Kau Belum Sepenuhnya Aman di Leh India Jika Belum Berhasil Melawan AMS

Banyak traveler mengaku memasukkan Leh, India, sebagai destinasi impian setelah menonton film 3 Idiots. Saya pribadi baru tergerak karena memang ingin jajal jalanan di sana hingga bisa mencapai salah satu jalanan tertinggi di dunia. Namun, sebelum itu kesampaian, saya harus berhasil melewati hari paling krusial: hari-hari pertama di Leh. 

Explore Leh Ladakh - Astri Apriyani Indonesian traveler - Atre Odyssey

Sebelum betul-betul berangkat ke Leh di utara India sana, banyak referensi bacaan yang bilang harus sedia obat mencegah Acute Mountain Sickness alias AMS alias mabuk ketinggian. Sebagian besar seperti satu suara menyebut satu spesifik obat bernama Diamox. Hanya saja, setelah saya cek, ia termasuk obat keras, karenanya mesti konsultasi ke dokter sebelum mengonsumsinya. Efek sampingnya juga bikin jeri, mulai dari penglihatan terganggu sampai diare.

Obat ini pun juga tak boleh sembarangan minum. Ia semestinya hanya diminum ketika mulai timbul gejala AMS; mual, tidak bisa tidur, tidak enak makan, sesak napas, pusing, dan lain-lain. Saya dan G waktu itu memutuskan tidak minum obat-obatan untuk AMS. Alih-alih, kami menyiapkan waktu dua hari untuk aklimatisasi sebelum akhirnya cabut motoran menjelajah Leh Ladakh, Jammu Kashmir.

Summer season and dusty season in Leh Ladakh - Astri Apriyani traveler Indonesia - Atre Odyssey

Dua hari itu terhitung hari pertama ketika kami mendarat. Kami tiba pagi hari tanggal 27 Juni 2018. Dalam tulisan sebelum ini, saya sudah sempat katakan kalau pertama kali menjejakkan kaki di Kushok Bakula Rimpochee Airport (IXL), Leh, oksigen sontak terasa tipis. Napas mau tak mau pendek-pendek.

Saya bukan yogi berdedikasi. Saya hanya sekali-sekali—kalau badan sudah sakit—senang meregangkan dan mendamaikan tubuh dengan yoga. Untunglah. Karena ternyata “5 seconds breathing exercise” yang dipelajari di yoga, berguna di Leh. Terutama, hari pertama. Iya, hari pertama di Leh adalah hari paling krusial yang bakal menentukan sisa perjalanan di ketinggian ini.

Karena kami naik pesawat, waktu perjalanan kami dari Delhi ke Leh yang hanya 1,5 jam tidak cukup untuk memproses tubuh kami beraklimatisasi. Karena itu, siapa pun dari kalian yang mencapai Leh dengan pesawat, sediakan waktu minimal sehari penuh untuk istirahat tak melakukan apa-apa. Anggap saja melakukan seni untuk tak berbuat apa-apa.

The art of doing nothing. La dolce far niente.

 

Saya dan G sudah nyaman di kamar Hotel Lingzi. Hotel ini sepi, padahal waktu itu musim panas yang paling baik untuk wisatawan. Saya sempat curiga, apa jangan-jangan hotel ini tak beres jadinya tak laku? Hanya saja, ternyata, hingga kami check out, pengalaman menginap kami tak ada kendala. Air panas di kamar mandi menyala. Selimut hangat juga tersedia. Televisi tersedia, meski modelnya masih tabung. Menu makanan tak ada masalah. Pemandangan—meski terhalang pepohonan—tetap mengarah ke jajaran pegunungan Himalaya. Rooftop hotel ini juga menyenangkan; di satu sisi melihat keramaian Kota Leh, di sisi lain keindahan pegunungan berpuncak salju.

Sunset to Himalayas from Leh Ladakh - Astri Apriyani - Atre Odyssey

Meski sudah dua tahun berlalu, saya masih ingat Leh jelang siang itu dingin, sekitar 11-14 derajat Celcius. Saya juga ingat betapa berdebunya Leh waktu itu. Ketika tiba di depan hotel, jalanan aspal sungguh berdebu coklat.

Saya lihat sekeliling, jendela-jendela dan pintu-pintu hotel dan restoran di tepi jalan pun kotor. Pantas saja orang-orang yang sedang berjalan kaki santai, rata-rata mengenakan masker atau scarf kain untuk menutupi setengah wajahnya. Tentu saja, kecuali orang lokal. Sepertinya mereka telah terbiasa.

