Apa Kata Mochtar Lubis tentang Gelisah?

Kegelisahan ini muncul karena ketika Mochtar Lubis bicara soal emansipasi seperti apa yang diperlukan negara kita, seorang perempuan pengamen menggendong anaknya naik bis yang saya juga naiki. Nyanyian mereka jauh dari hal besar-besar yang ada dalam buku di hadapan saya. Nyanyian mereka saya kira cuma mengenal “makan apa hari ini” atau bahkan “bisakah kami makan hari ini”.

[Fiksi] Malam Ini Aku Cuma Ingin Pura-pura Bisa Bersandar pada Ibu

Pulang kandang malam ini, Ibu masuk kamarku tanpa mengetuk. Anak bungsunya baru saja tiba dari medan perang yang terlalu berdarah-darah. Ibu mendudukkan diri di karpet biru. Si anak masih kalut oleh pikiran sendiri. “Sudah kau makan lambungmu sendiri?” suaranya berubah tipis seperti helai rambut.

[Fiksi] Kei Pulang

“Para lelaki itu mesti pergi, tapi ia juga mesti pulang. Sebab ada yang dikasihi dan mengasihinya di rumah,” aku sudah hapal betul Gol A Gong bilang ini berulang kali. Si Roy yang Mas Gong sendiri kesankan begajulan dan brengsek dalam novel-novelnya itu toh ternyata paham soal ini. Bahwa dalam setiap perkelanaan, harus selalu ada perjalanan…

[MyCupOfStory] Warung Kopi Senja

Saat membaca diari ibu, aku seperti masuk dalam film Catatan Si Boy klasik versi Onky Alexander. Seolah ingin men-cuit cuiittt isi cerita, tapi tak jadi karena isinya tentang ibu sendiri. Sungkan. Hanya saja, ketika sampai bagian terakhir diary, aku paham alasan ibu selalu kelihatan sendu hati.

[Fiksi] Sepasang Cangkir Kopi

Sepasang cangkir berisi kopi setengah-panas-setengah-rindu saling bersandar di meja pelataran belakang rumah. Mereka habis bertengkar tentang siapa yang paling cinta di antara mereka berdua. Kata-kata dari bulir-bulir kopi yang meriak-riak keluar cangkir, mengawang-awang di udara untuk kemudian jatuh dan membekas di meja. Untung saja meja itu kayu, jadi ia tidak begitu masalah pada kata-kata dua…

[Fiksi] Vas Kaca Air Mata

Aku memandang lurus menghadap jendela pandanganku langsung berbenturan dengan kebun kesayangan ibu kutangkap air mata yang turun dari pelupuknya lalu kukumpulkan dalam tabung kaca di pinggiran jendela kupikir, supaya kesedihan-kesedihan ini bisa melihat dunia

[Fiksi] Musim-musim

Apa ada cinta yang selamanya, yang tahan meski diamuk siang dan malam, yang baginya senja itu tidak pernah tua meski ratusan kali dilumat sama-sama, yang seperti dedaunan musim gugur– memerah, terbang, dan mati bahagia berdua? Aku tidak pernah tahu nasib membawaku ke mana, Sayang. Tapi, jika hidupku bisa melengkapi hidup kau, bahkan hanya dalam waktu…