Ahmad Tohari: Religius Belum Tentu Beragama

Wawancara dengan Ahmad Tohari, pengarang novel Ronggeng Dukuh Paruk, Kubah, dan lain-lain.

“Belajarlah Menulis dari Tukang Obat,” Kata Putu Wijaya

I Gusti Ngurah Putu Wijaya pada 16 April 2012 main-main ke kantor Kompas Gramedia di Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Meski sakit, ia memaksa diri untuk mengisi kelas menulis kami–para jurnalis dari berbagai majalah yang bernaung di bawah payung KG. Di hadapan total 12 jurnalis, Putu Wijaya berbagi pengalamannya tentang dunia tulis-menulis. Dalam beberapa jam ke depan, cerita-ceritanya berkilas-kilasan mengisi kelas.

Jacques Derrida: Fear of Writing

Laki-laki ini sudah meninggalkan dunia sejak 2004, di usianya yang ‘baru’ 74. Kanker. Tapi, ia masih kerap menemani saya menulis; mencoba membuat saya mengerti apa yang tidak atau belum saya pahami soal menulis. Ia membagi kegelisahan dan pengalamannya ketika menulis, yang ternyata pada akhirnya turut menjadi kegelisahan saya.

Perasaan Ramadhan

Ingatan tentang Ramadhan adalah ingatan tentang rumah lama yang diam-diam membeku, menyepi.

[Fiksi] Warung Kopi Senja

Saat membaca diari ibu, aku seperti masuk dalam film Catatan Si Boy klasik versi Onky Alexander. Seolah ingin men-cuit cuiittt isi cerita, tapi tak jadi karena isinya tentang ibu sendiri. Sungkan. Hanya saja, ketika sampai bagian terakhir diary, aku paham alasan ibu selalu kelihatan sendu hati.

Apa Kata Mochtar Lubis tentang Gelisah?

Kegelisahan ini muncul karena ketika Mochtar Lubis bicara soal emansipasi seperti apa yang diperlukan negara kita, seorang perempuan pengamen menggendong anaknya naik bis yang saya juga naiki. Nyanyian mereka jauh dari hal besar-besar yang ada dalam buku di hadapan saya. Nyanyian mereka saya kira cuma mengenal “makan apa hari ini” atau bahkan “bisakah kami makan hari ini”.

[Fiksi] Malam Ini Aku Cuma Ingin Pura-pura Bisa Bersandar pada Ibu

Pulang kandang malam ini, Ibu masuk kamarku tanpa mengetuk. Anak bungsunya baru saja tiba dari medan perang yang terlalu berdarah-darah. Ibu mendudukkan diri di karpet biru. Si anak masih kalut oleh pikiran sendiri. “Sudah kau makan lambungmu sendiri?” suaranya berubah tipis seperti helai rambut.

[Fiksi] Kei Pulang

“Para lelaki itu mesti pergi, tapi ia juga mesti pulang. Sebab ada yang dikasihi dan mengasihinya di rumah,” aku sudah hapal betul Gol A Gong bilang ini berulang kali. Si Roy yang Mas Gong sendiri kesankan begajulan dan brengsek dalam novel-novelnya itu toh ternyata paham soal ini. Bahwa dalam setiap perkelanaan, harus selalu ada perjalanan…

[Fiksi] Sepasang Cangkir Kopi

Sepasang cangkir berisi kopi setengah-panas-setengah-rindu saling bersandar di meja pelataran belakang rumah. Mereka habis bertengkar tentang siapa yang paling cinta di antara mereka berdua. Kata-kata dari bulir-bulir kopi yang meriak-riak keluar cangkir, mengawang-awang di udara untuk kemudian jatuh dan membekas di meja. Untung saja meja itu kayu, jadi ia tidak begitu masalah pada kata-kata dua…