Begitu memasuki lobi hotel, sebelum akhirnya bisa check-in, saya dan G duduk-duduk di restoran hotel di lantai dasar, tepat di belakang meja kayu resepsionis sederhana yang seruangan dengan ruang tunggu hotel. Sempat sekilas saya melihat lukisan Buddha hampir serupa mural khas India dengan warna-warna cerah di dinding ruang tunggu. Saya juga sempat membaca kata-kata mendalam dari Dalai Lama ke-14, Tenzin Gyatso, yang tergantung di dinding resepsionis. Owh, langsung menusuk sampai di hati.

The paradox of life from Dalai Lama the 14th Leh Ladakh - Astri Apriyani

Kala itu, restoran kosong. Hanya ada saya dan G yang baru datang dan ingin memesan sarapan sekaligus makan siang, karena waktu sudah sekitaran jam 11.00. Lapar sudah menggila di perut kami masing-masing. Entah kenapa, saya ingat siang itu saya membayangkan pecel lele. Tapi tak ada. Saya dan G bukannya rewel soal makanan, tapi kami—terutama saya mungkin—tak cocok dengan kuliner India. Dengan kata lain, saya kurang bisa menikmati makanan India. Hanya sedikit sekali yang saya suka. Itu pun kebanyakan camilan, bukan makanan berat.

Seorang pegawai hotel tergesa menghampiri meja yang kami pilih dekat jendela. Ia membawa kain lap di tangan yang satu dan penyemprot berisi cairan pembersih di tangan lainnya. Ia cepat-cepat membersihkan meja kami, karena memang debu tipis kentara di sana. “Sudah lama tidak hujan, dan sedang banyak pembangunan di sini. Jadi, maaf berdebu,” kira-kira begitu kata si pegawai kalau diterjemahkan dalam bahasa santun yang kita mengerti.

Tadi memang saya sempat melihat sendiri dari dalam taksi, kalau Leh terlihat sedang tumbuh berkembang. Banyak bangunan sedang dirampungkan. Dari bentuknya, sepertinya bakal tambah banyak bangunan hotel dan restoran baru di masa yang akan datang. Masuk akal jika akhirnya hotel yang saya tempati ini sepi. Persaingan sungguh ketat. Hotel Lingzi pun masuk dalam kategori hotel tua, karena ia sudah ada sejak 1982.

Menu di restoran ini banyak juga. Termasuk, ada masakan Eropa, Tiongkok, dan Nepal. Saya memesan momo, tampilannya semacam dimsum, yang isinya bisa macam-macam. Ada sayuran, daging sapi, atau daging ayam. Bisa pilih rebus dan bisa pilih goreng. Saya pilih isi daging ayam dan rebus. Minumnya ginger honey lemon tea dengan betul-betul bongkahan jahe berendam di dalam teh panas. Saya baru tahu setelahnya, dua menu ini akhirnya jadi menu favorit saya selama berada di Leh dan sekitarnya. G memasan chilli chicken dengan nasi dan minuman yang sama.

Kami bertekad hendak meminum teh jahe—beserta jahe-jahenya—yang banyak selama di ketinggian ini. Jahe, bersama bawang putih, adalah salah dua obat alami terbaik untuk mencegah AMS.

Makan kami tak nikmat sebetulnya. Tapi, kami habiskan juga supaya tetap sehat. Jahe pun saya kunyah habis. Napas kami masih pendek-pendek, tapi mulai tak mengganggu. Setelah ini, kami seharian hanya akan istirahat. Makan malam kami lakukan di kamar.

Sekadar tips, jangan meremehkan AMS. Lakukan persiapan yang matang untuk menghadapinya. Saya dan G untunglah aman, tapi sekali lagi, reaksi tiap orang berbeda-beda terhadap ketinggian. Lebih baik bersiap daripada perjalanan terganggu.

Saya sempat menengok dari balkon ke arah jalanan Leh di malam hari. Cantik betul, dengan lampu-lampu berwarna kekuningan dan temaram. Tapi, ooooffff, di luar dingin betul terutama kalau malam. Saya ingat mengecek suhu waktu itu dan masuk di angka 4 derajat C.

Night at Leh downtown - Astri Apriyani - Atre Odyssey

Keesokan harinya, memasuki tanggal 28, saya dan G saling mengecek kondisi masing-masing. Kami mengaku baik-baik saja, meski G merasa sedikit mual, tak bisa tidur, dan tak enak makan. Saya hanya tak nyenyak tidur. Oke, itu mungkin gejala awal AMS atau mungkin bukan. Saya pesankan kembali jahe untuk sepanjang hari ini. Ini kesempatan terakhir untuk G membaik, karena besoknya di tanggal 29, kami sudah bakal memulai perjalanan panjang bermotor kami. THE DAY.

