Saya lihat Astrid melongok ke dalam rumah dari jendela pintu depan. Setelah lama culang-cileung, Astrid menghampiri kami yang berdiri di halaman. “Nggak ada orang yang bukain pintu.”

“Eh itu di sebelah ada rumah. Kita coba ke sana, siapa tahu ada orang,” kata Vira. Astrid melangkah cepat menuju rumah di sebelah itu, diikuti oleh Vira.

Saya masih menikmati pemandangan rumah lama yang sudah rapi direnovasi ini. Rumah yang bernama Rumah Baterman.

Setengah berteriak, saya bertanya, “Ini rumah yang betulan buat syuting film Beranak dalam Kubur-nya Suzanna?”

Hening.

Tak berapa lama, Astrid mendapatkan akses masuk ke rumah. Saya dan Vira gembira. Kapan lagi bisa memasuki rumah yang kabarnya sudah ada sejak 1890-an. Ini pun sudah menjadi destinasi wajib milik Vira—meskipun sebetulnya ia sendiri sudah pernah datang ke sini dan menggambar sketsanya. Sementara, buat saya, ini perdana.

Rumah Baterman dulunya adalah rumah pasangan Abraham Fletterman dan Corrie Fletterman-Smith. Keduanya adalah orang-orang Belanda. Mereka pasangan menikah yang tak memiliki anak. Karena pribumi sulit mengucapkan “Fletterman”, maka nama tersebut disederhanakan menjadi “Baterman”. Karena itulah, nama rumah ini lebih dikenal dengan Rumah Baterman.

Rumah Batterman Semarang - Astri Apriyani

Entah beruntung, entah berjodoh, saya dengan tulus merasa bersyukur bisa menjelajahi bagian dalam rumah ini. Biasanya, orang umum tidak bisa masuk sembarangan. Sejak direstorasi pada 2010-an, Rumah Baterman kini ‘hanya’ difungsikan sebagai tempat resepsi pernikahan, pemotretan, syuting film, pengajian, dan kegiatan-kegiatan lain. Sekarang, rumah ini lebih dikenal dengan nama Rumah KS15 (KS karena terletak di Jalan Kyai Saleh, dan 15 adalah nomor rumahnya).

Pasangan Fletterman aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Namun, karena tidak memiliki keturunan untuk meneruskan perawatan Rumah Baterman, mereka menghibahkan rumah ini ke Yayasan Mardi Waluyo. Yayasan ini juga membawahi Rumah Sakit Hermina.

Sempat terbengkalai, rumah ini direnovasi dan diurus oleh (tentu saja) Yayasan Mardi Waluyo. Begitu memasuki rumah, kita bisa langsung menjelajah, mulai dari ruang tamu dan sofa-sofa, ruang makan dan kursi-kursi, tegel, wastafel berkeramik, tangga kayu ke lantai atas, chandelier, lukisan, sampai halaman belakang yang luas dan rindang. Hati-hati jangan sampai lupa jalan pulang.

Bahkan pada 2020, saya bisa dengan yakin bilang, rumah ini indah sekali. Sudut manakah yang menjadi favoritmu?

6 Comments Add yours

  1. Indah sekali rumanhya Mba, saya jadi membayangkan menginjakkan kaki ke dalam rumahnya sambil menatap lekat-lekat seluruh isinya. Saya paling suka kursi di deket tangga, asik banget buat nyantai sambil baca buku.

    1. Atre says:

      Indah, dan untungnya direstorasi sesuai dengan bentuk aslinya. Jadi, nggak hilang nilai sejarahnya. Sayang memang ndak boleh naik, karena kabarnya tangga kayunya itu ringkih.

  2. Pas ikut rute Radja Goela dan sampai Rumah Batterman ini tidak bisa masuk karena rumah masih ada perbaikan. Tapi kami tetap dipersilahkan untuk berkeliling halaman depan rumahnya.

    Desain sangat unik, letaknya juga tidak jauh dari pusat kota. Apalagi berseberangan dengan rumahnya Oei Tiong Ham

    1. Atre says:

      Ini pun aku juga ke sini karena ikut trip Raja Gula! Nah, karena itu aku menganggap diri beruntung, soalnya sempat bisa masuk dan lihat-lihat sampai ke halaman belakang Rumah Baterman yang super luas banget. Ckckck, luar biasa.

  3. Adindut says:

    Jadi apakah betul itu rumah yang dijadikan syuting film Beranak dalam Kubur-nya Suzanna?

    1. Atre says:

      Kabarnya demikian, tapi ketika rumah ini masih belum direstorasi dan masih terbengkalai. Jadi, pas kali ya terasa angker dan terlantarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s