Selain minuman jahe dari restoran hotel, saya juga membawa minuman jahe instan dari Indonesia. Ada jahe merah, sampai susu jahe. Banyak banget, bukan main. Jadi, selama perjalanan, saya tak lagi menghitung berapa gelas jahe yang kami minum.

Saya dan G sama-sama jadi punya hobi favorit yang berbeda selama aklimatisasi. G senang belanja di toko buah kecil tepat di seberang hotel kami. Ia memilih jeruk, seringkali. Sementara, saya senang duduk di rooftop sembari minum ginger honey lemon tea kesayangan.

The best sunset from rooftop of Hotel Lingzi Leh India - Astri Apriyani - Atre Odyssey

Saya suka suasana Leh ketika menjelang Magrib. Salah satu masjid kuno di Leh bernama Jama Masjid (dibangun pada 1666-67), yang letaknya tak jauh dari hotel kami, tepatnya di kawasan Leh Main Bazaar, akan mengumandangkan adzan Magrib nan merdu yang menguar ke udara. Lalu, saya toleh kepala sedikit ke arah kanan; di sana, matahari sedang tenggelam tepat di puncak pegunungan salju. Membuat puncak salju itu berwarna keemasan. Sesekali memang terdengar sayup suara klakson mobil atau motor, tetapi tak ‘seganas’ di Delhi. Tenang saja.

Oh iya, cerita tentang destinasi favorit di Leh dan sekitarnya bakal saya buat postingan terpisah, ya. Karena di hari pertama dan kedua ini, kami belum memikirkan tentang monastery, pasar tradisional, kafe, padang pasir, atau apa pun. Kami masih hanya memikirkan cara bertahan sehat.

Seiring dengan sinar terakhir hilang di balik jajaran pegunungan itu, semakin berdebar-debar hati kami. Satu hal yang patut disyukuri, kami berangsur sehat. Tubuh kami telah beradaptasi dengan lumayan baik. Pusing menghilang. Mual menjauh. Pernapasan sudah baik. Tahapan krusial rasanya sudah terlewati. Kami siap motoran hingga mencapai salah satu jalanan beraspal tertinggi di dunia; Khardung La. Siapa ikut excited bersama saya dan G?

Atre dan Giri keliling Leh Ladakh dengan motor Royal Enfield - Astri Apriyani - Atre Odyssey

 

Cerita selanjutnya: The Best Ride of My Life… So Far: Akhirnya, Khardung La!

11 Comments Add yours

  1. Adindut says:

    Saat membaca ini saya sedang berada di ruangan dengan suhu AC yang cukup dingin. Jadi ikut merasakan suasana dinginnya Leh.

    Berarti jika kita pergi ke Leh dengan menggunakan bus, kecil kemungkinan kita adakan terkena AMS ya, Kak?

    1. Atre says:

      Sesungguhnya, semua tergantung fit atau nggaknya badan kita, sih. Kalau fit, mau naik pesawat pun bisa aman-aman saja. Tapi mengingat butuh waktu yang lebih panjang dan naik elevasi pelan-pelan, jalan darat memang lebih bikin tubuh berkesempatan adaptasi sama ketinggian. Jadi, potensi AMS lebih kecil.

      Hahaha, jangan lupa hirup udara segar, Kakkk! Biar ga AC-an terusss. Hihihi.

  2. risrisda says:

    halo, mbak! saya mau ngabarin, mbak Atre jadi nominasi untuk Liebster Award di blog saya. semoga berkenan ya. terima kasih 🙂

    1. Atre says:

      Oh hai, apakah itu Liebster Award? Hahaha, aku sungguh tak gaul.

      1. risrisda says:

        Penghargaan buat blogger gitu, mbak 😁 ulasannya bisa dibaca di blog saya hehehe

  3. GINGER HONEY LEMON TEA!
    Ajaib banget sih minuman itu, apalagi kalo diminum sore-sore sambil duduk di teras lodge, ngeliatin orang-orang lewat hahaha..
    Ditunggu lanjutan ceritanya ya 😀 pengen banget ke Leh dan Ladakh

    1. Atre says:

      Diminum kapan pun di mana pun selalu bikin nyaman si ginger honey lemon tea itu. Bisa ngurang-ngurangin AMS pula. Ajaib!

      Siap. Inti perjalanannya malah belum kelar ditulis. Segera, yaaa~

      1. yang selalu bikin nyaman memang menyenangkan.. #eh

      2. Atre says:

        Sahih! Btw congrats, blognya pindah rumah. Jadi bisa gampang komentar-komentar.

      3. Blog yang ini dari dulu di wordpress kok kaak, maksudmu yang di Tumblr ya? Kalo yang Tumblr blum migrasi, hihi..

      4. Atre says:

        Lho kupikir ini yang Tumblr. Ternyata ada dua ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s